Wednesday, April 11, 2007

Corfivollus

Cerpen Wa Ode Wulan Ratna

Kakek itu menemukan gadis itu menyiratkan senyuman penuh luka. Ia membuang wajahnya yang segar itu keluar jendela. Memperhatikan setiap pepohonan yang mulai berderet jarang-jarang di sepanjang jalan dan mobil-mobil yang berlainan arah. Wajahnya seperti perdu ditumpahi hujan yang berkepanjangan dan dimekarkan oleh bunga-bunga berwarna kuning sekuning baju yang ia kenakan. Begitu dingin dan beku. Namun wajah segar putih yang memantul kekuningan itu adalah wajah yang serupa dengan suasana siang itu. Siang yang mendung dengan langit keabuan membentang tanpa jeda. Sesekali sang kakek melihat gadis itu menelan ludah saat tatapan mereka bertemu. Kakek itu tahu, gadis kuning itu menyukai bunga-bunga yang dipegangnya.

***

Minggu pagi adalah berlari baginya. Berlari ke tempat yang jauh. Dan ia tak perlu ke gereja. Ketika ia membuka jendela dan pintu rumah, tanpa menyeruput jeruk hangat yang telah disediakan bibinya, ia telah melihat pagi yang suram. Gerimis tengah turun.

"Sudahlah. Dua sakramen1 itu tak bisa ditolak!" Ia diam mendengar ucapan bibinya. Matanya tak lepas dari uap jeruk hangat dalam gelas yang mengepul dan coba menghangatkan suasana.

"Pergilah mandi, banyak yang menunggumu. Pakailah baju dengan warna sedikit cerah agar kamu kelihatan lebih berseri. Dan berdoalah di gereja." Tapi ia kemudian berlari ke arah pintu. Wajahnya dihembusi angin yang dingin. Wajahnya yang putih itu bertambah putih dan rambutnya yang sebahu mengibar. Ia menatap jemuran seprai tetangga yang tidak diangkat padahal gerimis sedang jatuh. Lalu ia memperhatikan bunga-bunga perdu berwarna kuning yang mulai kedinginan. Ia tahu bunga-bunga itu merindukan belaian.

"Diane?" perempuan separuh baya itu memanggil.

"Andaikata ayah dapat mengulangi hidupnya, tentu ia akan lebih banyak memetik bunga aster untukku hari ini."

***

Ia tidak berdandan seperti hari minggu biasanya. Ia hanya mengenakan baju princess kuning berbahu lebar dengan rok lebar sebetis berwarna putih polos dan sepatu bertali warna putih mutiara. Rambutnya yang sebahu dikuncir ekor kuda. Tak ada perhiasan sedikit pun melekat pada tubuhnya. Hanya Injil yang ia bawa. Begitu pula keadaan hari ini, tak ada tangkai-tangkai kembang baru di kamarnya. Semua layu seperti hatinya dan ia tak bisa menyalurkan perasaannya itu pada semua bentuk yang bernyawa kecuali pada hujan yang mulai menderas. Kemudian ia mendengar bibinya memanggil lagi dari bawah. Dan tanpa menutup jendela ia mengamit Injil lalu segera turun.

Sepupu laki-lakinya, Adam, dengan setelan jas hitam membuka payung berwarna hitam, merangkulnya dan membawanya ke sebuah mobil sedan hitam. Ia melihat payung hitam itu seperti berputar-putar atau mungkin sengaja diputar-putar oleh sepupunya. Kemudian ia masuk ke dalam mobil yang membawanya pada panjang perjalanan dengan pohon-pohon cemara yang berderet rapat dan tinggi. Pohon-pohon itu menutup kelapangan angkasa dan sejumlah pemandangan berkabut yang menutupi gunung-gunung, rumah-rumah, jalan-jalan, dan segala yang hijau. Tak ada suara yang keluar selain deru mobil yang halus dan meluncur lancar di tengah hujan. Di belakang, beberapa mobil serupa yang ditumpangi kakak-kakaknya membuntuti mobil yang membawanya.

"Hanya kau yang kuning, An." Ia mendengar Adam berbicara padanya dan pamannya yang duduk bersama supir mendehem. Adam memangku mantel cokelatnya. Pemuda itu tahu kapan ia mesti berkata-kata dan ia tidak mau mengganggu perasaan gadis itu.

"Ya, ibu tidak datang?" katanya kemudian.

"Ah dia, bukan ibumu, An. Nanti siang dia datang dengan anak angkatnya yang mau menikah itu." Gadis itu diam lagi. Ia tahu siang nanti Isak akan menikah di gereja yang sama. Satu hari yang aneh. Sementara ia berduka dan seorang perempuan yang pernah menjadi ibu tirinya berbahagia pada satu gereja yang sama.

"Aku hanya memakai baju hitam bila Koor." Katanya lagi pada Adam.

"Dia hanya ingin agar tidak terlihat pucat, Dam."

***

Ia berdiri pada barisan terdepan, menatap kosong pada sebuah peti yang belum di tutup. Wajah pucat namun tak menghilangkan wibawa seorang laki-laki tua yang tidur di dalamnya. Ia tahu ayahnya pergi meninggalkan bunga-bunga, meninggalkannya.

Ia tidak bernyanyi. Ia tidak berdoa. Tidak pula mendengarkan nubuatan-nubuatan2 dari alkitab perjanjian baru. Ia tidak menyilangkan tangan sebagai layaknya seorang Kristen sejati. Ia tidak mendengarkan kata-kata pendeta. Ia tidak membuka Injilnya. Ia hanya berdiri seperti semua orang berkabung yang berdiri di dalam tempat suci itu. Ia tahu, rambutnya yang dipotong pendek sebahu itu membuat ia terlihat seperti seorang gadis tanggung atau seperti tampang bidadari yang terpampang pada jendela gereja, begitu tragis dan tenang. Ia layaknya gadis kecil jemaat Antiokhia3 yang begitu lugu. Namun ia pun tahu, setiap orang di gereja ini akan memandangnya aneh pada pakaian yang ia kenakan. Tapi adakah orang yang tahu bahwa ia ingin berlari di tengah hujan pagi itu?

***

Bayangannya terbias pada jendela-jendela bergambar kristus. Roknya berkibar, melebar, dan terkesan berat seperti rok-rok yang pernah hidup pada mode-mode zaman viktorian. Ia tidak mengejar apapun, ia hanya lari dari waktu yang menyuruhnya untuk menatap kenyataan dengan lantang. Sepatunya berketeplok dengan suara yang rendah dan ringan. Siapa pun boleh menoleh ke arahnya tanpa berkata-kata. Sebab "amin" belum terucap dari bibir pendeta. Dan lagu Behind The Bright Blue Sky mendayu-dayu dari bibir para jemaat itu. Menggugah perasaan haru yang dibuat oleh hari. Apakah di luar sana langit biru membentang menawarkan harapan?

Ia seperti bidadari yang melarikan diri dari sebuah upacara pelepasan yang sakral, yang membuka pintu besar dari jati berukir yang berat dan mendapatkan angin menerpa-nerpa. Ia menuruni tangga, membiarkan rok putihnya yang lebar menyapu butiran hujan dan debu yang melekat pada tangga itu, dan berlari di tengah hujan. Ia menatap pada buket bunga-bunga ucapan belasungkawa yang berjejer rapi seperti mobil di tempat parkiran. Bunga-bunga untuk ayah. Tak ada bunga untuknya. Dan nyanyian itu…, I have my own craun….

Ia mengingat ayah. Pada pagi yang cerah, ia menemukan bunga-bunga pada vas-vas kosong dalam kamarnya. Ia mengitari kebun teh dengan kuda sepulang gereja. Mendapati banyak aroma, dan melupakan ibu. Menyuapkan sepotong roti pada bibir ayahnya seperti cara pendeta menyuapkan roti gandum padanya di hari perjamuan kudus. Mencuri shag4 ayah yang ditaruh di kotak pada laci kerjanya dan mencoba menghisap asap tembakaunya.

Ia tahu ia seperti bidadari yang melarikan diri dari waktu, yang berlari dicucuki hujan dan kehilangan sayap. Ia berlari melewati pagar, melewati kembang-kembang setaman, melewati mobil-mobil yang diparkir. Berlari menelusuri deretan jalan yang ditumbuhi cemara dan akasia. Menantang hembusan lembab suasana pada garis yang dibuat bumi, pada aroma angin tropis. Dan nyanyian itu masih terdengar menggema pada gereja itu…, there will be my heart….

Ia bayangkan ketika saat ini ia bukan lagi seorang gadis yang terluka. Ia akan seperti keturunan Belanda lainnya yang manja, seorang gadis dengan gaun putih panjang, berjalan menuju altar bersama ayah. Menggandeng tangan ayah dengan bahagia dan memegang kuntum-kuntum mawar atau aster. Wajahnya berhias dan manis menyungging senyumnya. Ia tahu, di depan bersama pendeta, Isak menunggunya. Tentu ia tak akan peduli pada hujan, juga pada ibu. Dan mama akan senang di surga sebab anak bungsunya memasuki altar tempat ia dulu pernah menyatu dengan ayah. Ia akan disucikan, dijadikan satu dalam tubuh Tuhan. Ia diberkati.

Mungkin ia tahu, ia seperti bidadari yang melarikan diri dari jaring suci laba-laba yang keluar dari gambar jendela gereja. Ia dengar lonceng gereja berdentang beberapa kali. Ia pun mendengar Adam memanggil namanya dari gerbang yang kudus itu. Namun suara samar-samar itu tahu bahwa dia harus meleburkan diri pada derasnya suara hujan. Dan nyanyian itu mulai menghilang sedikit demi sedikit ditelan jarak dan waktu…, I saw thy face fully….

***

Pada waktu itu ia tidak kepemakanaman untuk menghadiri upacara pemakaman ayahnya. Untuk melihat ayahnya yang terakhir kali. Dan Adam, sepupunya yang mengejarnya di tengah hujan, terus mencari dan bertanya pada siapa saja, tentang gadis yang diam-diam dicintainya. Ia akan bertanya pada siapa saja yang melintas pada jalan itu, "Apakah kau melihat seorang gadis dengan senyum penuh luka?" atau bila ia tak sengaja menubruk seseorang di jalan yang mengenakan payung atau jas hujan dan menyapanya dengan marah-marah, maka pemuda itu akan menguncang-guncangkan bahu orang itu sambil mengatakan, "Aku sedang mencari seseorang." Hingga hari itu adalah hari di mana ia mendapat banyak kutukan dari orang-orang yang ia tanyakan.

Ketika ia tiba pada sebuah halte bus dengan pakaian yang kuyup dan mendamparkan diri sebagai seorang yang bingung, seorang perempuan separuh baya menghampirinya dan bertanya tentang adakah yang sedang ia tunggu atau ia cari. Dan pemuda itu hanya mengatakan dengan sisa asa yang ia punya tentang seorang gadis kuning yang berlari di tengah hujan, "Ya, aku mencari seorang gadis dengan senyum penuh luka." Perempuan itu lalu menunjuk ke arah jalan yang lurus dan mengatakan gadis yang dicarinya telah berangkat bersama putranya dan beberapa penumpang yang lain dengan bus yang menuju ke arah dataran rendah.

Pemuda itu terduduk di bangku besi sambil menghembuskan nafas keras-keras. Uap putih keluar dari hidungnya serupa asap rokok. Mengepul memainkan hangat. Ia ingat ketika pagi tadi ia menjemput Diane, gadis itu tak sedikit pun menyeruput jeruk hangatnya. Bibi Gres bilang kalau ia sedang payah. Hingga akhirnya ia hanya mengetukkan jari-jarinya ke meja dan memandangi Diane. Sampai akhirnya ia menemukan sesuatu pada bola mata gadis itu.

Uap.

***

Ia mengamati orang-orang yang menaiki bus itu. Penuh, sesak. Suara ayam dan tangis balita dalam kain gendongan seorang ibu. Dus-dus berisi ikan asin atau semacamnya dan keranjang sayuran. Ia mengamati seorang perempuan sebaya mencium laki-laki yang sepertinya adalah anaknya. Anak laki-laki itu memeluknya hangat dan menyelipkan surat dan setangkai kembang jalanan yang telah lunglai. Sebuah pelukan yang hangat seperti jeruk hangat yang disuguhkan bibinya pagi tadi. Namun ia mendahului laki-laki itu menaiki bus.

