<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2274548059948312448</id><updated>2011-04-21T20:15:02.456-07:00</updated><title type='text'>Kumpulan Cerpen WaOde Wulan Ratna</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://cerpen-wulan.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2274548059948312448/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpen-wulan.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>wulan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12360063595710708385</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_ucpQ1vKpaQM/RhM3LOv1EZI/AAAAAAAAAAk/GLQ1AJkiMQA/s320/wulan2.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>10</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2274548059948312448.post-4359418688575587243</id><published>2007-04-11T01:23:00.000-07:00</published><updated>2007-04-11T01:26:10.873-07:00</updated><title type='text'>Corfivollus</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;Cerpen Wa Ode Wulan Ratna&lt;/span&gt;&lt;o:p style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 153);"&gt; &lt;/o:p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Kakek itu menemukan gadis itu menyiratkan senyuman penuh luka. &lt;/span&gt;Ia membuang wajahnya yang segar itu keluar jendela. Memperhatikan setiap pepohonan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang mulai berderet jarang-jarang di sepanjang jalan dan mobil-mobil yang berlainan arah. Wajahnya seperti perdu ditumpahi hujan yang berkepanjangan dan dimekarkan oleh bunga-bunga berwarna kuning sekuning baju yang ia kenakan. Begitu dingin dan beku. Namun wajah segar putih yang memantul kekuningan itu adalah wajah yang serupa dengan suasana siang itu. Siang yang mendung dengan langit keabuan membentang tanpa jeda. Sesekali sang kakek melihat gadis itu menelan ludah saat tatapan mereka bertemu. Kakek itu tahu, gadis kuning itu menyukai bunga-bunga yang dipegangnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: center;"&gt;***&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;Minggu pagi adalah berlari baginya. &lt;span style="" lang="FI"&gt;Berlari ke tempat yang jauh. Dan ia tak perlu ke gereja. Ketika ia membuka jendela dan pintu rumah, tanpa menyeruput jeruk hangat yang telah disediakan bibinya, ia telah melihat pagi yang suram. Gerimis tengah turun.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;"Sudahlah. Dua sakramen&lt;sup&gt;1 &lt;/sup&gt;itu tak bisa ditolak!" &lt;/span&gt;Ia diam mendengar ucapan bibinya. Matanya tak lepas dari uap jeruk hangat dalam gelas yang mengepul dan coba menghangatkan suasana. &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;"Pergilah mandi, banyak yang menunggumu. Pakailah baju dengan warna sedikit cerah agar kamu kelihatan lebih berseri. &lt;span style="" lang="FI"&gt;Dan berdoalah di gereja." Tapi ia kemudian berlari ke arah pintu. Wajahnya dihembusi angin yang dingin. Wajahnya yang putih itu bertambah putih dan rambutnya yang sebahu mengibar. Ia menatap jemuran seprai tetangga yang tidak diangkat padahal gerimis sedang jatuh. Lalu ia memperhatikan bunga-bunga perdu berwarna kuning yang mulai kedinginan. Ia tahu bunga-bunga itu merindukan belaian.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;"Diane?" perempuan separuh baya itu memanggil.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;"Andaikata ayah dapat mengulangi hidupnya, tentu ia akan lebih banyak memetik bunga aster untukku hari ini."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;***&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Ia tidak berdandan seperti hari minggu biasanya. Ia hanya mengenakan baju &lt;i style=""&gt;princess&lt;/i&gt; kuning berbahu lebar dengan rok lebar sebetis berwarna putih polos dan sepatu bertali warna putih mutiara. Rambutnya yang sebahu dikuncir ekor kuda. Tak ada perhiasan sedikit pun melekat pada tubuhnya. Hanya Injil yang ia bawa. Begitu pula keadaan hari ini, tak ada tangkai-tangkai kembang baru di kamarnya. Semua layu seperti hatinya dan ia tak bisa menyalurkan perasaannya itu pada semua bentuk yang bernyawa kecuali pada hujan yang mulai menderas. Kemudian ia mendengar bibinya memanggil lagi dari bawah. Dan tanpa menutup jendela ia mengamit Injil lalu segera turun. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Sepupu laki-lakinya, Adam, dengan setelan jas hitam membuka payung berwarna hitam, merangkulnya dan membawanya ke sebuah mobil sedan hitam. Ia melihat payung hitam itu seperti berputar-putar atau mungkin sengaja diputar-putar oleh sepupunya. Kemudian ia masuk ke dalam mobil yang membawanya pada panjang perjalanan dengan pohon-pohon cemara yang berderet rapat dan tinggi. Pohon-pohon itu menutup kelapangan angkasa dan sejumlah pemandangan berkabut yang menutupi gunung-gunung, rumah-rumah, jalan-jalan, dan segala yang hijau. Tak ada suara yang keluar selain deru mobil yang halus dan meluncur lancar di tengah hujan. Di belakang, beberapa mobil serupa yang ditumpangi kakak-kakaknya membuntuti mobil yang membawanya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;"Hanya kau yang kuning, An." Ia mendengar Adam berbicara padanya dan pamannya yang duduk bersama supir mendehem. Adam memangku mantel cokelatnya. Pemuda itu tahu kapan ia mesti berkata-kata dan ia tidak mau mengganggu perasaan gadis itu. &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;"Ya, ibu tidak datang?" katanya kemudian.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;"Ah dia, bukan ibumu, An. Nanti siang dia datang dengan anak angkatnya yang mau menikah itu." Gadis itu diam lagi. Ia tahu siang nanti Isak akan menikah di gereja yang sama. Satu hari yang aneh. Sementara ia berduka dan seorang perempuan yang pernah menjadi ibu tirinya berbahagia pada satu gereja yang sama.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;"Aku hanya memakai baju hitam bila Koor." &lt;/span&gt;Katanya lagi pada Adam.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;"Dia hanya ingin agar tidak terlihat pucat, Dam."&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: center;"&gt;***&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;Ia berdiri pada barisan terdepan, menatap kosong pada sebuah peti yang belum di tutup. Wajah pucat namun tak menghilangkan wibawa seorang laki-laki tua yang tidur di dalamnya. Ia tahu ayahnya pergi meninggalkan bunga-bunga, meninggalkannya. &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;Ia tidak bernyanyi. Ia tidak berdoa. Tidak pula mendengarkan nubuatan-nubuatan&lt;sup&gt;2&lt;/sup&gt; dari alkitab perjanjian baru. &lt;span style="" lang="FI"&gt;Ia tidak menyilangkan tangan sebagai layaknya seorang Kristen sejati. Ia tidak mendengarkan kata-kata pendeta. Ia tidak membuka Injilnya. Ia hanya berdiri seperti semua orang berkabung yang berdiri di dalam tempat suci itu. Ia tahu, rambutnya yang dipotong pendek sebahu itu membuat ia terlihat seperti seorang gadis tanggung atau seperti tampang bidadari yang terpampang pada jendela gereja, begitu tragis dan tenang. Ia layaknya gadis kecil jemaat Antiokhia&lt;sup&gt;3&lt;/sup&gt; yang begitu lugu. Namun ia pun tahu, setiap orang di gereja ini akan memandangnya aneh pada pakaian yang ia kenakan. Tapi adakah orang yang tahu bahwa ia ingin berlari di tengah hujan pagi itu?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;***&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;Bayangannya terbias pada jendela-jendela bergambar kristus. Roknya berkibar, melebar, dan terkesan berat seperti rok-rok yang pernah hidup pada mode-mode zaman viktorian. Ia tidak mengejar apapun, ia hanya lari dari waktu yang menyuruhnya untuk menatap kenyataan dengan lantang. Sepatunya berketeplok dengan suara yang rendah dan ringan. Siapa pun boleh menoleh ke arahnya tanpa berkata-kata. Sebab "amin" belum terucap dari bibir pendeta. Dan lagu &lt;i style=""&gt;Behind The&lt;/i&gt; &lt;i style=""&gt;Bright Blue Sky&lt;/i&gt; mendayu-dayu dari bibir para jemaat itu. Menggugah perasaan haru yang dibuat oleh hari. Apakah di luar &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; langit biru membentang menawarkan harapan?&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;Ia seperti bidadari yang melarikan diri dari sebuah upacara pelepasan yang sakral, yang membuka pintu besar dari jati berukir yang berat dan mendapatkan angin menerpa-nerpa. Ia menuruni tangga, membiarkan rok putihnya yang lebar menyapu butiran hujan dan debu yang melekat pada tangga itu, dan berlari di tengah hujan. Ia menatap pada buket bunga-bunga ucapan belasungkawa yang berjejer rapi seperti mobil di tempat parkiran. Bunga-bunga untuk ayah. Tak ada bunga untuknya. Dan nyanyian itu…, &lt;i style=""&gt;I have my own craun….&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;Ia mengingat ayah. Pada pagi yang cerah, ia menemukan bunga-bunga pada vas-vas kosong dalam kamarnya. Ia mengitari kebun teh dengan kuda sepulang gereja. Mendapati banyak aroma, dan melupakan ibu. Menyuapkan sepotong roti pada bibir ayahnya seperti cara pendeta menyuapkan roti gandum padanya di hari perjamuan kudus. Mencuri shag&lt;sup&gt;4&lt;/sup&gt; ayah yang ditaruh di kotak pada laci kerjanya dan mencoba menghisap asap tembakaunya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;Ia tahu ia seperti bidadari yang melarikan diri dari waktu, yang berlari dicucuki hujan dan kehilangan sayap. Ia berlari melewati pagar, melewati kembang-kembang setaman, melewati mobil-mobil yang diparkir. Berlari menelusuri deretan jalan yang ditumbuhi cemara dan akasia. Menantang hembusan lembab suasana pada garis yang dibuat bumi, pada aroma angin tropis. Dan nyanyian itu masih terdengar menggema pada gereja itu…, &lt;i style=""&gt;there will be my heart….&lt;/i&gt; &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;Ia bayangkan ketika saat ini ia bukan lagi seorang gadis yang terluka. Ia akan seperti keturunan Belanda lainnya yang manja, seorang gadis dengan gaun putih panjang, berjalan menuju altar bersama ayah. Menggandeng tangan ayah dengan bahagia dan memegang kuntum-kuntum mawar atau aster. Wajahnya berhias dan manis menyungging senyumnya. Ia tahu, di depan bersama pendeta, Isak menunggunya. &lt;span style="" lang="FI"&gt;Tentu ia tak akan peduli pada hujan, juga pada ibu. Dan mama akan senang di surga sebab anak bungsunya memasuki altar tempat ia dulu pernah menyatu dengan ayah. Ia akan disucikan, dijadikan satu dalam tubuh Tuhan. Ia diberkati.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Mungkin ia tahu, ia seperti bidadari yang melarikan diri dari jaring suci laba-laba yang keluar dari gambar jendela gereja. Ia dengar lonceng gereja berdentang beberapa kali. Ia pun mendengar Adam memanggil namanya dari gerbang yang kudus itu. Namun suara samar-samar itu tahu bahwa dia harus meleburkan diri pada derasnya suara hujan. &lt;/span&gt;Dan nyanyian itu mulai menghilang sedikit demi sedikit ditelan jarak dan waktu…, &lt;i style=""&gt;I saw thy face fully&lt;/i&gt;….&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: center;"&gt;***&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;Pada waktu itu ia tidak kepemakanaman untuk menghadiri upacara pemakaman ayahnya. Untuk melihat ayahnya yang terakhir kali. Dan Adam, sepupunya yang mengejarnya di tengah hujan, terus mencari dan bertanya pada siapa saja, tentang gadis yang diam-diam dicintainya. Ia akan bertanya pada siapa saja yang melintas pada jalan itu, "Apakah kau melihat seorang gadis dengan senyum penuh luka?" atau bila ia tak sengaja menubruk seseorang di jalan yang mengenakan payung atau jas hujan dan menyapanya dengan marah-marah, maka pemuda itu akan menguncang-guncangkan bahu orang itu sambil mengatakan, "Aku sedang mencari seseorang." Hingga hari itu adalah hari di mana ia mendapat banyak kutukan dari orang-orang yang ia tanyakan. &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;Ketika ia tiba pada sebuah halte bus dengan pakaian yang kuyup dan mendamparkan diri sebagai seorang yang bingung, seorang perempuan separuh baya menghampirinya dan bertanya tentang adakah yang sedang ia tunggu atau ia cari. Dan pemuda itu hanya mengatakan dengan sisa asa yang ia punya tentang seorang gadis kuning yang berlari di tengah hujan, "Ya, aku mencari seorang gadis dengan senyum penuh luka." Perempuan itu lalu menunjuk ke arah jalan yang lurus dan mengatakan gadis yang dicarinya telah berangkat bersama putranya dan beberapa penumpang yang lain dengan bus yang menuju ke arah dataran rendah. &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Pemuda itu terduduk di bangku besi sambil menghembuskan nafas keras-keras. Uap putih keluar dari hidungnya serupa asap rokok. Mengepul memainkan hangat. Ia ingat ketika pagi tadi ia menjemput Diane, gadis itu tak sedikit pun menyeruput jeruk hangatnya. Bibi Gres bilang kalau ia sedang payah. Hingga akhirnya ia hanya mengetukkan jari-jarinya ke meja dan memandangi Diane. Sampai akhirnya ia menemukan sesuatu pada bola mata gadis itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;Uap.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: center;"&gt;***&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;Ia mengamati orang-orang yang menaiki bus itu. Penuh, sesak. Suara ayam dan tangis balita dalam kain gendongan seorang ibu. &lt;span style="" lang="FI"&gt;Dus-dus berisi ikan asin atau semacamnya dan keranjang sayuran. Ia mengamati seorang perempuan sebaya mencium laki-laki yang sepertinya adalah anaknya. Anak laki-laki itu memeluknya hangat dan menyelipkan surat dan setangkai kembang jalanan yang telah lunglai. Sebuah pelukan yang hangat seperti jeruk hangat yang disuguhkan bibinya pagi tadi. Namun ia mendahului laki-laki itu menaiki bus. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Ia menaiki bus yang sumpek dan banyak di antara mereka yang berdiri karena tidak kebagian tempat duduk. Dan ia pun ikut berdiri. Matanya memperhatikan orang-orang. Orang-orang menurunkan tangkai payung dan melipatnya, menata dus-dus dan kopor-kopor tua, menurunkan rel sleting jas hujan, menaruh ayam-ayam betina putih yang kakinya diikat di bawah tempat duduk mereka, kondektur yang merokok, lelaki berkumis yang merapatkan jaket hitamnya, dan ibu yang mendiamkan anak balitanya. Beberapa dari orang-orang itu juga memperhatikannya, bajunya yang basah, roknya yang kusut dan tak lagi putih, sepatunya yang berlumpur, atau Injilnya yang lepek. Apakah mereka tahu bahwa ia habis berlari di tengah hujan pagi ini?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Tawa, mimpi, harapan, dan tangis, serta bebauan pegunungan menjadi satu dalam bus hingga seseorang menarik tangannya, dan ia tercengang melihat seorang laki-laki bertopi baret hitam di sebuah sudut terbelakang yang dekat dengan jendela menawarkan tempat duduknya. Ia mendatangi laki-laki itu, duduk, dan menebarkan senyuman. Pada segaris senyum di bibirnya itu sebenarnya membuat laki-laki itu iba, meski itu tanda terima kasih tanpa kata-kata yang diucapkannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Ia duduk tanpa berkata-kata, menatap keluar jendela yang terbuka dan tak dapat ditutup karena macet. Ia melepas pita ikatan rambutnya karena kini rambutnya telah sangat berantakan dan membiarkan wajah serta rambutnya disapa ujung-ujung angin yang membawa butiran hujan. Bus melintas membawanya lari dari waktu. Depus angin yang mengendus-endus membuatnya terbang seperti burung ketika hamparan pemandangan hijau dan vila-vila di atas bukit memperjelas diri mereka dari kabut-kabut yang menutupi. Pegunungan baginya tak pernah lagi punya warna dingin sebab ia telah terbiasa pada cuaca yang memain-mainkan daya tahan tubuhnya. Sesekali matanya berkedip karena kering dan menemukan Diane kecil yang berlari-lari di hamparan kebun teh ayahnya. Mendapatkan ayahnya sedang memadu kasih di istal bersama ibu. Memandangi foto-foto mama di masa lalu. Mendengarkan rekaman tawa ayah yang khas dan keras seperti layaknya seorang laki-laki berdarah Holand lainnya. Dan mendapatkan bunga-bunga misterius dari seorang pemuda bernama Isak setiap hari Jumat dan Minggu. Mendapatkan ciuman pertama dan dilukis telanjang di sebuah kamar. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Pada suatu ketika, ia pun ingat ayahnya pernah mengatakan bahwa ia tidak boleh kecewa, sebab pada saatnya nanti ia tidak perlu lagi menunggu bunga-bunga karena setiap hari akan selalu ada bunga dalam kamarnya. Bunga-bunga akan berdatangan sendiri mungkin di hari-hari menjelang pernikahannya, atau bahkan kematiannya, sebab semua orang tak akan pernah melupakan seorang gadis bernama Diane.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;Ia memeluk erat Injil di dadanya seperti memeluk mantel yang tebal. Ia merindukan kehangatan-kehangatan, seperti pelukan perempuan separuh baya di halte tadi, atau jeruk hangat yang ditawarkan bibi Gres. &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;Waktu semakin tertinggal jauh di belakang, dan kini deras hujan menyurut, menempatkan waktu yang tidak lagi pagi. Ia berpaling dari masa lalu dan baru menyadari bahwa laki-laki yang duduk di hadapannya, yang tengah tertidur pulas, adalah laki-laki yang menyelipkan &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;surat&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; serta setangkai kembang pada perempuan di halte tadi. Dan laki-laki berbaret hitam yang berdiri serta memperhatikannya sedikit-sedikit adalah laki-laki yang menawarkan tempat duduknya. &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;Pada suasana yang mulai teduh dan tenang karena sebagian besar penumpang tertidur, kondektur mulai menagih tariff jalan. Tapi ia kembali memalingkan wajahnya keluar jendela. Ia hanya membawa Injil. &lt;span style="" lang="FI"&gt;Sehingga ketika tangan kondektur meminta tarif jalan padanya, ia hanya menatap kebingungan. Maka laki-laki berbaret hitam yang berdiri itu seraya tahu bahwa ia tidak membawa uang, dengan cepat ia mengeluarkan selembar uang puluhan dan berkata, "Aku dengannya." Sekali lagi ia menatap laki-laki itu dengan senyuman terima kasih pada bibirnya yang pucat biru karena dingin. Namun laki-laki itu tetap merasa bahwa senyuman itu sungguh menyakitkan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Laki-laki itu bertanya, "Apakah kamu mau pergi ke Kota?" tapi ia tidak menjawab, karena baru kali ini ia pergi sendirian ke tempat yang jauh yang ia tidak tahu dan ia memang tak punya tujuan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Sampai pada pemberhentian bus yang lain, ketika banyak penumpang turun dan laki-laki berbaret itu mendapatkan tempat duduk di tempat yang lain yang jauh darinya dan lebih nyaman. Meski begitu tak sedikit pun ia beranjak untuk mendapatkan tempat yang lebih baik. Sedang laki-laki yang tertidur di depannya telah terbangun dan turun untuk mencari bus lain yang sesuai dengan arah tujuannya. Kini di dalam bus beberapa tempat duduk tampak kosong. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Bajunya hampir kering dan lumpur di sepatunya telah mulai mengelupas. Sempat ia perhatikan jari-jari tangannya yang masih mengeriput ketika seorang kakek naik ke dalam bus dan hendak duduk di hadapannya. Kakek itu tampak kesulitan melipat payung hitamnya. Sebuket mawar merah bercampur aster kuning diletakan di sampingnya. &lt;/span&gt;Ia melipat payung hitam itu dengan tangannya yang telah keriput dan bergetar. Payung hitam yang begitu uzur dengan tangkainya yang terbuat dari besi yang tidak lagi mengilat, tetapi mulai bengkok dan berkarat. Meski begitu payung itu mengingatkannya pada payung hitam yang dibuka Adam tadi pagi, berputar-putar pada porosnya. Seperti hujan, seperti hendak menebarkan sesuatu. &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;Ia pun memperhatikan sandal jepit yang dipakai kakek itu yang dipenuhi oleh lumpur yang basah dan liat. Sesekali ia menatap kakek itu, menatap matanya yang kelabu dan tak lagi jernih. Menatap segala sejarah kesusahan hidupnya yang terangkum dalam matanya dan terbias pada rambutnya yang telah hampir memutih semua. &lt;span style="" lang="FI"&gt;Ia menelan ludah dan kembali memperhatikan buket bunga merah dan kuning itu. Sampai pada suatu saat mata mereka bertemu dan ia kembali memalingkan wajah keluar jendela. Kakek itu telah selesai melipat payungnya dan membiarkan payung itu bersender di sudut di sampingnya, hingga bulir air-air hujan dari payung itu menetes dan membuat basah lantai bus. Kakek itu mengambil buket bunganya dan dipegangnya erat-erat dengan kedua tangannya yang rapuh. Namun lelaki tua itu seakan tahu bahwa diam-diam ia tengah mencuri pandang untuk melihat bunga-bunga yang dipegangnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Ia mulai menerka-nerka kalau bunga-bunga itu baru saja dibelinya untuk dihadiahkan pada seorang cucu perempuannya, atau anak perempuannya yang akan menikah mungkin. Atau, ia pun mengira kakek itu baru saja mendapatkan bunga itu dari seorang sanak yang peduli sekali akan hari tuanya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sekali lagi ia mencuri pandang pada buket dalam genggaman tangan tua itu, maka tak ada tempat ia menyembunyikan wajahnya karena sang kakek selalu memergokinya. Kakek itu melontarkan senyum padanya setiap kali tingkahnya diketahui dan ia pun hanya membalas senyum itu seperti senyuman pada laki-laki yang menawarkan tempat duduk padanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Kakek itu menemukan gadis itu menyiratkan senyuman penuh luka. &lt;/span&gt;Ia membuang wajahnya yang segar dan pucat itu keluar jendela. Kakek itu tahu gadis itu kedinginan, memeluk sebuah alkitab seperti memeluk sesuatu yang dapat menghantarkan rasa hangat. Gadis itu memperhatikan setiap pohon yang mulai berderet jarang-jarang seraya mengenang serentetan kenangan di sepanjang perjalanan hidupnya yang masih terlampau muda. Wajahnya seperti perdu yang ditumbuhi oleh bunga-bunga berwarna kuning sekuning baju yang ia kenakan. Namun wajah segar yang memantul kekuningan itu adalah wajah yang serupa dengan suasana siang itu. Siang yang mendung dengan langit keabuan membentang tanpa jeda dari utara ke selatan. &lt;span style="" lang="FI"&gt;Sesekali sang kakek melihat gadis itu menelan ludah kala tatapan mereka bertemu. Kakek itu tahu, gadis kuning itu menyukai bunga-bunga yang dipegangnya. Maka mata kelabu itu menerawang jauh menembusi waktu, menembusi senyum mungil yang terluka itu. Mengarungi masa lalu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Hampir limapuluh tahun lalu ketika hujan gerimis seperti saat ini. &lt;/span&gt;Ia menemukan seorang gadis dengan kebaya hitam bemotif daun-daun hijau. Rambutnya rapi tersanggul dengan melati menghiasi. Ia duduk di samping dua orang teman perempuannya, memperhatikan dengan saksama lakon yang dimainkan Nurnaningsih dalam sebuah filmnya. Ketika keluar dari gedung bioskop, ia mendengar perempuan itu tertawa. Sebuah tawa khas perempuan yang benar-benar menikmati kemerdekaan. Herman, temannya, memperkenalkan ia pada ketiga perempuan itu. Dan gadis itu bernama Nina, seorang gadis sembilan belastahun, adik dari seorang teman Herman. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; sesuatu yang dapat dilihatnya pada mata bening itu. Sebuah uap yang menghembuskan cinta pertama, sejumput senyum gadis kemayu yang manja dan baru mendapatkan bebas pada seusianya. &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;Nina dijemput kakak lelakinya, dan sebelum ia mengibaskan selendang hijaunya sempat keluar dari bibir manis itu bahwa minggu depan di waktu yang sama ia akan menonton lagi di bioskop itu. Sebuah bioskop dibilangan Paser Baroe.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;Maka pada malam-malam yang panjang di langit musim hujan, banyak sudah puisi dan &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;surat&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; yang ia tulis untuk dapat melampiaskan rindu pada gadis berselendang hijau itu. Setiap ada waktu usai mengajar di SMEP&lt;sup&gt;5&lt;/sup&gt;, ia pun akan menyempatkan mampir ke rumah sang gadis di bilangan Harmony. Ia akan memasuki sebuah gang kecil yang berdebu bila hari sedang tidak basah, menemukan deretan kembang-kembang asoka yang ditempeli debu, menemukan pagar kayu bercat hitam dengan rumah yang teduh lagi asri, dan menemukan seorang gadis dengan kepangan yang permai sedang duduk di beranda. Gadis itu akan terkejut, dan matanya mencerminkan senyum manisnya. Gadis itu tahu bahwa seseorang telah datang untuk mengambilnya dari taman bunga, seseorang yang kelak akan memetiknya, menikmatinya, dan layu bersamanya. &lt;span style="" lang="FI"&gt;Maka ia dengan malu-malu berlari ke dalam dan membiarkan kainnya terseret menyapu lantai. Ia akan berteriak, "Mas Heru di luar ada tamu. Temanmu itu, lho." Ia baru kembali apabila telah membawa sajian teh hangat atau kopi kental dengan kattetong&lt;sup&gt;6&lt;/sup&gt;, kacang , atau nastar. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Nina, gadis itu, selalu mengenakan kebaya terbaiknya dari bahan brokat dengan motif yang selalu menarik. Ia akan menghias rambut dan memberi gincu pada bibirnya. Nina selalu memesona setiap kali ia mengajaknya untuk nonton di bioskop atau berjalan-jalan. Ia jadi ingat pada suatu pagi di hari minggu ketika ia mengajaknya jalan-jalan. Entahlah mungkin ke Pasar Ikan atau ke Kota, hanya hendak melihat-lihat saja, reflesing, tanpa ada tujuan yang pasti. Dan tanpa sengaja, ketika menunggu trem dan gerimis turun sementara mereka tak membawa payung, serta perbincangan mereka mulai lirih, ia mengamit tangan gadis itu, mendekapnya dalam-dalam di dadanya. Gadis itu tersenyum, dan tanpa banyak bicara mereka menaiki trem. Duduk diam-diam. Kendaraan itu seperti berjalan dengan sangat lambat dengan bunyi kleneng-klenengnya yang merdu, dan mereka seakan tak mau turun di tempat pemberhentian manapun. Menurutnya, hujan adalah anugerah yang membuatnya terdampar pada kenikmatan cinta dari seorang gadis berkepang yang memandang ke arah luar jendela dengan senyum mudanya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;Ia ingat wajah segar itu berseri berderai-derai ketika bibirnya memagutnya. Atau saat gadis itu menemukan sepucuk &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;surat&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; dan kembang-kembang berwarna dan beraroma pada setiap pagi beberapa kali dalam seminggu. Semua yang segar itu, semua yang indah itu, segala cinta yang mengembang itu, tak pernah layu meski telah waktunya. Segalanya berpendar-pendar bak cahaya. Mewarnai waktu demi waktu, dalam kesendirian, dalam kesepian, dalam kehampaan. Nina baginya adalah hakikat seorang perempuan yang tidak pernah merasa sepi, meski keceriaan dan senyumnya digubah waktu menjadi seorang yang sendiri. Menjadi seorang perempuan dengan senyum penuh luka setiap kali ia coba memasuki ke kedalaman matanya. &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Ia ingin meletakan setangkai mawar pada kelopak mata itu. Ia ingin perempuan itu tetap tahu bahwa betapa ia tidak bisa melupakannya, bahwa ia tetap seorang laki-laki yang penuh kasih padanya seberapa adanya perempuan itu sekarang. Ia ingin menghapus senyuman luka yang pernah terukir di wajahnya, sehingga ia tak perlu mendengar lagi perempuan itu menangis tengah malam di ruang tamu dengan hanya ditemani lampu gantung yang temaram dan menatap hampa pada kembang sedap malam yang bergoyang-goyang kaku. Ia ingin mengatakan bahwa betapa bahagia hidupnya karena Tuhan mempertemukannya padanya, sekalipun ia adalah seorang perempuan yang tidak pernah diberkahi keturunan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Sungguh saat ini ia seperti melihat segala yang telah berlalu itu. Merindukan segala yang nyaris hilang ditelan umurnya. Merindukan hangat tatapan mata atau kecupan. Atau mungkin pula hangatnya sarapan pagi yang disediakan perempuan itu. &lt;/span&gt;Kopi kental panas yang benar-benar masih beruap bersama pisang yang digoreng dengan sedikit tepung dan garam. &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;Namun ia melihat gadis kuning itu lagi, menghimpitkan wajahnya yang segar tetapi pucat di samping kaca jendela yang terbuka lebar. Sesedikit gerimis menggores pipinya. Dan garisan senyum itu mengingatkan ia garis senyum Nina pada wajah tirusnya saat berada di trem dulu, di waktu yang berbeda ketika ia mengamit tangannya dan menaruhnya rapat-rapat dalam dadanya. Ia tahu, ada sesuatu yang sedang disembunyikan, mungkin tentang luka, atau kecewa yang dibuat hidup atau laki-laki. &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;Ia menunduk, menatap buket mawar dan aster dalam genggamannya. Pada matanya yang kelabu itu ia merasakan hangat dan sesuatu yang berair hendak meluncur di ujung-ujungnya. Ia mengambil sapu tangan biru dari sakunya dan mengusap ujung-ujung matanya. Tanpa sengaja ia merasakan gadis dengan pakaian kuning itu memperhatikannya lagi sambil menahan senyumannya yang mengingatkan ia pada bingkai Nina yang telah berdebu. Ia membalas senyuman itu, berkali-kali setiap kali gadis itu dipergokinya tengah memperhatikannya atau memperhatikan bunga-bunga dalam genggamannya.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;'Andaikata Nina dapat mengulang hidupnya, tentu aku akan memetik lebih banyak bunga-bunga untuknya hari ini, dan ia tidak perlu tersenyum seperti itu.' &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;Lalu ia menatap pemandangan di luar jendela, memperhatikan apa yang diperhatikan oleh bunga perdu yang sedu itu. &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: center;"&gt;***&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;Menuju jalan yang lurus, menunjukan tiang-tiang lampu yang tinggi. Segala cekung waktu telah terlewati dan matahari mulai menguapkan sinarnya meski gerimis tipis tetap membasahi. &lt;span style="" lang="FI"&gt;Ketenangan dan mimpi mengambang di ujung kantuk dan helaan suasana yang mulai menghangat. Dataran rendah. Pohon-pohon yang kehilangan warna. Rumah-rumah yang bergelimpangan tak beraturan dan rapat padat. Gedung-gedung yang menjulang. Becek. Orang-orang yang sibuk. Segalanya terlihat jelas dari sebuah sudut belakang bus, tempat ia duduk berdamping dengan jendela yang tak pernah bisa ditutup. &lt;/span&gt;Tol yang macet di sebuah jalan &lt;i style=""&gt;fly over&lt;/i&gt; yang memisahkannya dengan rumah dan luka. Ia perhatikan lagi kakek itu yang terjaga dari kantuk, dan bunga-bunga yang tidak pernah layu sepanjang perjalanan waktu. Apakah kakek itu tahu bahwa ia habis berlari di tengah hujan pagi tadi?&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Ia menelan ludah, tetapi kakek itu mungkin sudah jenuh untuk mempertemukan tatapannya dengan matanya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Tiba-tiba ia sadar bahwa ia tak punya tujuan. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan ketika bus yang ia tumpangi akan menuju terminal terakhir. Apakah ia harus berlari lagi?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Sedikit disempulkan kepalanya keluar jendela, dihirupnya udara kota yang hangat. &lt;/span&gt;Menatap angkasa yang mulai membiru segar dan menemukan burung-burung berbaris berterbangan dengan rapi. Ia pejamkan mata. Bus keluar dari jalan tol. Namun di tengah keramaian &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; yang permai itu ia temukan sedapnya bebauan kamboja. Sebuah bunga yang menyebarkan keabadian. Sebuah bunga khas yang mengingatkan ia pada ayah. Pada mama yang tertanam lebih dulu. Pada gundukan tanah merah yang basah.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;Terlepas dari kemacetan lalu lintas &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;, terdengar suara klakson dan ia mendengar kondektur bus itu menyebutkan nama suatu halte pemberhentian sebelum bus itu mengakhiri perjalanannya pada terminal terakhir. Segera ia melihat kakek tua itu mengambil payungnya dan bersiap hendak berdiri. Namun segala detik seperti tertunda dan gerimis tipis di luar berubah menjadi kristal. &lt;span style="" lang="FI"&gt;Kakek itu memperhatikannya dengan senyum…, entah mungkin seperti senyum pertama kali yang ia lontarkan pada cinta pertamanya. Namun untuk kesekian kali balasan senyumnya masih tetap sama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;"Kau mengingatkanku pada anak perempuanku yang tidak pernah aku miliki." Lelaki tua itu menatapnya. Alisnya yang kelabu merenggang saat wajah yang penuh garis keriput itu mengendur sebab sunggingan di bibirnya. Mata lelah itu menembus selaput jala di matanya. Dan ia tak ingin berpaling karena ia tertegun dan heran. Bukankah dalam perjalanan yang basah dan tenang itu mereka tak pernah berkata sepatah pun kecuali bertemu dalam tatap?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;"Aku tahu, kau menyukai bunga-bunga ini," ujarnya. &lt;/span&gt;Suaranya yang tua itu terdengar dalam dan serak. &lt;span style="" lang="FI"&gt;Ia memperhatikan jakun lelaki tua itu. Kini ia tahu lelaki tua itu menelan ludah. Ia tahu ada sesuatu yang tersangkut di sana. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;"Dan aku rasa istriku menghendaki kau memilikinya. Aku akan memberitahu dia bahwa aku memberikan bunga-bunga ini padamu." Ia tersenyum untuk yang terakhir kali dan memberikan buket yang semerbak itu padanya. Gadis itu dengan heran tak menolak. Ia menerima pemberian tulus itu dengan hati yang penuh rona. Sesaat kemudian setelah mata kelabu itu berpaling, ia melihat sepasang kaki bersandal jepit teplek beralaskan lumpur yang telah mengering dan mengelupas. Kaki. Langkah kaki laki-laki tua itu turun dari bus dan berjalan memasuki pintu gerbang sebuah pekuburan kecil. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Pada sebuah halte tak seberapa jauh dari gereja yang memiliki lonceng di atas menaranya, seorang pemuda masih duduk di bangku besi. Hujan tak kunjung reda. Sedang hari menjelang sore. Dan ia tak peduli pada sebuah acara pemakaman atau pernikahan, meski banyak orang yang mencarinya atau membujuknya untuk kembali. Tidakkah mereka lihat bahwa matahari pun tengah sesegukan?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Seberapa lama ia menunggu? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Halte yang dingin dan mulai kehilangan penggemar. Gadis kuning dan hujan. Matanya menghangat. Nafasnya beruap. Uap seperti jeruk hangat pagi tadi. Menatap mata seorang gadis pucat dan disela-sela itu ia menemukan sebuah senyuman yang membuat hatinya terluka. Apakah semua orang tahu ia sedang menunggu? Apakah semua orang tahu bahwa ia sedang mencari seorang gadis dengan senyum penuh luka yang berlari di tengah hujan pagi tadi?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Aku. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Baru pertama kali aku menjumpai kesejatian yang begitu aneh dalam satu waktu. Ketika aku memperhatikan dan berdecap kagum pada sketsa untitled dan beragam nude&lt;sup&gt;7&lt;/sup&gt; yang dilukiskan Isak untukku. Lukisan-lukisan aku yang telanjang di kamar, di tengah kebun teh, di tengah hujan, di hamparan perdu, dan berbaring manja pada bunga-bunga berwarna merah, kuning, ungu, putih, dan nila. Bukankah sekarang aku menerima bunga dari seseorang yang sama sekali tak kukenal? Bukan ayah, bukan Isak, bukan bibi Gres, bukan Adam, bukan kakak-kakakku, bukan siapa pun juga. Hanya seorang lelaki tua yang tidak mengerti Injil, hanya seorang lelaki tua yang sungguh memiliki sejarah yang berbeda dan tak ada sanggut pautnya dalam hidupku. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Dan kamboja-kamboja itu mengingatkan aku untuk kembali pada waktu. Untuk kembali berlari.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Aku menatap kondektur itu. Aku tak ingin turun pada terminal terakhir. Namun kakiku terpatri dan mataku menjatuhkan air mata pada kelopak-kelopak segar dalam genggamanku. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Aku. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Untuk pertama kalinya aku mengeluarkan air mata di hari ini. Ketika sedikitpun aku tidak menyentuh jeruk hangat buatan bibi Gres, atau saat aku berlari keluar gereja tanpa mengucapkan kata "amin" dan tersenyum pada pendeta. Ketika aku tak mengeluarkan suara untuk bernyanyi &lt;i style=""&gt;Behind The Bright Blue Sky&lt;/i&gt; dan tak menaruh harapan pada langit biru di luar sana. Atau tak berdoa. Dan bahkan aku tak peduli pada peringatan kristus untuk diam di tempat saat gema lonceng berdentang melawan deras suara hujan. Aku hanya ingin berlari di tengah hujan. Menuruni tangga saat lonceng berdentang tanpa meninggalkan suatu jejak seperti yang dilakukan Cinderella. Aku pun tak mau mendengar teriakan Adam memanggil namaku di depan gerbang, dan meski ia takut jasnya basah ia ternyata lebih takut tak menemukanku. Namun kini, jarak membuatku ingin kembali berlari. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Apakah kondektur itu bingung dengan tatapanku?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;"Aku turun!" pintaku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;"Nanti, sebentar lagi, di depan."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;"Aku ingin turun!" kataku lagi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;"Di sini tidak boleh menurunkan penumpang." &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;"Tapi aku ingin turun di sini!" teriakku. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Suatu saat di senja hari. Semua orang akan melihat seorang gadis kuning dengan senyuman penuh luka dan sebuket bunga serta Injil di tangannya berlari kembali ke dataran tinggi. Melewati jalan tol &lt;i style=""&gt;fly over&lt;/i&gt;. Melewati kendaraan-kendaraan dan deretan pepohonan. Menembus rintik hujan. Bila ia lelah, ia akan berhenti, dan bila bertemu seseorang ia akan mengatakan bahwa ia telah menikah siang tadi di sebuah bus. Ia akan memperlihatkan bunga-bunga itu sebagai tanda pernikahannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Ia pun tahu untuk apa bunga-bunga itu akhirnya. Ia akan berhenti berlari pada terminal terakhir, yaitu sebuah pemakaman. Di sana ia akan bercerita pada sebuah nisan putih dengan tanah merah yang masih basah dan segar, &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;"Ayah, aku telah menikah hari ini. &lt;/span&gt;Sayang ayah tak bisa mendampingiku. Tapi ayah tak perlu mengulangi hidup, sebab aku akan mengirimkan lebih banyak bunga setiap kali aku mampir di sini."&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: center;"&gt;***&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; text-indent: 27pt;" align="right"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Gading basah, Mon 070305 at 23.29&lt;br /&gt;Teruntuk sutradaraku: Fadli&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Catatan:&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Corfivollus:&lt;/span&gt; sejenis bunga perdu&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sakramen :&lt;/span&gt; acara ibadah yang bersifat khusus dalam agama Kristen &lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Protestan di antaranya penyerahan anak, babtisan air, perjamuan kudus, pernikahan, dan kematian (upacara pelepasan).&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Nubuatan :&lt;/span&gt; firman Tuhan dalam alkitab &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Antiokhia :&lt;/span&gt; nama jemaat pertama pengikut Kristus di Antiokhia&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Shag : &lt;/span&gt;rokok cerutu khas Belanda&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SMEP :&lt;/span&gt; Sekolah Menengah Ekonomi Pertama&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kattetong :&lt;/span&gt; dari bahasa Belanda, merupakan kue kering yang biasa disebut Lidah Kucing&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Nude &lt;/span&gt;: lukisan perempuan telanjang&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2274548059948312448-4359418688575587243?l=cerpen-wulan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpen-wulan.blogspot.com/feeds/4359418688575587243/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2274548059948312448&amp;postID=4359418688575587243' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2274548059948312448/posts/default/4359418688575587243'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2274548059948312448/posts/default/4359418688575587243'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpen-wulan.blogspot.com/2007/04/corfivollus.html' title='Corfivollus'/><author><name>wulan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12360063595710708385</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_ucpQ1vKpaQM/RhM3LOv1EZI/AAAAAAAAAAk/GLQ1AJkiMQA/s320/wulan2.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2274548059948312448.post-6640036139931261094</id><published>2007-04-11T01:17:00.000-07:00</published><updated>2007-04-11T01:22:01.467-07:00</updated><title type='text'>Perempuan yang Kencing di Semak</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153); font-weight: bold;"&gt;Cerpan Wa Ode Wulan Ratna&lt;/span&gt;&lt;o:p style="color: rgb(0, 0, 153); font-weight: bold;"&gt; &lt;/o:p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;Aku ingin jadi daun, jadi ranting, jadi embun dan angin. Sekadar menyadap bau-bau rerumputan siangik, paku rangsang, dan ilalang menguning. &lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Mengukuhkan pohon-pohon sialang, sikaduduk, kempas, rumbai dan batang-batang sungkai.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;       Dini menyedapkan langkahnya, melompati lumpur, becek, lalu hilang dibalik semak belukar, di antara pepohonan hutan yang mulai meradang. Diam-diam aku mengikutinya dari belakang. Aku tahu perempuan berkerudung kuning itu hendak menggunduli hutan dengan caranya. Mengangkat kainnya tinggi-tinggi hingga betisnya yang putih lencir itu mengangai alam. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Oi, aku kehilangan pohon-pohon itu.” &lt;/span&gt;Diam-diam kudengar ia mengumpat. Umpatan perempuan yang kadang-kadang terdengar seperti ngengat. Aku terjongkok diam di antara pepohonan liar yang bersisa. Dari &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; aku mengintip ia berjongkok, mengangkat kainnya tinggi-tinggi hingga aku dapat melihat paha dan selangkangannya seperti menjelajah hutan baru. &lt;span style="" lang="FI"&gt;Aku menelan ludah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Hoi, setan!&lt;i style=""&gt; Tauke&lt;/i&gt; sialan!” teriaknya, sebongkah batu nyaris mengenai wajahku. Dengan perasaan naas dan gemas aku lari tunggang langgang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Suatu malam aku pernah melihat Dini membawa pelita &lt;i style=""&gt;teding&lt;/i&gt; ke dalam hutan yang setengah basah. Bukan untuk membakar tanah kami sendiri, tapi untuk kembali ke semak. Ya, biasanya kembali ke semak selain untuk mengambil wudhu di kali. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Malam-malam itu memang sepi, tapi terdengar ramai sekali. Setiap malam di kampung kami memang seperti itu. Sebuah dunia baru yang seperti&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;alam gaib tengah didirikan. Kampung yang lelap, tapi di tengah sana, belantara yang mulai keropos dan semak-semak yang menyimpan kelamin-kelamin untuk menuntaskan hajatnya, akan terdengar suara kepulan, kayu-kayu terpangkas, dan pohon jatuh tiba-tiba.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;Pinggang yang masih kecil itu dengan perut yang mulai membuntal. &lt;span style="" lang="FI"&gt;Andai benih itu milikku, tentu sudi sekali aku mencari pekerjaan lain yang halal untuk membuatnya subur seperti hutan sediakala.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Ju, kau habis dari mana?” Monda datang tanpa kusangka-sangka. Aku menghapus peluh dari keningku. Ia menawarkan rokok, aku langsung mengamit satu di bibir. Ia tersenyum dan mematikkan api untukku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Jangan kau bilang kalau kau habis mengintip perempuan itu lagi,” ia menahan tawa. Sedang mengejekku. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Pah, bukan urusanmulah itu. Pernah kau lihat perempuan lain selain ibumu kencing di semak-semak?” Monda tertawa. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Nanti dulu,”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Ya, tapi ibuku punya jamban di rumah. &lt;/span&gt;Tidak tinggal di rumah &lt;i style=""&gt;lanting&lt;/i&gt; untuk bernaung.”&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;“Ah, kau tidak mengerti bagaimana seninya perempuan kencing di alam terbuka.” &lt;span style="" lang="FI"&gt;Kataku sedikit kesal. Monda mulai menahan-nahan tawanya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Sudah dapat berapa pohon?” tanyaku selanjutnya hendak melupakan perempuan pias itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;“Sudah tujuh yang tertebang.”&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;“Yang besar-besar?”&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;“&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; tiga yang masih di bawah umur. Tapi Mad Nawar marah-marah. &lt;span style="" lang="FI"&gt;Katanya masih terlalu sedikit dan harganya akan tidak sesuai. Kita butuh pohon-pohon yang segar seperti sialang dan rotan.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;“Lebih banyak lagi?”&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;“Ya, semakin banyak semakin baik. &lt;span style="" lang="FI"&gt;Kita bisa mendapat keuntungan yang lebih besar.” Aku mengendus, menghembuskan asap tembakau itu jauh-jauh. Memperhatikan asap itu menguap bersama embun sebab sinar matahari jadi begitu tajam ketika ia semakin meninggi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Di mana kira-kira lokasi yang banyak pohon-pohon itu?” aku menatap Monda rapat-rapat. Ia sedikit tertegun dan mungkin hidungnya mampat lagi. Ya, hidungnya memang mampat sebelah, dan ia selalu kesulitan untuk bernafas. Oleh sebab itu orang-orang yang melihatnya pasti menyangka ia bernafas dengan mulut. Mulutnya selalu terbuka, sebab selain mengeluarkan asap rokok juga mungkin ada udara sisa. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Aku sudah dua hari memantaunya. Tidak jauh dari sini.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Apa? Keluar dari wilayah ini?” aku nyaris memekik. “Jangan gila, kita tak punya surat izin. Kau mau tertangkap basah?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Sabar, Raju.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Sabar? Aku sebenarnya sudah mulai muak untuk menambah daftar kejahatan lagi dalam hidupku. Jangan suruh aku membuat surat izin palsu.” Hatiku bergemuruh, tiba-tiba pikiranku kembali pada emakku. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Lho, tentu tidak perlu. Sudah ada para &lt;i style=""&gt;tauke&lt;/i&gt; yang mengepul kayu hampir setiap malam di sana. Kita juga harus bersaing.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Di mana?” tanyaku akhirnya dengan nada datar dan tak memolesinya dengan ekspresi apa-apa. Tangan Monda mengarah ke arah timur, tempat biasa matahari memaksa ngengat bangun untuk menghilangkan malam-malam jahat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Di timur itu sebenarnya aku ingin mengepul sinar matahari yang pecah-pecah. Memungutinya dan menaruhnya dalam karung goni. Sebab sinarnya yang menyengat itu mendapat restu rerimbun untuk meneduhkan, meski ada beberapa yang tanggal dan mulai meradang. Ya, di timur itu sebenarnya aku ingin menjelajah hutan yang lain. Memang bukan yang perawan tapi begitu rawan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Ah, hutan itu Monda? Di situlah tempat biasa aku mengintip seorang perempuan muda tengah mengencingi tanahnya sendiri. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Aku ingat perempuan tua yang menjadi emakku itu. Di depan jendela ia menjungulkan kepalanya. Menatap bintang yang semakin kelihatan sebab lahan langit semakin meluas tak tertutup pohon-pohon yang mulai jarang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Kita mendurhakai tanah kita sendiri, nak. Menjadi pencuri di rumah sendiri.” Matanya sabak karena menangis. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Tak sudi aku melihat kau bekerja seperti itu. Bukankah lebih baik kita jual saja rumah ini untuk biaya hidup, untuk adik-adikmu yang kadung tumbuh?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Jangan, mak. Kita tak punya apa-apa lagi. Aku berjanji bila telah selesai proyek ini, aku akan mencari pekerjaan yang lebih baik. Kalau perlu aku akan ke kota.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Kita sudah makan uang haram. Kau taruh di mana harga dirimu?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Mak, tapi kita juga harus segera &lt;i style=""&gt;melansai&lt;/i&gt; hutang-hutang Abah. Mak tak kasihan pada Abah. Sudah dua bulan meninggalkan kita tapi tak juga sepeser pun hutangnya terbayar.” &lt;/span&gt;Mak diam, ia bersama seguknya. &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;“Sudahlah, Mak. Hanya sebentar saja. &lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Ngapa&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt; mak macam ‘tu?” perempuan itu berbalik. Menghapus derai di pipinya dan mencoba tersenyum. Ada &lt;i style=""&gt;sontil &lt;/i&gt;di sela giginya. Aku dapat melihatnya dengan jelas, sebab hanya itulah yang jelas dari sosok tua dan rapuh itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Raju, kau anak lelakiku tertua. Pengganti Abah. Apakah kau masih ingat bagaimana Abah mati, nak?” aku menelan ludah. Itulah peristiwa pilu yang melantak hatiku. Aku malu terhadap perempuan itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Ya, Abah mati tertiban pohon.” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Senja kesumba, Monda belum datang. Mungkin ia memanggil pengepul-pengepul lain. Orang-orang kepercayaan Mad Nawar. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Duh, mahakekasih telah usai kau melegam di bawah payung mentari. tidakkah kau rasakan kita telah mengabu karena teriknya? Alamak, masih ada bias saga di kedua pipi Dini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Perempuan itu dengan langkah lihai keluar dari petak ladangnya. Ia menelusuri sejarah rumput hitam yang melumpurkan ketelanjangan telapak kaki kecilnya. Diturunkannya &lt;i style=""&gt;topi purun&lt;/i&gt; usai ia menguak huma di belantara padangnya. Menyeka bulir keringat seperti menyeka air mata. Aku menggeleng-geleng. Betapa sempurnanya ia menjadi perempuan yang berdiri di antara kekotoran-kekotoran hidup dan tanahnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Aku melambai ke arahnya. Ia tersenyum dan melambaikan &lt;i style=""&gt;topi purun&lt;/i&gt;nya. Satu tangannya menenteng rantang kecil. Ia pun menghampiriku. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Bagaimana, Din hari ini?” tanyaku ketika ia mendekat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Wah, seperti biasa. Melelahkan.” Ia memberikan rantangnya kepadaku. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Apa isinya?” tanyaku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Nasi berlauk belacan, sambal tokok, dan ikan bilis.” Ia tersenyum masih berdiri menatapku yang segera bangkit dari &lt;i style=""&gt;tersadai&lt;/i&gt; ketika melihat kakinya keluar dari semak itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Bang Raju menunggu siapa?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Mm.., teman. &lt;/span&gt;Tapi sebentar lagi datang.”&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;“Dini dengar Abang mau ke &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;?”&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Ya, rencananya. Kota selalu menjanjikan pekerjaan yang lebih baik.” Aku menatapnya, ia membetulkan kerudung kuningnya yang pudar. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Hutan semakin tidak aman ya, Bang? Banyak sekali &lt;i style=""&gt;tauke&lt;/i&gt;. Siang-siang pun mereka berani terang-terangan. Tak cukuplah sumpah seranah bagi mereka itu. Perbuatan-perbuatan laknat yang tak terampuni!” Dini memandang hutan. Matanya &lt;i style=""&gt;buntang&lt;/i&gt; menerawang dan aku hanya bisa tertunduk. Malu pada diriku sendiri. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Din, sepertinya aku tidak pulang malam ini. Bawalah kembali rantangmu. Rumahku terlalu jauh.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Abang menolaknya?” aku tahu ia sedikit kecewa. Tapi aku tahu ia akan lebih kecewa bila mengetahui siapa si pengintip itu dan siapa salah satu &lt;i style=""&gt;tauke&lt;/i&gt; itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Maafkan aku, Din. Tapi tak mungkin kau mengantarnya ke rumahku.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Ini oleh-oleh buat emakmu. Aku yang buat sendiri.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Sudahlah, Din. Tak baik kalau kau terus-terus seperti ini. Kau sudah bersuami. Di dalam tubuhmu tengah tumbuh tubuh baru.” Aku melihat perutnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Oh Tuhan, dinalah perempuan ini! Abang tahu kan, di bukit Samyong sudut Batam, suamiku tengah memenuhi nafsu &lt;i style=""&gt;tauke&lt;/i&gt; dari Singapura? Dia tak tahu aku tengah berbadan. Tak pulang-pulang.” Ia mengambil rantangnya dan bergegas pergi tanpa mengurai panjang kata permisi untukku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Aku menggigit bibir bawahku, tanganku merongoh saku celana dan menemukan sebatang rokok. Kucium bau tembakaunya di bawah senja yang mulai luntur, memperhatikan langkah lincah perempuan berkain itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Suasana sesedap kenanga ini sebenarnya ingin kukirim bersama senja semerah dadamu, Dini. Duh perempuan yang memenuhi tanahnya dengan air seninya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Hasrat yang satu itu, membuang air sisa lewat saluran kelamin adalah seni terindah yang pernah dimiliki anjing. Hewan itu membatasi wilayahnya, panggungnya, kekuasaannya dengan mengencingi tiap sudut tanahnya. Memberi batasan-batasan kalau di wilayah itulah ia meraja dan tak boleh ada yang menjamahnya. Kita menirunya, tapi kini kita jauh lebih beradab. Orang bilang itu beradab. Tapi kau, perempuan yang kencing di semak dalam belantara itu, adalah mengencingi tanah-tanah leluhur yang lelah dalam daki tahun-tahun. Zaman yang &lt;i style=""&gt;lintang pukang&lt;/i&gt;, hutan yang meradang, pohon-pohon yang hendak melolong tumbang. Air kencingmu merimbunkannya kembali. Mengembalikan semua unsur-unsur hara yang hilang itu. Menguatkan hati akar-akar yang mulai mati. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Aku kembali &lt;i style=""&gt;tersadai&lt;/i&gt;. Memainkan asap tembakau hingga akhirnya mataku &lt;i style=""&gt;rejam&lt;/i&gt; karena pelupuk yang kian memberat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Aku pergi.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Raju, temani Abahmu!” Aku ingat Mak masih di dapur. &lt;/span&gt;Hanya suaranya saja yang terdengar. &lt;span style="" lang="FI"&gt;Aku bergegas keluar, menemani Abah. Jalan-jalan sepi melenggang. Matahari baru naik seujung daun puring. Kami berjalan jauh melintasi hutan-hutan. Rimbun tanpa lelah bersama derai tawa, kata-kata yang kulupa itu apa. Tapi kami tampak bahagia. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Matahari masuk lewat celah-celah pepohonan mempelam, macang, dan rambai. Burung Cancibau telah lama bangkit memulai kicau. Tapi tiba-tiba kulihat di sana, tidak terlalu jauh, ada Monda dan Mad Nawar, atau mungkin juga aku, sungguh transparan membiarkan pikiran-pikiran telanjang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Aku berhenti melangkah. Samar kudengar suara mereka. Ternyata di belakang mereka ada berpuluh-puluh pengepul kayu lainnya. Aku menganga.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Monda, cepat &lt;i style=""&gt;regas&lt;/i&gt; pohon itu. Kita butuh pohon sialang lebih banyak.” Kulihat Monda mengarahkan mesin penebang pohon. Mesin itu begitu menderu hingga linu seluruh gigiku. Tapi teriakan Mad Nawar memberi aba-aba pada semua semakin parau. Seperti bukan suaranya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Raju, kenapa berdiri di situ. Cepat bantu!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Apa?” aku masih dalam keadaan bingung.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;“Cepat ke sini!” Mad Nawar memelototiku. Tiba-tiba kurasakan bumi bergetar. &lt;span style="" lang="FI"&gt;Monda terus &lt;i style=""&gt;meregas&lt;/i&gt; pohon itu hingga lingkar hidup pohon itu hendak menemui ajalnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;“Tapi Abah….”&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;Tass….&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;Pohon itu rubuh dengan bunyi yang bergemuruh. &lt;span style="" lang="FI"&gt;Ada suara jerit yang tercekat dan kemudian kutemukan jiwa terbujur rapat. Lekat memeluk sebatang pohon sialang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Abah?”&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Ju, bangun. Tak baik magrib-magrib tidur.” Perlahan kubuka mataku, kesadaranku naik ketika jelas kulihat Monda di depanku. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Peralatan telah kusiapkan semuanya. Tengah malam rencananya. Aku sudah memberi tanda pohon-pohon yang kita butuhkan.” Aku diam saja. Monda menggesek-gesekan kedua tangannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Hei, kenapa?” Monda menyenggol pundakku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Kau lama sekali.” Dia terkekeh-kekeh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Aku orang rajin, memberikan tanda pada pohon-pohon itu. Dan kau, kau kuberi kesempatan untuk mengintip lagi.” Aku tersungging. Ia memberikanku senter.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Ayo, kutunjukan pohon-pohon itu agar kita tak salah tebang.” Aku pun berdiri dari tempat peristirahatan itu, balai kecil tempat persinggahan orang-orang lelah usai dari ladang. Aku pun pergi mengikuti jejak Monda dengan bisik-bisiknya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Perjalanan malamhampir nokturno. Mungkin di rumah-rumah sana, nyanyian pedodoi lelap telah usai dikumandangkan. Laki perempuan hangat di ranjang berahi dan anak-anak nyenyak terbuai mimpi. Hanya mungkin yang tua-tua masih rajin mengaji. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Dalam kelam itu, aku masih bisa melihat gigi Monda akibat sunggingan puasnya. Beberapa pohon telah tumbang. Ia terus bisik-bisik, sesekali karena tak tahan ia nyaris berteriak. Memaki para budak itu untuk segera melanjutkan pekerjaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Ju, sekarang giliranmu.” Ia menyerahkan alat pemotong pohon itu. Tak ada yang sanggup membendung suara mesin itu. Aku diam terpaku memegang alat itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Monda, aku tak bisa.” Kataku perlahan. Tak tahu, tiba-tiba saja kuteringat mimpi tentang Abah yang tertiban pohon sore tadi. Aku merasa benar-benar berdosa. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Apa?” kata Monda heran.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Aku tak bisa.” Aku mengulanginya dengan sedikit keras.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Mengapa?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Aku tak bisa!” aku nyaris berteriak. Kurasakan uap yang keluar dari hidungku begitu hangat. Aku tak tahu mengapa aku jadi ingin marah dan begitu emosi. Kurasakan tengkuk dan punggungku berkeringat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Raju, kau kenapa? Sakit?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Tidak. Bukan. Aku sudah tak mau. Aku lelah dengan ini semua. Aku lelah. Ini aneh. Tidakkah kau tahu hutan ini juga tanah kita? Tempat kita mengambil buahnya, menginjaknya dan mengencinginya?” aku tahu Monda tak suka kata-kataku. “O, jadi kau juga mau mengencinginya?” Ia menyindir sarkas. Aku tahu matanya geram menatapku, ia mungkin juga marah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Kalau kau tak mau. Biar aku saja. Aku tak mau tengkar denganmu. Kuberitahu, pasti Mad Nawar akan segera memecatmu. Dasar orang yang anti kemapanan!” ia mengambil mesin itu dari tanganku. Mesin yang berat itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Aku diam memperhatikannya yang dengan serius membiarkan mesin itu menggerogoti batang pohon yang malang itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Aku lunglai. Ingat hutang-hutang Abah dan emak. &lt;/span&gt;Tanganku gemetar mengambil mesin yang dipegang Monda. &lt;span style="" lang="FI"&gt;Mesin itu menggerutu, bunyinya semakin seret karena terlalu berat. Bukan mesin baru memang. Di siang hari aku dapat melihat mesin itu uzur dilumur karat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Ya, begitulah. Kau harus tahu hidup ini susah dan memang banyak yang perlu dilanggar.” Akhirnya Monda memberikan sepenuhnya mesin itu padaku. Tentu dengan begitu ia tak akan melapor yang macam-macam pada Mad Nawar perihal tingkahku barusan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Tubuh batang pohon itu mengeluarkan perih, mengeluarkan serpih batang-batangnya yang pipih. Aku dapat mendengar lolongannya sebelum ia tumbang. Ia sekarat. Dan aku tak tahu bagaimana rasanya disayat seperti itu. Air mataku mengalir. Bukankah ini malam? Malam selalu menyembunyikan banyak hal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Pandanganku kabur, sekelebat rupa-rupa menggelantung di butiran hangat itu. Abah, emak, dan Dini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Tiba-tiba kakiku kembali gemetar, bunyi gemuruh pohon yang mulai jatuh. Ya, seperti mimpiku sore tadi. Aku lihat orang-orang yang sama kecuali Mad Nawar dan Abah, sedang melakukan kegiatan yang sama seperti yang aku lakukan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Pohon itu mulai condong, sedikit demi sedikit jatuh. Dan tass…. Ia jatuh di arah yang tak kentara. Utara, selatan, timur, atau barat aku tak tahu. Bunyinya berdebum. Apakah ada yang tercekat? Aku tak tahu tapi hatiku begitu pilu. &lt;/span&gt;Aku telah membunuh. Aku telah membunuh daun, ranting, embun, dan angin. &lt;span style="" lang="FI"&gt;Aku telah membunuh kekasihku sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Pohon-pohon telah meninggalkan getah dalam keadaan kering. Daun-daun hijau telah dijemput kematian. Tiba-tiba diam mengejang. Segala kesunyian aneh yang tengah pingsan di belantara gundul mulai sadar ketika azan subuh &lt;i style=""&gt;melebuh&lt;/i&gt;, membukakan jalan. Gelap tinggal seperempat, dan kasak kusuk ramai itu pun mulai terdengar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;“Astaga!!! &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; yang mati, Bang.” Seru seorang pengepul kepada Monda.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Apa? Maksudmu hewan?” tanyanya kembali masih sambil membereskan perkakasnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Bukan. Bukan hewan. Manusia. Perempuan.” Mendengar itu darahku tersirap. Naik hingga keubun-ubun. Punggungku terasa terbakar. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Coba kalau bicara yang jelas?” Monda menahan panik. Tapi perasaanku tak karuan rasanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;“Itu Bang. Coba Abang lihat sendiri. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; perempuan tertimpa pohon.” Tanpa ragu lagi aku buru-buru berlari ke arah yang ditunjukan pengepul itu. Yang lain turut pula menyusulku.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; perempuan &lt;i style=""&gt;nokturia&lt;/i&gt; yang selalu masuk ke dalam hutannya untuk menandai wilayahnya, setiap malam. Itu sudah menjadi dongeng bagiku dan aku mempercayainya. Dongeng yang kubuat sendiri untuk kemudian di suatu malam aku melupakannya. Aku tak sengaja melupakannya.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;“Monda! Kau gila! Ini Dini.” Jantungku berdegupan dengan gilanya. &lt;span style="" lang="FI"&gt;Kini malam usai dan tak ada lagi yang bisa disembunyikan dari mataku dan hatiku. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Aku tidak tahu kalau ada perempuan di sini.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Ini bukan pohon yang aku tebang semalam.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Ya, aku juga.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Apa-apaan kalian. Cepat bantu angkat pohon ini!” Monda gusar. Ia tahu perasaanku, tapi aku tahu ia merasa tak bersalah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Oh aku lupa Dini, aku lupa. Inilah wilayahmu yang kau kencingi setiap pagi dan malam, yang seharusnya tak boleh dijamah oleh siapapun. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Tanganku bergetar menyentuh pipinya. Begitu dingin, begitu dingin hingga kutahu pasti ia dapat membekukan maniku yang telah lama menjadi lahar karena hasrat cinta yang terpendam. Tapi ia beku. Kain yang terangkat tinggi itu memperlihatkan hutannya yang rimbun. Hutan rupawan yang rawan, yang dirindui setiap lelaki. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Bukan. Bukan air kencing yang kutemukan di selangkangan itu. &lt;/span&gt;Tapi darah kering yang masih segar dan menggumpal. Darah tunas kehidupan yang nyaris tiga bulan bersemayam dalam lindungan kandungnya.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Kurasakan tangan Monda mencengkram pundakku, tapi aku sudah mati rasa. Air mataku sudah ke mana-mana. Ke mana-mana, aku tak tahu ke mana. Aku hanya ingin berlari di hutan ini. Menyusuri matahari dan memunguti sinarnya yang pecah &lt;i style=""&gt;berkecai-kecai&lt;/i&gt; di antara pepohonan yang masih bersisa itu. Menaruhnya dalam karung goni.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Aku mengerang. Aku ingin menjadi daun, menjadi ranting, menjadi embun, dan angin. Menulisi matahari agar dapat terus mengintip seorang perempuan yang kencing di semak itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;       &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="FI"&gt;Pekanbaru-Jakarta&lt;br /&gt;April 2006&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="FI"&gt;Untuk Raju&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;       &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Catatan :&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Tauke&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;:&lt;/span&gt; pencuri atau penebang kayu hutan diam-diam pada malam hari. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="font-weight: bold;"&gt;Pelita teding&lt;/i&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;:&lt;/span&gt; lampu yang terbuat dari kaleng susu bekas. Biasanya bersumbu kain dan di atasnya ada tameng yang dipasang sebelah saja untuk melindungi dari lambaian angin.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Rumah lanting&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; :&lt;/span&gt; rumah yang sangat sederhana. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Melansai&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;: &lt;/span&gt;melunasi hutang-hutang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Ngapa&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;:&lt;/span&gt; mengapa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="font-weight: bold;"&gt;Sontil&lt;/i&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;: &lt;/span&gt;tembakau yang menempel di antara gigi dan bibir dari seseorang yang makan sirih.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="font-weight: bold;"&gt;Topi purun&lt;/i&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;: &lt;/span&gt;topi besar yang terbuat dari anyaman kulit kayu yang biasa digunakan petani untuk berladang atau berhuma.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="font-weight: bold;"&gt;Tersadai&lt;/i&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;:&lt;/span&gt; terbaring dengan kaki terbujur.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="font-weight: bold;"&gt;Buntang&lt;/i&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;:&lt;/span&gt; membeliak.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="font-weight: bold;"&gt;Lintang pukang&lt;/i&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; :&lt;/span&gt; berlari dengan cepat, tunggang langgang.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="font-weight: bold;"&gt;Rejam&lt;/i&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;:&lt;/span&gt; terpejam atau pejam.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="font-weight: bold;"&gt;regas/meregas&lt;/i&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; :&lt;/span&gt; memotong&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="font-weight: bold;"&gt;Melebuh&lt;/i&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;: &lt;/span&gt;membukakan jalan.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="font-weight: bold;"&gt;Berkecai-kecai&lt;/i&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; :&lt;/span&gt; berantakan, terpecah-pecah.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Nokturia&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;:&lt;/span&gt; keadaan suka atau sering kencing pada malam hari. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2274548059948312448-6640036139931261094?l=cerpen-wulan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpen-wulan.blogspot.com/feeds/6640036139931261094/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2274548059948312448&amp;postID=6640036139931261094' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2274548059948312448/posts/default/6640036139931261094'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2274548059948312448/posts/default/6640036139931261094'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpen-wulan.blogspot.com/2007/04/perempuan-yang-kencing-di-semak.html' title='Perempuan yang Kencing di Semak'/><author><name>wulan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12360063595710708385</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_ucpQ1vKpaQM/RhM3LOv1EZI/AAAAAAAAAAk/GLQ1AJkiMQA/s320/wulan2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2274548059948312448.post-3554676954958217235</id><published>2007-04-11T01:12:00.000-07:00</published><updated>2007-04-11T01:17:12.052-07:00</updated><title type='text'>Selembar Bulu Mata Elena</title><content type='html'>&lt;o:p&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;Cerpen Wa Ode Wulan Ratna&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Suasana senja yang basah memberikan aroma tersendiri pada sebuah café. Elena menghirup aroma kopinya, sedang aku sibuk memperhatikan bulu matanya yang menari-nari bila ia mengedipkan kelopak matanya. Ia mengangkat cangkir putih yang masih mengepul itu jauh-jauh dari hidung dan bibirnya ketika tiba-tiba aku melihat sesuatu menempel di bibir merahnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Ada sesuatu di bibirmu.” Elena menaruh cangkir kopinya di pinggir piring brownies kenari kesukaannya lalu mengambil tisu. “Jangan! Maaf, biar aku saja.” Aku menawarkan diri. Ia membiarkan aku mengambil selembar bulu matanya yang terjatuh di bibir merahnya. “Astaga, bulu mata?” Ia menggeleng-gelengkan kepalanya hingga rambutnya yang secuping bergoyang-goyang. Namun kembali dihirupnya aroma kopi robustanya seakan ia hanya pura-pura terkejut saja barusan. Aku mempelintir selembar bulu mata itu dengan ibu jari dan jari telunjukku. Kuperhatikan selembar bulu matanya yang menawan itu. Panjang, hitam, dan tebal. Bentuknya seperti lengkungan bulan sabit di pertengahan bulan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Kira-kira bulu mata yang mana, ya?” Elena membuang tatapan matanya keluar jendela. Kedua kelopak mata itu tak berkedip menatap kaca jendela yang telah basah oleh rintikan hujan yang kian deras. Sebuah suasana kota yang becek dan macet di luar sana mewarnai sore yang basah. Dari dalam café ini, kota itu tampak beruap.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Aku terus memperhatikan bulu-bulu mata Elena. Matanya masih menatap keluar jendela di sampingnya. Namun kutemukan ada sebuah negeri yang disembunyikan oleh pemilik bulu mata itu. Aku tahu ia memikirkan hal yang lain. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Tapi tiba-tiba kedua kelopak mata itu berkedip sekali. Membuatku sadar untuk segera mengalihkan pandanganku ke lain tempat, pada cangkir putih kopinya yang kini telah ternoda. Lipstik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Iya, ya. Yang kanan atau yang kiri?” Kataku akhirnya balik bertanya sambil mengeluarkan buku &lt;i style=""&gt;pocket &lt;/i&gt;berwarna hijau dari saku celanaku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Katanya kalau bulu mata kanan yang jatuh berarti ada yang cinta atau kangen,” ia tersenyum lalu bertopang dagu memperhatikanku. Aku jadi sedikit salah tingkah. “Nah, kalau yang kiri….” Ia tidak melanjutkan tapi mengambil sebatang rokok dan mengamitnya di bibir. Aku mematikkan api untuknya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Kalau yang kiri?” tanyaku menyambung. Ia menggeleng-geleng lalu melepaskan kepulan asap rokok ke udara. Aku lihat asap itu seperti membangun suatu pondasi. “Ya, sebaliknya.” Jawabnya singkat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Itu kan hanya mitos.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Lho, tidak percaya? Dunia ini kan sudah rancu. Kita perlu keyakinan baru selain kenyataan. Kita perlu jadi seperti kodok di got sana. Nyanyi-nyanyi saat hujan, nyaplok nyamuk di waktu malam, bermetamorfosis. Ya, hidup di dua alam. Percaya pada yang nampak juga pada penampakan.” Elena menghisap lagi rokoknya dalam-dalam. Sementara aku berusaha bangkit dari keterpukauanku pada negeri bulu matanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Kenapa mesti kodok?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Karena kodok hidup di dua alam. Begitu pun dengan kita, seharusnya hidup di dua alam; ya malam, ya siang. Yang nyata maupun yang tidak. Paling tidak kita harus bisa menyeimbangkan.” Aku mengernyitkan kening. Biar bagaimana pun jawaban Elena, ucapannya selalu memesona.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Ah, tapi aku keberatan kalau harus menjadi kodok.