Ia menaiki bus yang sumpek dan banyak di antara mereka yang berdiri karena tidak kebagian tempat duduk. Dan ia pun ikut berdiri. Matanya memperhatikan orang-orang. Orang-orang menurunkan tangkai payung dan melipatnya, menata dus-dus dan kopor-kopor tua, menurunkan rel sleting jas hujan, menaruh ayam-ayam betina putih yang kakinya diikat di bawah tempat duduk mereka, kondektur yang merokok, lelaki berkumis yang merapatkan jaket hitamnya, dan ibu yang mendiamkan anak balitanya. Beberapa dari orang-orang itu juga memperhatikannya, bajunya yang basah, roknya yang kusut dan tak lagi putih, sepatunya yang berlumpur, atau Injilnya yang lepek. Apakah mereka tahu bahwa ia habis berlari di tengah hujan pagi ini?

Tawa, mimpi, harapan, dan tangis, serta bebauan pegunungan menjadi satu dalam bus hingga seseorang menarik tangannya, dan ia tercengang melihat seorang laki-laki bertopi baret hitam di sebuah sudut terbelakang yang dekat dengan jendela menawarkan tempat duduknya. Ia mendatangi laki-laki itu, duduk, dan menebarkan senyuman. Pada segaris senyum di bibirnya itu sebenarnya membuat laki-laki itu iba, meski itu tanda terima kasih tanpa kata-kata yang diucapkannya.

Ia duduk tanpa berkata-kata, menatap keluar jendela yang terbuka dan tak dapat ditutup karena macet. Ia melepas pita ikatan rambutnya karena kini rambutnya telah sangat berantakan dan membiarkan wajah serta rambutnya disapa ujung-ujung angin yang membawa butiran hujan. Bus melintas membawanya lari dari waktu. Depus angin yang mengendus-endus membuatnya terbang seperti burung ketika hamparan pemandangan hijau dan vila-vila di atas bukit memperjelas diri mereka dari kabut-kabut yang menutupi. Pegunungan baginya tak pernah lagi punya warna dingin sebab ia telah terbiasa pada cuaca yang memain-mainkan daya tahan tubuhnya. Sesekali matanya berkedip karena kering dan menemukan Diane kecil yang berlari-lari di hamparan kebun teh ayahnya. Mendapatkan ayahnya sedang memadu kasih di istal bersama ibu. Memandangi foto-foto mama di masa lalu. Mendengarkan rekaman tawa ayah yang khas dan keras seperti layaknya seorang laki-laki berdarah Holand lainnya. Dan mendapatkan bunga-bunga misterius dari seorang pemuda bernama Isak setiap hari Jumat dan Minggu. Mendapatkan ciuman pertama dan dilukis telanjang di sebuah kamar.

Pada suatu ketika, ia pun ingat ayahnya pernah mengatakan bahwa ia tidak boleh kecewa, sebab pada saatnya nanti ia tidak perlu lagi menunggu bunga-bunga karena setiap hari akan selalu ada bunga dalam kamarnya. Bunga-bunga akan berdatangan sendiri mungkin di hari-hari menjelang pernikahannya, atau bahkan kematiannya, sebab semua orang tak akan pernah melupakan seorang gadis bernama Diane.

Ia memeluk erat Injil di dadanya seperti memeluk mantel yang tebal. Ia merindukan kehangatan-kehangatan, seperti pelukan perempuan separuh baya di halte tadi, atau jeruk hangat yang ditawarkan bibi Gres.

Waktu semakin tertinggal jauh di belakang, dan kini deras hujan menyurut, menempatkan waktu yang tidak lagi pagi. Ia berpaling dari masa lalu dan baru menyadari bahwa laki-laki yang duduk di hadapannya, yang tengah tertidur pulas, adalah laki-laki yang menyelipkan surat serta setangkai kembang pada perempuan di halte tadi. Dan laki-laki berbaret hitam yang berdiri serta memperhatikannya sedikit-sedikit adalah laki-laki yang menawarkan tempat duduknya.

Pada suasana yang mulai teduh dan tenang karena sebagian besar penumpang tertidur, kondektur mulai menagih tariff jalan. Tapi ia kembali memalingkan wajahnya keluar jendela. Ia hanya membawa Injil. Sehingga ketika tangan kondektur meminta tarif jalan padanya, ia hanya menatap kebingungan. Maka laki-laki berbaret hitam yang berdiri itu seraya tahu bahwa ia tidak membawa uang, dengan cepat ia mengeluarkan selembar uang puluhan dan berkata, "Aku dengannya." Sekali lagi ia menatap laki-laki itu dengan senyuman terima kasih pada bibirnya yang pucat biru karena dingin. Namun laki-laki itu tetap merasa bahwa senyuman itu sungguh menyakitkan.

Laki-laki itu bertanya, "Apakah kamu mau pergi ke Kota?" tapi ia tidak menjawab, karena baru kali ini ia pergi sendirian ke tempat yang jauh yang ia tidak tahu dan ia memang tak punya tujuan.

Sampai pada pemberhentian bus yang lain, ketika banyak penumpang turun dan laki-laki berbaret itu mendapatkan tempat duduk di tempat yang lain yang jauh darinya dan lebih nyaman. Meski begitu tak sedikit pun ia beranjak untuk mendapatkan tempat yang lebih baik. Sedang laki-laki yang tertidur di depannya telah terbangun dan turun untuk mencari bus lain yang sesuai dengan arah tujuannya. Kini di dalam bus beberapa tempat duduk tampak kosong.

Bajunya hampir kering dan lumpur di sepatunya telah mulai mengelupas. Sempat ia perhatikan jari-jari tangannya yang masih mengeriput ketika seorang kakek naik ke dalam bus dan hendak duduk di hadapannya. Kakek itu tampak kesulitan melipat payung hitamnya. Sebuket mawar merah bercampur aster kuning diletakan di sampingnya. Ia melipat payung hitam itu dengan tangannya yang telah keriput dan bergetar. Payung hitam yang begitu uzur dengan tangkainya yang terbuat dari besi yang tidak lagi mengilat, tetapi mulai bengkok dan berkarat. Meski begitu payung itu mengingatkannya pada payung hitam yang dibuka Adam tadi pagi, berputar-putar pada porosnya. Seperti hujan, seperti hendak menebarkan sesuatu.

Ia pun memperhatikan sandal jepit yang dipakai kakek itu yang dipenuhi oleh lumpur yang basah dan liat. Sesekali ia menatap kakek itu, menatap matanya yang kelabu dan tak lagi jernih. Menatap segala sejarah kesusahan hidupnya yang terangkum dalam matanya dan terbias pada rambutnya yang telah hampir memutih semua. Ia menelan ludah dan kembali memperhatikan buket bunga merah dan kuning itu. Sampai pada suatu saat mata mereka bertemu dan ia kembali memalingkan wajah keluar jendela. Kakek itu telah selesai melipat payungnya dan membiarkan payung itu bersender di sudut di sampingnya, hingga bulir air-air hujan dari payung itu menetes dan membuat basah lantai bus. Kakek itu mengambil buket bunganya dan dipegangnya erat-erat dengan kedua tangannya yang rapuh. Namun lelaki tua itu seakan tahu bahwa diam-diam ia tengah mencuri pandang untuk melihat bunga-bunga yang dipegangnya.

Ia mulai menerka-nerka kalau bunga-bunga itu baru saja dibelinya untuk dihadiahkan pada seorang cucu perempuannya, atau anak perempuannya yang akan menikah mungkin. Atau, ia pun mengira kakek itu baru saja mendapatkan bunga itu dari seorang sanak yang peduli sekali akan hari tuanya. Sekali lagi ia mencuri pandang pada buket dalam genggaman tangan tua itu, maka tak ada tempat ia menyembunyikan wajahnya karena sang kakek selalu memergokinya. Kakek itu melontarkan senyum padanya setiap kali tingkahnya diketahui dan ia pun hanya membalas senyum itu seperti senyuman pada laki-laki yang menawarkan tempat duduk padanya.

***

Kakek itu menemukan gadis itu menyiratkan senyuman penuh luka. Ia membuang wajahnya yang segar dan pucat itu keluar jendela. Kakek itu tahu gadis itu kedinginan, memeluk sebuah alkitab seperti memeluk sesuatu yang dapat menghantarkan rasa hangat. Gadis itu memperhatikan setiap pohon yang mulai berderet jarang-jarang seraya mengenang serentetan kenangan di sepanjang perjalanan hidupnya yang masih terlampau muda. Wajahnya seperti perdu yang ditumbuhi oleh bunga-bunga berwarna kuning sekuning baju yang ia kenakan. Namun wajah segar yang memantul kekuningan itu adalah wajah yang serupa dengan suasana siang itu. Siang yang mendung dengan langit keabuan membentang tanpa jeda dari utara ke selatan. Sesekali sang kakek melihat gadis itu menelan ludah kala tatapan mereka bertemu. Kakek itu tahu, gadis kuning itu menyukai bunga-bunga yang dipegangnya. Maka mata kelabu itu menerawang jauh menembusi waktu, menembusi senyum mungil yang terluka itu. Mengarungi masa lalu.

***

Hampir limapuluh tahun lalu ketika hujan gerimis seperti saat ini. Ia menemukan seorang gadis dengan kebaya hitam bemotif daun-daun hijau. Rambutnya rapi tersanggul dengan melati menghiasi. Ia duduk di samping dua orang teman perempuannya, memperhatikan dengan saksama lakon yang dimainkan Nurnaningsih dalam sebuah filmnya. Ketika keluar dari gedung bioskop, ia mendengar perempuan itu tertawa. Sebuah tawa khas perempuan yang benar-benar menikmati kemerdekaan. Herman, temannya, memperkenalkan ia pada ketiga perempuan itu. Dan gadis itu bernama Nina, seorang gadis sembilan belastahun, adik dari seorang teman Herman. Ada sesuatu yang dapat dilihatnya pada mata bening itu. Sebuah uap yang menghembuskan cinta pertama, sejumput senyum gadis kemayu yang manja dan baru mendapatkan bebas pada seusianya.

Nina dijemput kakak lelakinya, dan sebelum ia mengibaskan selendang hijaunya sempat keluar dari bibir manis itu bahwa minggu depan di waktu yang sama ia akan menonton lagi di bioskop itu. Sebuah bioskop dibilangan Paser Baroe.

Maka pada malam-malam yang panjang di langit musim hujan, banyak sudah puisi dan surat yang ia tulis untuk dapat melampiaskan rindu pada gadis berselendang hijau itu. Setiap ada waktu usai mengajar di SMEP5, ia pun akan menyempatkan mampir ke rumah sang gadis di bilangan Harmony. Ia akan memasuki sebuah gang kecil yang berdebu bila hari sedang tidak basah, menemukan deretan kembang-kembang asoka yang ditempeli debu, menemukan pagar kayu bercat hitam dengan rumah yang teduh lagi asri, dan menemukan seorang gadis dengan kepangan yang permai sedang duduk di beranda. Gadis itu akan terkejut, dan matanya mencerminkan senyum manisnya. Gadis itu tahu bahwa seseorang telah datang untuk mengambilnya dari taman bunga, seseorang yang kelak akan memetiknya, menikmatinya, dan layu bersamanya. Maka ia dengan malu-malu berlari ke dalam dan membiarkan kainnya terseret menyapu lantai. Ia akan berteriak, "Mas Heru di luar ada tamu. Temanmu itu, lho." Ia baru kembali apabila telah membawa sajian teh hangat atau kopi kental dengan kattetong6, kacang , atau nastar.