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;“Ya, terserah.” Ia angkat bahu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Sudah seharusnya kita kembali pada mitos. Ah, bagaimana Tuhan ini. Menciptakan manusia dengan rasio, sedang Dia sendiri irasional.” Kami bertatapan mengulum senyum. Dan sambil menikmati tatapan serta senyumnya itu kubuka buku &lt;i style=""&gt;pocket&lt;/i&gt; hijauku dan di halaman yang bertuliskan “Elena di Hari Hujan”, kutaruh selembar bulu matanya itu sebagai pembatas buku. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Ah Elena, sudahlah! Kita tidak tahu itu kiri atau kanan. Bukankah itu hanyalah selembar bulu mata yang tepat jatuh di bibir merahmu?” aku menepis asap rokok yang dihembuskannya di hadapanku, ia tersenyum. Dan dari bibir merah itu keluar ucapan, “Itu tugasmulah!” Ia kembali menatap keluar jendela. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Gumpalan asap rokoknya menghambur lagi di hadapanku. Asap itu menggumpal tebal seperti awan hingga mengingatkanku pada cerita tentang negeri di awan. Maka dengan segera kubangun sebuah negeri dari kepulan asap itu sebelum ia menguap tanpa jejak. Sebuah negeri tentang selembar bulu mata Elena.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Buku hijau. Sebenarnya telah banyak buku catatan harian yang telah katam kutulis dengan berbagai jadwal, curahan hati, atau sekadar uneg-uneg. Dan setiap buku selalu memiliki pembatas buku. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Pertama kali aku mengenal pembatas buku adalah ketika aku menginjak masa puber. Aku selalu percaya rautan pensil berwarna yang disimpan beraneka warna sebagai pembatas buku akan menjadi pelangi saat hujan selesai. Dan ternyata itu benar terjadi. Lalu ketika aku memiliki buku catatan berikutnya, aku menaruh bulu ayam sebagai pembatas buku. &lt;/span&gt;Setiap hari bulu ayam itu akan bertambah dengan sendirinya namun dengan warna yang berbeda. Dan suatu malam ketika buku catatanku telah penuh, aku melihat kupu-kupu keluar dari buku catatanku dan berterbangan di kamarku. &lt;span style="" lang="FI"&gt;Kamarku jadi penuh oleh kupu-kupu. Indah, berjuta warnanya. Kupu-kupu malam. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Pernah pula aku menjadikan potongan-potongan kuku jariku sebagai pembatas buku catatanku. Dan aku selalu tahu bintang di langit akan bertambah satu setiap ada lima buah potongan kuku di halaman catatanku. Lalu kini apa gerangan yang akan hadir bila aku menjadikan selembar bulu mata Elena sebagai pembatas buku catatanku?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Waktu itu musim nyekar. Hingga banyak kembang berhamburan dan aroma wangi bunga memenuhi paru-paru. Perempuan bergaun hitam dan berkerudung hitam itu mengangkat kepalanya dari gundukan tanah yang masih merah. Di belakangnya berdiri pohon kamboja memadu putih. Tangannya memegang setangkai mawar merah yang mulai layu. Tak ada siapa-siapa di sisinya, hanya sebuah batu nisan putih mengukirkan nama sang terkasih. Wajahnya pucat, mungkin tak dibubuhi bedak. Mungkin juga telah luntur oleh keringat dan air mata. Namun bibirnya masih semerah buah apel. Aku tak tahu kenapa tiba-tiba ia menatapku. Matanya yang berhias &lt;i style=""&gt;smoky eyes&lt;/i&gt; itu seperti&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt; menghipnotisku karena sungguh aku tak bisa beranjak dari makam tempat ayahku terlelap. Yah, dan ketika kelopak mata itu berkedip, maskara hitam itu luntur oleh air matanya. Lalu ia roboh seketika.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Ketika ia siuman berkatalah ia padaku, “Oh, kamu orang itu? &lt;/span&gt;Yang di situ? Yang menolong aku? &lt;span style="" lang="FI"&gt;Terima kasih.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Ya, sama-sama. Siapa yang meninggal?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Suamiku. Hanya suamiku yang kucintai, selebihnya aku hanya ingin dicintai.” Ia memejamkan mata. Bulu mata lentik itu basah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Ya. Siapa namamu? &lt;/span&gt;Biar kuantar pulang.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Sejak itu aku mengenal seorang perempuan bernama Elena.&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;***&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Sore ini senja basah lagi. Warnanya jadi pudar dan buram, tapi Café tetap tampak ramai dan hangat. &lt;span style="" lang="FI"&gt;Canda, tawa, kepulan asap rokok, musik, kopi mewarnai ruangan. Aku menulis kata ‘kiri’ di halaman kanan buku catatan hijauku. Ah, aku selalu ingat kata-kata Elena. Bukankah sudah menjadi tugasku mencari tahu kanan atau kirikah bulu matanya yang aku dapatkan di bibir merahnya kemarin? Dan aku tidak heran, hari ini aku mendapatkan selembar bulu matanya lagi. Yah, selembar bulu mata Elena menjadi dua.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Tiba-tiba kulihat dari arah pintu masuk sesosok perempuan bertubuh langsing dengan pakaian yang menarik datang menghampiriku. Aku tersenyum menyambutnya dan mempersilahkannya duduk.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Lama menunggu?” tanyanya, aku menggeleng. Elena tampak segar. Ia selalu tampak lebih cantik di sore hari. Ia segera memanggil &lt;i style=""&gt;waitress&lt;/i&gt; dan memesan secangkir kopi jenis robusta dan brownies kenari kesukaannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Bagaimana kabarmu?” sapaku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Baik. Tapi aku mungkin sedikit lelah karena terlalu giat bekerja.” Kuperhatikan wajahnya yang berseri itu. Di manakah letak kelelahan itu?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Lelah?Memangnya kamu kerja apa sih?” tanyaku sedikit berani tapi sebenarnya aku tak berniat apa-apa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Ah, sudahlah! Tidak penting. Pekerjaanku sama saja seperti dulu.” Lagi-lagi ia tersenyum, ia selalu tersenyum menggoda. Aku angkat bahu. Beberapa saat kemudian setelah kami bercakap mengenai hujan dan&lt;b style=""&gt; &lt;/b&gt;senja,&lt;b style=""&gt; &lt;/b&gt;pesanannya datang. Akhirnya kami pun mulai melesapi rasa di lidah. Rasanya aneh memang, mengecap rasa manis di depan seorang perempuan sepertinya bagai mendapatkan rasa manis yang tidak dijual di mana pun. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Sambil menghirup, mengecap, dan mereguk, kuperhatikan kelopak mata itu dan sesekali pula menanggapi ucapannya. Ia mengatakan kalau ia baru ke salon untuk mengkriting bulu matanya. Di salon Anu sedang ada potongan harga katanya. Ia juga mengatakan kalau ia tidak suka menggunakan bulu mata palsu. Menurutnya itu norak dan akan membuat matanya iritasi. Berbicara tentang mata, mengingatkan aku pada sosok Elena saat pertama kali aku mengenalnya. Ya, dalam bingkai bulu mata itu, tiba-tiba aku melihat sebuah nisan putih terpantul pada bola matanya. &lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Elena, boleh aku tanya sesuatu?” ia tidak menyahut, tapi ekspresinya membolehkan aku untuk bertanya apa saja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Dari suamimu dulu kamu punya anak?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Tidak, aku mandul.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Apa?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Aku mandul.” Ia mengulangi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Oh, maaf.” Ia hanya menggeleng. Apakah ia bercanda?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Oleh sebab aku mandul, aku hanya mencintai suamiku. Yang lain tidak.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Apa?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Ya, yang lain tidak. Tidak ada yang mencintaiku seperti almarhum suamiku. Dia mengambilku dari comberan, dari got-got di luar sana saat hujan pada malam yang dingin. Dan dia mencintaiku sepenuh hati lebih dari sekadar membutuhkan rahimku. Dia memberiku arti apa itu hangat dan menjadi baik.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“O…, tap….”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Aku senang menjadi temanmu, Jo. Aku janji tak akan mempermainkanmu, meski aku hanya ingin dicintai.” Ia tersenyum dan menatap ke kaca jendela. Sekali lagi aku memperhatikan kelopak mata yang sesekali berkedip itu. Bulu matanya lentik membingkai matanya yang berkaca-kaca.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Elena, boleh aku mengatakan sesuatu?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Boleh.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Aku suka bulu matamu.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Setiap hari. Setelah aku menemuinya saat itu dan menuliskan kata ‘kiri’ pada halaman kanan buku catatanku. Setelah aku menuliskan tema besar hari itu “Bulu Mata Elena,” bulu mata Elena di catatan harianku selalu bertambah satu setiap harinya. Aku semakin gandrung. Setiap halaman kiri buku itu selalu bertuliskan kanan, begitu pula sebaliknya. Aku ingin cepat-cepat tahu selembar bulu matanya yang dulu jatuh di bibir merahnya itu yang kanan atau yang kiri. Bukankah aku penggemar sejati yang butuh kepastian untuk menjadi suami pengganti?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Anehnya, hampir setiap malam aku selalu menemui sosok-sosok Elena di berbagai tempat. Di restoran Itali, di hotel berbintang, di tempat parkiran, di dalam lif apatemenku, bahkan di taman. Namun ia tidak pernah menegurku. Elena bermetamorfosis. Yah, bermetamorfosis di waktu malam. Suatu saat ia menjadi berudu, kemudian menjadi kecebong yang bermain-main di dalam air. Lalu tiba-tiba di suatu malam pekat ketika hujan mengguyur, aku mendengar suara kodok nyanyi-nyanyi di sebelah kamar apartemenku. Aku tidak yakin itu Elena, sebab rasanya janggal, di kamar yang steril dan nyaman, ada nyamuk yang bebas berkeliaran.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Sore ini ketika kami berjanji lagi bertemu di café yang sama. Duduk, menikmati secangkir kopi, dan mengobrol, Elena hadir lagi dengan wajah segar. Dan matanya berhias &lt;i style=""&gt;smoky eyes &lt;/i&gt;seperti dipemakaman waktu itu. Matanya jadi terkesan begitu hitam dan tajam. Namun ada sesuatu yang dalam di sana.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Akhir-akhir ini mataku gatal.” Katanya. Ia menyelipkan rambutnya yang bergoyang-goyang ke kupingnya agar tidak mengganggu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Coba kulihat!” aku menawarkan diri. Ia menyodorkan tubuhnya kehadapanku hingga aku dapat melihat jelas ke kejernihan matanya. Ia berkedip-kedip.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Apa yang kamu lihat?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Bukan apa-apa. Bulu matamu terlalu panjang dan lebat.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Oh ya? Jadi mungkin harus aku pangkas sedikit ujungnya biar tidak membuat mataku gatal-gatal.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Lho, aku tidak tahu. Rasanya akibat gatal-gatal bukan karena bulu matamu.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Ya. Mungkin aku salah pakai maskara. Mungkin seharusnya aku ke salon saja untuk ikut paket bulu.” Kami tertawa. Hari ini ia tampak begitu riang dan senang bergurau.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Maka ketika malam merayap dan kami berpisah, aku segera masuk ke kamar apartemenku dan menuliskan beberapa kata di halaman kanan buku catatanku. “Kiri. Aku jatuh cinta pada bulu matamu.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Begitulah setiap saat. Bulu mata Elena semakin bertambah setiap hari. Dan aku semakin bahagia serta penasaran. Buku catatan hijauku sudah hampir penuh walau hanya berisi tulisan kanan dan kiri juga kalimat-kalimat pendek. Namun Elena semakin sulit saja ditemui. Mungkin ia terlampau sibuk dengan pekerjaannya, aku tak cukup berani menghubunginya. Pernah suatu siang aku meneleponnya, tetapi jawaban diseberang sungguh mengecewakan: ‘mohon tinggalkan pesan, nyonya sedang istirahat.’ Elena masih tidur. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Dan semua kisah itu? Benarkah itu Elena? Sesosok Elena yang kutemui di birunya malam. Bermetamorfosis. Apakah Elena serupa apa yang ia katakan? Kodok.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Tapi aku selalu menepis prasangkaku. Aku tahu perempuan itu hanya ingin dicintai. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Kamu baik, Jo.” Elena menghembuskan asap rokoknya. Ia menyilangkan kaki. Tubuhnya yang langsing dibaluti rok span dan jaket&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;hitam. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Apa kamu suka memuji?” lanjutnya. Ia mendelik menatap penuh selidik, tapi bibir merahnya menyala, tersenyum menggoda.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;“Ah tidak. Memang kamu cantik dengan potongan rambut seperti itu.” Ia tertawa. Ditaruhnya rokoknya di asbak dan ia duduk dengan tegap sambil menata rambutnya. “Seperti ini?” ia tersenyum dan ia benar-benar menawan. Aku hanya mengangguk-angguk.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;“Tadinya rambutku panjang, lho. Dan memang aku identik dengan rambut panjang.”&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;“Lalu kenapa dipotong?”&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;“Biasa. Aku ada masalah dengan rambut.”&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;“Rontok?” ia menggeleng.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;“Bukan. Bukannya aku tidak pernah pergi ke salon, shampo seperti tak ada yang cocok. &lt;span style="" lang="FI"&gt;Tapi kamu pasti tertawa kalau aku beri tahu.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Oh ya? Apa itu?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Ketombe.” Katanya setengah berbisik. Lalu kami tertawa. Ngobrol. Ngobrol. &lt;/span&gt;Ngobrol. Sore selalu tampak lebih indah bila mengobrol dengan Elena. &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Oh ya Elena. Matamu masih gatal?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;“Mm….” Ia hanya menjawab dengan gumaman.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Hanya sedikit.” Katanya kemudian. Aku memperhatikan kelopak matanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Boleh tanya satu hal?” tanyaku. Ia mengangguk. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Apakah kulit bulu mata bisa ketombean?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Apa?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Maaf, maksudku ada sesuatu di bulu matamu?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Yang mana? Kanan atau kiri?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;“Dua-duanya.”&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;“Astaga….” Dia mengambil tisu di samping cangkir kopinya.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;“Jangan, biar aku saja!” Aku mengambil beberapa serbuk putih yang melekat di bulu matanya dan memperlihatkan padanya. &lt;span style="" lang="FI"&gt;Dia menghisap lagi rokoknya seraya tidak peduli. “Aku sudah konsultasi ke salon. Maskara yang lama aku ganti dengan maskara bening. Ah, mungkin maskara murahan hingga bila sudah kering dia malah memutih seperti ketombe.” Aku melipat tanganku dan bersandar di kursi. Memperhatikannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Kau tahu Elena, ketombe dapat menyebabkan rontok.” Kataku menggoda sambil menahan senyumku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Ah, kamu mengejekku.” Ia tersipu. &lt;/span&gt;Segera setelah itu ia berpaling ke kaca jendela. Merokok, menghembuskan asap rokoknya. Sebuah negeri tentang bulu matanya mengepul ke atas lalu lenyap tanpa bekas.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Semakin hari aku semakin gelisah, semakin penasaran, semakin bahagia. Dan tentu saja aku semakin jarang bertemu dengan Elena. Kiri kanan, kanan kiri, bulu matanya yang indah itu semakin bertambah. Akan jadi apakah pembatas bukuku itu kelak? Hatiku terus saja bertanya-tanya. Jawaban apa yang akan aku dapat? Tidak mesti harus sampai halaman akhir. Yang penting adalah jawaban. Tapi tugasku adalah: yang kanan atau yang kiri. Kanan artinya cinta, sedang kiri sebaliknya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Rasanya aku tidak peduli lagi. Aku harus mengatakan kegelisahanku ini pada Elena. Kulipat koran sore itu. Sebenarnya aku pun tidak membacanya karena pikiranku selalu melayang pada perempuan yang memiliki bulu mata di catatanku itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Aku tersenyum ke arah datangnya Elena.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Sore ini hujan lagi.” Katanya lalu duduk di hadapanku. “Memang sudah musimnya.” Sahutku. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Ya, semuanya jadi basah dan dingin.” Ia tampak kesal karena baju merahnya basah terkena hujan. &lt;i style=""&gt;Waitress&lt;/i&gt; mengantarkan kopi dan cemilan favoritnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Jadi semua orang butuh kehangatan, kan?” Aku menggoda. Ia melirikku datar. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Akan banyak kodok di luar sana.” Aku tertawa mendengar jawabannya. Ia menghirup aroma kopinya. Aku selalu suka karakter bicaranya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Kamu suka kopi jenis robusta?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Ya, jenis ini baik untuk kita yang suka bekerja keras. Kadar kafeinnya tinggi, cocok untukku. Kamu?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Teh dengan sedikit &lt;i style=""&gt;creamer &lt;/i&gt;sudah membawa suasana nikmat. Kopi dan rokok, kamu selalu tampak segar dengan itu.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Ya, orang yang kerja malam memang butuh tenaga ekstra.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Memangnya apa kerjamu?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Ah, kamu tanya itu terus. Nanti juga kamu akan tahu.” &lt;/span&gt;Ia memandang ke kaca jendela yang berembun. &lt;span style="" lang="FI"&gt;Aku memperhatikan kelopak matanya. Kali ini kelopak itu tak berkedip sama sekali. Tiba-tiba aku melihat selembar bulu mata Elena terlepas dari kelopaknya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Elena, lihat aku sebentar!” ia memalingkan wajahnya ke arahku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Bulu matamu jatuh.” Aku mengambil sehelai bulu mata kanannya yang jatuh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Yang kanan.” Kataku. Ia tersenyum bahagia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Ada yang mencintaiku, Jo.” Katanya setengah berbisik. Namun bulu mata kanan Elena terus berjatuhan. Aku tercengang. Begitu banyakkah yang mencintai Elena?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Elena, bulu matamu rontok!” kataku pelan karena terkejut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Astaga! Aku sudah mengkritingnya di salon, mengganti maskara, merawatnya…. Tapi kenapa….”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Biar aku….”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Ah, jangan!” Katanya sedikit terpekik menepis tanganku sambil memegangi mata kanannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Sebaiknya kita tidak usah bertemu lagi, Jo.” &lt;/span&gt;Ia mengambil tasnya seraya hendak bergegas.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Lho kenapa? Tunggu, kamu mau ke mana? Di luar hujan Elena.” Tapi Elena bangkit. Ia menutupi wajahnya. Walau begitu dapat kutangkap pancaran matanya bahwa ia hendak menangis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Elena aku tidak keberatan kalau….”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Cukup! Bilang saja kamu ingin tidur denganku, kan? Aku benci! Kamu telah mengkhianati aku, Jo.” Teriaknya. Spontan saja semua orang yang ada di ruangan ini memandang kami.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“A…apa? tidur?….” Tapi Elena telah menghilang di balik hujan. Tak ada yang tersisa kecuali noda lipstik di cangkir kopinya dan serpihan-serpihan bulu matanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Berminggu-minggu aku mencari perempuan pemilik selembar bulu mata itu. Tapi tak kutemukan. Sedang semakin maju hari, hujan semakin menjadi. Apalagi perasaan penasaran dan gelisah ini. Elena tak bisa dihubungi, teleponnya tulalit, &lt;i style=""&gt;handphone&lt;/i&gt;nya tidak aktif. Dan setiap sore aku selalu ke café, menyediakan waktu duduk dan membaca koran sambil menunggu barang kali Elena mampir. Tapi rasanya sia-sia saja. Sudah begitu aku seperti sah mendapat predikat baru: orang dungu yang menunggu. Hingga akhirnya kala sore yang basah tak ketulungan itu, tiba-tiba orang-orang di dalam café menatap penasaran ke kaca jendela. Mata mereka menerawang menembusi kaca dan gerik mereka mengisyaratkan rasa penasaran. Aku jadi ikutan penasaran. Kututup koran sore itu dan bertanya pada seorang lelaki yang lewat di depanku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Di luar ada apa ya, Pak?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Ada perempuan gila telanjang hujan-hujanan. &lt;/span&gt;Setiap orang lewat ditanya.”&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;“Ditanya? &lt;span style="" lang="FI"&gt;Memangnya dia mencari sesuatu?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Namanya juga gila, nyari kok bulu mata.” Tanpa banyak pikir lagi aku langsung melesat keluar. Dan aku tidak peduli kalau aku harus basah-basahan. Bukankah Elena membutuhkan bulu mata?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Perempuan itu mendekatiku. Ia telanjang di tengah hujan. &lt;/span&gt;Aku dapat melihat dadanya yang sebesar tomat. Aku pun dapat melihat kelaminnya mengeluarkan nanah. Matanya cekung dan hitam di sekelilingnya, seperti hiasan &lt;i style=""&gt;smoky eyes&lt;/i&gt; walau kutahu ia tidak sedang berhias. &lt;span style="" lang="FI"&gt;Mata itu menatapku kosong, tak berkedip, dan tak kutemukan selembar bulu mata pun di kedua kelopaknya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Jo, aku tak bisa tidur. Aku kehilangan bulu mataku. Bukankah kamu masih menyimpan selembar bulu mataku waktu itu?” aku hanya mengangguk tak tega. Elena tampak berubah, ia begitu pucat dan mengkhawatirkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Kamu butuh bulu mata yang mana, yang kanan atau yang kiri?” tanyaku bingung karena merasa asing berhadapan dengan Elena yang tidak berbulu mata. Aku&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;meronggoh kantung celanaku mengeluarkan buku &lt;i style=""&gt;pocket&lt;/i&gt; hijauku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;“Dua-duanya.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Tapi aku tidak tahu ini kanan atau kiri. Bukankah ini hanyalah selembar bulu mata yang tepat jatuh di bibir merahmu?” Hanya bibir itu yang masih merah, pikirku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Tidak masalah.” Katanya lemah. Kelopak mata indah itu telah botak, aku membatin. Tapi mengapa ia tidak berinisiatif menggunakan bulu mata palsu saja meski aku tahu bulu mata-bulu mata palsu itu tidak akan pernah sebanding dengan keindahan bulu mata aslinya. Apakah di saat seperti ini ia masih berpikir bulu mata palsu itu norak?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Tapi untunglah Elena, selembar bulu matamu telah menjadi banyak. Kamu bisa menyambungnya untuk kedua kelopak matamu di salon.” Kataku senang seraya memberi semangat padanya. Elena hanya mengangguk. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Tapi tunggu dulu, ke mana saja kamu selama ini? Aku kangen sekali padamu.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Kangen?” ia tersenyum. Mungkin ia masih percaya pada mitos selembar bulu mata itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Aku sakit, jadi harus berobat.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Apa? Sakit apa?” ia tidak menyahut, tapi nanah yang menetes sederas hujan dari kelaminnya telah menjelaskannya. Namun ia tidak menghiraukan keterkejutanku, kedua tangannya menadah, meminta bulu matanya. Kami sadar, kami sama-sama basah. Mandi basah. Orang-orang mungkin melihat kami seperti orang gila. Padahal kami sama saja dengan mereka, manusia-manusia dengan beragam identitas, manusia-manusia yang mungkin punya lebih dari satu identitas. Sama-sama bermetamorfosis untuk menjadi sempurna.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Aku membuka halaman yang hampir akhir dari buku catatanku. Ternyata catatanku berakhir di halaman kiri yang bertuliskan kanan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Elena, aku tahu jawabannya. Ini bulu mata kananmu.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Jadi kamu percaya mitos, kan?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Bukankah kamu pernah bilang kita kodok?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Tidak. Hanya aku yang kodok. Jo, terima kasih telah kangen padaku, tapi aku hanya ingin dicintai.” Elena mengambil bulu-bulu matanya dan memasangkannya langsung pada kedua kelopak matanya. Sungguh, untuk yang satu itu ia tidak membutuhkan jasa salon. &lt;/span&gt;Bibir merahnya tersenyum dan ia beranjak lurus sambil melambai. Aku hanya terbengong-bengong saja. &lt;span style="" lang="FI"&gt;Tapi ternyata aku salah lihat, jelasnya Elena tidak berjalan selurus manusia. Ia bermetamorfosis. Ia melompat-lompat seperti kodok. Ya, ia tiba-tiba menjadi kodok. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Maka ketika aku masuk ke kamar apartemenku dalam keadaan kuyup, aku langsung menuliskan tema besar pada halaman kiri bertuliskan kanan di buku catatanku: ”Selembar Bulu Mata Elena Menjadi Kodok.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;***&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: right;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Gading basah, 9 April 2006&lt;br /&gt;Kado untuk Bang Rois dan Heru&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2274548059948312448-3554676954958217235?l=cerpen-wulan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpen-wulan.blogspot.com/feeds/3554676954958217235/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2274548059948312448&amp;postID=3554676954958217235' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2274548059948312448/posts/default/3554676954958217235'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2274548059948312448/posts/default/3554676954958217235'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpen-wulan.blogspot.com/2007/04/selembar-bulu-mata-elena.html' title='Selembar Bulu Mata Elena'/><author><name>wulan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12360063595710708385</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_ucpQ1vKpaQM/RhM3LOv1EZI/AAAAAAAAAAk/GLQ1AJkiMQA/s320/wulan2.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2274548059948312448.post-3404378434126142748</id><published>2007-04-11T01:08:00.000-07:00</published><updated>2007-04-11T01:12:28.581-07:00</updated><title type='text'>Peluru-Peluru</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153); font-weight: bold;"&gt;Cerpen Wa Ode Wulan Ratna&lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: black;" lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;" lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 27pt; line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="EN-GB"&gt;Tak pernah lupa ia pada suara dentuman meriam dan gencatan senjata yang membuatnya bangun pagi-pagi. Ia melihat sinar matahari masuk ke pembaringannya melalui celah jendela yang lapuk. &lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;Ia pun terduduk, berucap doa selamat pagi pada Tuhan dan memohonkan kemerdekaan. Ia mengenakan seragamnya, &lt;i&gt;destar &lt;/i&gt;merah putihnya, dan pin merah putihnya. Layaknya prajurit yang lain, ia pun bergegas mengambil senjatanya, menyelempangkannya di bahu dan pergi tanpa sarapan apapun kecuali harapan. Ia menyusuri jalan yang tidak rata, berkerikil dan berdebu. Sesaat sebelum ia kembali pada peluru, ia teringat ibu dan menjadi ranum sebab kekasihnya tengah menunggu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 27pt; line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;Masa, begitulah masa lalu. Ketika pemuda-pemuda hanya memikirkan bangsa. Tapi derita sayang, itu ibarat hayat yang tak lekang di waktu apapun meski negara telah merdeka. Setiap abad akan selalu datang untuk menghabiskan urat leher.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 27pt; line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 27pt; line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;Di sepanjang pematang itu aku lihat kau berjalan dengan terburu-buru sambil menenteng serantang makanan. Mungkin kau akan memberikannya pada Bapakmu yang renta itu dan bukan pada suamimu yang kerjanya menggarap sawah dan memeras keringat dari pekerjaan yang berlumuran lumpur liat. Kainmu mengisut sepanjang lalang yang panjang yang tumbuh dipinggiran tanggul, membuat udara sengal dan aku gerah melihatnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 27pt; line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;Kau yang hamil muda itu begitu lincah menapaki setapak itu. Sebenarnya, ingin kuhancurkan benih dalam rahimmu. Tapi tak bisa, sebab ia terlindung oleh ketuban dan air itu membuatnya hangat lagi nyaman. Bisa saja benih yang baru tumbuh segempal itu berenang seperti kecebong dan berbahagia dalam naungan doa-doa di dalam sana. Sungguh rasa cemburuku tak bisa menghancurkannya, sebab air adalah kekuatan alam dan aku masih menyimpan memori kandungan. Ruang yang lembab dan lindap itu adalah benih di mana ruh mulai mengendus dan berkelemayar diterangi cahaya. Licin dan liat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 27pt; line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;Begitu pun halnya denganmu. Dulu, dengan air mata itu bagaimana bisa aku melukaimu? Seperti halnya bumi yang diberkati air, dengan air yang menjadi tamengmu, kau adalah perempuan-perempuan yang dengannya kehidupan tumbuh. Begitulah wajah feminin Tuhan menciptakan perempuan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 27pt; line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;“Prita!” aku memanggilnya. Ia tersenyum, berhenti dari langkahnya dan melambaikan tangannya padaku. Segera aku menghampirinya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 27pt; line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;“Mau ke mana buru-buru?” Aku melihat rantangnya lalu perutnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 27pt; line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;“Ah, Mas Khalis. Biasa, aku ingin menjenguk Bapak, tak ada yang mengurus.” Ia masih malu-malu seperti dulu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 27pt; line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;“Masmu tidak mengantar?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 27pt; line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;“Kasihan dia. Sibuk.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 27pt; line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;“Kalau begitu biar aku antar.” Aku menawarkan jasa untuk menenteng rantangnya. Kami berjalan beriring sepanjang pematang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 27pt; line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;“Kau sudah mengurus kartu untuk mendapatkan dana kompensasi itu? Untuk Bapakmu?” ia tampak ragu menjawabnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 27pt; line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;“Aku diberi kepercayaan oleh &lt;i&gt;pembarap&lt;/i&gt; untuk menjadi petugas lapangan. Bapakmu kan mantan pejuang, ia harus mendapatkan dana itu.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 27pt; line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;“Mas Khalis bisa bantu? &lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;" lang="EN-GB"&gt;Aku tidak mengerti cara-caranya.” Kali ini aku yang ragu sebab ia sudah bersuami.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 27pt; line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;“Ya. Tapi ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi aku kira. Nanti aku lihat lagi. Tapi kau bisa lihat dulu ke Pak RT, barang kali nama Bapakmu sudah terdata. Itu akan sangat memudahkan.” Kulihat matanya &lt;i&gt;berkesap-kesip&lt;/i&gt;. Angin berkesiur dan hanya aku yang tahu hatiku telah menjadi bubur. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 27pt; line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;Betapa anehnya perjalanan ini perempuanku, dulu pernah kita berjalan berdua seperti saat ini, bergandengan tangan mesra dan merajut mimpi-mimpi bersama. Kadang kita lepas tertawa karena canda dan angan-angan kita. Tapi kini perempuanku, kau menjadi makmur sementara aku tetap seorang pengangguran yang menurut Bapakmu suka mencari muka. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 27pt; line-height: normal; text-align: center;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 27pt; line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;Ia memilah-milah bongkahan arang, mana kiranya yang layak untuk ditelan sebagai pengganjal perut. Anak perempuannya belum datang dan ia tak mau menunggu terlalu lama bila ingin terus bertahan hidup. Biasanya anak perempuannya itu mampir tiga hari sekali. Membawakannya beberapa kilo beras, sambal petis dan teri. Atau sesekali bila sedang beruntung membawakannya hasil ladang, sayur yang telah diolah. Dan dalam sebulan, anak perempuannya itu akan mengurusnya sehari saja dengan penuh ketelatenan. Menginap sehari dan membuatnya lupa pada arang-arang itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;Para tetangga sebenarnya suka mendengar cerita-cerita perjuangannya. Ia serasa menjadi muda kembali, menjadi gagah dan perkasa bila sedang menceritakannya. Namun mungkin kini mereka sudah bosan mendengarkan ceritanya sehingga ada saja yang memberinya sesuatu ketika ia hendak mengeluarkan kata. Mereka merasa iba dan salut akan kesanggupannya hidup dari memakan arang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;Matanya sudah meleleh. Rambutnya sepenuhnya telah dihiasi bulu masu. Wajahnya berkeriput dan tangannya selalu gemetar. Ia getir menelan hidup dan pengalaman, tapi ia bahagia memiliki kenangan. Mungkin orang-orang sudah tak akan bangga padanya sebab ia hanyalah masa lalu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;Tiba-tiba didengarnya pintu reot itu diketuk. Dikunyahnya satu arang dan berkata, “Siapa?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;“Ini Prita, Pak. Prita bawa makanan dan kabar.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 27pt; line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;“Bapak Wadiman, sebenarnya Bapak sudah terdaftar di sini, tapi Bapak harus mengurus kartu kompensasinya ke kelurahan.” Laki-laki tua itu melirik Munir. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;“Apakah harus membayar?” Tanya pemuda itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;“Tidak perlu. Pejabat dan petugas, sudah ada yang membayar.” Pak RT tersenyum. Tapi Munir tahu harus ada uang brosur yang harus digantinya dan uang rasa tidak enak. Mereka pamit. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;“Bapak tidak punya uang. Jangankan untuk membayar uang terima kasih, untuk ongkos ke kelurahan saja tak ada.” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;“Sudahlah, Bapak tak usah pikirkan apa-apa.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;Aku meradang ketika melihat laki-laki itu rengsa beranjak dari sawah liat. Aku tak ingin menegurnya, tapi seusai ia &lt;i&gt;melunyah&lt;/i&gt; lahan petaknya, aku sudah terlanjur melihatnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 27pt; line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;“Khalis!” Ah, jancuk! Mengapa ia mesti memanggil? Aku tak bisa berpaling. Ia mendekatiku semakin dekat dan ingin rasanya kutinju batang hidungnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;“Aku dengar dari Prita kau jadi petugas jaga pos pengaduan.” Katanya. Aku sebal dia menyebut nama istrinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;“Ya.” Tapi aku merasa bangga dengan jabatanku sebab aku punya pekerjaan yang lebih baik dari &lt;i&gt;melunyah&lt;/i&gt; sawah.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;“Pak Wadiman, ayah istriku, belum mendapat kartu. Sedang pengambilan dana tinggal tiga hari lagi.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;“Ya, dia sudah bilang padaku. Aku sekarang mau ke pusat, nanti segera aku beritahu syarat-syaratnya. Yang pasti pengambilan dananya tak dapat diwakilkan.” Ia menggangguk dan aku mohon diri. Oh Munir, mengapa kau sengaja menghancurkanku? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;“Bagaimana kau bisa. Dulu pemuda-pemuda tidak ada yang selemah pada masa kini. Apa kau tidak tahu setiap saat mereka bisa saja dicekat pelor?” lelaki tua itu, yang sudah sepuh, menghinaku dengan cerita-cerita perjuangannya yang mengagumkan. Ia menunjukan bekas peluru pada lengan kirinya dan ia masih mengantungi pin merah putihnya serta menyimpan baik-baik penghargaan veterannya dari Bapak Presiden. Mungkin kelak ia akan membawanya keliang kuburnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 0cm; text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;Kata-kata itu masih terngiang di telingaku. &lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Baginya aku hanyalah pengangguran yang bagai benalu. &lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;Tentu ia tak mau anak perempuannya makan arang juga seperinya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;Aku menghela nafas. Udara menjadi hangat, perlahan dingin akan segera datang sebab malam sebentar lagi merayap. Aku lihat sebongkah musim mengambang. Mereka adalah orang-orang yang penuh derita, sama sepertiku, berbaring dalam altar nasib. Tapi luka lebih parah, sebab aku tak mampu berbuat apa-apa demi cinta. Demi Prita. Mengapa perempuan itu bisa bahagia dengan seorang laki-laki selain aku? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;Aku susuri &lt;i&gt;gili-gili&lt;/i&gt; pada tepi jalan. Mataku menatap &lt;i&gt;pohon suren&lt;/i&gt; dari jauh sana. Pikiranku melalang buana ke tempat di mana orang-orang mencari keberuntungan dengan jalan melanggar hukum tapi bisa dianggap biasa atau memenuhi prosedur. Semuanya pasti akan beres dan tak kentara. Sebab aku adalah petugas jaga. Tak akan ada yang tahu aku berbuat sama seperti para calo kartu-kartu itu. Aku tersenyum dan meludahi jalan setapak itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;Sungguh berkah musim dalam siruh-surihnya. Mata tua itu memandang keluar jendela. Melihat ranting-ranting patah dan bulan pucat kehabisan darah. Ia raba lengan kirinya. Ia ingat selongsong peluru panas pernah menembus lengannya. Betapa indahnya medan yang penuh darah itu. Ia dan teman-temannya berteriak seperti kini para mahasiswa yang berdemonstrasi. Dulu adalah zaman-zaman cinta yang manis. Di mana manusia menaburkan lidah-lidah belasungkawa dan doa-doa berletusan ke angkasa setiap hari. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;Hari ini ia kehilangan uang yang tak pernah ia miliki. Anak perempuannya yang membayarkan kartu kompensasi itu untuknya sebesar lima puluh ribu rupiah. Petugas baru membelikannya kartu bila ia telah membayar. Itulah yang dikatakan Munir, menantunya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;“Pak, sekarang di kota, kencing saja harus bayar.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;“Ya, Tuhan! Jadi mendapatkan dana juga harus bayar? Kemarin kan kau dengar sendiri kata Pak RT?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;“Ya, memang begitulah yang sudah tertata.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;“Ah keterlaluan betul mereka! Setengah mampus dulu aku membela-bela negara ini, masa untuk seorang veteran saja mereka tak mau menanggung sisa hidupku.” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;“Sabar, Pak! Yang pentingkan Bapak tak perlu lagi membayar. Setiap tiga bulan mendapat dana.” &lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;Munir menatap arang di atas meja. Tentu ia tak menginginkan ada arang lagi di atas meja makan mertuanya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;“Aku ini sudah bau tanah. &lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Sebenarnya tak butuh pula uang, arang saja sudah cukup. Rencananya, aku ingin tabung uang itu untuk membeli sepetak tanah kuburku.” Munir diam. Ia memaklumi tingkah Bapak istrinya. Banyak orang tua yang seperti itu bila mereka telah benar-benar tua. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;Ia pergi setelah menyerahkan kartu itu. Ada perasaan sungkan entah mungkin karena tidak enak ketika lelaki tua itu menerima kartu itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;Satu hal yang tidak bisa ia lenyapkan dari pikirannya adalah ia mungkin saja menyusahkan anak perempuannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 0cm; text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;Ia berjalan menghampiri jendela dan menekuri dirinya di sana. Besok ia harus mengantri untuk uang tanah kuburnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 27pt; line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;Waktu menetes tapi mataku berjalan di tengah-tengah. Sosok perempuanku menunggu, wajahnya tampak diremas-remas oleh perasaan cemas. Ia diam saja di sudut itu, sesekali ia melongok melihat sudah sampai mana Bapaknya mengantri. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;Maafkan aku, Prita. Aku tak tahu bagaimana seharusnya orang tuamu yang tinggal satu itu harus membayar harga diriku sebagai laki-laki pemujamu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;Antrian itu mulai berdesak-desakan. Beberapa orang ibu-ibu tiba-tiba datang dengan penuh emosi dan mengeluh padaku sambil marah-marah. Mereka mengeluhkan karena mereka tak mendapatkan kartu padahal mereka terdaftar sebagai orang miskin. Mereka juga mengeluhkan kalau orang-orang yang mendapatkan kartu adalah orang-orang yang mapan yang hanya mengambil dana itu untuk sekadar membeli pulsa telepon selularnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;Antrian semakin tidak beres, sebab baik yang sudah memiliki kartu atau belum bercampur menjadi satu. &lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Panas yang membakar mulai hadir di kepala para penyandang dana. &lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;Mereka yang tidak memiliki kartu marah-marah di loket terlalu lama sedangkan antrian terlalu panjang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;“Hoi, Bu jangan lama-lama di situ! Kita di sini juga ngantri.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;“Pak, bagaimana ini? Penghasilan saya kan tidak sampai seratus ribu per bulan. Masa Bapak tidak percaya?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;“Ya, kartu bisa menyusul yang penting kan namanya sudah terdaftar di kantor RT.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;“Wah maaf, Bu. Tidak bisa seperti itu, semua sudah ada peraturannya.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;“Gimana sih pemerintah ngurus rakyatnya?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;“Jangan gitu, pemerintah juga kasihan. &lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Rakyatnya &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:state st="on"&gt;kan&lt;/st1:State&gt;&lt;/st1:place&gt; banyak, Bu.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;“Yang sabar, Bu.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;“Situ enak ngomong, sini kelaparan.” Tiba-tiba semuanya menjadi kacau. Para petugas akhirnya turun tangan dan aku lengah memantaumu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Orang-orang itu berteriak huru hara, menjadi berang. &lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;Mereka semua kesetanan terpanggang emosi. Aku tak mengerti apa yang terjadi. Mereka saling dorong dan begitu kasar. Orang-orang yang aku kenal jinak-jinak itu menjadi liar tak terkontrol. Riuhnya mereka, teriakan mereka, membuat hatiku bergetar. Inikah kemarahan orang-orang miskin? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;“Tolong bawa Bapakku! Tolong bawa Bapakku!”&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;aku mendengar suara Prita, perempuanku. Waktu berjalan terlalu cepat dan aku tak sempat mencerna. Dana itu lumer ke tangan-tangan yang mungkin bukan haknya dan aku hanya bisa melihat wajahmu merah dan dilumuri air mata.&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Ia tidak menyahut. Sebutir peluru menyambutnya lagi. &lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;Kali ini tidak di lengan kirinya. Tidak pula di lengan kanan. Tidak di mana-mana. Tapi di jiwanya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;Lelaki tua itu menjadi ringan dan kembali muda. Ia bangkit dari pembaringannya, mengantongi peluru dan menyandang senjatanya di bahu. Tak lupa ia bersiul tentang lagu-lagu kemerdekaan. Ia menapaki pagi itu dengan ditemani mimpi sebab apalagi yang membuat manusia terjaga selain mimpi?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;Lelaki itu ingin pergi dari dunia tuanya dan kembali ke masa lalu. Di mana perjuangan bukanlah menjadi sesuatu yang sulit seperti masa kini. Perjuangan baginya adalah dendang yang menyenangkan. Sungguh tuanya adalah penjajahan atas kerjakerasnya di masa muda. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;Lelaki itu tak ingin lagi menengok ke belakang meski anak perempuannya memanggilnya. &lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Sudah saatnya zaman berganti dan ia harus undur diri dan digantikan generasi baru. Tapi ia takut menengok ke belakang, macam itukah orang-orang yang akan melanjutkan perjuangannya? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Anak perempuannya sudah besar dan ia tak memerlukan dirinya lagi. Anak perempuannya telah mendapatkan suami yang benar dan ia bisa pergi dengan tenang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Lelaki itu lelah. Ia tak tahu bagaimana akan dikubur sebab ia belum mendapatkan sepeser pun. Tapi ia tahu, bumi akan menerima dengan senang hati dan menanam jasanya seperti ia menimbun pin merah putihnya di dalam kantong baju seragamnya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 27pt; line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="EN-GB"&gt;Padang-padang tengadah. Kabut malam belum luruh tapi air matamu telah jatuh. &lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;Kau yang diiringi orang-orang itu kini menjadi yatim piatu. Di dada lelakimu kau bersandar dan tersedu. Ada laki-laki hebat pemakan arang yang telah wafat untuk uang kuburnya. Aku merasa naas. Ada penyesalan dan rasa bersarah di dadaku seperti tertembus peluru-peluru itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;Air mataku luruh. Aku memang tidak suka pada Bapaknya tapi tak ingin membunuhnya. Ada banyak kejahatan yang orang-orang sepertiku perbuat dan mereka tak pernah merasa berdosa bahkan mengulanginya berkali-kali. Tapi mereka tak pernah dilindungi cinta sehingga mereka tak tahu bagaimana rasanya menderita.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;Para penduduk yang tidak puas itu masih melapor padaku. Aku sibuk mencatatai keluhan mereka yang isinya sama saja. &lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Tidak mendapat kartu, harus membayar uang administrasi, orang-orang yang mendapat dana bukan orang-orang miskin yang memang harus mendapat subsidi. Duh, kaya betul pemerintah mau memberi dana untuk itu setiap tiga bulan. &lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;Aku jadi ingat bagaimana Nabi Sulaiman meminta pada Tuhan untuk memberi makan ikan di laut sehari saja. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;Tapi aku tak bisa berpikir serius. Pikiranku selalu kembali padamu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;“Mas Khalis, Pak Wardiman meninggal.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;“Ya, aku sudah tahu. Ia meninggal karena sudah tua. Sudah waktunya.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;“Ia meninggal karena kehabisan nafas terjepit dan terdorong-dorong antrian.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;“Salah sendiri kenapa orang-orang tidak mau sabar.” Aku menyelesaikan catatanku. Semua orang sudah tahu, dulu aku sangat mencintai Prita.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;“Lho, Mas Khalis kok ngomong seperti itu?” Anak muda itu menatapku dengan tatapan herannya, tapi aku tidak peduli. Dia juga sudah tahu masa lalu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;“Sudah. Kau mau lapor apa?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;“Sepertinya di desa Kuwu tempat tinggal Pak Wadiman, ada yang tidak beres. Mas harus tahu, &lt;i&gt;pembayan&lt;/i&gt;nya Pak RT juga dapat dana. Jangankan itu, bahkan Pak Haji saja dapat kartu, keluarga bermotor juga dapat kartu. Masa yang dapat kartu orang-orang semacam itu?” Aku mendengarkan cerita anak muda itu baik-baik. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;“Aku juga merasa ada hal yang tidak beres.” Pemuda itu tersenyum. Ia senang mendegar jawabanku. Aku harus melaporkan berita ini ke pusat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Orang-orang telah berkumpul di halaman rumah Pak RT malam ini. &lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;Hatiku rengsek usai pemakaman Pak Wadiman. Betapa bencinya aku dengan pejabat rukun tetangga itu. Kalau bukan karenanya tentu aku tak perlu memungut uang untuk sekadar mempermainkan laki-laki tua itu. Dan orang itu sudah seharusnya menguruskan kartu dana itu bagi penduduknya yang sudah terdaftar katagori miskin. Tentu mereka tak akan berebutan minta subsidi dan berdorong-dorongan hingga menghilangakan nyawa seorang veteran.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;“Saya kan sudah bilang saudara-saudara, semua keluarga miskin pasti mendapat dana kompensasi tunai.” Kata Pak RT menenangkan kerumunan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;“Alah, persetan! Kami setuju kalau semuanya tidak kebagian dana daripada keluarga dekat petugas saja yang mendapat kartu dana itu.” &lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Celetuk seorang warga.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;“Kalian bicara apa? Jangan emosi begitu.” Pak RT membela diri. Aku pikir kerumunan itu sebentar lagi mulai bertindak anarkis. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;“Saya tahu, yang menerima dana bahan bakar minyak itu keponakannya sendiri.” Ujarku memberanikan diri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;“Khalis? Kalian semua hendak mendemoku? Memang benar suami keponakan saya dapat dana tapi lantaran mereka memang layak dapat.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;“Sudah. Kalian bubar! Tidak tahukah kalian bahwa tadi sore seorang warga kita meninggal?” kata seorang hansip, tapi penduduk terus berteriak-teriak. Mereka tidak puas dengan jawaban itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;“Pak RT macam apa yang kita punya ini. &lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;Kita hancurkan saja semua….” Seorang pemuda berteriak dari belakang. Tiba-tiba hatiku bergetar dengan dasyatnya. Bahkan aku melihat ibu-ibu mengacungkan golok ke angkasa. Masa beringas, lebih beringas dari antrian siang tadi. Aku tak sanggup membendung mereka. Mereka tumpah bagai air bah dan membanjiri rumah Pak RT.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;Mereka berlarian, berhamburan, seperti anai-anai di musim panen. Mereka melempari batu, melempari caci, seperti melempari peluru-peluru. Begitu keras dan beringsatan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;“Tolong hentikan!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;“Kami marah. Di mana kalian taruh perut kami?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;“Kami ingin kartu-kartu itu tanpa perlu membayar atau ada potongan!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;“Hentikaaannn….”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;Sisa malam menyusut menjadi batu. Batu-batu berhamburan memecahkan mimpi semalam. Pintu rumah itu telah koyak dan isinya berhamburan ke mana-mana. Kertas-kertas, surat-surat, semua terobrak-abrik. TV 24 inchi pun menjadi sasaran keberingasan warga. Yang lolos hanya beberapa kwintal beras raskin saja. Ia berhamburan di lantai marmernya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;Aku mengelus dada. Salahku? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;Pagi ini, di rumah seorang petugas jaga malam tempat Pak RT melarikan diri, pejabat rukun tetangga itu menghabisi nyawanya sendiri dengan mereguk racun serangga. &lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Istri dan anak-anaknya meraung-raung. Mereka bilang Pak RT semalaman stres berat dan merasa terteror.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;Aku tak tahu pernyataan itu benar atau salah. Tapi kematian Pak RT tidak menyurutkan rasa kacauku dan rasa bersalahku padamu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;Prita, dengan tudung hijaumu kau berdiri kaku di atas gundukan tanah merah itu. Menebar doa, tangis, dan kata-kata. Suamimu mungkin menunggumu di pematang. Kini semua orang tak akan lagi mendengarkan cerita perjuangan dari bibir Bapakmu. Tidak pula mereka merasa iba lagi dengan arangnya di atas mejanya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;Aku menghampirimu. Melihat rantang yang kau bawa lalu melihat perutmu yang tengah hamil muda. Tentu rantang makanan itu untuk suamimu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;“Prita, bagaimana kabarmu? Aku turut berduka atas kematian Bapakmu.” Ia tidak menyahut. Air matanya mengalir saja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;“Kasihan Bapak.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;“Ya.” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;“Kau sendiri saja?” dia tidak menyahut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;“Biar aku antar.” Tapi ia menggeleng, menyusut air matanya dan pergi begitu saja. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 27pt; line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;Kau yang hamil muda itu berjalan tanpa semangat. Tapi kainmu mengisut rerumputan dan membuat mereka segar. Sebenarnya ingin kuhancurkan benih dalam kandunganmu itu. Tapi aku tak bisa sebab ia tidur sepertiku dulu, meringkuk seperti trenggiling dibalut ari-ari dan ketuban. Sungguh air adalah kuasamu, Prita, perempuan-perempuan yang sempurna dengan air mata. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;Perlahan kau terobos matahari, menyusuri setapak itu. Tak kau hiraukan peluru-peluru menembus jantung dan hatiku, meninggalkan luka dan bekas yang menganga. Bapakmu mungkin membawa bekas pelurunya sebagai kenangan, tapi aku mati begitu saja tanpa pujaan. Kau pun ingin segera raib dalam pandangan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: right;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="FI"&gt;Kelapa Gading, 2006&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Catatan:&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Destar:&lt;/span&gt; Ikat kepala.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pembarap: &lt;/span&gt;Kepala Desa atau Lurah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Berkesap-kesip: &lt;/span&gt;Berkedip-kedip.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Melunyah:&lt;/span&gt; Menginjak-injak tanah supaya gembur dan lunak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Gili-gili:&lt;/span&gt; Jalan kecil yang agak ditinggikan (tempat yang berpaya-paya).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pohon Suren: &lt;/span&gt;Pohon yang kayunya dibuat papan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pembayan:&lt;/span&gt; Saudara ipar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2274548059948312448-3404378434126142748?l=cerpen-wulan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpen-wulan.blogspot.com/feeds/3404378434126142748/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2274548059948312448&amp;postID=3404378434126142748' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2274548059948312448/posts/default/3404378434126142748'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2274548059948312448/posts/default/3404378434126142748'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpen-wulan.blogspot.com/2007/04/peluru-peluru.html' title='Peluru-Peluru'/><author><name>wulan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12360063595710708385</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_ucpQ1vKpaQM/RhM3LOv1EZI/AAAAAAAAAAk/GLQ1AJkiMQA/s320/wulan2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2274548059948312448.post-8609782694974685860</id><published>2007-04-11T01:03:00.000-07:00</published><updated>2007-04-11T01:08:16.621-07:00</updated><title type='text'>Cari Aku di Canti</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 153);" lang="FI"&gt;Cerpen Wa Ode Wulan Ratna&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Siti Rahma suka berlama-lama berdiri di tepi pantai itu. Ia menatap langit. Mungkin menatap langit yang cerah keabu-abuan, mungkin pula memandangi Gunung Krakatau yang tersaput kabut sambil menduga-duga kapan kiranya ia meletus lagi. Bila ia duduk di pasir putihnya yang lembut, ia akan menjulurkan kakinya yang mulus putih itu hingga mendapatkannya dipeluk riakan gelombang laut yang asin. Atau bila ia bosan berdiri dan duduk-duduk, ia pasti meninggalkan jejak-jejak telapak kakinya pada bibir cinta itu. Memungut koral di sepanjang pantai dan membiarkan dirinya raib tertimbun kabut senja dan kemudian lenyap dirimbunnya malam. Setelah itu, orang-orang akan bertanya-tanya; ke manakah ia pergi?&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Siti Rahma hilang lagi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Itulah berita yang kesekian kalinya kudengar dari orang tuanya. Dan aku pun tak tahu mengapa aku merasa benar-benar bertanggung jawab atas kehilangannya kali ini. Atau mungkin karena ia tidak membalas email dan SMS-ku? Mungkin ia memang sudah muak dengan teknologi dan membuang &lt;i&gt;handphone&lt;/i&gt;nya jauh-jauh ke laut. SMS terakhirnya hanya berbunyi, “Aku di Canti.” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Aku duduk tenang di dalam &lt;i&gt;nuwo &lt;/i&gt;penduduk tempat Siti Rahma menginap. Mataku tak lepas dari jendela memandangi gadis itu yang berdiri di tepi pantai Canti. Ia memperhatikan setiap golakan gelombang pada laut hijau bersih itu yang sewarna dengan syalnya. Ia pasti sedang mencari inspirasi tentang sesuatu yang dalam dan memikat. Rambutnya yang sebahu tipis itu kusut disisir angin pagi. Kabut dini hari masih mengambang mengibaskan sejuk. Aku tak pernah tahu apa yang ada dibenaknya. Ia seakan enggan untuk ditebak. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Aku ingat percakapan malam itu di balkon kamarnya saat di Jakarta, memandangi langit malam dengan sedikit bintang-bintangnya yang berkedip, “Betapa nikmatnya menjadi seorang engkau, sayang.” Aku hanya menatap tubuhnya yang langsing semampai itu dari belakang diterangi cahaya merkuri lampu jalan. Syal hijaunya mengibas-ibas terkena hembusan angin tropis yang berdebu yang membuatnya dan pantulan bayangnya bagai sosok Jonggrang yang anggun turun dari purnama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;“Ah, sudahlah, Pras. Tak perlu disesali. &lt;span style="" lang="FI"&gt;Aku sudah terlanjur jatuh cinta, “ ia menoleh padaku. Pada matanya yang perak itu, selain menyimpan 1,5 minus dibalik kacamatanya, aku tahu ia menyimpan bulir-bulir mutiara yang siap meluncur di sudut-sudutnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Rahma, dunia ini milikmu,” kataku pada akhirnya. Bukan lelah aku memberinya semangat terhadap studinya seperti apa yang selalu ia lakukan untukku. Ia menatap amplop yang aku taruh di meja sebelum akhirnya ia menatap langkah kakiku yang membuatnya berdua bersama sepi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Kini aku mendapatkannya di Canti. Aku tak tahu di mana pantai Canti sebab baru pertama kalinya aku keluar kota seorang diri menyeberangi selat ke tempat di mana aku tak tahu apa-apa. Tapi aku seperti mendapatkan kabut, sebab sepertinya ia tidak menginginkan kehadiranku dan tak ingin membagi keindahan pantai cantik ini padaku. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Sudah dua hari ini aku di Canti bersama patung rupawan yang belum juga mau berbicara banyak padaku. Entahlah, apa yang ia lakukan saja berhari-hari di sini. Kabur dari asrama kampus dan membawa seluruh peralatan lukisnya?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Aku seperti ubur-ubur yang terombang-ambing saja di kotanya ini. Dari Bakauheni aku dioper ke Kalianda lalu dioper lagi ke keberbagai tempat. Melewati dua &lt;i&gt;tiyuh&lt;/i&gt; Maja dan Rajabasa. Bertanya kepada setiap supir angkutan dan kemudian sampailah aku ke Canti setelah melewati sebuah rute yang seperti meander. Aku berbelok-belok menelusuri panjang perjalanan untuk sampai pada sebuah perabuan di mana kini Siti Rahma bernafas. Namun sampai di sini ternyata aku seperti tak bernyawa di hadapannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Ya, sampailah aku di sini, sebuah pemukiman penduduk dengan &lt;i&gt;nuwo-nuwo&lt;/i&gt;nya yang tertata sedemikian rupa. Mungkin jika &lt;i&gt;tiyuh &lt;/i&gt;ini adalah sebuah kota, maka ia lebih tepat disebut kota tua yang rupawan. Begitu kuno dalam perawatan waktu dan alami dalam goresan alam. Lalu bertanya aku pada seseorang tentang seorang gadis bernama Siti Rahma. Ia menunjukanku jalan menuju Siti Rahma bersandar dalam pelariannya. Sebuah pantai yang tenang dan sejuk. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Itulah kulihat pertama kali ia berdiri di situ seperti saat ini. Aku datang menghampirinya dan diam-diam saja bersebelahan dengannya. Ia sama sekali tidak terkejut atas kedatanganku. Memang SMS terakhirnya hanya menyatakan di mana ia berada sementara seisi rumahnya dirundung kebingungan atas berita hilangnya ia. Ia sama sekali tak menginginkan ada yang datang menjemputnya, sebab tak ada seorang pun di rumahnya, dan tak terkecuali aku, yang tahu di mana Canti. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Seorang ibu pemilik rumah tempatnya bernaung menaiki &lt;i&gt;ijan&lt;/i&gt; sambil membawa segelas teh. Teh itu masih mengepul dan menawarkan aroma melati yang manis. Ia tersenyum padaku dan meletakan teh itu di meja. Kuhisap rokokku dalam-dalam sambil tak lepas memandangi gadis setengah matang itu mematung di bibir pantai.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Dia memang suka seperti itu kalau datang kemari,” kata ibu itu. Ia mempersilahkan aku untuk mencicipi teh yang masih mengepul itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Biasanya dia datang ke sini dua kali dalam seminggu. Hanya saja sudah empat hari ini dia tidak mau kembali.” Aku memalingkan wajahku pada ibu itu. Sang ibu tersenyum. Tampak wajah mudanya belum pudar meski tertutup kerut-kerut halus usia dan kelelahan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Kalau tidak melukis, ia pergi ke Goa Sawung. Ia suka menikmati pemandangan. Dia suka mengumpulkan kulit siput dan koral. Di kamarnya banyak sekali koleksinya itu.” Aku manggut-manggut, mematikan rokok dan mencoba mencicipi teh yang diseduhkannya untukku. Ternyata Siti Rahma sudah seperti anak sendiri bagi ibu itu atau tepatnya bagi &lt;i&gt;tiyuh&lt;/i&gt; ini. Ibu itu kemudian memohon diri sebab ia harus ke pasar dan membeli bahan-bahan untuk makan siang nanti. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Beberapa teguk dari teh itu telah melunasi dahagaku, tapi aku tetap saja kacau. Rasa haus yang melanda perasaanku tak juga terpuaskan. Maka kuturuni &lt;i&gt;ijan&lt;/i&gt; dan berjalan menuju gadis itu. Dari belakang kulihat syal hijaunya berkibar-kibar seperti rambutnya, ia juga kusut diremas angin pantai. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“&lt;i&gt;Nyo kabah&lt;/i&gt;?” tanyanya ketika aku telah berdiri cukup lama di sampingnya. &lt;/span&gt;Aku tersenyum dan menatap apa yang sedang ia tatap.&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;“Baik. Pagi yang selalu indah di sini, ya?” ia tidak menyahut dan terus memandangi bentangan alam yang dibuat Tuhan. &lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;“Aku tak enak dengan orang tuaku. &lt;span style="" lang="FI"&gt;Memang sudah selayaknya Ayah marah padaku karena indeks prestasiku turun drastis. Mereka telah berkorban banyak untukku.” Akhirnya ia mulai berkata-kata setelah sekian hari aku hanya didiamkan saja. Mungkin ia telah usai marah padaku sebab berani-beraninya aku datang ke Canti dan memergokinya bersama lukisannya. Aku tak mau komentar apa-apa. Aku ke sini meski membawa pesan dari orang tuanya untuk mencarinya, tapi tujuanku sendiri adalah mengetahui kalau ia baik-baik saja. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Ah Pras, seharusnya tak kuberi tahu kau kalau aku ada di Canti yang membuatmu datang.” Dari kata-katanya aku tahu ia tak suka ada orang yang mengganggu kesendiriannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Tapi kau lari dari kenyataan, Rahma.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Lho, kau ini bagaimana? Katamu dunia ini milikku?” Aku tahu, setiap kata-kata baginya bernilai kesumat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Ya, tapi aku mengkhawatirkanmu.” Ia tersenyum, mengulum tawanya. Ia suka aku berbicara seperti itu. Tapi kemudian wajahnya kembali murung. Sesuatu yang merah dan mengemaskan menyembul di dua pipinya. Kami diam berlama-lama. Aku tak mau lagi ada kata-kataku yang meluncur begitu saja dan membuatnya hilang dari pandanganku saat ini juga. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Ke mana &lt;i&gt;handphone&lt;/i&gt;mu?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Aku jual. Aku ingin menginap di sini lebih lama dari yang mereka bayangkan.” Kami berdiaman lagi. Sama-sama menatap Gunung Krakatau yang berdiri anggun dan angkuh. &lt;/span&gt;Gunung itu nyaris hilang dari pandangan mata sebab kabut tebal dan awan melingkupinya. &lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;“Gunung itu pernah meletus tanggal 27 Agustus di tahun 1887. Tanggal dan bulannya sama dengan hari kelahiranku,” ia tersenyum seakan mengingat bagaimana Siti Rahma kecil berlari-lari di tepi pantai Ancol dengan perasaan bahagia dan tanpa beban pikiran apapun. &lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;“Pras, tahukah kau aku mengoyak sepi di tengah semangat yang kupancarkan padamu untuk hidup? &lt;span style="" lang="FI"&gt;Tak ada yang berbeda sebenarnya di antara kita selain rasa sepi.” Ia memandangku. Pipinya masih meranum seperti tomat muda. Matanya yang tak berkacamata itu membuat wajahnya menjadi sangat lembut dan serasi dengan alam pantai Canti yang senantiasa muda. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Menurutmu, Agustus nanti ia akan meletus lagi?” ia menunjuk gunung itu, aku tersenyum padanya dan aku menggeleng kuat-kuat. Aku tak suka ada bencana alam gunung meletus. Ia tertawa. Tawa yang renyah seperti biasa kukenal ia. Tapi tawa yang ini seakan begitu janggal, sebab seperti ada suatu perasaan yang ia sembunyikan padaku. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Mau ikut atau mau berenang? &lt;/span&gt;Aku mau ke Goa Sawung, mumpung lagi surut dan masih sepi.” Ia berjalan meninggalkanku tanpa menunggu jawabanku. Aku tersenyum menatap gadis itu yang sesekali berhenti dan membiarkan kakinya disapu air laut dan sesekali pula memunguti koral dan kulit siput yang dibimbing laut padanya. &lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Siti Rahma, kau tak salah memilih tempat….” Teriakku, tapi ia tidak menoleh. Namun aku tahu pipi itu masih memerah entah karena apa dan aku pun tahu ia menyembunyikan sebuah senyuman untuk kubawa pulang besok sebab ia memang menghendaki kata-kataku yang demikian. Ia nampak begitu manja dan kanak-kanak tanpa kacamata minusnya, pikirku sebelum akhirnya aku mnyelami hijaunya laut Canti. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Aku menyusulnya ke Goa Sawung. Siti Rahma tampak bak ratu pantai yang tercenung di bibir goa yang ternganga. Ia melambai padaku dan mengharapkan kedatanganku. Sebuah lambaian yang memikat. Aku menghampirinya dan ia langsung menarikku untuk menikmati dinding-dinding goa alam itu. Tapi ia tak menjelaskan apa-apa di dalam goa itu. Aku tak pernah tahu apa yang dipikirkan gadis itu saat ia melihat-lihat stalagmit dan stalaktit yang bergelantungan di dinding bawah dan atas goa. Atau saat ia terpesona pada sinar matahari yang tipis menerobos celah-celah dinding goa. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Mungkin Siti Rahma enggan berbicara padaku. Kulihat ia meraba-raba gelap dan kabut seperti bayi yang meraba ujung dan pangkal kehidupan. Aroma dingin yang menyekap badan goa karena musim hujan membuatnya tampak begitu pucat dan bersinar seperti kunang-kunang. &lt;/span&gt;Ia seperti lentera yang membuatku dengan jelas melihat segala ornamen dinding-dinding bisu itu. &lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;Diam-diam aku memperhatikan gadis itu. &lt;span style="" lang="FI"&gt;Aku tak pernah tahu apa yang ia pikirkan. Aku pun tak tahu sudah berapa lama ia bersahabat dengan sepi. Lama kelamaan aku berpikir, paras lembut dan melankolis itu memang lebih pantas menjadi seorang seniman ketimbang dokter. Tapi tiba-tiba aku terjebak. Ia memergokiku yang diam-diam memperhatikannya, “Kenapa?” tanyanya. Aku menggeleng dan tak kuat menahan senyum, dalam terang yang redup dan hangat itu dapat kursakan pipinya bertambah merah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Jadi kau menikah Desember nanti, Pras?” ia memalingkan wajahnya dari tatapanku. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Ya. Terima kasih atas pinjaman uangnya semester lalu.” Kataku mencoba mengalihkan pembicaraan. Sebab menyinggung masalah itu rasanya menciptakan obrolan yang kaku sekali. Mungkin juga karena kini aku menebak kenapa pipinya tiba-tiba tambah memerah seperti apel. Mungkinkah ia cemburu. Siti Rahma adalah sahabatku sejak kecil. Banyak sudah kami saling berbagi kecuali yang satu ini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Kenapa? Aku bersedia menjadi seksi repot di hari pernikahanmu.” Aku tak dapat menggambarkan dengan jelas ekspresi wajahnya dan memang aku tak berani menduga dan membayangkannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Rahma, kamu masih mau kan kembali ke Jakarta?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Tentu. Di sanakan rumahku, tapi aku mau lebih lama tinggal di Canti.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;“Kuliahmu?” ia mendengus membuang sisa uap lelah hatinya. &lt;span style="" lang="FI"&gt;Ia menarik tanganku dan mengajakku keluar perut goa. Ia menjelaskan tanpa menjawab pertanyaanku bahwa sebentar lagi akan banyak pengunjung yang datang untuk menikmati panorama dari goa sawung ini. Ia menjelaskan mengapa goa ini disebut sawung sebab bentuknya yang seperti lubang. Sawung artinya lubang. Ia terlambat menjelaskan itu semua padaku, seharusnya ia menjelaskannya di bagian terdepan waktu pertama kali aku masuk dari mulut goa. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Ia melepaskan gandengannya ketika keluar dari mulut goa dan aku mengikuti langkahnya dari belakang. Namun ia menungguku untuk dapat berjalan beriring. Aku menggandeng tangannya. Ia tampak sedikit berseri. Aku malah yang terkejut, tangannya sedingin es di kutub sana. Baru aku menyadari kalau seluruh bajunya basah seperti ia habis berenang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Pras, kapan kau pulang?” Ia menyenderkan kepalanya di bahuku. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Besok.” Jawabku singkat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Nanti malam ada &lt;i&gt;canggot bakha&lt;/i&gt;. &lt;i&gt;Nakao&lt;/i&gt; bisa lihat banyak &lt;i&gt;muli mekhanai &lt;/i&gt;di &lt;i&gt;tiyuh&lt;/i&gt; Canti menyanyi-nyani. Nanti &lt;i&gt;nakao &lt;/i&gt;lupa punya kekasih di Jakarta.” Ia tersenyum menatapku dan kembali menyandarkan kepalanya di bahuku. Bicaranya begitu cepat dan menggoda aku tak dapat menangkap dan mengerti maksud yang ia bicarakan. Ia benar-benar telah jatuh cinta pada Canti. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Terima kasih sudah datang, Pras.” Katanya sebelum berpisah di &lt;i&gt;nuwo&lt;/i&gt; sebab ia hendak menggambil paletnya di belakang &lt;i&gt;nuwo&lt;/i&gt; penduduk yang lain. Begitulah Siti Rahma, aku tak pernah tahu apa yang ada dalam pikirannya. Apakah ia cemburu ataukah ia ragu. Mungkin ia tidak suka atau mungkin juga ia jatuh cinta. Ia juga tidak mau mebicarakan hal-hal yang tidak ia suka meski itu harus dibicarakan. Dan sampai saat ini aku hanya bisa menduga-duga, ia memang tak menghendaki aku datang ke Canti, sebuah pantai milik seseorang dengan bukit-bukit yang menawan dan laut yang menawarkan kepermaian, tapi ia juga tak menginginkan aku pergi darinya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Malamnya aku terbangun karena resah tiba-tiba merajaiku. Aku keluar kamar dan mendengar suara sayup seorang gadis menangis di kamar sebelah. Hatiku miris. Tapi aku tak mau mengganggu sepinya malam yang pecah karena sedu seorang gadis yang menuangkan curahan hatinya pada alam yang kelam. Ya, ibu itu juga mengatakan kalau Siti Rahma juga suka keluar tengah malam mengamati pantai yang warnanya bersatu dengan langit dan hanya bisa dibatasi dengan tebaran bintang. Apakah tadi Siti Rahma keluar jalan-jalan di tepi pantai tanpa menikmati &lt;i style=""&gt;canggot &lt;span style=""&gt;bakha.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Aku diam terpaku. Duduk rapat di tepi jendela. Sebuah sketsa dan syal hijau tergeletak hampa di meja. &lt;/span&gt;Sketsa pantai Canti dengan Goa Sawungnya. Sungguh sketsa untitled yang indah. &lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;“Pras apakah aku cantik?” katanya senja tadi sebelum kutinggalkan ia bersama pantai dan malam yang mulai merayap. &lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Ada sesuatu yang cantik yang hilang di pantai ini kalau kau tidak ada.” Kataku sekenanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Itu jawaban yang aku tunggu, Pras.” Ia memelukku tanpa peduli pada penduduk yang lewat. Lama ia tanamkan dirinya dalam pelukanku. Sebelum akhirnya ia mengngkat wajahnya dan kudapati pipinya memerah dan matanya penuh air mata.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Aku mau buka sanggar lukis di sini. Belum ada kan?” aku mengangguk. Aku tak berani menanyakan perihal kuliahnya. Lalu aku meninggalkannya kembali bersama sepi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Aku tak tahu ke mana ia sepanjang senja itu. Apakah ia baru pulang setelah menjelang dini hari ini? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Di kamar sana masih kudengar segukan seorang gadis yang mengadu pada sepi dengan bahasanya sendiri tentang segalanya yang telah ia pendam. Ia berdialog dengan malam layaknya dialog ombak kepada pantai.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Pagi ini aku tak menemukannya di kamarnya. Sang ibu bilang kalau ia menitipkan sketsa dan surat yang ditaruhnya di atas meja untuk kubawa pulang. Aku harus pagi berangkat ke Bakauheni agar tidak sampai terlalu sore di Jakarta. Maka tak ada waktu lagi untuk mencari Siti Rahma. Kutitip salamku untuk Siti Rahma pada sang ibu dan mengucapkan terima kasih atas segala pelayanannya. Aku pun kembali. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Saat menyeberangi Selat Sunda, kubuka surat Siti Rahma. Ah, benar hanya surat pemeberitahuan kalau ia baik-baik saja dan mohon agar tidak dikhawatirkan orang tuanya serta agar ia tidak memberitahukan di mana keberadaannya. Dan pada bagian terakhir ia hanya menulis untukku, “Pras, kalau aku hilang cari aku di Canti.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Beberapa hari setelah perjalanan yang bisu itu aku mendengar berita di televisi, bunyinya kira-kira begini: Telah hilang, Siti Rahma (22), mahasiswa Kedokteran Malahayati Lampung asal Jakarta. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Tak ada yang tahu di mana ia berada. Orang tuanya sungguh sangat memprihatinkannya dan gelisah sampai memasang iklan segala. Ah, Siti Rahma sayang, apakah harus aku menjemputmu lagi di Canti? Dan membawamu kembali ke rumah agar semua orang tahu kalau kau baik-baik saja?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Aku tersenyum dan memmbayangkan Siti Rahma dengan rona merah di kedua pipinya sedang duduk-duduk di tepi pantai Canti. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;div&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: right;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Jakarta – Lampung&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;br /&gt;Untuk Rahma Wd.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Catatan:&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Nuwo:&lt;/span&gt; rumah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ijan:&lt;/span&gt; tangga rumah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tiyuh: &lt;/span&gt;kampung&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Canggot bakha:&lt;/span&gt; pesta adat muda-mudi Lampung&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Muli mekhanai:&lt;/span&gt; gadis yang belum menikah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Goa Sawung:&lt;/span&gt; goa alam di barat palung Canti, masyarakat pasisir Lampung di Canti menyebutnya Goa Sawung karena bentuknya seperti lubang (Goa Sawung artinya kurang lebih lubang)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Nyo kabah:&lt;/span&gt; Apa kabar&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2274548059948312448-8609782694974685860?l=cerpen-wulan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpen-wulan.blogspot.com/feeds/8609782694974685860/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2274548059948312448&amp;postID=8609782694974685860' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2274548059948312448/posts/default/8609782694974685860'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2274548059948312448/posts/default/8609782694974685860'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpen-wulan.blogspot.com/2007/04/cari-aku-di-canti.html' title='Cari Aku di Canti'/><author><name>wulan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12360063595710708385</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_ucpQ1vKpaQM/RhM3LOv1EZI/AAAAAAAAAAk/GLQ1AJkiMQA/s320/wulan2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2274548059948312448.post-3602746341027688829</id><published>2007-04-11T00:57:00.000-07:00</published><updated>2007-04-11T01:02:42.749-07:00</updated><title type='text'>Bulan Gendut di Tepi Gangsal</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153); font-weight: bold;"&gt;Cerpen Wa Ode Wulan Ratna&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Saat itu hutan masih rindang, bau karet dan damar masih terasa dipenciuman seperti cat basah pada tembok-tembok bersemen di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt;. Malam itu kutemukan kau sedang mencari bulan durjana yang nyaris penuh di tengah hutan. Matamu berkilau di malam lindap. &lt;st1:place st="on"&gt;Samar&lt;/st1:place&gt; bulan yang kelabu menampakan dirinya dari balik pepohonan jelutung, pulai, kempas, rumbai, jernang atau berbagai jenis rotan. &lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;Malam pikuk menyiramimu, dara muda yang belia. Matamu sasar entah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kemana, memuja kesuburan hutan dalam lindungan Tuhan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;“Serunting, jangan kau hendak kemana-mana kalau kau tak pulang bersamaku.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 27pt; line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;“Tidak, aku menadahkan tangan, Rondang. Lihat hutan basah, hutan basah!” Dari jauh kuperhatikan gelagatmu sementara tanganku masih menyadap beberapa tubuh pohon karet untuk kutampung getahnya. “Hati-hati, aku tak mau kau dijerat ular atau dicekat &lt;i&gt;kuau&lt;/i&gt;.” Kau tiada menyahut, tapi kulihat kau masih tercenung menatapi bulan sembab yang pucat itu. Dengan begitu kau masih dalam pengawasan mataku meski aku tak perlu setiap detik menemukan bayangmu. Bulan bisa saja dicolong kelam dan para &lt;i&gt;tauke mengepul&lt;/i&gt; kayu-kayu hutan diam-diam. Tapi kau harus tetap berada di situ. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 27pt; line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;Aku pun mengalihkan pandanganku dan terus membeset batang-batang karet dengan belati, menampung getahnya dengan &lt;i&gt;sayak&lt;/i&gt; yang kuikat kuat-kuat dengan tali. Kuhapus beberapa butir peluh di keningku. Deru angin lembubu membuatku ingat pada kata-kata Tumenggung Tarib, seorang pemimpin dari kelompok suku Orang Rimba dari Sungai Pakuaji di Desa Pematang Kabau pada kami orang-orang Talang Mamak, “Sudah saatnya kita bekerjasama melindungi hutan &lt;i&gt;ulayat&lt;/i&gt; kita dari perbuatan orang-orang tercela itu.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;“Bagaimana caranya?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;“Kita mulai dengan pemetaan.” Berkatnya kami belajar menanam pohon-pohon karet ini yang dijadikan pembatas hutan &lt;i&gt;ulayat&lt;/i&gt; kami sekaligus mempertahankan nilai-nilai kearifan adat Orang Rimba.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Namun tiba-tiba aku tersadar oleh denting sepi. &lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;Segala ciak miak alam pikiran dan alam hutan menjadi begitu sepi dan kelam. Entahlah, orang-orang Talang Mamak memang tak pernah membutuhkan waktu untuk hidup mereka sehingga aku tak tahu sudah berapa lama aku lena dalam pekerjaanku dan melupakanmu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Aku limbung, keringatku kembali bercucur dengan deras. Aku langkahi segala rumput-rumput dan akar-akar pohon yang basah karena embun. Aku menguak hutan yang rimbun itu mencarimu. Menguak hutan seperti mimpiku menguak hutanmu yang basah ranum sebelum akhirnya sampai aku menemukan sarangmu yang hangat lagi lembab. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;“Serunting!” aku memanggilmu sekali. Tak kudengar sahutan. Rongga-rongga mulai bersahutan di tubuhku, membiarkan udara keluar masuk tak terkontrol. Aku pun terus berlari ke segala arah dan penjuru memanggil namamu. Tapi hutan seakan mentah-mentah menelan suaraku. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 27pt; line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;Aku berlari menerobos hutan, mencoba berpikiran positif kalau kau telah kembali ke rumah. Tapi perasaan cemas terus saja meraja, hingga meskipun aku berhenti berlari langkahku tetap saja tergesa-gesa. Rasanya tak mungkin perempuan sepertimu berani melewati hutan seorang diri meskipun kau juga seorang Talang Mamak sejati. Aku kenal betul siapa kau. Aku &lt;i&gt;tercungap-cungap&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;Langkahku mendekati bunyi percik-percik air sungai Gangsal. Aku tak tahu, apakah sungai itu penuh sebab bulan nyaris purnama. Ketakutanku timbul lagi, tentu pikiran kalutku yang mengatakan kalau kau mungkin saja dibawa arus banjir bandang sungai itu. Namun tidak jauh dari tepi sungai yang memantulkan temaram bulan tempat aku terpaku, kudengar desah dan lenguh perempuan yang membuat bulu kudukku merinding. Pelan-pelan kulangkahkan kakiku pada sebuah bongkah batu kali. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;“Serunting?” yang menyahut hanya desahan halus yang mengeram, mengejan. Begitu menyakitkan dan tertahan. “Serunting? Jawablah? Kaukah itu?” serta merta kulihat sosok bayang kelam keluar dari bebatuan dengan terburu-buru. Mengambil pakaian yang tersampir di batu dan hilang dengan lesat sambil terseok-seok karena tak terbiasa. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;Malaikat bersijingkat. Malam itu aku menganga. Kemana perginya bayangmu, Serunting? Putri Talang Mamak yang tiada beremak? Kudapati bajumu berceceran di mana-mana dan kelaminmu kemana-mana. Di sana ada air mata dan darah. Kenapa aku bisa tahu kau menangis dan mengeluarkan darah? Sebab kau tak mengeluarkan kata-kata selain segukmu dan kau tak bisa berjalan sebab selangkanganmu luka. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;Aku lupa, Serunting. Aku lupa! Belatiku tertinggal di belantara. Kalau kumau bisa kukejar laki-laki jahanam itu, kutikam ia dengan belatiku dan kubiarkan belati itu &lt;i&gt;tercacak &lt;/i&gt;diperutnya. Biar ia mati meninggalkan karat. Tapi tak bisa kutinggal kau di balik batu itu meraba-raba malam mencari penutup tubuh yang tiada kentara lewat temaram bulan. Ah, sialan betul laki-laki itu! Berani-beraninya ia menanamkan berahi di pucuk ranummu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;Maka aku menuntunmu yang tiba-tiba menjadi patung. Aku tak mau mendengarkan apa-apa dan memang aku tak sudi sebab mataku luka karena air mata dan hatiku mengeluarkan darah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: center;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 27pt; line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="EN-GB"&gt;“Sudah seharian ini Serunting telanjang.” &lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;Kata Suhemi, ia menyuguhkan aku minuman pada cawanku. Aku menggaruk kepalaku dan melihat ke arah Batin Gigih, Bapaknya. Laki-laki paruh baya itu asyik dengan tembakaunya. “Kau apakan dia semalam, Ndang?” Tanya Mak Cuan, istrinya. Aku menatap mata Suhemi yang tampak cemas. &lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;" lang="EN-GB"&gt;Perempuan itu sebaya dengan Serunting. Dan Serunting sudah seperti saudaranya sendiri. Mereka semua adalah keluarga yang mengurus Serunting sejak masih bayi. &lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;Aku pun menggeleng kuat-kuat. “Tidak aku apa-apakan, Mak. Mungkin dia terkejut lihat &lt;i&gt;Kuau&lt;/i&gt;, ada burung seperti itu.” kataku, sebab Serunting memang belum pernah meliahat &lt;i&gt;Kuau.&lt;/i&gt; “Ah, macam saja!” Peremuan tua itu menggeleng-geleng dan tersenyum padaku sebelum akhirnya ia masuk dapur bersama Suhemi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;“Apa hutan kita dalam keadaan genting, Rondang?” Tanya Batin Gigih memulai upacara sarapan pagi. Laki-laki itu masih mengantuk ia &lt;i&gt;tersadai&lt;/i&gt; di balai yang beralaskan anyaman tikar dari daun nipah. Matanya yang nanar menatap langit-langit bubungan atap dari rumbai kering yang disanggah kayu-kayu kuat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;“Hutan leluhur baik-baik saja kurasa. Semalam pun sekalian kuperiksa.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;“Tetap saja kita mesti waspada. Sudah sering terjadi penebangan liar di Taman Bukit Tigapulu ini. Mereka bisa saja merambah ke hutan &lt;i&gt;ulayat&lt;/i&gt; kita meski telah kita pagari dengan karet.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;“Ya. Nanti aku akan beri tahu penduduk Talang Mamak yang lain agar senantiasa terus berjaga-jaga.” Batin Gigih mengangguk-angguk. Lama kami berdiaman dan pikiranku kembali melalang buana menyusuri malam di tepian sungai Gangsal. Di sana kulihat bulan bercermin pada airnya yang mulai mengeruh. &lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Memberi petanda pada sesuatu yang rawan dan belum dijamah siapapun. Pada sesuatu milik perempuan bernama Serunting. Aku tiba-tiba mendengar dadaku bergemuruh dengan sendirinya sehingga aku menyembuyikan wajahku karena malu suara itu akan didengar Batin Gigih. &lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;“Kenapa? Apa yang kau pikirkan, nak?” aku terpergoki.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;“E…, anu….”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;“Rondang, Rondang!!! Pak Batin Gigih, Makkk….!!” Serta merta aku dan Batin Gigih loncat dari kediaman kami saat mendenggar suara Sanggo di luar. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;“&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; apa?” Mak Cuan juga keluar dengan tergesa dari dapur disusul dengan Suhemi. Sanggo langsung nyelonong masuk begitu saja. Ia langsung mereguk air dari cawanku. “Anu, itu… itu….” katanya terbata-bata. Ia mengusap air yang belepotan di sekitar mulutnya. “Ya, coba bawa bertenang dulu.” Kata Mak Cuan menenangkan. Sanggo duduk di tempatku duduk. Aku berdiri di antara Batin Gigih dan Mak Cuan. Suhemi bersembunyi di punggung emaknya seperti anak kecil. Ia membenamkan wajahnya di pundak orang tua itu dengan hanya menyisakan sepasang matanya yang memancarkan kegelisahan. &lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;“Ada buldoser, Mak. Lima. Lima.” Sanggo mengacungkan kelima jari tangan kirinya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;“Di mana?” kataku dengan nada tinggi. Sanggo menunjuk ke arah hutan karet.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;“Kurang ajar mereka. Kapan datangnya?” aku bertatapan dengan Batin Gigih.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;“Tidak tahu.” Sanggo menggeleng kuat-kuat. &lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;“Orang-orang sudah ramai di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;” Katanya lagi. “Patih Laman juga ada?” &lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Tanya Batin Gigih. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;“Tidak tahu.” Sanggo menggeleng lagi. Dan tanpa banyak omong lagi aku dan Batin Gigih langsung keluar rumah begitu saja. Sanggo pun menyusul juga. Dari luar masih sempat kudengar raungan Serunting yang menyakitkan ulu atiku di dalam &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;“Alamak, cepat pakai bajumu, Ting. Apa kau tidak malu itu kau punya anu kemana-mana?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;Laki-laki itu masih muda. &lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Kulitnya matang dan ia gagah. Kemejanya yang berwarna abu-abu polos rapi tersetrika telah layu dibubuhi keringat. Ia bertolak pinggang. Satu tangannya merongoh saku celananya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;“Ini sesuai prosedur dari pemerintah. &lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;Pohon-pohon yang kami tebang, jelas!” katanya tegas. Penduduk Talang Mamak yang berkumpul kembali gaduh. “Tidak bisa begitu, Pak.” Patih Laman menengahi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;”Lho kenapa? Sudah ada perundang-undangannya toh?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;“Ya memang. Tapi pohon yang ditebang berdiameter di bawah enampuluh senti. Padahal ketentuannya harus di atas itu.” Yang lain bersorak mendengar penjelasan Patih Laman. Patih Laman sudah seperti sepuh atau &lt;i&gt;puak&lt;/i&gt; bagi penduduk Talang Mamak Sungai Gangsal. Ia sangat disengani dan dihormati karena kebijakannya dan kesantunannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;“Dan lagi penebangan ini sudah kelewatan karena merambah kemana-mana sampai ke tanah &lt;i&gt;ulayat&lt;/i&gt; kami.” Batin Gigih tiba-tiba angkat bicara. Penduduk mulai kisruh lagi membenarkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;“Sabar!” ujar Bapak muda itu. &lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;“Kami mohon maaf kalau ada pohon-pohon muda yang tak sengaja tertebang. Masalahnya, pohon itu memang menghalangi jalan untuk buka lahan.” Katanya lagi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;“Dulu ada seratus pohon sialang kami yang ditebangi. Tapi tiada ganti rugi. Sekarang kami tak lagi mau kehilangan pohong sialang yang tinggal sedikit.” Celetuk Sanggo. Aku masih diam saja melihat laki-laki bergaya formal itu. Tubuhku menahan keringat dingin yang hendak mengucur. Sanggo menyenggol lenganku memberi isyarat agar aku tidak bengong saja dan agar aku melakukan sesuatu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;“Begini, Pak. Perambah hutan pada umumnya adalah perusahaan yang mengantongi surat izin menebang kayu.” Kataku pelan-pelan menahan emosi yang tidak jelas rimbanya, sebab laki-laki itu…. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;“Ya, kami punya surat-surat itu kalau mau lihat.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;“Bukan begitu masalahnya, Pak. Ini tanah &lt;i&gt;ulayat&lt;/i&gt; kami.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;“Wah, kami tidak tahu, ya. Sebab kalau tanah ini milik tuan-tuan semua harap bisa tunjukan sertifikat tanahnya.” Tiba-tiba saja telingaku menjadi panas. Kalau tidak Patih Laman yang menahanku tentu sudah kuseruduk orang muda itu. “Pak, hutan &lt;i&gt;ulayat&lt;/i&gt; ini kami miliki turun temurun. Memang tanpa sertifikat, tetapi jelas batas-batas hak kepemilikannya. Diakui kepala adat sampai tingkat kecamatan.” Teriakku. Penduduk mulai ikut berteriak-teriak lagi. &lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Patih Laman dan Batin Gigih sibuk memberi isyarat tenang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;“Begini saja, Pak. Bila Bapak tidak bisa memperlihatkan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;surat&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; izin penebangan terhadap tanah kami, maka silahkan bawa pulang buldoser-buldoser ini.” Ujar Patih Laman masih dengan santun. “Dan ingat, kami ingin buldoser-buldoser ini pergi sebelum senja. Sebab bila tidak, Bapak akan berurusan dengan pemerintah daerah dan pusat.” Ancamku menutup kerumunan pagi itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: center;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Aku menatap Serunting yang terduduk di balai hanya diselimuti selembar kain. &lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;Ia seperti sakit karena menggigil. Matanya yang polos itu menatapku juga. Kemana arahku bergerak, bola mata itu turut bergerak. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;“Kenapa, Ting?” ia tidak menyahut. Kulihat bibirnya kering dan terkelupas. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;“Matamu indah, Ting. Seperti bulan gendut yang dulu pernah kau ceritakan di tepi sungai Gangsal.” Aku tersenyum. Tapi bibir pucat dan pecah itu tak juga menyunggingkan senyum balasan seperti yang sudah-sudah bila aku sedang memujinya. Aku memperhatikan dalam-dalam wajah Serunting. Wajahnya yang tirus tidak seperti wajah Suhemi yang bersih meski kutahu kulit perempuan Talang Mamak tidak seputih kulit orang-orang kota. Diamnya seperti batu. Polos dan membeku, hingga meskipun ia tak bergeser, orang-orang yang melihatnya akan merasa iba.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;“Jangan sedih. Nanti kalau kudapat orangnya akan kubunuh dia.” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;“Rondang, masih panaskah kepalamu? Siapa yang mau kau bunuh?” Suhemi keluar dari bilik dapur. “Bukan siapa-siapa. Itu, orang yang punya buldoser.” Sekilas masih kutatap Serunting yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;masih tak bergeming sebelum akhirnya aku melangkah menuju gentong air. Aku menciduk airnya dengan &lt;i&gt;sayak&lt;/i&gt; dan mereguk tuah cinta dari tempurung kelapa itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;“Sepertinya Serunting ada yang &lt;i&gt;mengogam&lt;/i&gt;.” &lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;Kata Suhemi sambil memandangi Serunting dengan saksama. “Apa?” aku pura-pura terkejut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;“Ada yang &lt;i&gt;mengogam,&lt;/i&gt; Ndang. Aku takut ia jadi gila karena kena guna-guna. Ia tak mau pakai baju dan tak mau mengeluarkan kata-kata.” Aku diam saja. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;“Kepalaku rasanya mau meledak. Aku mau ke tempat Pak Tatung dulu.” Aku pergi begitu saja meninggalkan Suhemi dengan sepasang matanya yang selalu kumengerti kalau ia mengharapkanku untuk dapat meluangkan waktu mengobrol dengannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pak Tatung sebenarnya bukan orang Talang Mamak. &lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;Ia berasal dari Dusun Tuo Datai di desa Rantau Langsat. Namanya sebenarnya adalah Ongko Tarif. Tapi orang-orang akrab memanggilnya Pak Tatung. Ia mendirikan sanggar belajar Datai di Talang Mamak untuk mengajarkan orang-orang Talang Mamak bahasa orang bule. Sanggar itu mendapat sarana dan dukungan dari pemerintah program konservasi harimau Sumatera. Ia sudah kuanggap seperti bapakku sendiri. Ia tambun dengan barut muka jenaka dan rambutnya sudah dihiasi bulu masu yang lumayan banyak mengingat usianya yang mulai senja. Istri Pak Tatung sudah lama meninggal, dan ia tak punya anak selain aku yang dianggapnya anak sejak empat tahun lalu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;Waktu istirahat mengajar. Aku mengetuk pintu dan ia yang membukakannya sendiri. &lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Ia punya tabiat yang aku suka, menyapa anaknya sendiri dengan &lt;i&gt;tabik&lt;/i&gt; orang asing, “Good afternoon, son.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 27pt; line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="EN-GB"&gt;“Yes.” Jawabku. Ia selalu tersenyum dengan jawabanku. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;“Wajahmu murung, nak. Aku sudah dengar cerita tentang buldoser itu dari Sanggo.” Katanya. Sanggo adalah teman dekatku sekaligus penyebar berita terbaik. Sebenarnya ia orang Talang Mamak Tiga Balai bukan dari sungai Gangsal. Tapi itulah teman, ia lebih suka tak pernah jauh dariku sebab kami senasib, sebatang kara. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;“Ya, tadi penduduk juga sudah rapat di rumah Patih Laman. &lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;Orang-orang buldoser itu mau buka lahan untuk kebun kelapa sawit.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;“Lalu?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;“Tentu kami tidak setuju. Itu kan tanah &lt;i&gt;ulayat&lt;/i&gt; kami. &lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Rencananya Patih Laman besok mau lapor ke pemerintah daerah. &lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;Kalau perlu juga pemerintah pusat. Kami mau minta dukungan dan perlindungan.” Kataku mulai berapi-api lagi. Pak Tatung tertawa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;“Tenang Rondang…, kau ini kenapa? Seperti orang cemburu saja.” Ia memperhatikanku. Aku membuang muka agar ia tak tahu wajah burukku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;“Pasti ada seusatu yang lain selain masalah itu.” &lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Aku diam. Aku diam seperti Serunting yang menjadi batu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;“Pak, aku tahu orangnya. Aku tahu itu pasti orangnya. Hanya saja aku tidak tahu harus berbuat apa.” Aku mulai membiarkan wajahku terlihat gelisah seperti sebagaimana seharusnya. “Orang siapa?” Pak Tatung tampak bingung. Senyumnya lesut dan dahinya berkerut. Aku dapat melihat urat-urat wajahnya menegang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;“Orang yang memperkosa Serunting, Pak!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;“Apa? Serunting diperkosa?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: center;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 27pt; line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="EN-GB"&gt;“Patut kita tiru orang Talang Mamak dari Desa Durian cacar.” Sanggo bercerita. “Satu pohon duren saja ditebang, ada sanksi adatnya. Jika tidak bisa diselesaikan dalam satu kelompok, maka akan diselesaikan penghulu lainnya sebagai masalah besar bersama. Ck!” Sanggo terus saja berbicara ini itu, padahal setengah mati aku ingin melupakan bayangan malam jahanam yang telah lalu. “Heh, Rondang? Kenapa mukamu? Tenang sajalah, sebentar lagi orang-orang buldoser itu pergi. Kita mandi saja dulu di sungai Gangsal. Sekalian mengintip gadis-gadis perawan.” Ia tersenyum dan terkekeh-kekeh. Sanggo selalu percaya diri tertawa dan tersenyum lebar menunjukan giginya yang kuning dan tidak rata. Memamerkan dua gigi depannya yang &lt;i&gt;rumpang&lt;/i&gt;. Aku meliriknya, tapi aku tak bisa marah padanya. Pikiranku terbelah dua dan bercecer kemana-mana, sedang perasaanku berantakan berkecai-kecai. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;“Mari mandi!” ajaknya ketika kami mulai sampai di tepian sungai Gangsal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;“Tidak bisa.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;“Ya sudah, tidak usah mengintip.” Rayunya. Aku meliriknya dengan tatapan badik. “Ah, kau tidak percaya padaku rupanya. Biarpun aku suka mengintip, tapi aku masih bujang bedengkang.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;“Bukan begitu, tak ada yang mengawasi orang-orang itu pergi.” Kataku lalu meninggalkannya bergegas kembali ke hutan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: center;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;Senja &lt;i&gt;kasip&lt;/i&gt;. Ia berjalan tergesa, terseok-seok karena tak terbiasa. Buldoser-buldoser itu pergi melewati jalan besar. Alat berat itu menyisakan suara deru yang membisingkan telinga. Dan laki-laki itu sekejap menatapku membuat bayangannya berkelebat sambil membuang putung rokok dan pergi dengan tatapan &lt;i&gt;badik&lt;/i&gt; yang tidak mengenakan. Matanya meninggalkan luka di hatiku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;Aku memperhatikan tanah tak bertumbuhan di tempatku duduk untuk mengamati kepergian mereka. Ada busut, longok tanah sarang anai-anai dan semut. Apakah di sana juga bersembunyi lipan yang berkelamayar dengan air liurnya yang penuh cahaya? Aku tak bisa mafhum pada zaman yang lintang pukang ini, sebab hutan yang hanya bisa diam tak dikasihi menanam ranjau dan dendam hingga ke akarnya. Betapa payah hayat orang-orang Talang Mamak, hutan mereka, Hutan Puako, bisa tak ada lagi karena dijadikan lahan kelapa sawit. O… Emak! Alangkah, hutanmu kini diingkari undang-undang! &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;Laki-laki itu, tak hanya cukup dihujat dengan sumpah seranah. Aku berdiri, melangkahkan kaki dan pergi. Mereka hilang dan aku ingin raib. Tapi laki-laki itu, dengan pakaian kotanya yang rapi, ingin kujagal kepalanya karena telah melumerkan rahimmu, Serunting. Ini bukan hanya kemarahan suku Talang Mamak, tapi juga ini menyangkut dendam cinta yang mulai membengkak. Aku mencium &lt;i&gt;maung&lt;/i&gt; dari wajah laki-laki itu. Ah, ia bangkai sebelum mati karena prilakunya yang amoral.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;Aku menelusuri hutan. Deretan pohon karet rapi merekah. Batang, ranting, dan daunnya meninggalkan sosok bayangan yang bergoyang-goyang ditimpa sinar senja yang mulai tipis. Aku meniti jalan menuju sungai Gangsal dan melupakan kalau aku pernah meninggalkan belatiku di antara pepohonan karet saat bulan sedikit lagi sempurna. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;Malam menaiki puncaknya. Kutemukan bulan penuh sudah. Sungai Gangsal meliuk seperti seekor ular yang berjalan di atas bebatuan, terjungkal-jungkal ia dengan suara alirannya yang rinai. &lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Sungai yang bearkhir di Desa Sancalang ini adalah riwayat hidup kami. &lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;Ia menyimpan kebutuhan yang tak terperi. Usai hutan, di sini ada ikan dan udang. Ada minum, mandi, dan mencuci. Ada hawa dan ada nyawa, tempat memupuk kesuburan tanah. Aku memeluk tubuhku, berjongkok menatap bebatuan yang bisu. Setiap bayangan yang dilewatkan desau angin selalu membuatku dihantui perasaan cemas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;Dengan malam ini, maka sudah dua hari Serunting telanjang. Sanggo bilang ia mulai gila, hanya meraung bila disentuh kulitnya. Suhemi bilang ada yang &lt;i&gt;mengogam&lt;/i&gt;nya. Mak Cuan bilang ia kemasukan setan. Tak ada yang tahu mengapa Serunting demikian kecuali malam dan penjaga-penjaga malam. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;Waktu berkelebat. Seonggok tubuh menginjak rerumputan dan semak, bersembunyi dibalik pepohonan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;“Serunting!” aku nyaris berteriak. Terpana melihat perempuan kusut masai itu di sana. “Dengan siapa ke sini?” ia tidak menyahut. Dan memang tak ada lentera yang ia bawa sehingga sosoknya yang licin itu hanya terbias sinar purnama. “Mengapa kau ke sini sendirian?” tanyaku haru. Aku copoti bajuku agar ia pakai, tapi ia membuangnya jauh-jauh entah kemana. Aku merasa bersalah atas kejadian lalu. Kulihat ia menadahkan tangan dan mengingatkanku pada saat ia menegadahkan tangan di hutan kemarin. Apakah ia ingin mengatakan hutan basah?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;“Mari pulang, Ting. Tak baik kau makan angin malam-malam.” Aku menarik lengannya. Tanganku bergetar, tapi ia tiada mau melangkah. Malah mengeluarkan suara rintih yang memilukan hati. “Ndang, itu Emak, itu Emak!” &lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Ia menunjuk bayangan bulan yang hancur tak lagi rupawan yang terbias di sungai Gangsal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;“Kau bicara?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;“Lihat, itu emak! Aku dapat emak. Emak ketemu, emak ketemu, Ndang!” Ia mulai bersorak. “Bukan Ting, kau tak punya Emak. Emakmu Mak Cuan.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;“Itu emak.” Ia ngotot.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;“Bukan, itu bulan.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;“Bulan? Bulan gendut?” aku mengangguk. Tiba-tiba wajahnya memelas menjadi begitu pedih. &lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;“Oh bulan gendut, kenapa kau telanjang. Apa kau tidak malu anumu kemana-mana?” ujarnya meniru suara Mak Cuan padanya. Aku iba menariknya pulang. Tak kuat aku menahan nanah di mata yang mulai lumer. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;Dulu sering kami mengobrol di tepian sungai ini ketika purnama sedang naik daun. Ia bilang Mak Cuan pernah cerita padanya kalau Emak kandungnya menjelma bulan di tepi Gangsal. &lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Sebab dulu sebelum ia lahir, Emaknya sering ke Gangsal saat purnama. Berlindung dibalik semak-semak dan batu-batu, &lt;i&gt;berpukas&lt;/i&gt; sambil menggesek-gesekan &lt;i&gt;pukas&lt;/i&gt;nya seperti anjing. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: center;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 27pt; line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="EN-GB"&gt;Patih Laman sudah berangkat ke &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; bersama beberapa laki-laki penduduk Talang Mamak Sungai Gangsal termasuk Batin Gigih. Aku melihat Mak Cuan sedang meramu obat-obatan dari akar dan daun-daun. Mungkin kondisi Serunting tambah memprihatinkan. Tiba-tiba kembali kudengar teriakan Sanggo memanggil-manggil namaku dari luar. Aku, Mak Cuan, dan Suhemi cepat-cepat keluar. Di bagian selatan hutan kulihat asap hitam mengepul dan penduduk mulai panik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 27pt; line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="EN-GB"&gt;“Sanggo, ada apa?” teriakku menghantam gemuruh suara-suara yang lari kocar-kacir. &lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;“Ada kebakaran hutan, Ndang.” Katanya &lt;i&gt;tercungap-cungap&lt;/i&gt;. “Di mana?” aku juga mulai panik. “Di Hutan Puako, Ndang. Apinya besar. Besar sekali. Sulit dipadamkan.” Katanya lagi terbatuk-batuk, sebab asap tebal mulai meyebar dan memerihkan mata. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 27pt; line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="EN-GB"&gt;“Sialan betul itu orang! Tidak tahu diri! Cepat Bantu aku. Panggil juga orang-orang yang lain. Mak, orang-orang perempuan dan anak-anak tolong diungsikan dulu ke desa sebelah.” Aku lari tunggang langgang, meneriaki bantuan menghampiri sungai Gangsal. Di sanalah letaknya hidup terakhir. &lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;Kami menimba-nimba airnya seperti bayi yang memerasi susu emaknya. Waktu berlalu, tapi api tak kunjung padam. Matahari sengit menyayat-nyayat kulit membuat luka semakin menganga dan tak mau kering. Nantinya ada sesuatu yang bopeng di tanah kami. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="line-height: normal; text-align: center;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 27pt; line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;Mungkin kini damar akan sulit dicari. Dan pohon-pohon karet tak lagi meninggalkan getahnya untuk diramu menjadi ban dan semacamnya, sebab baunya saja sudah tak terasa. Semuanya &lt;i&gt;ranap&lt;/i&gt;. Gosong. Tanah itu menjadi hitam dan di atasnya mengeluarkan asap seperti &lt;i&gt;miasa&lt;/i&gt; pada tanah berawa. Aku memaki. Orang-orang buldoser itu menganggap &lt;i&gt;cuai&lt;/i&gt; apa yang kami miliki dan kami jaga. Tak tahulah Serunting, bagaimana rasanya dicambuk. Apakah seperti hatiku kini? Melihat hutan yang tiada lagi bernyawa seperti melihatmu yang menjadi batu di tepi Gangsal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 27pt; line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;Tahukah kau Serunting? Tak ada senja sore ini. Senja habis dilumat musim. Sampai mana habis letak kata &lt;i&gt;cabaran&lt;/i&gt; untuk dirasa? Tahukah kau Serunting? Dari ujung atap rumbia atau nipah mereka membangun &lt;i&gt;perabung&lt;/i&gt; di rumah-rumah mereka agar senantiasa terlindung dari tetesan hujan. Kini Serunting, hujan menjelma cinta. Dan malam ini tiada akan kau temukan bulan gendut di tepi Gangsal saujana matamu memandang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 27pt; line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;Serunting, dulu aku mencintai matahari, tapi kini aku berharap hujan setiap hari turun tanpa henti. Biarkanlah mata-mata mereka lengah dan beristirahat barang sejenak, menikmati lena derai-derai air yang turun dari langit. Sesaat mereka pun bisa mengintip dari ceruk melihat batu kali atau kau yang tengah berdiri melakoni benda mati.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 27pt; line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;Serunting, kau pun bisa telanjang di tengah hutan. Telentang sambil menengadahkan kedua tanganmu seperti waktu itu. Kau berdecap-decap, mendesahkan doa paling kasmaran mengharapkan kerendahatian Tuhan menurunkan hujan. Dan aku bisa lengah memantaumu sebab Ia akan menjagakanmu untukku saat aku menyayat batang-batang karet. Kini hutan telah basah, Serunting!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 27pt; line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;Kuperhatikan kau. Tubuhmu yang basah hujan dan masih berdiri di tepi Gangsal yang kian menderas itu di mataku bagai berlumur anggur. Aku sebenarnya ingin menanam benih di pangkal pahamu untuk kelak kau sebar di lahan-lahan gosong itu. Itulah lahan tersubur yang akan kugarap sebelum tidur, yang tidak dilalui undang-undang legal meski mungkin kau mandul. Sebab kau pun tahu, hutan yang tandas itu butuh benih yang akan membuatnya rimbun kembali.&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 27pt; line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;Kulihat kau. Kau masih terpaku di situ. Sudah tiga hari kau telanjang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 27pt; line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;“Serunting, cepat pulang! Astaga, apa kau tak malu &lt;i&gt;pukas&lt;/i&gt;mu kemana-mana, hah?” kataku mulai gusar diambang kesedihanku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 27pt; line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;“Dasar Pukimak!