Nina, gadis itu, selalu mengenakan kebaya terbaiknya dari bahan brokat dengan motif yang selalu menarik. Ia akan menghias rambut dan memberi gincu pada bibirnya. Nina selalu memesona setiap kali ia mengajaknya untuk nonton di bioskop atau berjalan-jalan. Ia jadi ingat pada suatu pagi di hari minggu ketika ia mengajaknya jalan-jalan. Entahlah mungkin ke Pasar Ikan atau ke Kota, hanya hendak melihat-lihat saja, reflesing, tanpa ada tujuan yang pasti. Dan tanpa sengaja, ketika menunggu trem dan gerimis turun sementara mereka tak membawa payung, serta perbincangan mereka mulai lirih, ia mengamit tangan gadis itu, mendekapnya dalam-dalam di dadanya. Gadis itu tersenyum, dan tanpa banyak bicara mereka menaiki trem. Duduk diam-diam. Kendaraan itu seperti berjalan dengan sangat lambat dengan bunyi kleneng-klenengnya yang merdu, dan mereka seakan tak mau turun di tempat pemberhentian manapun. Menurutnya, hujan adalah anugerah yang membuatnya terdampar pada kenikmatan cinta dari seorang gadis berkepang yang memandang ke arah luar jendela dengan senyum mudanya.

Ia ingat wajah segar itu berseri berderai-derai ketika bibirnya memagutnya. Atau saat gadis itu menemukan sepucuk surat dan kembang-kembang berwarna dan beraroma pada setiap pagi beberapa kali dalam seminggu. Semua yang segar itu, semua yang indah itu, segala cinta yang mengembang itu, tak pernah layu meski telah waktunya. Segalanya berpendar-pendar bak cahaya. Mewarnai waktu demi waktu, dalam kesendirian, dalam kesepian, dalam kehampaan. Nina baginya adalah hakikat seorang perempuan yang tidak pernah merasa sepi, meski keceriaan dan senyumnya digubah waktu menjadi seorang yang sendiri. Menjadi seorang perempuan dengan senyum penuh luka setiap kali ia coba memasuki ke kedalaman matanya.

Ia ingin meletakan setangkai mawar pada kelopak mata itu. Ia ingin perempuan itu tetap tahu bahwa betapa ia tidak bisa melupakannya, bahwa ia tetap seorang laki-laki yang penuh kasih padanya seberapa adanya perempuan itu sekarang. Ia ingin menghapus senyuman luka yang pernah terukir di wajahnya, sehingga ia tak perlu mendengar lagi perempuan itu menangis tengah malam di ruang tamu dengan hanya ditemani lampu gantung yang temaram dan menatap hampa pada kembang sedap malam yang bergoyang-goyang kaku. Ia ingin mengatakan bahwa betapa bahagia hidupnya karena Tuhan mempertemukannya padanya, sekalipun ia adalah seorang perempuan yang tidak pernah diberkahi keturunan.

Sungguh saat ini ia seperti melihat segala yang telah berlalu itu. Merindukan segala yang nyaris hilang ditelan umurnya. Merindukan hangat tatapan mata atau kecupan. Atau mungkin pula hangatnya sarapan pagi yang disediakan perempuan itu. Kopi kental panas yang benar-benar masih beruap bersama pisang yang digoreng dengan sedikit tepung dan garam.

Namun ia melihat gadis kuning itu lagi, menghimpitkan wajahnya yang segar tetapi pucat di samping kaca jendela yang terbuka lebar. Sesedikit gerimis menggores pipinya. Dan garisan senyum itu mengingatkan ia garis senyum Nina pada wajah tirusnya saat berada di trem dulu, di waktu yang berbeda ketika ia mengamit tangannya dan menaruhnya rapat-rapat dalam dadanya. Ia tahu, ada sesuatu yang sedang disembunyikan, mungkin tentang luka, atau kecewa yang dibuat hidup atau laki-laki.

Ia menunduk, menatap buket mawar dan aster dalam genggamannya. Pada matanya yang kelabu itu ia merasakan hangat dan sesuatu yang berair hendak meluncur di ujung-ujungnya. Ia mengambil sapu tangan biru dari sakunya dan mengusap ujung-ujung matanya. Tanpa sengaja ia merasakan gadis dengan pakaian kuning itu memperhatikannya lagi sambil menahan senyumannya yang mengingatkan ia pada bingkai Nina yang telah berdebu. Ia membalas senyuman itu, berkali-kali setiap kali gadis itu dipergokinya tengah memperhatikannya atau memperhatikan bunga-bunga dalam genggamannya.

'Andaikata Nina dapat mengulang hidupnya, tentu aku akan memetik lebih banyak bunga-bunga untuknya hari ini, dan ia tidak perlu tersenyum seperti itu.'

Lalu ia menatap pemandangan di luar jendela, memperhatikan apa yang diperhatikan oleh bunga perdu yang sedu itu.

***

Menuju jalan yang lurus, menunjukan tiang-tiang lampu yang tinggi. Segala cekung waktu telah terlewati dan matahari mulai menguapkan sinarnya meski gerimis tipis tetap membasahi. Ketenangan dan mimpi mengambang di ujung kantuk dan helaan suasana yang mulai menghangat. Dataran rendah. Pohon-pohon yang kehilangan warna. Rumah-rumah yang bergelimpangan tak beraturan dan rapat padat. Gedung-gedung yang menjulang. Becek. Orang-orang yang sibuk. Segalanya terlihat jelas dari sebuah sudut belakang bus, tempat ia duduk berdamping dengan jendela yang tak pernah bisa ditutup. Tol yang macet di sebuah jalan fly over yang memisahkannya dengan rumah dan luka. Ia perhatikan lagi kakek itu yang terjaga dari kantuk, dan bunga-bunga yang tidak pernah layu sepanjang perjalanan waktu. Apakah kakek itu tahu bahwa ia habis berlari di tengah hujan pagi tadi?

Ia menelan ludah, tetapi kakek itu mungkin sudah jenuh untuk mempertemukan tatapannya dengan matanya.

Tiba-tiba ia sadar bahwa ia tak punya tujuan. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan ketika bus yang ia tumpangi akan menuju terminal terakhir. Apakah ia harus berlari lagi?

Sedikit disempulkan kepalanya keluar jendela, dihirupnya udara kota yang hangat. Menatap angkasa yang mulai membiru segar dan menemukan burung-burung berbaris berterbangan dengan rapi. Ia pejamkan mata. Bus keluar dari jalan tol. Namun di tengah keramaian kota yang permai itu ia temukan sedapnya bebauan kamboja. Sebuah bunga yang menyebarkan keabadian. Sebuah bunga khas yang mengingatkan ia pada ayah. Pada mama yang tertanam lebih dulu. Pada gundukan tanah merah yang basah.

Terlepas dari kemacetan lalu lintas kota, terdengar suara klakson dan ia mendengar kondektur bus itu menyebutkan nama suatu halte pemberhentian sebelum bus itu mengakhiri perjalanannya pada terminal terakhir. Segera ia melihat kakek tua itu mengambil payungnya dan bersiap hendak berdiri. Namun segala detik seperti tertunda dan gerimis tipis di luar berubah menjadi kristal. Kakek itu memperhatikannya dengan senyum…, entah mungkin seperti senyum pertama kali yang ia lontarkan pada cinta pertamanya. Namun untuk kesekian kali balasan senyumnya masih tetap sama.

"Kau mengingatkanku pada anak perempuanku yang tidak pernah aku miliki." Lelaki tua itu menatapnya. Alisnya yang kelabu merenggang saat wajah yang penuh garis keriput itu mengendur sebab sunggingan di bibirnya. Mata lelah itu menembus selaput jala di matanya. Dan ia tak ingin berpaling karena ia tertegun dan heran. Bukankah dalam perjalanan yang basah dan tenang itu mereka tak pernah berkata sepatah pun kecuali bertemu dalam tatap?

"Aku tahu, kau menyukai bunga-bunga ini," ujarnya. Suaranya yang tua itu terdengar dalam dan serak. Ia memperhatikan jakun lelaki tua itu. Kini ia tahu lelaki tua itu menelan ludah. Ia tahu ada sesuatu yang tersangkut di sana.

"Dan aku rasa istriku menghendaki kau memilikinya. Aku akan memberitahu dia bahwa aku memberikan bunga-bunga ini padamu." Ia tersenyum untuk yang terakhir kali dan memberikan buket yang semerbak itu padanya. Gadis itu dengan heran tak menolak. Ia menerima pemberian tulus itu dengan hati yang penuh rona. Sesaat kemudian setelah mata kelabu itu berpaling, ia melihat sepasang kaki bersandal jepit teplek beralaskan lumpur yang telah mengering dan mengelupas. Kaki. Langkah kaki laki-laki tua itu turun dari bus dan berjalan memasuki pintu gerbang sebuah pekuburan kecil.

***

Pada sebuah halte tak seberapa jauh dari gereja yang memiliki lonceng di atas menaranya, seorang pemuda masih duduk di bangku besi. Hujan tak kunjung reda. Sedang hari menjelang sore. Dan ia tak peduli pada sebuah acara pemakaman atau pernikahan, meski banyak orang yang mencarinya atau membujuknya untuk kembali. Tidakkah mereka lihat bahwa matahari pun tengah sesegukan?

Seberapa lama ia menunggu?

Halte yang dingin dan mulai kehilangan penggemar. Gadis kuning dan hujan. Matanya menghangat. Nafasnya beruap. Uap seperti jeruk hangat pagi tadi. Menatap mata seorang gadis pucat dan disela-sela itu ia menemukan sebuah senyuman yang membuat hatinya terluka. Apakah semua orang tahu ia sedang menunggu? Apakah semua orang tahu bahwa ia sedang mencari seorang gadis dengan senyum penuh luka yang berlari di tengah hujan pagi tadi?

***

Aku.

Baru pertama kali aku menjumpai kesejatian yang begitu aneh dalam satu waktu. Ketika aku memperhatikan dan berdecap kagum pada sketsa untitled dan beragam nude7 yang dilukiskan Isak untukku. Lukisan-lukisan aku yang telanjang di kamar, di tengah kebun teh, di tengah hujan, di hamparan perdu, dan berbaring manja pada bunga-bunga berwarna merah, kuning, ungu, putih, dan nila. Bukankah sekarang aku menerima bunga dari seseorang yang sama sekali tak kukenal? Bukan ayah, bukan Isak, bukan bibi Gres, bukan Adam, bukan kakak-kakakku, bukan siapa pun juga. Hanya seorang lelaki tua yang tidak mengerti Injil, hanya seorang lelaki tua yang sungguh memiliki sejarah yang berbeda dan tak ada sanggut pautnya dalam hidupku.

Dan kamboja-kamboja itu mengingatkan aku untuk kembali pada waktu. Untuk kembali berlari.

Aku menatap kondektur itu. Aku tak ingin turun pada terminal terakhir. Namun kakiku terpatri dan mataku menjatuhkan air mata pada kelopak-kelopak segar dalam genggamanku.

Aku.

Untuk pertama kalinya aku mengeluarkan air mata di hari ini. Ketika sedikitpun aku tidak menyentuh jeruk hangat buatan bibi Gres, atau saat aku berlari keluar gereja tanpa mengucapkan kata "amin" dan tersenyum pada pendeta. Ketika aku tak mengeluarkan suara untuk bernyanyi Behind The Bright Blue Sky dan tak menaruh harapan pada langit biru di luar sana. Atau tak berdoa. Dan bahkan aku tak peduli pada peringatan kristus untuk diam di tempat saat gema lonceng berdentang melawan deras suara hujan. Aku hanya ingin berlari di tengah hujan. Menuruni tangga saat lonceng berdentang tanpa meninggalkan suatu jejak seperti yang dilakukan Cinderella. Aku pun tak mau mendengar teriakan Adam memanggil namaku di depan gerbang, dan meski ia takut jasnya basah ia ternyata lebih takut tak menemukanku. Namun kini, jarak membuatku ingin kembali berlari.

Apakah kondektur itu bingung dengan tatapanku?

"Aku turun!" pintaku.

"Nanti, sebentar lagi, di depan."

"Aku ingin turun!" kataku lagi.

"Di sini tidak boleh menurunkan penumpang."

"Tapi aku ingin turun di sini!" teriakku.