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="line-height: normal; text-align: center;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 27pt; line-height: normal; text-align: right;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="FI"&gt;Jakarta, 6 September 2005&lt;br /&gt;Kado untuk Marhalim&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Catatan:&lt;/b&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kuau:&lt;/span&gt; sejenis burung yang dilindungi (hidup di Malaysia, Sumatera, dan Kalimantan), burung kuang, berkaki panjang dan kuat, mengais dan membalik-balikan tanah mencari makanan yang berupa biji-bijian, keong, cacing, serangga, dsb, berbulu indah, bersarang di atas tanah dengan dua atau tiga butir telurnya. &lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Tidur pada cabang-cabang pohon yang tidak terlalu tinggi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sayak:&lt;/span&gt; separuh tempurung, tempat air minum terbuat dari tempurung kelapa. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ulayat: &lt;/span&gt;Tanah warisan leluhur turun temurun.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tercungap-cungap: &lt;/span&gt;mengap-mengap.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tercacak:&lt;/span&gt; terpancang tegak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tersadai:&lt;/span&gt; terbaring dengan kaki terlunjur.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Puak:&lt;/span&gt; semacam tetua atau sepuh&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mengogam:&lt;/span&gt; menggunakan ilmu sihir untuk membuat orang gila.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tabik: &lt;/span&gt;salam&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Rumpang:&lt;/span&gt; ompong.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kasip: &lt;/span&gt;telambat atau lewat waktu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Badik:&lt;/span&gt; pisau belati (tajam)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Maung :&lt;/span&gt; bau busuk, rasa atau bau yang memualkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Berpukas:&lt;/span&gt; telanjang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoFooter"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pukas: &lt;/span&gt;kemaluan perempuan, celah pada permukaan luar kemaluan perempuan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ranap:&lt;/span&gt; rata dengan tanah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Miasa:&lt;/span&gt; racun yang keluar dari tanah rawa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Cuai:&lt;/span&gt; remeh, tidak penting, tidak berharga.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Cabaran:&lt;/span&gt; sabar, kesabaran.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Perabung: &lt;/span&gt;atap berlapis dua yang menutup bubungan (puncak) rumah agar tidak kemasukan air hujan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pukimak:&lt;/span&gt; pukas emak, sindiran tidak senonoh. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tauke:&lt;/span&gt; pencuri/penebang kayu hutan diam-diam pada malam hari.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mengepul:&lt;/span&gt; mengumpulkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2274548059948312448-3602746341027688829?l=cerpen-wulan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpen-wulan.blogspot.com/feeds/3602746341027688829/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2274548059948312448&amp;postID=3602746341027688829' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2274548059948312448/posts/default/3602746341027688829'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2274548059948312448/posts/default/3602746341027688829'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpen-wulan.blogspot.com/2007/04/bulan-gendut-di-tepi-gangsal.html' title='Bulan Gendut di Tepi Gangsal'/><author><name>wulan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12360063595710708385</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_ucpQ1vKpaQM/RhM3LOv1EZI/AAAAAAAAAAk/GLQ1AJkiMQA/s320/wulan2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2274548059948312448.post-1956756106821479008</id><published>2007-04-11T00:55:00.000-07:00</published><updated>2007-04-11T00:57:31.730-07:00</updated><title type='text'>Kering</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;Cerpen Wa Ode Wulan Ratna&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Aku dapat merasakan geliat kambium dari pohon-pohon cinta itu melumer, menawarkan bau birahi untuk dicium kehidupan dan diendus perempuan-perempuan malam. Tiba-tiba lengkap sudah pikiranku pada perempuan masai itu. Ia bergelinjangan dengan mesranya di atas ranjang malam. Mematut sepi menghujat bayangan. Katanya masih seputar hutan, aku dilarang memperkosa belantara itu. Tapi aku bilang aku suaminya dan nasi tidak turun langsung dari langit. Lalu aku pergi berbulan-bulan hingga malam ini aku masih di sini. Tidak kembali pada dadanya, tidak kembali pada permohonannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Wak Atan berteriak, tapi aku tak dapat menangkap dengan jelas apa yang ia katakan. Pohon tumbang satu-satu, tapi suaranya tidak lebih keras dari deru mesin-mesin penebang. Hingga setiap suara yang keluar dari mulut laki-laki itu hanya tertangkap daun-daun jatuh. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Lelaki itu tidak mengerti cinta, tapi ia lihat hujan tipis turun warna-warni mempermainkan pelangi. Cakrawala terbuka, entah itu pagi atau petang ia tak tahu. Tapi ia merangkum hijau dedaunan dan cokelat tanah. Ia memetiki embun-embun segar dari rerumput liar untuk kemudian di masukan ke dalam kantung-kantung jas hujannya. Kemudian ia melihat belantara tertimpa cahaya seterang wahyu, pohon tumbuh satu-satu, makin lama makin besar. Begitu cepat pohon-pohon itu tumbuh dan rindang. Ia subur dalam pupukan doa dan harapan dan ia menjulang ke langit, seperti pohon kacang dalam dongeng menuju negeri di awan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Lelaki itu terbatuk ketika asap tembakau menghangatkan rongga dadanya. Ia mengucak mata dan menemukan Zulfan tersenyum padanya sambil menghirup aroma kopinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Matamu merah, tak tidur kau semalam, hah? Masih sangat siang sekarang untuk bermimpi lagi.” Katanya. Lelaki itu merenggangkan badan dan melihat ke arah jam dinding yang menunjukan pukul satu lewat duapuluh menit. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Fras Tandipau, sahabatku, coba lihat ini!” Zulfan memanggilnya. Seperti biasa ia giat mengikuti langkah kerja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Kenapa? Apakah titik apinya bertambah lagi?” Fras memperhatikan rekaman satelit &lt;i style=""&gt;National Ocean and Atmospheire Administration 12&lt;/i&gt; yang dipantau Badan Meteorologi dan Geofisika tempatnya bekerja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Berdasarkan rekaman satelit ini, ada delapan puluh titik api yang tersebar di Sumatera. Apakah kau tidak lihat di tempat ini, lihat… lihat… ad….” Fras mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya yang basah keringat, pikirannya melanglang buana pada Nara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Kenapa Fras? Kau ingat adikmu yang tidak pulang itu? Bah, paling dia sudah sukses menjadi &lt;i style=""&gt;tauke&lt;/i&gt;. Sudah sampai di bukit Samyong sudut Batam.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Aku sudah bilang itu bukan urusanmu, Zulfan. Kabut asap ini sama sekali tidak hubungannya dengan dia.” Zulfan mengasap lagi dengan rokoknya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Kau membelanya, Fras.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Aku cuma bilang itu bukan urusanmu. Itu…, dia akan diurus oleh orang-orang berwajib yang mengurus masalah itu.” Fras kembali melihat data komputer itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Aku memikirkan istri adikku. Kau lihat Zulfan? Indikator kesulitan pengendalian kebakaran berada pada level sedang hingga tinggi di kabupaten Rokan Hulu, Pekanbaru, Siak, Kampar… dan sebaran titik api terbesar ada di Rokan Hulu.” Zulfan menggeleng-gelengkan kepalanya tapi Fras tahu laki-laki itu tidak mendengarkan kata-katanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Hujan lokal tidak merata, sangat sporadik, dan….”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Masih saja kau mau mencuri hati perempuan itu. Kau membela adikmu tapi kau juga mengkhianatinya diam-diam.”&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Fras diam, ia menoleh pada Zulfan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Kalau kau tiada mengerti cinta, kau tak perlu bicara apa-apa.” Zulfan tertawa. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Alamak!!! Sahabatku si pecinta alam ini ternyata sudah &lt;i style=""&gt;lantung&lt;/i&gt;! Kapan kau balikkan uangku? Adikmu sepertinya tak akan kembali.” Katanya setelah tawanya pecah berkecai-kecai.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Nanti, tunggu aku dapat gaji. Aku tahu, Zebe tak akan datang lagi setelah tiga bulan lalu. Aku bertanggung jawab terhadap apa-apa saja yang ia tinggalkan dan sisakan untukku.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Sungguh kau orang penuh kesabaran bahkan perempuan yang disisakan adikmu itu kau nafkahi juga.” Fras menghapus peluh di keningnya. Membicarakan semua ini pada Zulfan seperti sia-sia belaka. Temannya itu selalu merasa kasihan sekaligus tidak suka dengan nasib yang menimpanya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;“Berdasarkan garis angin, titik api bertiup ke arah Dumai karena angin berhembus dari Barat Daya. &lt;span style="" lang="FI"&gt;Kalau diprediksikan titik api bisa terus meningkat karena frekuensi hari hujan kurang dari sepuluh hari. Seminggu saja tidak turun hujan, angka indeks bisa meningkat.” Fras bersandar pada kursinya dan menatap langit-langit. Ia dapat merasakan Zulfan menghirup aroma tembakaunya dalam-dalam dan melepaskan asap yang beberapa detik lalu memenuhi paru-parunya itu ke udara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Apa maksudmu?” Zulfan melihat layar setelah mematikan api dari putung rokoknya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Aku harus membawa Nara dekat denganku.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Apa?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Aku tadi bermimpi hujan turun warna-warni.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Aku melihat ada bayangan pohonan tumbuh di wajahmu, Nara. Ia berkelebatan. Bukankah kita sama-sama mencintai segala yang hijau itu? Dan dari semak yang diapit dua pahamu yang lencir, aku dapat mencium bau itu begitu menyengat. Seperti pupuk kandang yang masih hangat, aku ingin ada benih tumbuh subur di dalamnya. Bukankah tiga belas purnama telah kau lalui dengan kesepian yang sempurna? Kau melolong bersama malam, bersama pohon-pohon yang merenggang nyawa. Tapi kau &lt;i style=""&gt;sangsai&lt;/i&gt;. Sampai kapan kau menunggu pemerkosa hutan itu kembali merapatkan tubuhnya padamu? Nara, jangan tunggu sampai rahimmu kering dan gersang bahkan sampai tak dapat melahirkan kata-kata.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Nara melenguh, ia mengusap air matanya yang berwarna-warni seperti hujan dalam mimpiku tempo hari.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;“Kakak macam apa kau, Fras?”&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;“Adik macam apa Zebe itu?” &lt;span style="" lang="FI"&gt;Nara sesegukkan lagi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Nara, aku tak marah ia langkahi aku. Tapi jika itu membuatmu sengsara begini aku tak sudi.” Perempuan itu menarik selimut hingga menutupi dagunya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Bisakah kau lukiskan kembali langit yang lengkap dengan rembulan dan tubuh perawan?” ia menatap ke luar jendela. Bulan tenggelam dalam kabut asap.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku tak menyahut. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Fras, tidakkah kau sadar aku sudah seperti lahan gambut di musim kemarau yang panjang ini. Begitu gerah, begitu kering dan mudah menyala. Pemantikmulah yang kurelakan membakar tubuhku, tapi seharusnya kau hamili saja batu-batu.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Apa maksudmu?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Aku hamil.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Apa?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Aku hamil!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Alhamdulillah.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Apa?” suara Nara mulai menyala-nyala. “Mengapa kau malah bersyukur aku hamil?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;“Sebenarnya aku tak mau kau hamil dengan seorang pembalak liar.”&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;“Kau tega, Fras. Biar bagaimana pun suamiku adalah adikmu.”&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Jangan sampai kau makan uang haram.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Perbuatan ini, jauh lebih haram.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Aku akan menikahimu.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Aku tak mau.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Nara, kau sudah bercerai dengannya. Waktu telah mengantarkanmu pada sebuah jawaban bahwa ia tak akan kembali.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Aku mencintainya, Fras. Kau tak mengerti.” Katanya lirih menutup wajahnya dengan tangan. Ia tersedu di bahuku. Seandainya perempuan ini tahu, bukan seperti&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kebakaran di hutan-hutan itu, bila api ini tak kunjung padam di hatiku. Bara ini akan terus mengepul, membiarkan asap itu memerihkan mata, mengaburkan pandangan hingga tak seorang pun yang tahu aku telah memeram cemburu hingga membiru. Zebe, kau titipkan perempuan ini baik-baik padaku. Seandainya kau yang tak berkabar tahu, aku menjaganya lebih baik dari yang kau duga. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Dulu sekali pada bulan September lelaki itu ingat betul, rasi bintang perawan tengah lingkupi bumi, wadahi kepala mereka. &lt;/span&gt;Malam-malam membawa pelita &lt;i style=""&gt;teding&lt;/i&gt; mereka berlarian dengan girang memerawani hutan. Zebe, adiknya bersembunyi pada kerindangan pohon kempas dan menjadi bayangan dedaunan. &lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;“Cepat pulang, hari sudah malam!” Teriak emak, suaranya jauh entah di mana. Lelaki itu menangkap bayangan adiknya.&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Ze, cepat pulang!!!” ia berteriak di balik pohon kempas. Zebe terkejut, tapi ia berlari sambil tertawa. Zebe, terantuk akar pohon dan jatuh menabrak pelita yang dibawa lelaki itu. Tumpah ruah api itu menyala, ah… masihkah kemarau sejahanam dulu?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Dari balik jendela rumah, mereka melihat asap menebal hingga fajar. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Apakah Abang sudah benar-benar matikan api itu?” Tanya Zebe dengan mata merah karena takut dan merasa bersalah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Sudah kuinjak tanpa bekas.” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Sungguhkah tak ada hujan, tak ada embun yang buat api itu berhenti menyala?” Zebe menangis. Tangan lelaki itu gemetar mengelus kepala adiknya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Jangan khawatir Ze, hutan memang penuh rahasia. Pagi-pagi nanti orang-orang sekampung pasti akan memadamkan api itu.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;“Abang jangan marah pada Zebe. &lt;span style="" lang="FI"&gt;Itu tidak sengaja, kecelakaan.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Iya, Abang hanya tidak suka ada kebakaran hutan.” Kata lelaki itu lirih.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Zebe tidak suka hutan, pohon itu buat Zebe terluka.” &lt;/span&gt;Katanya sesegukan. &lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;***&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;Wak Atan terus berteriak hingga fajar menjelang. &lt;span style="" lang="FI"&gt;Aku tak menangkap jelas lengkingannya. Pohon-pohon telah tumbang, pohon-pohon yang dulu melukaiku dan membuatku terpuruk pada deraan orang-orang masa lalu yang sanggup membuatku bergetar dan bersembunyi di bawah kolong tempat tidur emak. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Hentikan suara mesin, hentikan!” kali ini suara lelaki tua itu terdengar begitu jelas. Aku menghapus peluh dan terduduk melesapi angin dingin dini hari.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Bagus, sebentar lagi kita hanyutkan pohon-pohon ini ke sungai. Kalian akan mendapatkan bonus besar.” Katanya. Aku tersenyum, orang tua itu tak akan bisa melihat jelas sunggingan di bibirku. Betapa rindunya aku pada perempuan itu, telah lewat satu tahun aku meninggalkannya tanpa kabar. Memang salahku, tapi aku tak mau ia tahu kalau aku masuk daftar orang-orang yang dicari karena proyek besar ini. Aku hanya menyuruh kakakku untuk mengantarkan kabar kalau aku baik-baik saja dan kalau ia harus sabar menunggu. Nara perempuan setia, aku tahu itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Sampai subuh menjelang kami duduk melingkar, Wak Atan ceramah tentang pohon-pohon, tentang uang, tentang kehidupan orang-orang malam yang mengais rezeki dari mimpi-mimpi. Hingga tiba bulan menjilati sisa mimpi dari ujung-ujung jemarinya, Wak Atan pun membagikan amplop-amplop yang sarat dengan uang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Ah, aku pulang besok, Nara. Aku pulang! Uang setebal ini, apakah sebanyak daun-daun yang gugur itu? Aku bisa membeli rumah, baju-baju bagus, perhiasan untukmu, membuka usaha, segala sesuatu untuk membayar kealpaanku padamu selama setahun ini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Namun ternyata, dalam menyambut fajar aku harus berlari menjauhi hutan. Sebab ada banyak preman lapangan dari balik pohon-pohon yang masih bersisa sejak semalaman mengintai perbuatan kami.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Bedebah!” Wak Atan memaki. Ia berlari meninggalkan kami semua begitu saja, meninggalkan pohon-pohon tumbang tak terurus. Aku memaki, seharusnya tak kusisakan sebatang pohon pun malam tadi agar tak ada tempat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;para manusia peringkus pengepul kayu itu untuk bersembunyi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Aku meludah. Inilah lelaki yang teringkus terang dalam kegelapannya. &lt;/span&gt;Aku berlari melewati &lt;i style=""&gt;samun&lt;/i&gt; yang mengering sebab musim tak memberkahinya dengan embun. Betapa indahnya musim-musim yang dahaga ini, &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Nara&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt;. Biar hutan tahu bagaimana rasanya terluka seperti aku dulu dihujat &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;massa&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; atas perbuatanku yang tidak disengaja.&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Para&lt;/st1:place&gt; pembalak yang lain berlarian entah ke mana. Tunggang langgang tapi tiada bersuara. &lt;span style="" lang="FI"&gt;Hanya rumput-rumput yang terinjak dan beringsut tersaput kaki-kaki lajang. Tak akan ada yang memikirkan nasib satu per satu dari kami. Seperti aku, mereka berlari sebab telah mengantungi rezeki. Siapa yang peduli? Ini pernah terjadi beberapa kali, hingga bukan hal baru lagi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Tapi sesuatu yang mengendus halus membuat punggungku hangat dan mati rasa. Aku merasa, alam tiba-tiba menjadi mesra sebab di sana aku dapat menghirup asap-asap tropis yang hangat lagi lembab, seperti asap-asap tembakau yang memenuhi rongga dada. Begitu menenangkan dan mencandukan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Berhenti!” siapa gerangan yang memekik? Ah, bukan Wak Atan. Aku tak perlu mendengarnya. Aku harus berlari untuk bertemu Nara, maka aku susuri asap pada hutan-hutan berdebu ini. Cakrawala membuka celahnya, tapi pandanganku memudar. Sesuatu yang hangat kembali menyengat bahuku, rasanya seperti kesemutan yang mendalam. &lt;/span&gt;Aku terengah, tapi tak menengok ke belakang sebab samar-samar kudengar ricikan air sungai. Sungai berarus yang mengantarkanku dan pohon-pohon itu berlabuh. &lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;Aku meloncat pada sebatang pohon &lt;i style=""&gt;kapul&lt;/i&gt;. &lt;span style="" lang="FI"&gt;Aku tak tahu, eratkah genggamanku pada batang itu? Sebab terakhir yang kurasakan punggungku terbakar, uangku bercecer, berenang, menggenangi air sungai yang warnanya luntur oleh darah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Sepi melimbur malam. Perempuan itu kembali mencatat malam-malam kemarau. Menyanyi dendang-dendang rindu di tengah kegerahan. Telah sebulan ia pergi meninggalkan Rokan Hulu dan menetap di Pekanbaru bersama lelaki itu dan pada malam ini ia memutuskan membakar penantiannya dalam hutan-hutan yang dihajar kemarau. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;Fras menghampirinya yang tengah berdiri menghadap jendela. &lt;span style="" lang="FI"&gt;Ia meraba perut perempuan itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Apa yang kau pikirkan, Nara?” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Bisakah kau lukiskan kembali langit yang lengkap dengan rembulan dan tubuh perawan?” lelaki itu terjongkok, bersimpuh memeluk pinggang perempuan itu dan melumerkan air matanya pada perut yang kian membuntat itu. Ia tak akan mengatakan sesuatu apapun tentang adiknya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Asap telah mengaburkan jarak pandangku dengannya, Fras. Kau benar ia tak akan kembali.” Ia mengusap rambut lelaki yang menangis dalam pelukannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Bisakah kau buat rembulan indah kembali tanpa selimut kabut asap yang memerihkan itu?” Fras mengangkat wajahnya. Nara tersenyum dan menghapus air mata kekasihnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Untuk sementara, kita hanya memerlukan masker, Nara.” &lt;/span&gt;Gumamnya.&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;“Seperti hujan dalam mimpiku semalam, air matamu berwarna-warni, Fras.”&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: center;"&gt;***&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: right;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Gading gerah, 20 September 2006&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Catatan:&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tauke:&lt;/span&gt; Pencuri/ penebang kayu hutan diam-diam pada malam hari&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Lantung:&lt;/span&gt; Amat busuk&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sangsai:&lt;/span&gt; Sengsara, menderita&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pelita teding:&lt;/span&gt; Lampu yang terbuat dari kaleng bekas bersumbu kain. Di atasnya ada&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tameng yang dipasang hanya sebelah untuk melindungi dari hembusan angin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Samun:&lt;/span&gt; Semak belukar&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kapul:&lt;/span&gt; Terapung kuat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2274548059948312448-1956756106821479008?l=cerpen-wulan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpen-wulan.blogspot.com/feeds/1956756106821479008/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2274548059948312448&amp;postID=1956756106821479008' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2274548059948312448/posts/default/1956756106821479008'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2274548059948312448/posts/default/1956756106821479008'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpen-wulan.blogspot.com/2007/04/kering.html' title='Kering'/><author><name>wulan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12360063595710708385</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_ucpQ1vKpaQM/RhM3LOv1EZI/AAAAAAAAAAk/GLQ1AJkiMQA/s320/wulan2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2274548059948312448.post-1376718038711405112</id><published>2007-04-11T00:51:00.000-07:00</published><updated>2007-04-11T00:53:48.783-07:00</updated><title type='text'>Perca</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;Cerpen Wa Ode Wulan Ratna&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;Kuletakan buku yang telah habis kubaca semalaman itu di meja belajarku. Pandanganku menyapu ke luar jendela, saat matahari pukul delapan melela. Perempuan ramping berumur empat puluh delapan tahun itu melintas seperti biasa, beranjak ke pasar di sebuah simpang jalan. Kuperhatikan caranya berjalan yang meleha, juga pakaiannya dengan rok kembang-kembang berwarna ungu kuning dan baju s&lt;i&gt;abrina&lt;/i&gt; sederhana berwarna krem, tentu saja akan cukup mengundang penafsiran sejumlah laki-laki bahwa ia masih gadis. Begitu pula riasan wajahnya sangat bersahaja, dengan &lt;i&gt;make up&lt;/i&gt; minimalis namun guratan tipis dari &lt;i&gt;make up&lt;/i&gt; itu malah mempertegas pancaran aura kecantikan di wajahnya. Dan dari semua yang menghiasi dirinya pagi itu, tidak ketinggalan kerudung bunga-bunga dengan warna hijau pudar tersampir menutupi rambutnya yang diikat mengondai. Ia masih sama seperti dulu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;Ya, perempuan itu ibuku. Sejak kepulanganku tiga bulan lalu dari sebuah &lt;span style=""&gt;kota lain tempatku belajar&lt;/span&gt;, aku jadi tahu kebiasaannya setiap hari. Memang ibu terlalu cantik seperti sembilan tahun lalu saat kutinggal ia untuk belajar. Tapi kerudung bunga-bunga itu tak pernah kulupa. Warna wajah mudanya boleh pudar, tetapi semerbaknya motif bunga-bunga berwarna hijau kekuningan pada kerudung itu tidak pernah kuncup. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;Dulu, ketika aku berumur tujuh tahun. Ibu adalah seorang yang sangat cantik di &lt;span style=""&gt;kota kecil kami&lt;/span&gt;&lt;i&gt;.&lt;/i&gt; Bapakku yang berantakan penampilannya itu selalu membangga-banggakannya di hadapan tetangga. Aku pun bangga. Aku kagum pada ibu. Dan untuk melengkapi pamornya sebagai kepala keluarga yang telah memiliki istri cantik dan seorang anak laki-laki, maka bapak membuka usaha untuk menghidupi kami sekeluarga. Beliau membuka bengkel di samping rumah, dan tentu saja banyak orang yang memperbaiki kendaraan mereka di bengkelnya (sebelumnya beliau tidak tahu mengapa bengkelnya begitu laku). Sebagian besar yang mampir untuk memperbaiki kendaraan adalah laki-laki. Dari tukang becak sampai pengusaha, dari laki-laki perjaka yang muda-muda sampai yang telah punya istri, tetapi yang lebih banyak adalah mereka yang telah mempunyai istri. Terakhir bapak baru sadar bahwa kedatangan mereka sebenarnya hanya untuk menikmati kemudaan ibu saja. Maka, bapak selalu melarangku ke luar rumah meski itu hanya ke bengkel. Aku disuruhnya menjaga ibu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;Aku anak tunggal. Aku tak punya teman. Kata ibu, itu pantangan kalau ia harus punya anak lagi. Aku tidak mengerti. Tapi ibu mengatakan kalau aku punya adik lagi maka susuknya yang ada di dahi, di hidung, pipi, dagu, pinggul dan pantat akan ke luar dan melukainya, membuat wajahnya berubah seperti hantu dan rejeki akan menjauh hingga aku tak akan bisa sekolah. Tapi aku malah tambah tidak mengerti dengan penjelasannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;“Ibu, bukankah susu hanya ada di dadamu? Kenapa ada juga di pantat?” tanyaku ragu. Ia hanya tersenyum dan menjawab, &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;“Kau kuberi nama Yusuf karena kau rupawan. Oleh karena itu kau kusapih ketika berumur lima tahun.” Ia terus mengayun-ayunkan kakinya pada mesin jahit tua itu, dan terus menjahit. Mungkin, oleh sebab aku berhenti menetek pada usia sekian, aku jadi suka menghisap jempol tanganku. Jempol tangan selalu membuatku terkenang pada puting payudaranya yang merah seperti buah anggur. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;Ibu terus saja menjahit. Dan aku tetap anak tunggal yang tak punya teman. Namun karena di situ banyak kain-kain pesanan dari pelanggan ibu, aku jadi gemar bermain raja-rajaan dan pengantin-pengantinan untuk mengisi waktu kejenuhanku. Ibu juga mengajariku membuat boneka-bonekaan dari kain perca sehingga aku punya teman bermain. Dari situlah aku mulai menyukai rasa mulus kain linen kerudung bunga-bunga dan gaun satin ibu. Kadang aku juga suka mengajak Mei Hwa, anak Tiongkhoa teman kerja bapak di bengkel, untuk ikut bermain. Ya Mei Hwa, gadis sipit itulah yang kemudian menjadi temanku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;Mei Hwa lebih tua satu tahun daripadaku, tetapi ia tidak pernah mau mengalah. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="EN-GB"&gt;Sering pula Mei Hwa membawa boneka-bonekanya untuk diajak bermain. Entahlah, tapi rasanya aku mulai jatuh hati padanya. Mungkin itulah satu-satunya kenangan cinta pertamaku yang masih kuingat seperti selalu kuingat puting susu ibu dan kerudung bunga-bunga ibu yang selalu mekar di setiap musim.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="EN-GB"&gt;Sebelas hari menjelang umurku menginjak sepuluh tahun, saat aku pulang dari sekolah dasar, kutemui bengkel bapak dalam keadaan porak-poranda. Darah berceceran di lantai, seperti kecap. Ya, tadinya aku pikir itu kecap, begitu kental dan bila dilihat dari jauh seperti berwarna cokelat kehitaman. Orang-orang datang mengerumun. Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi di rumahku, oleh sebab itu aku berlari cepat masuk ke rumah karena khawatir terhadap ibu. Tapi ibu tidak ada, ibu tidak pernah ada. Ibu raib. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;Aku hanya bisa menangis karena menemukan mayat Mei Hwa yang telanjang. Mei Hwa yang kini telah menjadi boneka porselen dengan bercak darah kering pada selangkangannya. Juga darah bapak yang mengenai kerudung bunga-bunga ibu. Darah bapak yang perkasa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;Aku tiba-tiba menjadi sebatang kara yang tidak pernah menemukan ibu. Aku asing. Dan sungguh sulit rasanya menerima apa yang terjadi dalam keadaan sadar. Meski begitu banyak tetangga yang menawarkan bantuan padaku, mengangkat aku sebagai anak, dan menyekolahkanku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;Hampir lima bulan lamanya ibu baru kembali. Ibuku yang cantik itu tidak lecet sedikit pun. Ia datang dan langsung memelukku erat. Aku sempat terkejut. Aku pikir ia memang bidadari, tiba-tiba turun dari khayangan untuk menjemputku. Aku menangis meraung-raung dalam pelukannya, aku pikir ia tidak akan kembali. Dan ketika aku tenggelam dalam bau badannya yang wangi melati aku bertanya, &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;“Ibu ke mana saja? Yusuf kangen. Kangen…. Kangen sama ibu….” Ibu hanya tersenyum seakan tidak pernah terjadi apa-apa, tidak juga merasa kehilangan bapak atau Mei Hwa. “Yusuf, utang bapak sudah lunas. Bapak bisa masuk surga sekarang.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="EN-GB"&gt;“Nggak mau, Yusuf mau Bapak.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="EN-GB"&gt;Yusuf, Yusuf bisa punya bapak lagi. Sebab sekarang ibu sedang jatuh cinta.” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="EN-GB"&gt;Aku tak pernah setuju ibu punya bapak lagi selain bapak. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;Berhari-hari aku tidak sekolah karena memikirkan nasib bapak di surga. Apakah bapak boleh menikah lagi dengan bidadari? Bukankah cantik ibu melebihi bidadari? Tapi aku kangen bapak. Aku kagum pada bapak. Hampir setiap malam minggu bapak mengajakku ke &lt;span style=""&gt;Taman Hiburan Rakyat&lt;/span&gt; untuk menonton pertunjukan wayang Mahabarata atau Ramayana. Dan aku tertarik pada kisah pertukaran jenis kelamin Srikandi dengan raksasa Stuna. Menurutku sekarang begitulah ibu. Begitu perkasa melawan hidup, seperti laki-laki. Terakhir kuketahui memang, ibuku adalah seorang laki-laki. Dan bapak yang gagah itu serupa Arjuna. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="EN-GB"&gt;Ia tidak mabuk minum berbotol-botol bir, selalu waras dan awas. Suka mendengarkan suara-suara merdu pesinden atau kadang ikut menyawer seraya menjadi bajidor dengan uang hasil utangan agar bisa menari dengan para penari-penari kliningan itu. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;Atau bila ia mau, ia bisa tidur dengan satu atau beberapa di antara mereka. Tapi bapak selalu setia dengan mengatakan padaku, &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;“Kau pulanglah duluan. Bilang sama ibu hanya dialah satu yang kucinta.” Beliau memberiku uang dengan jumlah banyak dan aku akan pulang sendiri melewati alun-alun.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;Yah, aku jadi tertarik pada karakter bapak juga pada bentuk tubuhnya. Ototnya yang menonjol, badannya yang tegap, kulitnya yang terbakar matahari, bulu-bulunya. Sampai pada keringatnya yang kadang asam kadang bau matahari bercampur sulfur. Bapak memiliki kejantanan laki-laki yang nyaris tidak aku miliki. Sebuah kejantanan yang dapat membuatku merasa nyaman.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;Memang benar tiba-tiba aku menjadi pemurung. Aku suka menyendiri dan memperhatikan tingkah orang-orang di luar jendela. Aku pun jadi rindu pada Mei Hwa. Aku kesepian. Mei Hwa selalu mengajariku cara berdandan pengantin dan menyelempangkan kerudung bunga-bunga ibu. Ia jadi seperti gadis Melayu yang eksotik dengan mata sipitnya. Ya, kemuraman itu berlangsung hampir dua tahun. Ketika ibu terus jatuh cinta setiap malam, dan setiap pagi pergi ke pasar untuk meminum jamu-jamuan dan membawa bunga-bungaan. Malam liburan ibu hanya malam Jumat karena ia akan sibuk di kamar mandi dengan kembang tujuh rupa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;Sampai pada suatu ketika ibu berkata padaku, “Oi, Yusuf sekarang sudah besar. Tambah ganteng. Harus berhasil ibu mengurusmu, Nak. Badanmu harus bagus, coba jangan di rumah terus. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="EN-GB"&gt;Bergabunglah dengan anak-anak lain di luar. Ikut bela diri dan renang.” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;Aku mengangguk.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;“Berapa umurmu sekarang?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;“Tiga belas.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;“Nah, cukuplah celana renang ini untukmu, ibu jahitkan.” Di situlah untuk pertama kali aku mendapatkan bahwa rasa dan bau pakaian baru membuatku terangsang. Suatu saat di kamar mandi ketika aku mencoba celana renang buatan ibu, aku pun merasakan nikmatnya masturbasi. Meski begitu aku tidak pernah mengenakan celana itu kecuali beberapa kali saat mandi, sebab aku terlampau malu berenang dengan bertelanjang dada.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;Sejarahku berlanjut di asrama laki-laki. Ibu yang memasukkanku ke asrama di sebuah kota &lt;span style=""&gt;terdekat&lt;/span&gt; yang memiliki fasilitas pendidikan lengkap. Mungkin ia mendapatkan uang yang banyak dari suaminya yang aku tak ketahui dan tak aku restui. Katanya aku harus belajar dan menjadi pintar. Pokoknya aku harus jadi orang sehingga ibu tidak terlalu susah. Dan di sanalah aku mendekam selama enam tahun. Tidak bertemu ibu. Hanya buket bunga, uang di amplop dan surat yang kutemui enam bulan sekali dan setiap liburan bila ia mengunjungiku sesaat saja. Ia tidak pernah membawaku pulang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 27pt;" align="center"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;Begitulah selalu, pagi ini pun demikian. Ibu pergi ke pasar. Sesaat setelah aku meletakkan buku dan bercermin melihat wajahku yang masih basi, aku pun turun ke bawah untuk sarapan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;Di meja telah tersedia beberapa potong roti bakar juga roti selai nanas. Namun ketika aku baru menggigit dua potong ujung roti selai nanas itu, b Ah, betapa malasnya aku membukakan pintu untuk tamu yang tidak tahu diri. Tapi aku beranjak juga membuka pintu depan. bel rumah terdengar beberapa kali. Ah, betapa malasnya aku membukakan pintu untuk tamu yang tidak tahu diri. Tapi aku beranjak juga membuka pintu depan. Sesosok laki-laki dengan kulit cokelat dan berkumis tersenyum. Di tangannya ia menggenggam sebuket bunga gladioli berwarna putih. Aku tersenyum, wajah cokelat bersih itu berseri. Guratannya tegas membentuk raut yang menyenangkan, tatapannya teduh walau sangat ekspresif.