***

Suatu saat di senja hari. Semua orang akan melihat seorang gadis kuning dengan senyuman penuh luka dan sebuket bunga serta Injil di tangannya berlari kembali ke dataran tinggi. Melewati jalan tol fly over. Melewati kendaraan-kendaraan dan deretan pepohonan. Menembus rintik hujan. Bila ia lelah, ia akan berhenti, dan bila bertemu seseorang ia akan mengatakan bahwa ia telah menikah siang tadi di sebuah bus. Ia akan memperlihatkan bunga-bunga itu sebagai tanda pernikahannya.

Ia pun tahu untuk apa bunga-bunga itu akhirnya. Ia akan berhenti berlari pada terminal terakhir, yaitu sebuah pemakaman. Di sana ia akan bercerita pada sebuah nisan putih dengan tanah merah yang masih basah dan segar,

"Ayah, aku telah menikah hari ini. Sayang ayah tak bisa mendampingiku. Tapi ayah tak perlu mengulangi hidup, sebab aku akan mengirimkan lebih banyak bunga setiap kali aku mampir di sini."

***

Gading basah, Mon 070305 at 23.29
Teruntuk sutradaraku: Fadli

Catatan:

Corfivollus: sejenis bunga perdu

Sakramen : acara ibadah yang bersifat khusus dalam agama Kristen Protestan di antaranya penyerahan anak, babtisan air, perjamuan kudus, pernikahan, dan kematian (upacara pelepasan).

Nubuatan : firman Tuhan dalam alkitab

Antiokhia : nama jemaat pertama pengikut Kristus di Antiokhia

Shag : rokok cerutu khas Belanda

SMEP : Sekolah Menengah Ekonomi Pertama

Kattetong : dari bahasa Belanda, merupakan kue kering yang biasa disebut Lidah Kucing

Nude : lukisan perempuan telanjang

Perempuan yang Kencing di Semak

Cerpan Wa Ode Wulan Ratna

Aku ingin jadi daun, jadi ranting, jadi embun dan angin. Sekadar menyadap bau-bau rerumputan siangik, paku rangsang, dan ilalang menguning. Mengukuhkan pohon-pohon sialang, sikaduduk, kempas, rumbai dan batang-batang sungkai.

Dini menyedapkan langkahnya, melompati lumpur, becek, lalu hilang dibalik semak belukar, di antara pepohonan hutan yang mulai meradang. Diam-diam aku mengikutinya dari belakang. Aku tahu perempuan berkerudung kuning itu hendak menggunduli hutan dengan caranya. Mengangkat kainnya tinggi-tinggi hingga betisnya yang putih lencir itu mengangai alam.

“Oi, aku kehilangan pohon-pohon itu.” Diam-diam kudengar ia mengumpat. Umpatan perempuan yang kadang-kadang terdengar seperti ngengat. Aku terjongkok diam di antara pepohonan liar yang bersisa. Dari sana aku mengintip ia berjongkok, mengangkat kainnya tinggi-tinggi hingga aku dapat melihat paha dan selangkangannya seperti menjelajah hutan baru. Aku menelan ludah.

“Hoi, setan! Tauke sialan!” teriaknya, sebongkah batu nyaris mengenai wajahku. Dengan perasaan naas dan gemas aku lari tunggang langgang.

***

Suatu malam aku pernah melihat Dini membawa pelita teding ke dalam hutan yang setengah basah. Bukan untuk membakar tanah kami sendiri, tapi untuk kembali ke semak. Ya, biasanya kembali ke semak selain untuk mengambil wudhu di kali.

Malam-malam itu memang sepi, tapi terdengar ramai sekali. Setiap malam di kampung kami memang seperti itu. Sebuah dunia baru yang seperti alam gaib tengah didirikan. Kampung yang lelap, tapi di tengah sana, belantara yang mulai keropos dan semak-semak yang menyimpan kelamin-kelamin untuk menuntaskan hajatnya, akan terdengar suara kepulan, kayu-kayu terpangkas, dan pohon jatuh tiba-tiba.

Pinggang yang masih kecil itu dengan perut yang mulai membuntal. Andai benih itu milikku, tentu sudi sekali aku mencari pekerjaan lain yang halal untuk membuatnya subur seperti hutan sediakala.

“Ju, kau habis dari mana?” Monda datang tanpa kusangka-sangka. Aku menghapus peluh dari keningku. Ia menawarkan rokok, aku langsung mengamit satu di bibir. Ia tersenyum dan mematikkan api untukku.

“Jangan kau bilang kalau kau habis mengintip perempuan itu lagi,” ia menahan tawa. Sedang mengejekku.

“Pah, bukan urusanmulah itu. Pernah kau lihat perempuan lain selain ibumu kencing di semak-semak?” Monda tertawa.

“Nanti dulu,”

“Ya, tapi ibuku punya jamban di rumah. Tidak tinggal di rumah lanting untuk bernaung.”

“Ah, kau tidak mengerti bagaimana seninya perempuan kencing di alam terbuka.” Kataku sedikit kesal. Monda mulai menahan-nahan tawanya.

“Sudah dapat berapa pohon?” tanyaku selanjutnya hendak melupakan perempuan pias itu.

“Sudah tujuh yang tertebang.”

“Yang besar-besar?”

Ada tiga yang masih di bawah umur. Tapi Mad Nawar marah-marah. Katanya masih terlalu sedikit dan harganya akan tidak sesuai. Kita butuh pohon-pohon yang segar seperti sialang dan rotan.”

“Lebih banyak lagi?”

“Ya, semakin banyak semakin baik. Kita bisa mendapat keuntungan yang lebih besar.” Aku mengendus, menghembuskan asap tembakau itu jauh-jauh. Memperhatikan asap itu menguap bersama embun sebab sinar matahari jadi begitu tajam ketika ia semakin meninggi.

“Di mana kira-kira lokasi yang banyak pohon-pohon itu?” aku menatap Monda rapat-rapat. Ia sedikit tertegun dan mungkin hidungnya mampat lagi. Ya, hidungnya memang mampat sebelah, dan ia selalu kesulitan untuk bernafas. Oleh sebab itu orang-orang yang melihatnya pasti menyangka ia bernafas dengan mulut. Mulutnya selalu terbuka, sebab selain mengeluarkan asap rokok juga mungkin ada udara sisa.

“Aku sudah dua hari memantaunya. Tidak jauh dari sini.”

“Apa? Keluar dari wilayah ini?” aku nyaris memekik. “Jangan gila, kita tak punya surat izin. Kau mau tertangkap basah?”

“Sabar, Raju.”

“Sabar? Aku sebenarnya sudah mulai muak untuk menambah daftar kejahatan lagi dalam hidupku. Jangan suruh aku membuat surat izin palsu.” Hatiku bergemuruh, tiba-tiba pikiranku kembali pada emakku.

“Lho, tentu tidak perlu. Sudah ada para tauke yang mengepul kayu hampir setiap malam di sana. Kita juga harus bersaing.”

“Di mana?” tanyaku akhirnya dengan nada datar dan tak memolesinya dengan ekspresi apa-apa. Tangan Monda mengarah ke arah timur, tempat biasa matahari memaksa ngengat bangun untuk menghilangkan malam-malam jahat.

Di timur itu sebenarnya aku ingin mengepul sinar matahari yang pecah-pecah. Memungutinya dan menaruhnya dalam karung goni. Sebab sinarnya yang menyengat itu mendapat restu rerimbun untuk meneduhkan, meski ada beberapa yang tanggal dan mulai meradang. Ya, di timur itu sebenarnya aku ingin menjelajah hutan yang lain. Memang bukan yang perawan tapi begitu rawan.

Ah, hutan itu Monda? Di situlah tempat biasa aku mengintip seorang perempuan muda tengah mengencingi tanahnya sendiri.

***

Aku ingat perempuan tua yang menjadi emakku itu. Di depan jendela ia menjungulkan kepalanya. Menatap bintang yang semakin kelihatan sebab lahan langit semakin meluas tak tertutup pohon-pohon yang mulai jarang.

“Kita mendurhakai tanah kita sendiri, nak. Menjadi pencuri di rumah sendiri.” Matanya sabak karena menangis.

“Tak sudi aku melihat kau bekerja seperti itu. Bukankah lebih baik kita jual saja rumah ini untuk biaya hidup, untuk adik-adikmu yang kadung tumbuh?”

“Jangan, mak. Kita tak punya apa-apa lagi. Aku berjanji bila telah selesai proyek ini, aku akan mencari pekerjaan yang lebih baik. Kalau perlu aku akan ke kota.”

“Kita sudah makan uang haram. Kau taruh di mana harga dirimu?”

“Mak, tapi kita juga harus segera melansai hutang-hutang Abah. Mak tak kasihan pada Abah. Sudah dua bulan meninggalkan kita tapi tak juga sepeser pun hutangnya terbayar.” Mak diam, ia bersama seguknya.

“Sudahlah, Mak. Hanya sebentar saja. Ngapa mak macam ‘tu?” perempuan itu berbalik. Menghapus derai di pipinya dan mencoba tersenyum. Ada sontil di sela giginya. Aku dapat melihatnya dengan jelas, sebab hanya itulah yang jelas dari sosok tua dan rapuh itu.

“Raju, kau anak lelakiku tertua. Pengganti Abah. Apakah kau masih ingat bagaimana Abah mati, nak?” aku menelan ludah. Itulah peristiwa pilu yang melantak hatiku. Aku malu terhadap perempuan itu.

“Ya, Abah mati tertiban pohon.”

***

Senja kesumba, Monda belum datang. Mungkin ia memanggil pengepul-pengepul lain. Orang-orang kepercayaan Mad Nawar.

Duh, mahakekasih telah usai kau melegam di bawah payung mentari. tidakkah kau rasakan kita telah mengabu karena teriknya? Alamak, masih ada bias saga di kedua pipi Dini.

Perempuan itu dengan langkah lihai keluar dari petak ladangnya. Ia menelusuri sejarah rumput hitam yang melumpurkan ketelanjangan telapak kaki kecilnya. Diturunkannya topi purun usai ia menguak huma di belantara padangnya. Menyeka bulir keringat seperti menyeka air mata. Aku menggeleng-geleng. Betapa sempurnanya ia menjadi perempuan yang berdiri di antara kekotoran-kekotoran hidup dan tanahnya.

Aku melambai ke arahnya. Ia tersenyum dan melambaikan topi purunnya. Satu tangannya menenteng rantang kecil. Ia pun menghampiriku.

“Bagaimana, Din hari ini?” tanyaku ketika ia mendekat.

“Wah, seperti biasa. Melelahkan.” Ia memberikan rantangnya kepadaku.

“Apa isinya?” tanyaku.

“Nasi berlauk belacan, sambal tokok, dan ikan bilis.” Ia tersenyum masih berdiri menatapku yang segera bangkit dari tersadai ketika melihat kakinya keluar dari semak itu.

“Bang Raju menunggu siapa?”

“Mm.., teman. Tapi sebentar lagi datang.”

“Dini dengar Abang mau ke kota?”

“Ya, rencananya. Kota selalu menjanjikan pekerjaan yang lebih baik.” Aku menatapnya, ia membetulkan kerudung kuningnya yang pudar.

“Hutan semakin tidak aman ya, Bang? Banyak sekali tauke. Siang-siang pun mereka berani terang-terangan. Tak cukuplah sumpah seranah bagi mereka itu. Perbuatan-perbuatan laknat yang tak terampuni!” Dini memandang hutan. Matanya buntang menerawang dan aku hanya bisa tertunduk. Malu pada diriku sendiri.

“Din, sepertinya aku tidak pulang malam ini. Bawalah kembali rantangmu. Rumahku terlalu jauh.”

“Abang menolaknya?” aku tahu ia sedikit kecewa. Tapi aku tahu ia akan lebih kecewa bila mengetahui siapa si pengintip itu dan siapa salah satu tauke itu.

“Maafkan aku, Din. Tapi tak mungkin kau mengantarnya ke rumahku.”

“Ini oleh-oleh buat emakmu. Aku yang buat sendiri.”