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;“Selamat pagi. Ibu ada?” katanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="FI"&gt;“Oh, ibu memesan bunga?” aku balik bertanya sambil memperhatikan pakaiannya yang rapi, sama sekali tidak seperti tukang bunga. Ia menggeleng dan sekali lagi tersenyum lebar. Giginya yang tidak rata dan berwarna biru kecokelatan itu menunjukkan bahwa ia adalah seorang yang suka merokok dan rajin pula menggosok gigi dengan kandungan garam fluoride tinggi pada pasta giginya. Aku mempersilahkannya masuk dan ia langsung duduk di ruang tamu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Bukan, saya bukan tukang bunga. &lt;/span&gt;Saya Rus, tolong, saya mau ketemu ibu!” Vas bunga kristal yang kosong di meja tamu seraya telah disiapkan ibu untuk menaruh bunga yang dibawanya. Aku duduk berhadapan dengannya setelah membawa beberapa potong roti bakar, roti selai nanas dan teh hangat. Sekali lagi dia tersenyum padaku dan merelakan dirinya untuk menunggu kepulangan ibu.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-indent: 27pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="EN-GB"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="EN-GB"&gt;“Yah, maaf aku lupa. Aku seharusnya tidak datang sepagi ini untuk bertamu. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;Tapi aku sudah sangat kangen pada Mila.” Dia mengeluarkan rokok kretek dari saku kemeja garis-garisnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;“Merokok?” tawarnya. Aku menggeleng dan mengucapkan terima kasih.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;“Ibumu banyak cerita, Yusuf. E…, Yusuf ‘kan namamu?” aku mengangguk. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;“Bagaimana sekolahmu?” aku memperhatikannya melipat kaki dan bersandar santai di sofa krem itu. Kakinya bergoyang-goyang seirama dengan asap rokoknya yang berhamburan di ruangan. Sedikit menyelidik kuperhatikan laki-laki itu. Laki-laki berkumis itu mempunyai badan yang tidak terlalu besar, tapi ia tinggi tegap. Kulitnya, ya aku suka kulitnya. Juga otot lengannya yang kecil dan tersembunyi di balik kemeja panjangnya. Aku dapat merasakannya meski aku tidak melihat dan menyentuh lengannya, otot kecil itu menonjol menunjukkan urat-urat hijau kebiru-biruan, memang bukan urat-urat dari lengan seorang pekerja kasar. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;“Bagaimana?” tanyanya sekali lagi seraya mengaburkan khayalanku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;“O ya, aku dapat beasiswa,” kataku sekenanya. Tiba-tiba saja aku merasa keningku berkeringat dan telapak tanganku basah. Aku jadi gugup dan salah tingkah. Mungkin aku gelisah sebab pernah juga aku merasakan hal yang serupa ini. Paling tidak hampir sama dengan kejadian yang untuk pertama kalinya aku rasakan saat di asrama dulu. Saat aku merasa benar-benar rindu pada ibu dan begitu kesepian, seorang temanku bernama Jan dengan badannya yang kekar merangkulku, menindihku di tempat tidur lalu menampar wajahku dengan guling. Lalu kami tertawa terbahak-bahak, lelah, keringat, diam, dan kami tidur sambil berpelukan hingga pagi. Tapi rupa Jan tidak sama dengan laki-laki yang bernama Rus ini, walau begitu aku tetap saja merasakan ada hal yang membuatku merasa bahwa laki-laki ini dapat memberiku kegelisahan yang serupa sekaligus kenyamanan yang nantinya akan membuatku ketagihan. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="EN-GB"&gt;Seperti dengan Jan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="EN-GB"&gt;“Wah hebat. Beasiswa ke mana? Luar negeri?” aku mengangguk lagi. Uh, tamu ini sungguh berbeda. Aku memperkirakan ia seorang pengusaha di &lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:City&gt; besar &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;sana&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt;, dan pelet ibu selalu berhasil. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;Untuk kali ini, tiba-tiba aku merasa malas tetapi juga puas, entah karena apa. Mungkin juga karena bayangan bapak belum bisa hilang dari benakku yang langsung tertimpa oleh wajah laki-laki gagah ini, atau mungkin pula bayangan Jan yang merana karena kutinggalkan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;“Ibu cerita apa saja tentangku?” aku memulai pertanyaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;“Banyak. Kau anak tunggal yang selalu dimanjanya. Ha… ha….” ia tertawa kemudian terbatuk-batuk karena tersedak asap rokoknya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="EN-GB"&gt;“Ibumu hebat.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="EN-GB"&gt;“Memang.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="EN-GB"&gt;“Ya, memang. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;Dia mampu menjadikanmu orang sungguhan.” Mungkin laki-laki itu benar. Tadinya aku hanyalah boneka-bonekaan yang dibuat ibu dari kain perca jahitannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;“Kau tahu apa kerjanya untuk membuatmu menjadi seperti ini?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;“Kita sama-sama sudah tahu.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="EN-GB"&gt;“Kau memang anak yang berbakti. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;Aku tidak pernah keberatan menerima ibumu. Aku harap kau pun….”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;“Aduh maaf, mungkin saat ini memang tidak. Tapi aku anaknya, jadi mungkin nanti….” Aku hanya angkat bahu sambil mengembangkan senyum bangga. Aku tahu ia sedikit tersinggung. Ia mematikan rokoknya di piring kecil yang digunakan untuk alas cangkir tehnya. Tak ada yang merokok di rumah, jadi tak ada asbak. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;“Maaf, aku bercanda,” kataku asal, ia pun tertawa sambil manggut-manggut. Kata-kata itu terpaksa kulontar sebab aku harus tahu diri karena beberapa alasan. Pertama ia adalah kekasih ibu dan ibu jatuh cinta padanya, kedua karena ia seorang tamu, ketiga tentu saja ia seorang terpandang dan kaya yang turut pula membantuku melunasi uang biaya sekolahku. Mungkin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;“Ah, anak macam apa yang dilahirkan Mila ini. Ibumu memang orang hebat.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;“Ya, ibuku Srikandi.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;“Srikandi selalu perkasa." &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;“Oleh sebab ibu adalah Srikandi, suatu saat Om akan sadar bahwa ibuku adalah seorang laki-laki.” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;Kami terus bercakap-cakap.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;Awalnya memang aku begitu kaku, tetapi laki-laki yang bernama Rus ini begitu terbuka dan pintar mengubah suasana, hingga aku pun dapat dengan leluasa mengobrol. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="EN-GB"&gt;Ia ramah dan banyak cerita tentang apa saja, bahkan tentang disain interior yang sangat aku gandrungi. Kemudian ia juga banyak bercerita tentang ibu, kesukaan ibu pada bunga-bunga juga kain-kain sutra &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;China&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. Ia juga bercerita tentang pekerjaannya yang menuntut ia ke &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Australia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; beberapa bulan lamanya. Jadi mana mungkin ia tidak kangen pada ibu? Lebih dari satu jam kami mengobrol, sampai akhirnya ibu datang dengan sambutan riangnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="EN-GB"&gt;“Oh, Mas Rus sayang! Kapan datang? &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;Aku kangen sekali. Kenapa tidak beri kabar dulu? Oh, kau sudah bertemu dengan Yusuf rupanya. Bagaimana menurutmu? Biar ak….” Aku kembali masuk ke dapur, ke meja makan, menyelesaikan sarapanku yang telah dingin dan sempat tertunda karena tamu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;Malam-malam, kupuja langit langit-langit kamarku. Di lantai bawah ibu sedang mandi kembang. Ya, kebiasaan itu masih terus berlangsung. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;Mas Rus, begitulah ibu selalu memanggilnya. Sedang aku sendiri wajib memanggilnya dengan sebutan Om Rus. Wajah laki-laki berkumis itulah yang kini mengisi langit-langit kamarku. Ia jadi mengingatkan aku akan satu hal, satu hal di mana saat itu aku berada di kamar mandi dan mencoba celana renang baruku. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;Aku memejamkan mata, sesuatu mengejang di balik sana. Dan kudengarkan dari bawah ibu bernyanyi suatu lagu-lagu tentang cinta.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku tahu. Ibu sedang jatuh cinta. Suara ibu masih semerdu dulu, tapi ah…, aku jadi malas mendengarnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;Beberapa lama kemudian, kudengar suara langkah ibu seraya menaiki tangga dan mendekat ke arah kamarku. Aku dapat melihat cahaya lampu luar yang menerobos lewat celah bawah pintu kamarku tersaput bayangannya. Sungguh aku malas. Aku tahu ibu menempelkan telinganya di pintu untuk mendengar dengkuranku. Apakah aku masih seperti anak kecil di matanya?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;“Yusuf sayang, kau sudah tidur, Nak?” aku tidak menyahut, apakah ia rindu untuk mendongengkanku lagi seperti dulu? Lalu kulihat bayangan yang menutupi cahaya lampu di luar itu perlahan mengendap dan hilang. Ibu telah pergi. Ah, aku malas, Bu! &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;Aku cemburu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;Pagi ini aku melihat ibu ke luar lagi. Aku tidak tahu benar apa yang ia lakukan di pasar selain belanja. Aroma nasi goreng buatannya tertiup udara pagi hingga sampai ke kamarku dan membuat perutku berdecit-decit seperti ban yang direm, menahan lapar. Kuperhatikan bunga gladioli Om Rus yang kutaruh di meja belajarku. Tanpa vas. Aku menaruhnya semalam, mengambilnya dari vas kristal itu. Bunga itu masih segar dan putih. Tentunya akan banyak bunga-bunga darinya yang akan memenuhi kamarku. Kuperhatikan wajahku di cermin. Kurapikan rambutku dengan sisir dan pelicin rambut. Dan sebelum aku turun menikmati sarapan kukeluarkan selendang bunga-bunga ibu yang kucuri dari lemarinya. Bau kapur barus masih melekat pada kain linen itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Baru beberapa suap aku menikmati pedasnya nasi goreng, bel berbunyi. Buru-buru aku menuju pintu depan karena kutahu Om Rus akan datang pagi ini seperti janjinya karena aku akan mengantarnya ke suatu tempat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;“Bagaimana?” tanyaku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;“Bagus. Kita berangkat sekarang!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;“Ke mana?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;“Melihat lukisan.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;“Pameran lukisan?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;“Bukan, maksudku akan sangat cocok bila hadiah ulang tahun untuk ibumu berupa lukisan wajahnya.” Uh, aku tiba-tiba jadi malas mendengarkan nama ibu disebut-sebut. Tapi begitulah. Hari-hariku dengan Om Rus membuat suasana akrab yang selama ini kurindukan. Aku mengatakan hari-hariku karena ibu tak boleh tahu apa yang sedang kami persiapkan di hari ulang tahunnya sebelas hari lagi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;“Aku suka pigura dengan bingkai emas. Bagaimana menurutmu?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;“Ah, apa saja. Wajah ibu selalu cocok dibingkai warna apa saja,” jawabku. Om Rus menunjuk satu yang paling mahal dan ia mendapatkan nota yang diberikan seorang pelayan perempuan kepadanya untuk ditukar di kassa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;“Om, bagaimana kalau habis ini kita ke pantai dulu?” tawarku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;“Untuk apa?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;“Ibu selalu suka pada warna laut.” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;Ia hanya mengangguk.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;Entah apa ini. Di pantai aku bermain pasir dan menghabiskan dua cup besar es krim. Dan setelah aku puas memandangi bayangan laki-laki itu yang dibiaskan oleh senja, aku menggandengnya untuk kembali ke dalam mobil. Ia tidak marah aku gandeng.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-indent: 27pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;Sudah kukatakan akan banyak bunga yang akan menghiasi kamarku. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="EN-GB"&gt;Gladioli putih, mawar merah dan pink, …. Dan mereka tidak pernah layu. Kupajang mereka di setiap celah kamarku. Di setiap sudut dan kisi-kisi tertentu, bahkan ada yang kutaruh di bawah bantal sebagai pengganti buku yang selalu kubaca sebelum tidur. Dan semakin sering kulakukan setiap tengah malam di depan cermin; memandang wajahku sambil bergaya. Menggunakan kerudung bunga-bunga ibu, menggunakan lipstik dan pakaian &lt;i&gt;sabrina&lt;/i&gt; ibu juga rok kembang-kembang berwarna ungu kuning milik ibu. Awalnya memang aku merasa malu melakukan itu, tapi sekarang sudah seperti sebuah ritual sebelum tidur karena bayangan Om Rus selalu menemani di langit-langit atap kamarku. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="EN-GB"&gt;Dan oi, inilah rumah bunga yang telah jadi! Memang belum sempurna benar. Tapi beragam bunga-bunga yang tidak pernah layu itu telah memenuhi kamarku, dan itu bukan masalah besar. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;Hari-hari akan membuatnya tambah penuh, lalu tak ada tempat untuk yang lain. Aku berputar-putar dengan rok bermotif kembang-kembang ibu. Rok itu melebar seperti payung yang diputar-putar. Aku terus berputar-putar dan membiarkan kerudung bunga-bunga ibu melayang dan terhempas. Kerudung bunga-bunga masa lalu yang diberikan bapak.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;Mas kawin! &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;Kini suara-suara dan bayangan berkelindan di benakku. Ibu yang membisikkan kata sayang dengan mesra kepada Mas Rus. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="EN-GB"&gt;Om Rus. Aku pusing, segala berputar-putar. Mei Hwa, bapak, ibu yang cantik, Jan, Om Rus. Lalu aku sempoyongan dan terjerembab jatuh ke tempat tidur. Aku muntah, padahal perutku belum diisi. Yah, aku mabuk. Mabuk cinta. Aku tahu sejak lama kekacauan memang telah terjadi di otakku. Mungkin itu yang namanya kekacauan neotransmiter atau apalah yang membuat alam ketaksadaranku akan masa lalu tertekan dan siap meledak seperti supernova. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="EN-GB"&gt;Air mataku menitik. Aku jadi malas mendengarkan segala canda dan tawa yang terdengar dari bawah &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;sana&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt;. Sepasang manusia yang sedang bercengkrama. Duduk berdempet memadu hangat, membiarkan keringat melekat, dan bibir saling melekat. Desah. Peluh. Lelah. Bahagia. Di bawah ibu sedang jatuh cinta.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-indent: 27pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="EN-GB"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="EN-GB"&gt;Kemudian tibalah saatnya. Ibu berulang tahun yang ke empat puluh delapan. Tapi ibu sedang ke luar dengan bahagia. Ibu pergi. Pergilah yang lama!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="EN-GB"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;Pukul setengah sepuluh pagi, aku menikmati roti selai nanas buatan ibu. Setiap sudut ruangan telah rapi. Semua tertata dengan disain interiorku sendiri. Aku berkeringat meski telah mandi, tapi itu tak terlalu penting sebab sesuatu yang lebih penting bergemuruh di dadaku. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Kubuka pintu depan sesaat setelah bel berbunyi beberapa kali.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;“Tolong bantu, Om!” katanya sebagai sapaan pertama. Aku mengangguk dan menuju ke bagasi mobilnya. Kami menggotong lukisan wajah ibu dalam pigura yang telah dibungkus kertas kado berwarna emas. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="EN-GB"&gt;Bingkisan yang paling besar yang akan diterima ibu seumur hidupnya, 80 x 100 sentimeter ukurannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="EN-GB"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Ia menyelonjorkan tubuhnya di sofa, di samping lukisan wajah ibu. Sebuket mawar merah tergeletak begitu saja di atas meja. Aku membawakannya segelas air putih sejuk yang kuambil dari kulkas dan memepersilahkannya untuk minum. Ia mereguknya sampai tuntas. Kuperhatikan caranya meminum. Embun dingin di luar gelas yang dipegangnya itu mengalir hingga ke ujung gelas seiring dengan keringat yang mengalir dari pelipisnya ke rahang bawahnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="EN-GB"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;“Aku yang menyuruhnya pergi ke swalayan untuk membeli gaun malam. Aku bilang pilihlah yang terindah dengan warna mencolok seperti merah atau ungu. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;Aku ingin ia tampak sempurna malam nanti,” Om Rus buka suara. Aku tak yakin atas ucapannya, tapi aku hanya manggut-manggut saja. Ia membuka beberapa kancing kemeja cokelatnya. Aku dapat melihat bulu dadanya basah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="EN-GB"&gt;“&lt;st1:place st="on"&gt;Om&lt;/st1:place&gt; sudah makan?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="EN-GB"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;“Belum. Tapi aku belum lapar. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;Masih mau istirahat dulu.” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;“Kalau begitu istirahat saja di kamarku. Suasananya sejuk.” Ia tersenyum dan langsung membuntuti langkahku menaiki tangga. Dan ketika ia memasuki kamarku ia sedikit terkejut, malah aku pikir ia sangat terkejut. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;“Ow, kamarmu penuh bunga, Yusuf. Ini gila!!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;“O, itu bunga dari Om semua kok.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="EN-GB"&gt;“Bunga dari &lt;st1:place st="on"&gt;Om&lt;/st1:place&gt;? Tidak layu?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="EN-GB"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;“Tidak, karena masa lalu sudah membekukannya.” Ia menatapku aneh, tapi aku tak ambil peduli duduk saja di atas &lt;i&gt;spring bed&lt;/i&gt; berseprai putih polos yang baru aku ganti tadi pagi. Apakah ia tidak memperhatikan aku seorang laki-laki yang cantik? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;“Jangan bercanda kau, Suf,” katanya sambil geleng-geleng kepala. Namun ia terus memperhatikan pigura-pigura di dinding yang memuat gambar-gambar masa kecilku dengan bapak, gambar-gambar ibu sewaktu muda, juga gambar aku merangkul Jan saat di asrama. Aku diam saja memperhatikan laki-laki itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;Kutarik kerudung bunga-bunga ibu dari bawah bantal, kuremas hingga kusut. Hatiku tercabik, aku dapat melihat luka menganga di dalamnya. Dan kerudung bunga-bunga itu seakan memutar pikiranku ke masa lalu saat ia terpecik oleh darah bapak. Bapak tidak pernah mengkhianati ibu, bapak hanya mencintai ibu meski ia seorang Arjuna yang perkasa. Tapi ibu jatuh cinta lagi meski ia telah menjadi Srikandi, meski ia telah mengubah kelaminnya. Ibu jatuh cinta lagi meski ibu adalah seorang laki-laki.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;Aku tertunduk dan dapat kurasakan mataku perih dan basah. Dapat kurasakan kerongkonganku tersumbat mungkin oleh amandel sendiri. Laki-laki itu menghampiriku, duduk disampingku. Ia tidak tahu apa yang sedang mencambuk perasaanku. Ia mungkin bingung, ia mungkin terpana, ia mungkin kagum. Aku seorang laki-laki yang dapat menangis sesegukan seperti seorang perempuan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;“Kenapa, Suf?” tanyanya. Aku tidak menyahut, tidak pula menggeleng. Diam saja dan tertunduk. Dia merangkul pundakku, tapi aku menghambur ke pelukannya. Entah detak-detak apa itu, entah hangat apa itu. Ia memang bukan bapak atau Jan, dan setiap laki-laki memang punya pesona tersendiri. Jadi segalanya mengalir seperti keringat yang mengucur. Kami terhempas di seprai putih itu. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="EN-GB"&gt;Seprai yang licin meski tidak selicin gaun satin ibu dulu. Kutindih ia dan membiarkan diriku menghirup aroma ketiaknya. Kudengar ia tertawa dan berkata, “Hei, sudah-sudah! Geli. Kau bercanda kelewatan, Suf.” Tapi mana aku peduli. Kutampar wajahnya dengan guling dan berkata, “&lt;st1:place st="on"&gt;Om&lt;/st1:place&gt; aku serius, biarkan aku menggeliat seperti ulat.” &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;Dan ranjang itu berkeriat-keriut menimbulkan bunyi yang melinukan gigi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;Hingga menjelang sore kami terhempas, dan kudengar bebunyian di dalam perut laki-laki yang tertidur lelap di sampingku itu. Ia kelaparan. Aku terduduk mencerna kembali apa yang terjadi. Ada cap bibir merah di leher laki-laki itu, aku terpaksa mengusap bibirku untuk menghilangkan warna lipstik ibu yang masih berbekas. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="EN-GB"&gt;Gaspernya made in &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Australia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;, celana dalamnya berwarna abu-abu muda. Kuperhatikan semua pakaiannya yang bercecer dan kusut. Aku menguap, melirik cermin di meja. Betapa aku!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="EN-GB"&gt;Di bawah terdengar ibu menyenandung lagu cinta. Ibu telah pulang, entah sudah berapa lama ia telah kembali ke rumah. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;Dan ibu tetap sedang jatuh cinta. Hatiku perih. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;“Mas Rus aku suka hadiahnya.” &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="EN-GB"&gt;Ia berteriak dari bawah. “Yusuf sayang, ayo dong bangun, sudah sore begini. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;Ajak Om Rus juga, kita makan bersama. Ibu buat menu istimewa, lho.” Aku malas menyahut. Hingga beberapa kali ibu terus memanggil-manggil tapi aku tiada menyahut apa lagi turun. Dan akhirnya kudengar langkahnya menaiki tangga menuju kamarku. Diputarnya gagang pintu kamarku dan melongokan kepalanya, “Sayang, ayo makan du….”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;Aku tidak menyalakan lampu, kubiarkan saja jendela kamarku terbuka hingga pijaran lampu merkuri jalanan yang kuning itu memberikan seberkas lentera. Angin berhembus membawa uap tropis yang lembab, membuat beberapa pohon akasia yang tersusun jarang-jarang pada kompleks perumahan ini tampak melambai-lambai dan oleng seperti kapal yang mau karam. Di bawah rusuh. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;Gerimis di luar mulai turun.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-indent: 27pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;Pagi ini aku tak melihat perempuan langsing yang cantik itu ke luar pagar untuk pergi ke pasar. Aku tidak melihat ibu. Maka kuputuskan untuk segera turun dan sarapan. Namun sepi mendera-dera seluruh ruangan yang nampak poranda. Kertas-kertas kado berwarna emas berhamburan di lantai. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="EN-GB"&gt;Lukisan wajah ibu yang tidak terpajang hanya bersender miring di bawah sofa. Buket mawar merah yang kelopak-kelopaknya berceceran seperti habis dihempas dan diinjak. Aku turun dan bingung melepas pandanganku ke seluruh ruang yang ada. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;Di mana ibu?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Aku menuju dapur dan tak mendapatkan apa-apa di meja makan. Hanya selai nanas yang tinggal setengah serta beberapa roti tawar yang belum dipanggang. Aku mengeluh dan mengolesi selai itu untuk rotiku. Menggigit beberapa kali diujungnya dan aku meninggalkan sisa potongan roti itu bersama remah-remahnya. Ibu pasti ada di kamar dan aku merasa bertanggung-jawab atas kejadian kemarin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Kuketuk pintu kamar ibu, tapi tak ada suara terdengar. Kuputar gagang pintu itu dan kulihat sesosok perempuan paruh baya yang tak secantik bidadari lagi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Kembali ke meja makan. Di luar gerimis mulai turun lagi. Memang sudah musimnya. Suasana jadi basah karena mataku juga telah basah. Bel berbunyi berkali-kali seraya terburu-buru meminta untuk dibukakan pintu. Sudah tidak ada lagi penjelasan yang penting dan berguna. Jadi untuk apa lagi membukakan pintu untuk tamu yang tidak tahu diri? Aku kembali menikmati roti selai nanasku. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="FI"&gt;Aku tak suka ibu jatuh cinta.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;       &lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="EN-GB"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="EN-GB"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: right; text-indent: 27pt;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="EN-GB"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="EN-GB"&gt;Gading, 2006&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2274548059948312448-1376718038711405112?l=cerpen-wulan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpen-wulan.blogspot.com/feeds/1376718038711405112/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2274548059948312448&amp;postID=1376718038711405112' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2274548059948312448/posts/default/1376718038711405112'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2274548059948312448/posts/default/1376718038711405112'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpen-wulan.blogspot.com/2007/04/perca.html' title='Perca'/><author><name>wulan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12360063595710708385</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_ucpQ1vKpaQM/RhM3LOv1EZI/AAAAAAAAAAk/GLQ1AJkiMQA/s320/wulan2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2274548059948312448.post-3009025022070146714</id><published>2007-04-11T00:42:00.000-07:00</published><updated>2007-04-11T00:49:34.899-07:00</updated><title type='text'>Kembang Sri Gading</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: center; font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Cerpen Wa Ode Wulan Ratna&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;“Marilah menari dan menari demi dentingan dawai….” &lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Oh, inilah nestapa itu, dewi Sujata! Di dalam tubuhmu yang gemulai dan gemerincing gelang kakimu Ia menemukan dawai-dawai siter itu melantunkan harmoni yang seimbang. Pada dadamu seumpama gading, Ia mereguk putih susu kehidupan. Dan karenanya Ia tercerahkan. Di bawah pohon pengetahuan laki-laki itu duduk bertapa. Telah usai Ia lewati penderitaan yang menguruskeringkan tubuhnya setelah bertemu denganmu, maka tibalah Ia pada suatu tingkat kesadaran. Arhat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: center;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Aku ingin katakan padamu. Tahukah kamu apa artinya kembang sri gading? Ia yang dulu kugunakan untuk mencintaimu. Setelah abad-abad itu usai, kau tiada beranak pinak. Maka kugunakan nama kembang itu untuk namaku pada reinkarnasiku yang kesekian. Semata untuk mengingatkan kepadamu bila waktu ini kubertemu denganmu: Akulah perempuan dalam buah pengetahuan itu, yang dulu pernah melumat kembang sri gading dan mengambil sarinya untuk melumaskan kelaminku saat kau masuki. Pintu aib itu Dhana, meski kini terkunci tapi ia menyimpan memori bahwa bau kembang itu melumat mati setiap tetes manimu yang hendak membentuk daging dalam kandung rahimku.&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Beberapa hari lalu aku bermimpi. Aku menemukan cahaya dan naik ke atas langit.” Sudhana membetulkan letak tidurnya. Ia menghadapku, tetapi matanya menerawang jauh menuju cahaya dalam mimpinya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Apa itu artinya, Dhana?” kataku sambil tersenyum. Matanya lalu menatapku. Dan ia ragu-ragu menggeleng. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Apakah kau sudah bertanya pada Nyi Ratri? Ia ahli meramal mimpi, bukan?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Ya. Tapi belum.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Mimpimu sepertinya angin yang baik. Kau pasti akan mendapatkan derajat yang tinggi.” Sudhana diam. Dia menghembuskan nafasnya pelan-pelan dan merapatkan kain penutup pinggangnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Sehari sebelum aku bermimpi itu, aku bertemu seorang resi. Wajahnya penuh cahaya. Dan perkataannya sungguh bijaksana.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Apa yang ia katakan, Dhana?” Aku meraba alis Sudhana. Ia terpejam seraya mengingat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Ia bilang, dawai siter akan putus bila direnggang terlalu kencang. Kalau terlalu renggang suaranya akan sumbang.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Apa itu artinya, Dhana?” ia hanya menggeleng. Namun dalam pejamnya aku menemukan tetes air matanya membasahi telapak tanganku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: center;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Apakah aku pelacur, Dhana? Bukankah kau epos itu yang tiba-tiba menjelma cahaya dan meninggalkanku begitu saja? Lalu kau hadir dalam relief-relief suci dengan hola di kepalamu sebagai teks sejarah akan sebuah kebijaksanaan ajaranNya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Jangan temui aku lagi, Pandu Wangi. Aku sudah mengambil keputusan untuk bertapa.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Tapi itu tidak adil! Aku mencintaimu bukan karena derajatmu, bukan karena tubuhmu.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Ah, kau sungguh menjijikkan bicara seperti itu. Apakah kau tidak merasa jijik dengan lendir-lendir yang kau usapkan diselangkanganmu saat kita hendak bersetubuh?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Ya, tapi memang begitulah salah satu cara untuk menolongmu dari tanggung jawab besar.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Bukan. Bukan begitu. Sungguh menjijikan sekali mendapatkan kesenangan dengan cara demikian.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Tapi Sudhana, aku benar-benar mencintaimu. Aku tak pernah menumbuk kembang sri gading untuk laki-laki lain sejak aku menemukanmu di bawah pohon itu.” Aku ingat bagaimana keadaannya saat kutemukan ia terkapar lemas di bawah pohon beringin. Ia tersesat dan membutuhkan semangkuk air untuk menyadarkannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Dalam hidup ini, harus ada yang diputuskan, Wangi.” Ia pun melangkah dan tak menengok lagi ke belakang. Ia melangkah menemui cahaya yang kelak akan mengangkatnya ke atas. Seperti mimpinya saat itu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Tak banyak yang aku temukan di tepi sungai Progo ini. Berabad-abad aku menjelma, menjadi saksi setiap musim dan angin, memperhatikan stupa dan arca-arca mengeras, membentuk kenangan-kenangan di dinding-dinding lembab dan bisu. Tak kutemukan di mana letak hidungmu yang sebenarnya, matamu, telapak-telapak suci yang mengajarkan banyak kebenaran-kebenaran alamiah dalam semesta. Oh… inilah nestapa dewa-dewi Sujata! &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Melamun Nduk?” aku tersenyum pada kusir itu dan membuang jauh lamunanku ke hamparan bukit Menoreh. Suara kaki kuda yang membawaku terus berketeplok melintasi jembatan sungai Progo.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Gunadharma masih tertidur.” Gumamku. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Ya, tentu lelah sekali ia membuat Borobudur.” Kusir itu pun mulai bercerita.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;“Ia membujur dari timur ke barat. Nduk bisa melihat gundukan bukit di timur sebagai kepalanya. &lt;span style="" lang="FI"&gt;Kalau mau melihat jelas tubuhnya, bisa dilihat dari simpang tiga di desa Salaman.” Delman melaju menuju monumen mati itu. Dari kejauhan candi itu tampak megah dan indah sebagaimana bentuk mandala. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;“Sendiri saja, Nduk, ke &lt;st1:place st="on"&gt;Borobudur&lt;/st1:place&gt;?”&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Iya. Aku mencari seseorang di sana. Ah, tepatnya aku ditunggu seseorang di sana.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Apa teman Nduk itu asli orang sini?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Iya. Ia asli Borobudur.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Apa?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Susah menjelaskannya, Pak. Tapi aku mencari seorang kesatria yang terkurung dalam sangkar. &lt;/span&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; hal penting yang harus ia tahu tentangku sebelum ia benar-benar menjadi batu.”&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: center;" class="MsoNormal"&gt;***&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Dhana, kakiku bergetar memasuki rumahmu. Apa aku sekotor itu? Apa kini aku pun sekotor itu hingga aku tak patut bertemu denganmu? Mungkin saja kau telah moksa. Tapi aku tahu, nafasmu masih tertinggal di sini, melekat pada batu-batu langkan, pada jaladwara, batu-batu kulit dan batur, pada stupa dan arca-arca. Dan pada puncaknya mungkin saja kau tak pernah sampai pada pari nibbana sebab kau tahu ada satu perempuan dari kasta rendah yang dulu pernah kau kecewakan. Apakah setelah ini kau pun masih berpikir perempuan itu adalah sang iblis yang menggodamu dan menjerumuskanmu ke lembah dosa?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Ehm, mulailah dari kiri ketika kau hendak memasuki Borobudur agar tidak terlalu lelah.” Seorang pemandu mendekatiku. Aku tertegun bangun dari pikiranku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Mbak bingung? Ada yang bisa dibantu?” aku tak tahu, apakah laki-laki itu bisa menunjukanku di mana Sudhana. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;“Mmm, apakah kau tahu di mana Sudhana berada?” aku tahu itu pasti pertanyaan yang konyol. Tapi ia tersenyum.&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;“Kau pasti tidak percaya kalau kuceritakan bahwa setelah aku hidup lagi aku selalu bermimpi tentang bunga padma raksasa. Aku pikir inilah tempatnya dan ia ada di sini.”&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;“Iya, benar. &lt;st1:place st="on"&gt;Borobudur&lt;/st1:place&gt; ini berbentuk lotus atau bunga padma. Bisa juga dikatakan mandala atau teratai. Ini filsafat Budha dalam membangunnya. Halaman di bawah &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;sana&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; adalah laut yang berarti dunia bawah. Bangunannya sendiri adalah simbol bumi yang berarti dunia tengah. Sedangkan pusat stupa di atas &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;sana&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; dianalogikan sebagai langit atau dunia atas. Dan Sudhana…?” si pemandu terlihat bingung, seraya berpikir tapi kemudian ia terus menjelaskan banyak hal. Ia sangat lancar menjelaskan seluk beluk bangunan ini dan kami terus mengelilingi tingkat bawah candi dari arah kiri.&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;“Lantai satu sampai tiga adalah tingkat kamadhatu. Dinding-dindingnya bercerita tentang nafsu rendah manusia. Sebuah hukum sebab akibat yang merupakan teks suci ajaran Budha Mahayana. Lihatlah relief-reliefnya!” Kami berhenti. Seorang wanita tak berbusana hendak melakukan persetubuhan. Aku meraba arca dada perempuan itu. Ah, begitu bulat dan dingin. Perempuan telanjang itu menyimpan luka, menyimpan…. Tiba-tiba aku diliputi cahaya….&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;“Lepaskan kainmu,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Pandu Wangi. Aku tahu ada sesuatu rahasia yang tersembunyi di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;sana&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt;.” &lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;“Mengapa kau raba aku?”&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;“Sebab memang begitulah kau harus diperlakukan. Ah, kau begitu bulat dan dingin. Begitu….”&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;“Tunggu dulu, Sudhana.” Aku menarik tubuhku dari pelukannya.&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;“Bila memang begitu aku harus diperlakukan, itu artinya kelak kau harus menanggung sesuatu.”&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;“Apa? Apa maksudmu? Tidakkah kau sudah membasuhkan kembang itu ke….” Aku memeluknya. &lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;“Aku mencintaimu, Dhana.”&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Aku terhuyung beberapa langkah. Relief-relief itu seperti menghimpitku dan membuatku sesak nafas. Ia membangkitkan segala kenanganku tentang laki-laki yang tiba-tiba menjadi suci itu. Menjadi teks dan wacana yang jauh lebih mulia dariku yang seharusnya menjadi benda purbakala.