“Sudahlah, Din. Tak baik kalau kau terus-terus seperti ini. Kau sudah bersuami. Di dalam tubuhmu tengah tumbuh tubuh baru.” Aku melihat perutnya.

“Oh Tuhan, dinalah perempuan ini! Abang tahu kan, di bukit Samyong sudut Batam, suamiku tengah memenuhi nafsu tauke dari Singapura? Dia tak tahu aku tengah berbadan. Tak pulang-pulang.” Ia mengambil rantangnya dan bergegas pergi tanpa mengurai panjang kata permisi untukku.

Aku menggigit bibir bawahku, tanganku merongoh saku celana dan menemukan sebatang rokok. Kucium bau tembakaunya di bawah senja yang mulai luntur, memperhatikan langkah lincah perempuan berkain itu.

Suasana sesedap kenanga ini sebenarnya ingin kukirim bersama senja semerah dadamu, Dini. Duh perempuan yang memenuhi tanahnya dengan air seninya.

Hasrat yang satu itu, membuang air sisa lewat saluran kelamin adalah seni terindah yang pernah dimiliki anjing. Hewan itu membatasi wilayahnya, panggungnya, kekuasaannya dengan mengencingi tiap sudut tanahnya. Memberi batasan-batasan kalau di wilayah itulah ia meraja dan tak boleh ada yang menjamahnya. Kita menirunya, tapi kini kita jauh lebih beradab. Orang bilang itu beradab. Tapi kau, perempuan yang kencing di semak dalam belantara itu, adalah mengencingi tanah-tanah leluhur yang lelah dalam daki tahun-tahun. Zaman yang lintang pukang, hutan yang meradang, pohon-pohon yang hendak melolong tumbang. Air kencingmu merimbunkannya kembali. Mengembalikan semua unsur-unsur hara yang hilang itu. Menguatkan hati akar-akar yang mulai mati.

Aku kembali tersadai. Memainkan asap tembakau hingga akhirnya mataku rejam karena pelupuk yang kian memberat.

“Aku pergi.”

“Raju, temani Abahmu!” Aku ingat Mak masih di dapur. Hanya suaranya saja yang terdengar. Aku bergegas keluar, menemani Abah. Jalan-jalan sepi melenggang. Matahari baru naik seujung daun puring. Kami berjalan jauh melintasi hutan-hutan. Rimbun tanpa lelah bersama derai tawa, kata-kata yang kulupa itu apa. Tapi kami tampak bahagia.

Matahari masuk lewat celah-celah pepohonan mempelam, macang, dan rambai. Burung Cancibau telah lama bangkit memulai kicau. Tapi tiba-tiba kulihat di sana, tidak terlalu jauh, ada Monda dan Mad Nawar, atau mungkin juga aku, sungguh transparan membiarkan pikiran-pikiran telanjang.

Aku berhenti melangkah. Samar kudengar suara mereka. Ternyata di belakang mereka ada berpuluh-puluh pengepul kayu lainnya. Aku menganga.

“Monda, cepat regas pohon itu. Kita butuh pohon sialang lebih banyak.” Kulihat Monda mengarahkan mesin penebang pohon. Mesin itu begitu menderu hingga linu seluruh gigiku. Tapi teriakan Mad Nawar memberi aba-aba pada semua semakin parau. Seperti bukan suaranya.

“Raju, kenapa berdiri di situ. Cepat bantu!”

“Apa?” aku masih dalam keadaan bingung.

“Cepat ke sini!” Mad Nawar memelototiku. Tiba-tiba kurasakan bumi bergetar. Monda terus meregas pohon itu hingga lingkar hidup pohon itu hendak menemui ajalnya.

“Tapi Abah….”

Tass….

Pohon itu rubuh dengan bunyi yang bergemuruh. Ada suara jerit yang tercekat dan kemudian kutemukan jiwa terbujur rapat. Lekat memeluk sebatang pohon sialang.

“Abah?”

“Ju, bangun. Tak baik magrib-magrib tidur.” Perlahan kubuka mataku, kesadaranku naik ketika jelas kulihat Monda di depanku.

“Peralatan telah kusiapkan semuanya. Tengah malam rencananya. Aku sudah memberi tanda pohon-pohon yang kita butuhkan.” Aku diam saja. Monda menggesek-gesekan kedua tangannya.

“Hei, kenapa?” Monda menyenggol pundakku.

“Kau lama sekali.” Dia terkekeh-kekeh.

“Aku orang rajin, memberikan tanda pada pohon-pohon itu. Dan kau, kau kuberi kesempatan untuk mengintip lagi.” Aku tersungging. Ia memberikanku senter.

“Ayo, kutunjukan pohon-pohon itu agar kita tak salah tebang.” Aku pun berdiri dari tempat peristirahatan itu, balai kecil tempat persinggahan orang-orang lelah usai dari ladang. Aku pun pergi mengikuti jejak Monda dengan bisik-bisiknya.

***

Perjalanan malamhampir nokturno. Mungkin di rumah-rumah sana, nyanyian pedodoi lelap telah usai dikumandangkan. Laki perempuan hangat di ranjang berahi dan anak-anak nyenyak terbuai mimpi. Hanya mungkin yang tua-tua masih rajin mengaji.

Dalam kelam itu, aku masih bisa melihat gigi Monda akibat sunggingan puasnya. Beberapa pohon telah tumbang. Ia terus bisik-bisik, sesekali karena tak tahan ia nyaris berteriak. Memaki para budak itu untuk segera melanjutkan pekerjaan.

“Ju, sekarang giliranmu.” Ia menyerahkan alat pemotong pohon itu. Tak ada yang sanggup membendung suara mesin itu. Aku diam terpaku memegang alat itu.

“Monda, aku tak bisa.” Kataku perlahan. Tak tahu, tiba-tiba saja kuteringat mimpi tentang Abah yang tertiban pohon sore tadi. Aku merasa benar-benar berdosa.

“Apa?” kata Monda heran.

“Aku tak bisa.” Aku mengulanginya dengan sedikit keras.

“Mengapa?”

“Aku tak bisa!” aku nyaris berteriak. Kurasakan uap yang keluar dari hidungku begitu hangat. Aku tak tahu mengapa aku jadi ingin marah dan begitu emosi. Kurasakan tengkuk dan punggungku berkeringat.

“Raju, kau kenapa? Sakit?”

“Tidak. Bukan. Aku sudah tak mau. Aku lelah dengan ini semua. Aku lelah. Ini aneh. Tidakkah kau tahu hutan ini juga tanah kita? Tempat kita mengambil buahnya, menginjaknya dan mengencinginya?” aku tahu Monda tak suka kata-kataku. “O, jadi kau juga mau mengencinginya?” Ia menyindir sarkas. Aku tahu matanya geram menatapku, ia mungkin juga marah.

“Kalau kau tak mau. Biar aku saja. Aku tak mau tengkar denganmu. Kuberitahu, pasti Mad Nawar akan segera memecatmu. Dasar orang yang anti kemapanan!” ia mengambil mesin itu dari tanganku. Mesin yang berat itu.

Aku diam memperhatikannya yang dengan serius membiarkan mesin itu menggerogoti batang pohon yang malang itu.

Aku lunglai. Ingat hutang-hutang Abah dan emak. Tanganku gemetar mengambil mesin yang dipegang Monda. Mesin itu menggerutu, bunyinya semakin seret karena terlalu berat. Bukan mesin baru memang. Di siang hari aku dapat melihat mesin itu uzur dilumur karat.

“Ya, begitulah. Kau harus tahu hidup ini susah dan memang banyak yang perlu dilanggar.” Akhirnya Monda memberikan sepenuhnya mesin itu padaku. Tentu dengan begitu ia tak akan melapor yang macam-macam pada Mad Nawar perihal tingkahku barusan.

Tubuh batang pohon itu mengeluarkan perih, mengeluarkan serpih batang-batangnya yang pipih. Aku dapat mendengar lolongannya sebelum ia tumbang. Ia sekarat. Dan aku tak tahu bagaimana rasanya disayat seperti itu. Air mataku mengalir. Bukankah ini malam? Malam selalu menyembunyikan banyak hal.

Pandanganku kabur, sekelebat rupa-rupa menggelantung di butiran hangat itu. Abah, emak, dan Dini.

Tiba-tiba kakiku kembali gemetar, bunyi gemuruh pohon yang mulai jatuh. Ya, seperti mimpiku sore tadi. Aku lihat orang-orang yang sama kecuali Mad Nawar dan Abah, sedang melakukan kegiatan yang sama seperti yang aku lakukan.

Pohon itu mulai condong, sedikit demi sedikit jatuh. Dan tass…. Ia jatuh di arah yang tak kentara. Utara, selatan, timur, atau barat aku tak tahu. Bunyinya berdebum. Apakah ada yang tercekat? Aku tak tahu tapi hatiku begitu pilu. Aku telah membunuh. Aku telah membunuh daun, ranting, embun, dan angin. Aku telah membunuh kekasihku sendiri.

***

Pohon-pohon telah meninggalkan getah dalam keadaan kering. Daun-daun hijau telah dijemput kematian. Tiba-tiba diam mengejang. Segala kesunyian aneh yang tengah pingsan di belantara gundul mulai sadar ketika azan subuh melebuh, membukakan jalan. Gelap tinggal seperempat, dan kasak kusuk ramai itu pun mulai terdengar.

“Astaga!!! Ada yang mati, Bang.” Seru seorang pengepul kepada Monda.

“Apa? Maksudmu hewan?” tanyanya kembali masih sambil membereskan perkakasnya.

“Bukan. Bukan hewan. Manusia. Perempuan.” Mendengar itu darahku tersirap. Naik hingga keubun-ubun. Punggungku terasa terbakar.

“Coba kalau bicara yang jelas?” Monda menahan panik. Tapi perasaanku tak karuan rasanya.

“Itu Bang. Coba Abang lihat sendiri. Ada perempuan tertimpa pohon.” Tanpa ragu lagi aku buru-buru berlari ke arah yang ditunjukan pengepul itu. Yang lain turut pula menyusulku.

Ada perempuan nokturia yang selalu masuk ke dalam hutannya untuk menandai wilayahnya, setiap malam. Itu sudah menjadi dongeng bagiku dan aku mempercayainya. Dongeng yang kubuat sendiri untuk kemudian di suatu malam aku melupakannya. Aku tak sengaja melupakannya.

“Monda! Kau gila! Ini Dini.” Jantungku berdegupan dengan gilanya. Kini malam usai dan tak ada lagi yang bisa disembunyikan dari mataku dan hatiku.

“Aku tidak tahu kalau ada perempuan di sini.”

“Ini bukan pohon yang aku tebang semalam.”

“Ya, aku juga.”

“Apa-apaan kalian. Cepat bantu angkat pohon ini!” Monda gusar. Ia tahu perasaanku, tapi aku tahu ia merasa tak bersalah.

Oh aku lupa Dini, aku lupa. Inilah wilayahmu yang kau kencingi setiap pagi dan malam, yang seharusnya tak boleh dijamah oleh siapapun.

Tanganku bergetar menyentuh pipinya. Begitu dingin, begitu dingin hingga kutahu pasti ia dapat membekukan maniku yang telah lama menjadi lahar karena hasrat cinta yang terpendam. Tapi ia beku. Kain yang terangkat tinggi itu memperlihatkan hutannya yang rimbun. Hutan rupawan yang rawan, yang dirindui setiap lelaki.

Bukan. Bukan air kencing yang kutemukan di selangkangan itu. Tapi darah kering yang masih segar dan menggumpal. Darah tunas kehidupan yang nyaris tiga bulan bersemayam dalam lindungan kandungnya.

Kurasakan tangan Monda mencengkram pundakku, tapi aku sudah mati rasa. Air mataku sudah ke mana-mana. Ke mana-mana, aku tak tahu ke mana. Aku hanya ingin berlari di hutan ini. Menyusuri matahari dan memunguti sinarnya yang pecah berkecai-kecai di antara pepohonan yang masih bersisa itu. Menaruhnya dalam karung goni.

Aku mengerang. Aku ingin menjadi daun, menjadi ranting, menjadi embun, dan angin. Menulisi matahari agar dapat terus mengintip seorang perempuan yang kencing di semak itu.

***

Pekanbaru-Jakarta
April 2006

Untuk Raju

Catatan :

Tauke: pencuri atau penebang kayu hutan diam-diam pada malam hari.

Pelita teding: lampu yang terbuat dari kaleng susu bekas. Biasanya bersumbu kain dan di atasnya ada tameng yang dipasang sebelah saja untuk melindungi dari lambaian angin.

Rumah lanting : rumah yang sangat sederhana.

Melansai: melunasi hutang-hutang.

Ngapa: mengapa.

Sontil: tembakau yang menempel di antara gigi dan bibir dari seseorang yang makan sirih.

Topi purun: topi besar yang terbuat dari anyaman kulit kayu yang biasa digunakan petani untuk berladang atau berhuma.

Tersadai: terbaring dengan kaki terbujur.

Buntang: membeliak.

Lintang pukang : berlari dengan cepat, tunggang langgang.

Rejam: terpejam atau pejam.

regas/meregas : memotong

Melebuh: membukakan jalan.

Berkecai-kecai : berantakan, terpecah-pecah.

Nokturia: keadaan suka atau sering kencing pada malam hari.

Selembar Bulu Mata Elena

Cerpen Wa Ode Wulan Ratna

Suasana senja yang basah memberikan aroma tersendiri pada sebuah café. Elena menghirup aroma kopinya, sedang aku sibuk memperhatikan bulu matanya yang menari-nari bila ia mengedipkan kelopak matanya. Ia mengangkat cangkir putih yang masih mengepul itu jauh-jauh dari hidung dan bibirnya ketika tiba-tiba aku melihat sesuatu menempel di bibir merahnya.

“Ada sesuatu di bibirmu.” Elena menaruh cangkir kopinya di pinggir piring brownies kenari kesukaannya lalu mengambil tisu. “Jangan! Maaf, biar aku saja.” Aku menawarkan diri. Ia membiarkan aku mengambil selembar bulu matanya yang terjatuh di bibir merahnya. “Astaga, bulu mata?” Ia menggeleng-gelengkan kepalanya hingga rambutnya yang secuping bergoyang-goyang. Namun kembali dihirupnya aroma kopi robustanya seakan ia hanya pura-pura terkejut saja barusan. Aku mempelintir selembar bulu mata itu dengan ibu jari dan jari telunjukku. Kuperhatikan selembar bulu matanya yang menawan itu. Panjang, hitam, dan tebal. Bentuknya seperti lengkungan bulan sabit di pertengahan bulan.

“Kira-kira bulu mata yang mana, ya?” Elena membuang tatapan matanya keluar jendela. Kedua kelopak mata itu tak berkedip menatap kaca jendela yang telah basah oleh rintikan hujan yang kian deras. Sebuah suasana kota yang becek dan macet di luar sana mewarnai sore yang basah. Dari dalam café ini, kota itu tampak beruap.

Aku terus memperhatikan bulu-bulu mata Elena. Matanya masih menatap keluar jendela di sampingnya. Namun kutemukan ada sebuah negeri yang disembunyikan oleh pemilik bulu mata itu. Aku tahu ia memikirkan hal yang lain.

Tapi tiba-tiba kedua kelopak mata itu berkedip sekali. Membuatku sadar untuk segera mengalihkan pandanganku ke lain tempat, pada cangkir putih kopinya yang kini telah ternoda. Lipstik.

“Iya, ya. Yang kanan atau yang kiri?” Kataku akhirnya balik bertanya sambil mengeluarkan buku pocket berwarna hijau dari saku celanaku.

“Katanya kalau bulu mata kanan yang jatuh berarti ada yang cinta atau kangen,” ia tersenyum lalu bertopang dagu memperhatikanku. Aku jadi sedikit salah tingkah. “Nah, kalau yang kiri….” Ia tidak melanjutkan tapi mengambil sebatang rokok dan mengamitnya di bibir. Aku mematikkan api untuknya.

“Kalau yang kiri?” tanyaku menyambung. Ia menggeleng-geleng lalu melepaskan kepulan asap rokok ke udara. Aku lihat asap itu seperti membangun suatu pondasi. “Ya, sebaliknya.” Jawabnya singkat.

“Itu kan hanya mitos.”

“Lho, tidak percaya? Dunia ini kan sudah rancu. Kita perlu keyakinan baru selain kenyataan. Kita perlu jadi seperti kodok di got sana. Nyanyi-nyanyi saat hujan, nyaplok nyamuk di waktu malam, bermetamorfosis. Ya, hidup di dua alam. Percaya pada yang nampak juga pada penampakan.” Elena menghisap lagi rokoknya dalam-dalam. Sementara aku berusaha bangkit dari keterpukauanku pada negeri bulu matanya.

“Kenapa mesti kodok?”

“Karena kodok hidup di dua alam. Begitu pun dengan kita, seharusnya hidup di dua alam; ya malam, ya siang. Yang nyata maupun yang tidak. Paling tidak kita harus bisa menyeimbangkan.” Aku mengernyitkan kening. Biar bagaimana pun jawaban Elena, ucapannya selalu memesona.

“Ah, tapi aku keberatan kalau harus menjadi kodok.”

“Ya, terserah.” Ia angkat bahu.

“Sudah seharusnya kita kembali pada mitos. Ah, bagaimana Tuhan ini. Menciptakan manusia dengan rasio, sedang Dia sendiri irasional.” Kami bertatapan mengulum senyum. Dan sambil menikmati tatapan serta senyumnya itu kubuka buku pocket hijauku dan di halaman yang bertuliskan “Elena di Hari Hujan”, kutaruh selembar bulu matanya itu sebagai pembatas buku.

“Ah Elena, sudahlah! Kita tidak tahu itu kiri atau kanan. Bukankah itu hanyalah selembar bulu mata yang tepat jatuh di bibir merahmu?” aku menepis asap rokok yang dihembuskannya di hadapanku, ia tersenyum. Dan dari bibir merah itu keluar ucapan, “Itu tugasmulah!” Ia kembali menatap keluar jendela.

Gumpalan asap rokoknya menghambur lagi di hadapanku. Asap itu menggumpal tebal seperti awan hingga mengingatkanku pada cerita tentang negeri di awan. Maka dengan segera kubangun sebuah negeri dari kepulan asap itu sebelum ia menguap tanpa jejak. Sebuah negeri tentang selembar bulu mata Elena.

***

Buku hijau. Sebenarnya telah banyak buku catatan harian yang telah katam kutulis dengan berbagai jadwal, curahan hati, atau sekadar uneg-uneg. Dan setiap buku selalu memiliki pembatas buku.

Pertama kali aku mengenal pembatas buku adalah ketika aku menginjak masa puber. Aku selalu percaya rautan pensil berwarna yang disimpan beraneka warna sebagai pembatas buku akan menjadi pelangi saat hujan selesai. Dan ternyata itu benar terjadi. Lalu ketika aku memiliki buku catatan berikutnya, aku menaruh bulu ayam sebagai pembatas buku. Setiap hari bulu ayam itu akan bertambah dengan sendirinya namun dengan warna yang berbeda. Dan suatu malam ketika buku catatanku telah penuh, aku melihat kupu-kupu keluar dari buku catatanku dan berterbangan di kamarku. Kamarku jadi penuh oleh kupu-kupu. Indah, berjuta warnanya. Kupu-kupu malam.

Pernah pula aku menjadikan potongan-potongan kuku jariku sebagai pembatas buku catatanku. Dan aku selalu tahu bintang di langit akan bertambah satu setiap ada lima buah potongan kuku di halaman catatanku. Lalu kini apa gerangan yang akan hadir bila aku menjadikan selembar bulu mata Elena sebagai pembatas buku catatanku?

***

Waktu itu musim nyekar. Hingga banyak kembang berhamburan dan aroma wangi bunga memenuhi paru-paru. Perempuan bergaun hitam dan berkerudung hitam itu mengangkat kepalanya dari gundukan tanah yang masih merah. Di belakangnya berdiri pohon kamboja memadu putih. Tangannya memegang setangkai mawar merah yang mulai layu. Tak ada siapa-siapa di sisinya, hanya sebuah batu nisan putih mengukirkan nama sang terkasih. Wajahnya pucat, mungkin tak dibubuhi bedak. Mungkin juga telah luntur oleh keringat dan air mata. Namun bibirnya masih semerah buah apel. Aku tak tahu kenapa tiba-tiba ia menatapku. Matanya yang berhias smoky eyes itu seperti menghipnotisku karena sungguh aku tak bisa beranjak dari makam tempat ayahku terlelap. Yah, dan ketika kelopak mata itu berkedip, maskara hitam itu luntur oleh air matanya. Lalu ia roboh seketika.

Ketika ia siuman berkatalah ia padaku, “Oh, kamu orang itu? Yang di situ? Yang menolong aku? Terima kasih.”

“Ya, sama-sama. Siapa yang meninggal?”

“Suamiku. Hanya suamiku yang kucintai, selebihnya aku hanya ingin dicintai.” Ia memejamkan mata. Bulu mata lentik itu basah.

“Ya. Siapa namamu? Biar kuantar pulang.”

Sejak itu aku mengenal seorang perempuan bernama Elena.

***

Sore ini senja basah lagi. Warnanya jadi pudar dan buram, tapi Café tetap tampak ramai dan hangat. Canda, tawa, kepulan asap rokok, musik, kopi mewarnai ruangan. Aku menulis kata ‘kiri’ di halaman kanan buku catatan hijauku. Ah, aku selalu ingat kata-kata Elena. Bukankah sudah menjadi tugasku mencari tahu kanan atau kirikah bulu matanya yang aku dapatkan di bibir merahnya kemarin? Dan aku tidak heran, hari ini aku mendapatkan selembar bulu matanya lagi. Yah, selembar bulu mata Elena menjadi dua.

Tiba-tiba kulihat dari arah pintu masuk sesosok perempuan bertubuh langsing dengan pakaian yang menarik datang menghampiriku. Aku tersenyum menyambutnya dan mempersilahkannya duduk.

“Lama menunggu?” tanyanya, aku menggeleng. Elena tampak segar. Ia selalu tampak lebih cantik di sore hari. Ia segera memanggil waitress dan memesan secangkir kopi jenis robusta dan brownies kenari kesukaannya.

“Bagaimana kabarmu?” sapaku.

“Baik. Tapi aku mungkin sedikit lelah karena terlalu giat bekerja.” Kuperhatikan wajahnya yang berseri itu. Di manakah letak kelelahan itu?

“Lelah?Memangnya kamu kerja apa sih?” tanyaku sedikit berani tapi sebenarnya aku tak berniat apa-apa.

“Ah, sudahlah! Tidak penting. Pekerjaanku sama saja seperti dulu.” Lagi-lagi ia tersenyum, ia selalu tersenyum menggoda. Aku angkat bahu. Beberapa saat kemudian setelah kami bercakap mengenai hujan dan senja, pesanannya datang. Akhirnya kami pun mulai melesapi rasa di lidah. Rasanya aneh memang, mengecap rasa manis di depan seorang perempuan sepertinya bagai mendapatkan rasa manis yang tidak dijual di mana pun.

Sambil menghirup, mengecap, dan mereguk, kuperhatikan kelopak mata itu dan sesekali pula menanggapi ucapannya. Ia mengatakan kalau ia baru ke salon untuk mengkriting bulu matanya. Di salon Anu sedang ada potongan harga katanya. Ia juga mengatakan kalau ia tidak suka menggunakan bulu mata palsu. Menurutnya itu norak dan akan membuat matanya iritasi. Berbicara tentang mata, mengingatkan aku pada sosok Elena saat pertama kali aku mengenalnya. Ya, dalam bingkai bulu mata itu, tiba-tiba aku melihat sebuah nisan putih terpantul pada bola matanya.

“Elena, boleh aku tanya sesuatu?” ia tidak menyahut, tapi ekspresinya membolehkan aku untuk bertanya apa saja.

“Dari suamimu dulu kamu punya anak?”

“Tidak, aku mandul.”

“Apa?”

“Aku mandul.” Ia mengulangi.