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;“Lho, kenapa Mbak? Mbak sakit ya?” aku menggeleng tapi mataku berair. “Kalau begitu mari kita lihat-lihat lagi yang lain.” Aku menurut mengikuti langkahnya. Tapi dada yang bulat dan dingin itu masih terasa melekat di tanganku seperti permen karet. Dada sebuah arca perempuan telanjang. Dingin dan bulat. Lengketnya seperti namaku. Seperti lendir dari kembang masa lalu yang sering kutumbuk. Ia menempel begitu lekat seperti dosaku. Dosaku yang tidak untuh milikku. Oh Sudhana, kau harus bertanggung jawab sebab dosa itu akan utuh bila kita bersatu. &lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;Kepalaku bertambah pusing setiap kali melangkah, bahkan ketika menaiki tangga berikutnya. &lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;“Tingkat kamadhatu ini adalah teks karmawibhangga. Teks bodhis yang memberlakukan hukum karma serta perbuatan baik dan buruk. Dari relief satu sampai seratus tujuh belas kita dapat melihat gambar-gambar yang menyimpang. Dari seratus delapan belas hingga…” ia tampak berpikir sejenak untuk mengingat angka-angka hukum itu sebab takut melakukan kesalahan menghitung.&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;“Ya, hingga seratus enam puluh. Kita bisa melihat akibat dari perbuatan menyimpang tersebut.” Katanya yakin. &lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;“Karma menentukan nasib manusia saat ini. Apakah kau percaya karma?” tanyaku, pemuda itu menatapku. Dan seperti biasa wajahnya yang cerah itu selalu memantulkan senyum ramah.&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;“Tidak. Dalam ajaran agamaku tidak ada karma.”&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;“Apakah kau seorang muslim?” dia menggeleng lagi. &lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;“Aku juga bukan seorang budhis, tapi aku percaya karma. Untuk itulah aku ke sini agar aku tak mengulang dan melanglang buana dalam tiap reinkarnasiku. Menjadi rupa-rupa yang sama.” Pemuda itu tampak bingung.&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;“Aku orang masa lalu yang hidup di masa kini.” Ulangku lebih jelas dengan sunggingan di bibir untuk meyakinkannya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;“Bagaimana kau menghargai perempuan meski kau tidak mencintainya dan ia kotor? Padahal ia mencintaimu setengah mati dan memberikan segalanya untukmu?”&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;“Aku tidak mengerti apa yang Mbak maksud?” kami melangkah meninggalkan kamadhatu.&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;“Tapi ibuku selalu mengatakan kalau perempuan itu memang seperti rusuk. Bila didiamkan ia semakin bengkok, tapi bila dipaksa lurus ia bisa patah. Dan kata ibuku, aku sebagai laki-laki harus menjaganya agar tidak semakin bengkok dan agar tidak patah.”&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Tiba-tiba aku teringat sesuatu yang seharusnya dipikirkan Sudhana.&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;“Kata-katamu sama seperti resi itu, tapi kekasihku tidak mengerti.”&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;“Kau pasti sedang patah hati, ya?” ia tersenyum dan dari matanya ia berharap supaya aku menghapus kesedihanku atau mungkin berhenti berbicara ngawur. &lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;“Ini tingkat rupadhatu. Alam antara. Stupa-stupa budha di sini tidak ada yang polos. Cobalah lihat!” ia menunjuk pada patung Budha tanpa kurungan. “Itu berarti tingkatan ini adalah tingkatan surga yang berkilau tetapi masih terikat akan rupa.” Aku meraba relief-relief Budha. Sungguh tekstur kuno, Dhana. Apakah kau tahu Dialah lelaki yang menemukan pencerahan itu setelah bertemu dengan Sujata?&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;Pemuda itu tersenyum. “Pada tingkat ini ada tiga teks yang dilukiskan. Lalitaristara, Jataka dan Avadana, serta Gandawyuha dan Bhadracari.”&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;“Aku tahu, aku pernah dengar itu.” Sebenarnya aku malas mendengar celotehan pemuda itu. Dia tidak menunjukanku di mana letak Sudhana. Tapi tiba-tiba aku merasa hatiku mulai nyeri. Jika Sudhana tak ada pada bunga padma ini, maka di mana lagi aku harus mencarinya. Telah berapa kali aku bereinkarnasi? Ribuan kuil telah aku masuki, lorong-lorong waktu telah aku lewati. Apakah aku harus menjelma lagi? Betapa lelahnya hidup untuk menghapuskan dosa kekasih yang hilang. &lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;Sudhana, kau harus dengar aku. Inilah pengetahuanku selama kehidupanku dan penderitaanku yang berulang. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; yang salah kau tafsirkan tentangku dan tentangNya. Setelah itu terserah kau mau apa. Asal kau terbebas dari samsara aku rela mati selamanya. &lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: center;" class="MsoNormal"&gt;***&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; cerita yang indah tentang Budha. Orang-orang bilang itu dongeng. Orang-orang bilang itu hikayat yang bijaksana. Tapi anakku, di telinga ibu itu terdengar sangat indah. Sebelum Lelaki itu duduk di bawah pohon pengetahuan, sebenarnya Ia telah meninggalkan empat orang istrinya karena dorongan pencarian. &lt;span style="" lang="FI"&gt;Ia mencari seorang guru tapi tak menemukan yang sesuai. Ia menyiksa dirinya dengan latihan asketik. Hingga habis tubuhnya, Ia pun keluar dari gua tempatnya bertapa. &lt;/span&gt;Ia melihat dunia yang terang benderang, merasakan embun pada rumput-rumput hijau, hutan yang indah, dan sungai yang mengalir tenang. Namun karena tipis tubuhnya, Ia pun hanyut terbawa arus. Ia terdampar pada suatu hari yang cerah dan mendengar suara merdu seorang gadis desa. Ia diam dan mendesahkan kata: Ah, betapa indahnya hidup ini ternyata. &lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;Ia datang dengan tertatih-tatih, melihat gadis itu lebih dekat. Gadis itu menari dengan diiringi suara siter. Gelang kakinya bergemerincing setiap kali ia melangkah. Tubuhnya segar dan gemulai meliuk sesuai irama. Dan dari bibir mungilnya yang manis terdengar ia bernyanyi: … dawai siter akan putus kalau direnggang terlalu kencang. Kalau terlalu longgar suaranya akan sumbang. Marilah menari dan menari demi dentingan dawai…. &lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;Terakhir, ketika gadis itu membawakannya semangkuk susu, Ia mengetahui nama gadis itu adalah Sujata. Nama seorang perempuan yang memberikannya pencerahan. Dan ketika Ia duduk di bawah pohon pengetahuan, Ia pun tahu bahwa Ia telah menemukan kesadaran.&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;Tahukah kamu, anakku? Di bawah pohon pengetahuan itu sebenarnya ada iblis penggoda. Namanya Mara Papiyas. Seperti Luchifer yang mengintip di balik pohon apel itu dan membisikan sesuatu di telinga Eva. Sungguh perempuan itu tidak bersalah, bukankah sebenarnya pencerahan datang lewatnya? Orang-orang sepanjang zaman dan sejarah belajar darinya tapi mereka selalu salah paham tentangnya. Padahal mereka juga meniru peradaban yang diciptakan manusia pertama itu. Peradaban tentang bagaimana caranya mereka harus menggumuli perempuan.&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Dan anakku, lihatlah mengapa Budha punya hola di kepala! Karena Ia telah lebih dulu bertemu Sujata ketimbang iblis itu. &lt;/span&gt;Ini pelajaran penting bagi umat manusia bahwa kita sama. Dan iblis itu hanyalah bentuk-bentuk lain dari diri kita. Seperti yin dan yang, ia tercampur tetapi tidak menjadi satu.&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Anakku, ada lagi kisah yang indah. Suatu hari Ia dengan muridnya menyeberangi sungai. Ada seorang perempuan (yang sangat mungkin ia adalah seorang pelacur), yang juga ingin menyeberangi sungai itu. &lt;/span&gt;Sang murid menolak untuk menolong perempuan itu. Sebab dalam ajaran memang dilarang untuk bersentuhan dengan perempuan karena akan menimbulkan birahi. Tapi tahukah kau apa yang Ia lakukan, anakku? Ia menggendong perempuan itu hingga ke seberang sungai. Setelah lama mereka berjalan, sang murid yang masih kebingungan bertanya, “Bukankah haram bagi kita untuk bersentuhan fisik dengan perempuan karena akan mendatangkan petaka?” dan Ia menjawab, “Ia sudah pergi jauh dari kita, mengapa kau masih membawanya sampai di sini?”&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Anakku, dari mana sebenarnya pencerahan itu datang? Dari pikiran atau dari jiwa? Maka ketika kau bertemu dengan kekasihmu, kenanglah aku. Dan ketika kau meninggalkannya, ingatlah aku. &lt;/span&gt;Jika kau bertemu dengan banyak perempuan lain, siapa pun mereka, perlakukanlah mereka seperti pengetahuan.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Pemuda itu menunjukan rentetan cerita-cerita tentang Budha. &lt;/span&gt;Teks-teks suci yang didisain secara visual pada relief-relief itu. Seni yang luhur. &lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;“Begitulah gambar-gambar ini bercerita, Mbak.”&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;“Ibumu yang pintar bercerita. Tak semua orang yang melihat relief ini berpikir sejauh itu.”&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;“Ibuku penganut Budha yang taat, jadi ia tahu banyak. Tapi ia meninggal dua tahun lalu karena asam urat.”&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku tiba-tiba menjadi patung.&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;“Menjadi pemandu begini adalah suatu upaya melepas kerinduanku padanya.” Ia berjalan lagi dan menunjukan beberapa relief avandana dan cerita fabel. &lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Apakah kau tahu di mana Sudhana berada?” aku mengulang pertanyaanku. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;“Laki-laki itu?”&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;“Ia kekasihku. Ia hilang dan tak mau bertemu lagi denganku. Padahal aku harus membebaskannya dari penderitaannya. Setelah bertemu denganmu semakin jelaslah bahwa ada yang keliru antara aku dan dia.” Sesaat pemandu itu menatapku kosong. Aku tak dapat menebak seberapa dalam matanya. Ia mungkin tidak mengerti tetapi langkah kakinya tak berhenti. &lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;“Itu.” Ia menunjuk pada rentetean relief. &lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;“Itu relief bhadracari. Di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;sana&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; ada sumpah Sudhana. Sumpah seorang pangeran muda dalam mencari kearifan tertinggi dan mengikuti bodhisattva.” Aku terpaku seperti arca-arca yang tak bisa bergerak itu. Ternyata Sudhana meninggalkanku karena sumpah untuk menjadi pembimbing spiritual bagi orang beriman dalam perjalanannya mencapai kearifan. Aku tak percaya. Jadi inilah yang membuatnya pergi dariku selamanya. Pilihan hidupnya itu? Oh resi, apa yang telah engkau perbuat pada kekasihku? Apakah karena kata-katamu itu ia mendapat pencerahan?&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;Menjadi orang suci adalah pilihan mulia dari pada harus bercampur dengan kekotoran. Tapi aku mencintainya dan ia pergi begitu saja. &lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Sudhana, mengapa kau meninggalkanku dalam keadaan seperti ini? Bereinkarnasi dan mengulang kehidupan yang rendah dan terus diliputi rasa bersalah, rasa kewajibanku padamu tentang sesuatu hal yang harus kau ketahui dari kata resi itu. Ketelanjangaku seharusnya membuatmu tahu bahwa kita benar-benar telanjang mengarungi hidup.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;Aku meraba relief itu. Tanganku bergetar. &lt;span style="" lang="FI"&gt;Sungguh aku telah memasuki rumahmu terlalu jauh, Dhana. Tentu jauh-jauh aku datang ke sini menembusi waktu sebab rinduku tak terbilang angka-angka sejarah. &lt;/span&gt;Sebab harusnya kau pun mampu mendapat pencerahan itu.&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;“Sudhana….” Aku memeluk relief-relief itu. Air mataku lumer seperti hujan dharma. Si pemandu terdiam dengan kikuk. Sementara mendung baru saja menyelimuti. Beberapa wisatawan mulai memekarkan payung mereka.&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;“Mbak, gerimis.” Tidak. Dia bukan Sudhana, Sudhana tidak sekaku ini. Ya, pasti ia di atas. Puncak yang selama ini diidamkannya. &lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;“Apa yang harus aku lakukan?” pemuda itu kebingungan karena ia pun tak membawa payung dan tak mengerti apa yang aku lakukan.&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;“Di atas, puncak terakhir. Arupadhatu.” Aku pun berjalan dengan tergesa. Menyusuri kiri bagian tengah candi ini mencari tangga dan tangga lagi. Aku tidak mengerti mengapa cuaca tiba-tiba berubah. Apakah ada sesuatu yang akan terjadi? Hatiku bergetar, aku berharap sebentar lagi akan bertemu dengan Sudhana. &lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Aku tidak tahu pemandu itu ke mana. Mungkin aku terlalu cepat berjalan padahal gerimis mulai sebesar peluru. &lt;/span&gt;Tapi anehnya aku tak takut terpeleset dan terjatuh menimpa batu-batu itu karena langkahku yang seperti berlari. Aku hanya merasakan hatiku bergetar. &lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;Setelah tiba aku di puncak tertinggi, aku malah bingung. Aku berlari ke &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;sana&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; ke mari tak tentu arah dan bahkan menjadi gila sendiri sebab aku bertanya pada semua orang yang ada di situ, “Apakah kalian melihat Sudhana?” dan berteriak-teriak memanggil namanya. &lt;span style="" lang="FI"&gt;Hingga aku basah dan terduduk.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Baru aku sadari ini adalah tingkat kesadaran di mana dunia tanpa bentuk. Dan di sana, pada jajaran stupa-stupa berlubang, ada kekasihku. Seorang kesatria yang terkurung dalam sangkar dan aku harus membebaskannya. Aku pun berdiri dan mencari kaki kekasihku di setiap sangkar itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;Satu per satu hingga kutemukan dan akhirnya kurasaan tanganku menyentuh kaki sebuah patung yang duduk bersila yang tiba-tiba menjadi hangat. Oh, dewi Sujata! Inikah Budha amithaba itu? Ia mengheningkan cipta di bawah pohon kesadaran. Air mataku mengalir. &lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Oh Sudhana, apakah kau merasakanku? Maaf menyentuhmu. Tapi resi yang kau temui dulu mengatakan bahwa kau haruslah seimbang. Kini Dhana, hapuskanlah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dosaku dan dosamu agar lapang jalanku dan jalanmu.” Tiba-tiba kulihat seberkas cahaya meyilaukan menghampiriku. Apakah itu cahaya yang pernah kau lihat dulu dalam mimpimu, Dhana?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: center;" class="MsoNormal"&gt;***&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;Aku ada di bawah. Dunia bawah. Mungkin lebih bawah lagi. Tapi tidak seberapa jauh dari puncak kekasihku bernaung. Setelah kekasihku naik ke atas lewat cahaya yang pernah ada dalam mimpinya beratus-ratus tahun lalu, aku pun akhirnya menjelma kembang sri gading. Orang-orang percaya, manusia akan terlahir kembali selayak amal dan perilakunya. &lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Aku menjaga kekasihku setelah membebaskannya dari samsara. Tapi aku percaya cinta tidak seburuk seperti apa yang mereka pikirkan. &lt;/span&gt;Hidup bukanlah sekadar lautan penderitaan, hidup adalah pilihan. Dan ketika ia memilih mulia aku pun tetap mencintainya.&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;Aku moksa. Orang-orang, para wisatawan, dan delman bisa saja berlalu lalang tak menghiraukanku. Atau pula tak sengaja menginjakku dan mengencingiku. Aku maklum sebab aku tumbuh di tempat yang cukup ramai. Namun bagi mereka yang berkesempatan atau iba melihatku, sesaat mereka akan berhenti untuk memperhatikanku, lalu tahulah mereka bahwa akulah tumbuhan itu. Tumbuhan di mana perempuan-perempuan dulu menumbuknya, mengambil sarinya yang lengket untuk digunakan sebagai alat kontrasepsi. &lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Sebagai tumbuhan aku menjalani takdirku. &lt;/span&gt;Dan namaku senantiasa mengingatkanku pada sebuah kenangan bersama kekasihku…. &lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Selembar koran pagi kota Magelang jatuh di hadapanku. Ah, ada berita bagi manusia pagi ini rupanya: Seorang perempuan muda tewas tersambar petir di puncak Arupadathu, Jumat sore kemarin.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: right;" class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;br /&gt;Kelapa Gading&lt;br /&gt;19- 20 Juni 2006&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 99pt; text-indent: -99pt; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt;Catatan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;  &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Arhat:&lt;/span&gt; Tingkat pertama dalam ajaran Budha yang harus dicapai &lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;untuk mencapai kesempurnaan manusia dan merupakan pintu utama dalam berkomunikasi dengan alam ritual. &lt;/span&gt;Tingkat selanjutnya adalah Bodhisattva dan Tathagata yang harus dilalui setelah reinkarnasi.&lt;/p&gt;       &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Reinkarnasi: &lt;/span&gt;Penjelmaan atau penitisan kembali makhluk yang telah mati.&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Moksa: &lt;/span&gt;Keadaan atma (roh, jiwa) bebas dari segala bentuk ikatan dan bebas dari samsara. &lt;/span&gt;Dalam hidup berarti mendapat moral yang tinggi, kehidupan sempurna, penuh dengan kesenangan, memandang dirinya pada semua makhluk dan semesta. Dalam mati berarti menyatukan atma dengan Brahman sehingga atma tidak lahir kembali sebagai makhluk apapun (bebas dari samsara) atau keadaan abadi (sasvatisani).&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Batu langkan:&lt;/span&gt; Balusterade, birai, anjung peranginan (balkon), pagar berupa kisi-kisi.&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jaladwara:&lt;/span&gt; Saluran air.&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pari nibbana:&lt;/span&gt; Nirwana atau surga.&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Karma:&lt;/span&gt; Perbuatan manusia ketika hidup di dunia yang menentukan nasibnya kelak saat reinkarnasi.&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Samsara: &lt;/span&gt;Derita atau sengsara.&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Latihan asketik:&lt;/span&gt; Meditasi dengan tujuan menhan segala nafsu. Dalam hal ini juga menahan lapar, hanya memakan daun-daunan dan akar-akar pohon.&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Lalitaristra:&lt;/span&gt; Relief yang menceritakan kisah sandiwara Budha turun ke bumi dan khutbah-khutbahnya.&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jataka dan Avadana:&lt;/span&gt; Relief yang menceritakan tentang masa lampau Budha, perbuatan kepahlawanan para orang-orang suci, dan cerita orang-orang baik serta fabel (cerita binatang).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;       &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Gandawyuha:&lt;/span&gt; Relief yang bercerita tentang pangeran muda dari India Selatan, Sudhana, dalam mencari kearifan tertinggi.&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bhadracari: &lt;/span&gt;Merupakan kelanjutan cerita dari relief Gandawyuha yang menceritakan tentang sumpah Sudhana dalam mengikuti Bodhisattva Samanthabhadra.&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Arupadhatu:&lt;/span&gt; Tingkatan tertinggi dari candi &lt;st1:place st="on"&gt;Borobudur&lt;/st1:place&gt; yang merupakan simbol dunia tanpa bentuk, tempat para dewa. Ketiadaan ornamen pada tingkatan ini melambangkan ketenangan jiwa yang terbebas dari bentuk, corak, dan ragam.&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Halo:&lt;/span&gt; Lingkaran keabadian tanpa awal dan akhir. Cahaya yang menaunginya menunjukan ia telah mencapai pencerahan.&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dhyani Budha Amithaba:&lt;/span&gt; Merupakan sikap mengheningkan cipta sang Budha yang mengisyaratkan ketika meditasi di bawah pohon Bodhi. Patung Budha ini terletak pada tingkat Arupadhatu sisi barat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 99pt; text-indent: -99pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2274548059948312448-3009025022070146714?l=cerpen-wulan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpen-wulan.blogspot.com/feeds/3009025022070146714/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2274548059948312448&amp;postID=3009025022070146714' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2274548059948312448/posts/default/3009025022070146714'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2274548059948312448/posts/default/3009025022070146714'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpen-wulan.blogspot.com/2007/04/kembang-sri-gading.html' title='Kembang Sri Gading'/><author><name>wulan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12360063595710708385</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_ucpQ1vKpaQM/RhM3LOv1EZI/AAAAAAAAAAk/GLQ1AJkiMQA/s320/wulan2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2274548059948312448.post-925902771640333118</id><published>2007-04-03T23:57:00.000-07:00</published><updated>2007-04-03T23:58:21.552-07:00</updated><title type='text'>La Runduma</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);" class="underdeck"&gt;&lt;b&gt;Cerpen Wa Ode Wulan Ratna &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;                 &lt;span class="upperdeck"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;&lt;i&gt;Aku masih perawan. Sungguh. Aku masih perawan! Tapi mengapa gendang itu bisa pecah, Ayah?&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Lelaki itu ayahku. Namanya Maulidun. Sudah hampir 20 tahun ia menjadi pawang penabuh gendang pilihan pada tiap &lt;i&gt;posuo&lt;/i&gt;. Aku membencinya, sebab ia tak menyukai La Runduma, lelaki yang tak bisa pergi dari hatiku. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;La Runduma bukanlah lelaki rupawan, dan hanya pekerja serabutan. Sebab itu ayahku tak suka padanya. Sebab lainnya, ia menginginkan aku menikah dengan laki-laki yang sederajat. Untuk itulah aku ikut ritual adat ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Semua orang Buton percaya, termasuk aku, putri Buton sejati, bahwa &lt;i&gt;posuo&lt;/i&gt; adalah ritual bagi anak gadis untuk menjadikannya dewasa dan mampu mengurus rumah tangga. Acara pingitan yang menyeramkan ini menempatkanku dan tujuh gadis lainnya dalam &lt;i&gt;suo&lt;/i&gt; yang pengap dan lembab tanpa penerangan cahaya apapun. Sungguh suatu pingitan yang aneh dan aku melakukannya karena ayah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Usai berjalan jauh dari Keraton Buton, tibalah kami di Gunung Nona. Tempat itu tampak sepi dinaungi perkebunan langsat dan kecapi. Aku tahu, di sinilah aku akan memulai dahagaku. Ah Run, ke manakah ruh usai ia luruh? Aku mencabik-cabik sepi dengan meremas-remas ujung jemari kedua tanganku. Sungguh menyedihkan, pada malam-malam nanti segala kelam menjadi begitu panjang seperti tanpa ujung dan kesunyian pingsan di tengah hutan. Aku hanya bisa menunggu kapan nasib berbalik arah dan menempatkanku pada posisi yang kuinginkan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Kami berjalan berarak, diiringi gendang dan mauludan. Di sana, pada salah satu penabuh gendang itu, mata ayah berkilat memberi isyarat agar aku tidak macam-macam. Kami pun masuk ke tengah perkebunan rimbun dan menemukan sebuah rumah. Rumah tempat kami akan menghuninya dengan kengerian selama delapan hari. Run, jangan lupa jemput aku sebelum aku dimandikan air cempaka.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Asap dupa menyapu seluruh tubuhku. Itulah sesi &lt;i&gt;pauncura&lt;/i&gt;, sesi pertama untuk mengukuhkanku menjadi peserta &lt;i&gt;posuo. Parika&lt;/i&gt; berdecap-decap melafalkan doa. Dan, ayahku, bergerak lamban menyentuh gelas. Mereguk isinya yang menuntaskan dahaga. Matanya pijar menyalibku. Apakah kau ingat pertengkaran kita pada hari-hari sebelumnya, Ayah?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;"La Runduma itu bajingan, Johra. Percayalah pada bapakmu yang tua ini. Aku ini orang pintar. Banyak ilmu telah kupelajari. Dan La Runduma hanyalah bajingan sejati." Ah, hatiku, Run, betapa merahnya terbakar oleh kata-kata ayah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Malam kasip. Gendang itu masih ditabuh di kejauhan membuat bunyi-bunyi berlindung di belakang pukulannya. Usai kami menangis dan mendapat sesuap nasi putih kutemukan mata yang lain bersinar seperti lentera di dalam kamarku. Mata seorang gadis.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;"Kau tak suka ikut &lt;i&gt;posuo&lt;/i&gt;?" katanya berbisik.&lt;br /&gt;"Aku tak suka menangis dengan cara dicubiti oleh &lt;i&gt;bhisa&lt;/i&gt;."&lt;br /&gt;"Sssttt...." Seru suara yang lain. Kami berdiaman cukup lama. Dalam&lt;br /&gt;&lt;i&gt;suo&lt;/i&gt; itu hanya ada empat gadis. Empat gadis lainnya berada di &lt;i&gt;suo&lt;/i&gt; yang lain.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;"Kau mau menikah?" tanya Riwa kembali.&lt;br /&gt;"Sebenarnya aku tak mau. Tapi ayahku mau aku menikah."&lt;br /&gt;"Kau anak baik."&lt;br /&gt;"Tidak, Riwa. Aku hanya pura-pura menjadi anak baik, sebab ritual ini membuatku bertambah menjadi kanak-kanak dibanding menjadi dewasa."&lt;br /&gt;"Sssttt..., diamlah! Kalian tahu, telinga &lt;i&gt;bhisa&lt;/i&gt; ada di mana-mana."&lt;br /&gt;Akhirnya kami diam. Waktu seakan tak berputar. Aku tak dapat menebak dunia luar. Betapa dunia kini menjadi begitu kelam dan aku seakan berada di alam yang tidak kupahami dan mengasingkan diri dariku.&lt;br /&gt;Letak tidur kami dengan kepala di utara dan kaki di selatan membuat aku tak dapat melihat ke arah jendela. Hanya tembok tebal yang menghalangi kebebasan kami meski imaji kami tetap saja berkeliaran seperti binatang buas di luar. Ia menembus malam yang pekat, berlari-lari menyusuri hutan. Run, tak ada kertas. Tapi aku menulisimu di setiap jengkal langkahku. Sudah lima hari aku bersama sepi. Telah kuketahui dari bisu semua teman-temanku yang ikut terjerat pada upacara ini. Dan, Riwa adalah seorang gadis jelita yang dengan sepenuh hati mencintai adat ini. Run, hatiku gelisah. Apakah kau akan datang memenuhi janjimu?&lt;br /&gt;Malam ini aku akan tidur menghadap matahari terbit, sebab hari ini adalah hari keenam. Aku akan dapat melirik jendela. Adakah bayangmu di sana? &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Malam lindap. Siapakah di antara kami yang keluar malam-malam berjingkrak dengan hati-hati menembusi sunyi? Mataku menatap keluar jendela. Tak ada bulan yang membiaskan bayangan. Gelap itu gulita. Tapi di sana, aku dengar, selain tabuhan gendang-gendang itu, ada nafas dan bau perempuan dan lelaki memadu cinta karena rindu dan cemburu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Aku bangkit perlahan dari tapaku. Berharap tak ada mata yang terjaga. Kuraba-raba malam mencari pegangan. Pada satu sisi di balik kamar mandi. Bau mesum berhembus seperti bau pesing. Bau itu sungguh menyengat sehingga membuat kepalaku pening. Aku mafhum pada zaman ini. Tapi siapakah dua orang muda yang berkasih-kasih itu? Mungkin aku cemburu, sebab kau belum datang dan membawaku pergi dari acara yang akan membuatku menyesal seumur hidupku.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Aku menangis dibalik jeruji kamar itu. Berbalik ke &lt;i&gt;suo&lt;/i&gt; dan membenamkan segukku. Hutan di luar begitu rindang dibuai angin malam. Mungkin saja ada halimun yang melamun di pucuk pohon atau babi hutan mengais-ngais mencari sisa rezeki. Di selangkangan malam itu aku menganga. Malam putih bagi para perawan yang dikunci. Ayah, titahmu koyak. Besok pagi kutahu kau diam-diam membisikkan suatu rahasia kepada kepala keluarga yang menitipkan anaknya dalam ritual ini, "Gendangku pecah semalam. Di antara mereka pasti ada yang sudah tak perawan."&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Riwa memakan nasi putih itu. Ia tersenyum menatapku yang sedang menatapnya. Matanya seperti kejora, begitu bersinar. Dan ia bergairah dalam sarungnya, mengikuti setiap ritual dengan syahdu. Para &lt;i&gt;bhisa&lt;/i&gt; bernyanyi, melantunkan tembang tentang pembinaan fisik dan mental spiritual. Mereka melontarkan petuah-petuah etika dan keindahan, serta profil-profil pribadi gadis dewasa yang masyhur. Mereka mengajari cara &lt;i&gt;pebhaho&lt;/i&gt; dengan air khusus yang berasal dari delapan sumber air khusus dan diambil secara khusus pula. Mereka juga mengajari cara &lt;i&gt;pukundel&lt;/i&gt; dengan santan serta mengajari cara melulur tubuh dengan kunyit dicampur tepung beras.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Menurutku &lt;i&gt;posuo&lt;/i&gt; juga seperti sekolah kepribadian. Mungkin itu satu nilai yang aku suka selain nilai tanpa mengeluarkan dana yang banyak serta tak perlu bertahun-tahun kursus kepribadian. Aku belajar bagaimana cara duduk perempuan, gaya berjalan, bahkan sampai &lt;i&gt;pakole&lt;/i&gt;. Aku perhatikan Riwa. Gadis itu begitu lugu dan menurut. Ia senang semua acara &lt;i&gt;posuo&lt;/i&gt;. Apakah semalam aku bermimpi, Run. Ada seorang gadis bersama kekasihnya di kamar mandi, memendam rasa dan suara? Hatiku berdegupan dengan gilanya. Siapakah di antara kami yang berbuat? Ya, tentunya selain aku dan Riwa. Apakah Nila? Apakah Endah? Aku jarang bercakap dengan mereka, sebab mereka terlalu dewasa dan terlalu serius dengan upacara.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Aku tak mau tahu, tapi sore itu &lt;i&gt;parika&lt;/i&gt;, para &lt;i&gt;bhisa&lt;/i&gt;, dan para penabuh gendang berkumpul di halaman. Aku tahu, gendang ayah memang pecah semalam. Dan, sekarang mereka sedang bermusyawarah. Menerka-nerka siapa gerangan yang menodai malam. Mungkin semua kepala keluarga telah bersumpah kalau anak gadisnya masih perawan. Apakah ayah juga bersumpah? Ia tidak mempercayaiku.&lt;br /&gt;Aku mangkat. Mengangkat kaki diam-diam. Menempelkan telingaku pada dinding tebal dan dingin. Namun, yang terdengar hanya suara angin. "Psst, apa yang kau lakukan?" bisik Nila.&lt;br /&gt;"Aku Johra. Mengapa mereka ada di luar?"&lt;br /&gt;"Jangan Johra, tidurlah! Nanti mereka mendengarmu dan kau akan dihukum." Riwa memberi saran.&lt;br /&gt;"Apakah kau tahu kalau gendang ayahku pecah?"&lt;br /&gt;"Masa? Kapan pecah? Sudah berapa kali?" Nila tampak sedikit terkejut. Ia hampir terlonjak dalam baringannya.&lt;br /&gt;"Aku tak tahu pasti. Mungkin semalam pecah dan pecah lagi malam ini."&lt;br /&gt;"Sssttt...."&lt;br /&gt;"Sudah, diamlah. Biarkan mereka berembuk." Ujar Riwa lagi. Dengan ragu, aku pun kembali ke samping Riwa. Membaringkan tubuhku dan berusaha mengatupkan mata.&lt;br /&gt;"Riwa, apakah kau sudah tidur?" lama ia baru menjawab,&lt;br /&gt;"Belum."&lt;br /&gt;"Semalam aku..., ah... sudahlah."&lt;br /&gt;"Ya, sudahlah. Itu bukan urusan kita. Jangan rusak pingitan yang tinggal sehari lagi."&lt;br /&gt;Usai ia ucapkan itu aku tak pernah mendengar kata apa-apa lagi dari bibirnya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Mataku terpancang tajam menerawang menerobosi rindu dan hati yang meradang. Aku bergulat pada malam-malam tanpa ujung. Aku mati kutu &lt;i&gt;dipites&lt;/i&gt; waktu. Kutelanjangi segala kenangan, raut wajah ayah dan La Runduma. Kisahku dengan La Runduma adalah kisahku yang berlari-lari di tengah padang. Cinta birawa yang sedap dalam penciuman ingatan. Betapa pemuda itu begitu bersahaja, menyentuh pipiku seperti menyentuh satin yang halus.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;"Johra, aku cinta padamu. Suatu malam di akhir &lt;i&gt;posuo&lt;/i&gt; kan kularikan engkau bak pengantin baru." Saat itu aku tersenyum malu-malu. Hatiku miris. Ayahku adalah satu-satunya orangtua yang kupunya, yang kucinta. Tapi aku terlampau mencintai La Runduma.&lt;br /&gt;"Kau mengajakku kawin lari?" tanyaku saat itu.&lt;br /&gt;"Kau marah kalau kita melakukan &lt;i&gt;pinola suako&lt;/i&gt;?"&lt;br /&gt;Run, semalam temanku sudah memenuhi hasratnya. Aku tahu ia juga merasakan hal yang sama dan terjerat dengan masalah yang sama denganku. Bagaimana? Jadi besok kau datang?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Saya sudah tahu. Hatinya untuk yang lain. Apalah artinya perawan, Tuhan? Di balik cinta memang ada pengorbanan meski itu haram karena dilarang agama. Tapi Tuhan, saya akan menikah dengan lain pria. Sebab pria yang semalam menancapkan cintanya di hatiku butuh kekasihnya selalu perawan. "Malam sekali kau datang, Run. Hampir subuh."&lt;br /&gt;"Ya, aku tunggu bintang-bintang tidur."&lt;br /&gt;"Tuhan sudah tidur?"&lt;br /&gt;"Aku harap begitu."&lt;br /&gt;"Seperti cinta, Tuhan selalu terjaga, Run."&lt;br /&gt;"Mmm...."&lt;br /&gt;"Aku cinta padamu, Run."&lt;br /&gt;"Aku tidak. Maafkan aku."&lt;br /&gt;"Kalau begitu kenapa kau datang?"&lt;br /&gt;"Sebab aku kasihan padamu."&lt;br /&gt;"Lalu?"&lt;br /&gt;"Aku ingin menghormati dan menghargai cintamu seperti yang kau inginkan." "Ah, kau batu! Hatimu hanya lapuk olehnya."&lt;br /&gt;"Dia sudah tidur?"&lt;br /&gt;"Ya. Sudah, jangan bicarakan dia lagi!"&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Perempuan-perempuan yang telah dibabtis menjadi dewasa itu mulai mengantri untuk dimandikan. Wadah air berupa buyung yang terbuat dari tanah liat itu ada yang berisi bunga cempaka. Suatu wadah yang lain yang dikhususkan bagi mereka yang akan menikah.&lt;br /&gt;Aku menemu, berbaris diantrian yang paling belakang. Para &lt;i&gt;bhisa&lt;/i&gt; mendoa-doa, tabuhan gendang tampak berat sebab ada satu gendang yang pecah. Para gadis yang telah dimandikan akan didandani dan akan menggunakan busana &lt;i&gt;eja kolembe&lt;/i&gt;. Tiba-tiba kulihat mata Riwa dengan binar kebahagiaannya. Betapa ia menjalankan adat ini sepenuh hati. Aku ingat, suatu saat ia pernah berbisik padaku saat aku sedang melamun, "Apa yang kau pikirkan, Johra?" Aku tak menyahut.&lt;br /&gt;"Apakah kau merasa terkurung di sini dan ingin melarikan diri?"&lt;br /&gt;"Ya, aku ingin melarikan diri."&lt;br /&gt;"Harusnya ada yang menjemputmu."&lt;br /&gt;"Akan ada, Riwa. Tapi aku takut."&lt;br /&gt;"Aku tahu, akan ada. Dan kau tak usah takut. Terbanglah sebelum sayapmu lemah dan mati."&lt;br /&gt;Riwa, mengapa matamu selalu bahagia? Apakah kau tak mengenal takut ketika membuat pelanggaran atas hidup?&lt;br /&gt;Ah, cempaka itu, Run, andai untuk kita. Diam-diam aku pamit tanpa menyelesaikan adegan terakhir.&lt;br /&gt;"La Rundumaaa... bajingan tengik kau!!!"&lt;br /&gt;"Tenang, Pak. Tenang!"&lt;br /&gt;"Apa dia kesurupan?"&lt;br /&gt;"Aku tak tahu."&lt;br /&gt;"Anaknya melarikan diri."&lt;br /&gt;"Pak Maulidun kan punya ilmu, pasti ia dapat menebak siapa yang sudah tidak perawan."&lt;br /&gt;"Tidak perawan?"&lt;br /&gt;"Ya, ada satu gadis yang tidak perawan. Gendangnya pecah berkali-kali." "Astaga! Anaknyakah?"&lt;br /&gt;"Sialan kau La Runduma! Dunia akhirat tak akan kurestui."&lt;br /&gt;"Pegangi dia. Dia syok. Bagaimana ini, apa acara masih dilanjutkan?"&lt;br /&gt;"Lanjutkan saja, istri Moji sudah datang."&lt;br /&gt;"Tapi jumlahnya ganjil. Kalau ia tanya bagaimana?"&lt;br /&gt;"Bilang saja yang satu sakit."&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Aku seperti hewan yang lepas dari sangkar. Begitu terpesona melihat alam melintang. Aku berhamburan seperti daun-daun kering, sambil meneriaki namamu. Dalam rindang itu aku lihat matahari mengiris-ngiris pepohonan langsat dan kecapi. Kau tampak bersinar ditimpa cahayanya.&lt;br /&gt;"Lama sekali kau baru datang."&lt;br /&gt;"Masa? Aku ingin mereka semua terjaga dulu dalam resah."&lt;br /&gt;"Mau ke mana kita?"&lt;br /&gt;"Ke tempat yang jauh."&lt;br /&gt;Ah Run, ke manakah ruh usai ia luruh? Kami beranjak tanpa meninggalkan jejak. Tapak-tapak itu begitu ringan. Melangkahi dan meninggalkan segala rahasia yang tak perlu lagi diketahui. Oalah Ayah..., mengapa kau menuduhku tidak perawan?&lt;br /&gt;Diam-diam di sana kisruh. Ada hati yang tidak setuju, ada hati yang cemburu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;span class="deskripsi"&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Cerpen ini memenangkan Juara Pertama Sayembara Menulis Cerpen Tingkat Nasional 2005 yang diselenggarakan oleh Creative Writing Institute (CWI) bekerja sama dengan Deputi Bidang Pemberdayaan Pemuda, Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2274548059948312448-925902771640333118?l=cerpen-wulan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpen-wulan.blogspot.com/feeds/925902771640333118/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2274548059948312448&amp;postID=925902771640333118' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2274548059948312448/posts/default/925902771640333118'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2274548059948312448/posts/default/925902771640333118'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpen-wulan.blogspot.com/2007/04/la-runduma.html' title='La Runduma'/><author><name>wulan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12360063595710708385</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_ucpQ1vKpaQM/RhM3LOv1EZI/AAAAAAAAAAk/GLQ1AJkiMQA/s320/wulan2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