“Oh, maaf.” Ia hanya menggeleng. Apakah ia bercanda?

“Oleh sebab aku mandul, aku hanya mencintai suamiku. Yang lain tidak.”

“Apa?”

“Ya, yang lain tidak. Tidak ada yang mencintaiku seperti almarhum suamiku. Dia mengambilku dari comberan, dari got-got di luar sana saat hujan pada malam yang dingin. Dan dia mencintaiku sepenuh hati lebih dari sekadar membutuhkan rahimku. Dia memberiku arti apa itu hangat dan menjadi baik.”

“O…, tap….”

“Aku senang menjadi temanmu, Jo. Aku janji tak akan mempermainkanmu, meski aku hanya ingin dicintai.” Ia tersenyum dan menatap ke kaca jendela. Sekali lagi aku memperhatikan kelopak mata yang sesekali berkedip itu. Bulu matanya lentik membingkai matanya yang berkaca-kaca.

“Elena, boleh aku mengatakan sesuatu?”

“Boleh.”

“Aku suka bulu matamu.”

***

Setiap hari. Setelah aku menemuinya saat itu dan menuliskan kata ‘kiri’ pada halaman kanan buku catatanku. Setelah aku menuliskan tema besar hari itu “Bulu Mata Elena,” bulu mata Elena di catatan harianku selalu bertambah satu setiap harinya. Aku semakin gandrung. Setiap halaman kiri buku itu selalu bertuliskan kanan, begitu pula sebaliknya. Aku ingin cepat-cepat tahu selembar bulu matanya yang dulu jatuh di bibir merahnya itu yang kanan atau yang kiri. Bukankah aku penggemar sejati yang butuh kepastian untuk menjadi suami pengganti?

Anehnya, hampir setiap malam aku selalu menemui sosok-sosok Elena di berbagai tempat. Di restoran Itali, di hotel berbintang, di tempat parkiran, di dalam lif apatemenku, bahkan di taman. Namun ia tidak pernah menegurku. Elena bermetamorfosis. Yah, bermetamorfosis di waktu malam. Suatu saat ia menjadi berudu, kemudian menjadi kecebong yang bermain-main di dalam air. Lalu tiba-tiba di suatu malam pekat ketika hujan mengguyur, aku mendengar suara kodok nyanyi-nyanyi di sebelah kamar apartemenku. Aku tidak yakin itu Elena, sebab rasanya janggal, di kamar yang steril dan nyaman, ada nyamuk yang bebas berkeliaran.

***

Sore ini ketika kami berjanji lagi bertemu di café yang sama. Duduk, menikmati secangkir kopi, dan mengobrol, Elena hadir lagi dengan wajah segar. Dan matanya berhias smoky eyes seperti dipemakaman waktu itu. Matanya jadi terkesan begitu hitam dan tajam. Namun ada sesuatu yang dalam di sana.

“Akhir-akhir ini mataku gatal.” Katanya. Ia menyelipkan rambutnya yang bergoyang-goyang ke kupingnya agar tidak mengganggu.

“Coba kulihat!” aku menawarkan diri. Ia menyodorkan tubuhnya kehadapanku hingga aku dapat melihat jelas ke kejernihan matanya. Ia berkedip-kedip.

“Apa yang kamu lihat?”

“Bukan apa-apa. Bulu matamu terlalu panjang dan lebat.”

“Oh ya? Jadi mungkin harus aku pangkas sedikit ujungnya biar tidak membuat mataku gatal-gatal.”

“Lho, aku tidak tahu. Rasanya akibat gatal-gatal bukan karena bulu matamu.”

“Ya. Mungkin aku salah pakai maskara. Mungkin seharusnya aku ke salon saja untuk ikut paket bulu.” Kami tertawa. Hari ini ia tampak begitu riang dan senang bergurau.

Maka ketika malam merayap dan kami berpisah, aku segera masuk ke kamar apartemenku dan menuliskan beberapa kata di halaman kanan buku catatanku. “Kiri. Aku jatuh cinta pada bulu matamu.”

***

Begitulah setiap saat. Bulu mata Elena semakin bertambah setiap hari. Dan aku semakin bahagia serta penasaran. Buku catatan hijauku sudah hampir penuh walau hanya berisi tulisan kanan dan kiri juga kalimat-kalimat pendek. Namun Elena semakin sulit saja ditemui. Mungkin ia terlampau sibuk dengan pekerjaannya, aku tak cukup berani menghubunginya. Pernah suatu siang aku meneleponnya, tetapi jawaban diseberang sungguh mengecewakan: ‘mohon tinggalkan pesan, nyonya sedang istirahat.’ Elena masih tidur.

Dan semua kisah itu? Benarkah itu Elena? Sesosok Elena yang kutemui di birunya malam. Bermetamorfosis. Apakah Elena serupa apa yang ia katakan? Kodok.

Tapi aku selalu menepis prasangkaku. Aku tahu perempuan itu hanya ingin dicintai.

***

“Kamu baik, Jo.” Elena menghembuskan asap rokoknya. Ia menyilangkan kaki. Tubuhnya yang langsing dibaluti rok span dan jaket hitam.

“Apa kamu suka memuji?” lanjutnya. Ia mendelik menatap penuh selidik, tapi bibir merahnya menyala, tersenyum menggoda.

“Ah tidak. Memang kamu cantik dengan potongan rambut seperti itu.” Ia tertawa. Ditaruhnya rokoknya di asbak dan ia duduk dengan tegap sambil menata rambutnya. “Seperti ini?” ia tersenyum dan ia benar-benar menawan. Aku hanya mengangguk-angguk.

“Tadinya rambutku panjang, lho. Dan memang aku identik dengan rambut panjang.”

“Lalu kenapa dipotong?”

“Biasa. Aku ada masalah dengan rambut.”

“Rontok?” ia menggeleng.

“Bukan. Bukannya aku tidak pernah pergi ke salon, shampo seperti tak ada yang cocok. Tapi kamu pasti tertawa kalau aku beri tahu.”

“Oh ya? Apa itu?”

“Ketombe.” Katanya setengah berbisik. Lalu kami tertawa. Ngobrol. Ngobrol. Ngobrol. Sore selalu tampak lebih indah bila mengobrol dengan Elena.

“Oh ya Elena. Matamu masih gatal?”

“Mm….” Ia hanya menjawab dengan gumaman.

“Hanya sedikit.” Katanya kemudian. Aku memperhatikan kelopak matanya.

“Boleh tanya satu hal?” tanyaku. Ia mengangguk.

“Apakah kulit bulu mata bisa ketombean?”

“Apa?”

“Maaf, maksudku ada sesuatu di bulu matamu?”

“Yang mana? Kanan atau kiri?”

“Dua-duanya.”

“Astaga….” Dia mengambil tisu di samping cangkir kopinya.

“Jangan, biar aku saja!” Aku mengambil beberapa serbuk putih yang melekat di bulu matanya dan memperlihatkan padanya. Dia menghisap lagi rokoknya seraya tidak peduli. “Aku sudah konsultasi ke salon. Maskara yang lama aku ganti dengan maskara bening. Ah, mungkin maskara murahan hingga bila sudah kering dia malah memutih seperti ketombe.” Aku melipat tanganku dan bersandar di kursi. Memperhatikannya.

“Kau tahu Elena, ketombe dapat menyebabkan rontok.” Kataku menggoda sambil menahan senyumku.

“Ah, kamu mengejekku.” Ia tersipu. Segera setelah itu ia berpaling ke kaca jendela. Merokok, menghembuskan asap rokoknya. Sebuah negeri tentang bulu matanya mengepul ke atas lalu lenyap tanpa bekas.

***

Semakin hari aku semakin gelisah, semakin penasaran, semakin bahagia. Dan tentu saja aku semakin jarang bertemu dengan Elena. Kiri kanan, kanan kiri, bulu matanya yang indah itu semakin bertambah. Akan jadi apakah pembatas bukuku itu kelak? Hatiku terus saja bertanya-tanya. Jawaban apa yang akan aku dapat? Tidak mesti harus sampai halaman akhir. Yang penting adalah jawaban. Tapi tugasku adalah: yang kanan atau yang kiri. Kanan artinya cinta, sedang kiri sebaliknya.

Rasanya aku tidak peduli lagi. Aku harus mengatakan kegelisahanku ini pada Elena. Kulipat koran sore itu. Sebenarnya aku pun tidak membacanya karena pikiranku selalu melayang pada perempuan yang memiliki bulu mata di catatanku itu.

Aku tersenyum ke arah datangnya Elena.

“Sore ini hujan lagi.” Katanya lalu duduk di hadapanku. “Memang sudah musimnya.” Sahutku.

“Ya, semuanya jadi basah dan dingin.” Ia tampak kesal karena baju merahnya basah terkena hujan. Waitress mengantarkan kopi dan cemilan favoritnya.

“Jadi semua orang butuh kehangatan, kan?” Aku menggoda. Ia melirikku datar.

“Akan banyak kodok di luar sana.” Aku tertawa mendengar jawabannya. Ia menghirup aroma kopinya. Aku selalu suka karakter bicaranya.

“Kamu suka kopi jenis robusta?”

“Ya, jenis ini baik untuk kita yang suka bekerja keras. Kadar kafeinnya tinggi, cocok untukku. Kamu?”

“Teh dengan sedikit creamer sudah membawa suasana nikmat. Kopi dan rokok, kamu selalu tampak segar dengan itu.”

“Ya, orang yang kerja malam memang butuh tenaga ekstra.”

“Memangnya apa kerjamu?”

“Ah, kamu tanya itu terus. Nanti juga kamu akan tahu.” Ia memandang ke kaca jendela yang berembun. Aku memperhatikan kelopak matanya. Kali ini kelopak itu tak berkedip sama sekali. Tiba-tiba aku melihat selembar bulu mata Elena terlepas dari kelopaknya.

“Elena, lihat aku sebentar!” ia memalingkan wajahnya ke arahku.

“Bulu matamu jatuh.” Aku mengambil sehelai bulu mata kanannya yang jatuh.

“Yang kanan.” Kataku. Ia tersenyum bahagia.

“Ada yang mencintaiku, Jo.” Katanya setengah berbisik. Namun bulu mata kanan Elena terus berjatuhan. Aku tercengang. Begitu banyakkah yang mencintai Elena?

“Elena, bulu matamu rontok!” kataku pelan karena terkejut.

“Astaga! Aku sudah mengkritingnya di salon, mengganti maskara, merawatnya…. Tapi kenapa….”

“Biar aku….”

“Ah, jangan!” Katanya sedikit terpekik menepis tanganku sambil memegangi mata kanannya.

“Sebaiknya kita tidak usah bertemu lagi, Jo.” Ia mengambil tasnya seraya hendak bergegas.

“Lho kenapa? Tunggu, kamu mau ke mana? Di luar hujan Elena.” Tapi Elena bangkit. Ia menutupi wajahnya. Walau begitu dapat kutangkap pancaran matanya bahwa ia hendak menangis.

“Elena aku tidak keberatan kalau….”

“Cukup! Bilang saja kamu ingin tidur denganku, kan? Aku benci! Kamu telah mengkhianati aku, Jo.” Teriaknya. Spontan saja semua orang yang ada di ruangan ini memandang kami.

“A…apa? tidur?….” Tapi Elena telah menghilang di balik hujan. Tak ada yang tersisa kecuali noda lipstik di cangkir kopinya dan serpihan-serpihan bulu matanya.

***

Berminggu-minggu aku mencari perempuan pemilik selembar bulu mata itu. Tapi tak kutemukan. Sedang semakin maju hari, hujan semakin menjadi. Apalagi perasaan penasaran dan gelisah ini. Elena tak bisa dihubungi, teleponnya tulalit, handphonenya tidak aktif. Dan setiap sore aku selalu ke café, menyediakan waktu duduk dan membaca koran sambil menunggu barang kali Elena mampir. Tapi rasanya sia-sia saja. Sudah begitu aku seperti sah mendapat predikat baru: orang dungu yang menunggu. Hingga akhirnya kala sore yang basah tak ketulungan itu, tiba-tiba orang-orang di dalam café menatap penasaran ke kaca jendela. Mata mereka menerawang menembusi kaca dan gerik mereka mengisyaratkan rasa penasaran. Aku jadi ikutan penasaran. Kututup koran sore itu dan bertanya pada seorang lelaki yang lewat di depanku.

“Di luar ada apa ya, Pak?”

“Ada perempuan gila telanjang hujan-hujanan. Setiap orang lewat ditanya.”

“Ditanya? Memangnya dia mencari sesuatu?”

“Namanya juga gila, nyari kok bulu mata.” Tanpa banyak pikir lagi aku langsung melesat keluar. Dan aku tidak peduli kalau aku harus basah-basahan. Bukankah Elena membutuhkan bulu mata?

Perempuan itu mendekatiku. Ia telanjang di tengah hujan. Aku dapat melihat dadanya yang sebesar tomat. Aku pun dapat melihat kelaminnya mengeluarkan nanah. Matanya cekung dan hitam di sekelilingnya, seperti hiasan smoky eyes walau kutahu ia tidak sedang berhias. Mata itu menatapku kosong, tak berkedip, dan tak kutemukan selembar bulu mata pun di kedua kelopaknya.

“Jo, aku tak bisa tidur. Aku kehilangan bulu mataku. Bukankah kamu masih menyimpan selembar bulu mataku waktu itu?” aku hanya mengangguk tak tega. Elena tampak berubah, ia begitu pucat dan mengkhawatirkan.

“Kamu butuh bulu mata yang mana, yang kanan atau yang kiri?” tanyaku bingung karena merasa asing berhadapan dengan Elena yang tidak berbulu mata. Aku meronggoh kantung celanaku mengeluarkan buku pocket hijauku.

“Dua-duanya.”

“Tapi aku tidak tahu ini kanan atau kiri. Bukankah ini hanyalah selembar bulu mata yang tepat jatuh di bibir merahmu?” Hanya bibir itu yang masih merah, pikirku.

“Tidak masalah.” Katanya lemah. Kelopak mata indah itu telah botak, aku membatin. Tapi mengapa ia tidak berinisiatif menggunakan bulu mata palsu saja meski aku tahu bulu mata-bulu mata palsu itu tidak akan pernah sebanding dengan keindahan bulu mata aslinya. Apakah di saat seperti ini ia masih berpikir bulu mata palsu itu norak?

“Tapi untunglah Elena, selembar bulu matamu telah menjadi banyak. Kamu bisa menyambungnya untuk kedua kelopak matamu di salon.” Kataku senang seraya memberi semangat padanya. Elena hanya mengangguk.

“Tapi tunggu dulu, ke mana saja kamu selama ini? Aku kangen sekali padamu.”

“Kangen?” ia tersenyum. Mungkin ia masih percaya pada mitos selembar bulu mata itu.

“Aku sakit, jadi harus berobat.”

“Apa? Sakit apa?” ia tidak menyahut, tapi nanah yang menetes sederas hujan dari kelaminnya telah menjelaskannya. Namun ia tidak menghiraukan keterkejutanku, kedua tangannya menadah, meminta bulu matanya. Kami sadar, kami sama-sama basah. Mandi basah. Orang-orang mungkin melihat kami seperti orang gila. Padahal kami sama saja dengan mereka, manusia-manusia dengan beragam identitas, manusia-manusia yang mungkin punya lebih dari satu identitas. Sama-sama bermetamorfosis untuk menjadi sempurna.

Aku membuka halaman yang hampir akhir dari buku catatanku. Ternyata catatanku berakhir di halaman kiri yang bertuliskan kanan.

“Elena, aku tahu jawabannya. Ini bulu mata kananmu.”

“Jadi kamu percaya mitos, kan?”

“Bukankah kamu pernah bilang kita kodok?”

“Tidak. Hanya aku yang kodok. Jo, terima kasih telah kangen padaku, tapi aku hanya ingin dicintai.” Elena mengambil bulu-bulu matanya dan memasangkannya langsung pada kedua kelopak matanya. Sungguh, untuk yang satu itu ia tidak membutuhkan jasa salon. Bibir merahnya tersenyum dan ia beranjak lurus sambil melambai. Aku hanya terbengong-bengong saja. Tapi ternyata aku salah lihat, jelasnya Elena tidak berjalan selurus manusia. Ia bermetamorfosis. Ia melompat-lompat seperti kodok. Ya, ia tiba-tiba menjadi kodok.

Maka ketika aku masuk ke kamar apartemenku dalam keadaan kuyup, aku langsung menuliskan tema besar pada halaman kiri bertuliskan kanan di buku catatanku: ”Selembar Bulu Mata Elena Menjadi Kodok.”

***

Gading basah, 9 April 2006
Kado untuk Bang Rois dan Heru

Peluru-Peluru

Cerpen Wa Ode Wulan Ratna

Tak pernah lupa ia pada suara dentuman meriam dan gencatan senjata yang membuatnya bangun pagi-pagi. Ia melihat sinar matahari masuk ke pembaringannya melalui celah jendela yang lapuk. Ia pun terduduk, berucap doa selamat pagi pada Tuhan dan memohonkan kemerdekaan. Ia mengenakan seragamnya, destar merah putihnya, dan pin merah putihnya. Layaknya prajurit yang lain, ia pun bergegas mengambil senjatanya, menyelempangkannya di bahu dan pergi tanpa sarapan apapun kecuali harapan. Ia menyusuri jalan yang tidak rata, berkerikil dan berdebu. Sesaat sebelum ia kembali pada peluru, ia teringat ibu dan menjadi ranum sebab kekasihnya tengah menunggu.

Masa, begitulah masa lalu. Ketika pemuda-pemuda hanya memikirkan bangsa. Tapi derita sayang, itu ibarat hayat yang tak lekang di waktu apapun meski negara telah merdeka. Setiap abad akan selalu datang untuk menghabiskan urat leher.

***

Di sepanjang pematang itu aku lihat kau berjalan dengan terburu-buru sambil menenteng serantang makanan. Mungkin kau akan memberikannya pada Bapakmu yang renta itu dan bukan pada suamimu yang kerjanya menggarap sawah dan memeras keringat dari pekerjaan yang berlumuran lumpur liat. Kainmu mengisut sepanjang lalang yang panjang yang tumbuh dipinggiran tanggul, membuat udara sengal dan aku gerah melihatnya.

Kau yang hamil muda itu begitu lincah menapaki setapak itu. Sebenarnya, ingin kuhancurkan benih dalam rahimmu. Tapi tak bisa, sebab ia terlindung oleh ketuban dan air itu membuatnya hangat lagi nyaman. Bisa saja benih yang baru tumbuh segempal itu berenang seperti kecebong dan berbahagia dalam naungan doa-doa di dalam sana. Sungguh rasa cemburuku tak bisa menghancurkannya, sebab air adalah kekuatan alam dan aku masih menyimpan memori kandungan. Ruang yang lembab dan lindap itu adalah benih di mana ruh mulai mengendus dan berkelemayar diterangi cahaya. Licin dan liat.

Begitu pun halnya denganmu. Dulu, dengan air mata itu bagaimana bisa aku melukaimu? Seperti halnya bumi yang diberkati air, dengan air yang menjadi tamengmu, kau adalah perempuan-perempuan yang dengannya kehidupan tumbuh. Begitulah wajah feminin Tuhan menciptakan perempuan.


“Prita!” aku memanggilnya. Ia tersenyum, berhenti dari langkahnya dan melambaikan tangannya padaku. Segera aku menghampirinya.

“Mau ke mana buru-buru?” Aku melihat rantangnya lalu perutnya.

“Ah, Mas Khalis. Biasa, aku ingin menjenguk Bapak, tak ada yang mengurus.” Ia masih malu-malu seperti dulu.

“Masmu tidak mengantar?”

“Kasihan dia. Sibuk.”

“Kalau begitu biar aku antar.” Aku menawarkan jasa untuk menenteng rantangnya. Kami berjalan beriring sepanjang pematang.

“Kau sudah mengurus kartu untuk mendapatkan dana kompensasi itu? Untuk Bapakmu?” ia tampak ragu menjawabnya.

“Aku diberi kepercayaan oleh pembarap untuk menjadi petugas lapangan. Bapakmu kan mantan pejuang, ia harus mendapatkan dana itu.”

“Mas Khalis bisa bantu? Aku tidak mengerti cara-caranya.” Kali ini aku yang ragu sebab ia sudah bersuami.

“Ya. Tapi ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi aku kira. Nanti aku lihat lagi. Tapi kau bisa lihat dulu ke Pak RT, barang kali nama Bapakmu sudah terdata. Itu akan sangat memudahkan.” Kulihat matanya berkesap-kesip. Angin berkesiur dan hanya aku yang tahu hatiku telah menjadi bubur.

Betapa anehnya perjalanan ini perempuanku, dulu pernah kita berjalan berdua seperti saat ini, bergandengan tangan mesra dan merajut mimpi-mimpi bersama. Kadang kita lepas tertawa karena canda dan angan-angan kita. Tapi kini perempuanku, kau menjadi makmur sementara aku tetap seorang pengangguran yang menurut Bapakmu suka mencari muka.

***

Ia memilah-milah bongkahan arang, mana kiranya yang layak untuk ditelan sebagai pengganjal perut. Anak perempuannya belum datang dan ia tak mau menunggu terlalu lama bila ingin terus bertahan hidup. Biasanya anak perempuannya itu mampir tiga hari sekali. Membawakannya beberapa kilo beras, sambal petis dan teri. Atau sesekali bila sedang beruntung membawakannya hasil ladang, sayur yang telah diolah. Dan dalam sebulan, anak perempuannya itu akan mengurusnya sehari saja dengan penuh ketelatenan. Menginap sehari dan membuatnya lupa pada arang-arang itu.

Para tetangga sebenarnya suka mendengar cerita-cerita perjuangannya. Ia serasa menjadi muda kembali, menjadi gagah dan perkasa bila sedang menceritakannya. Namun mungkin kini mereka sudah bosan mendengarkan ceritanya sehingga ada saja yang memberinya sesuatu ketika ia hendak mengeluarkan kata. Mereka merasa iba dan salut akan kesanggupannya hidup dari memakan arang.

Matanya sudah meleleh. Rambutnya sepenuhnya telah dihiasi bulu masu. Wajahnya berkeriput dan tangannya selalu gemetar. Ia getir menelan hidup dan pengalaman, tapi ia bahagia memiliki kenangan. Mungkin orang-orang sudah tak akan bangga padanya sebab ia hanyalah masa lalu.

Tiba-tiba didengarnya pintu reot itu diketuk. Dikunyahnya satu arang dan berkata, “Siapa?”

“Ini Prita, Pak. Prita bawa makanan dan kabar.”

***

“Bapak Wadiman, sebenarnya Bapak sudah terdaftar di sini, tapi Bapak harus mengurus kartu kompensasinya ke kelurahan.” Laki-laki tua itu melirik Munir.

“Apakah harus membayar?” Tanya pemuda itu.

“Tidak perlu. Pejabat dan petugas, sudah ada yang membayar.” Pak RT tersenyum. Tapi Munir tahu harus ada uang brosur yang harus digantinya dan uang rasa tidak enak. Mereka pamit.

“Bapak tidak punya uang. Jangankan untuk membayar uang terima kasih, untuk ongkos ke kelurahan saja tak ada.”

“Sudahlah, Bapak tak usah pikirkan apa-apa.”

Aku meradang ketika melihat laki-laki itu rengsa beranjak dari sawah liat. Aku tak ingin menegurnya, tapi seusai ia melunyah lahan petaknya, aku sudah terlanjur melihatnya.

“Khalis!” Ah, jancuk! Mengapa ia mesti memanggil? Aku tak bisa berpaling. Ia mendekatiku semakin dekat dan ingin rasanya kutinju batang hidungnya.

“Aku dengar dari Prita kau jadi petugas jaga pos pengaduan.” Katanya. Aku sebal dia menyebut nama istrinya.

“Ya.” Tapi aku merasa bangga dengan jabatanku sebab aku punya pekerjaan yang lebih baik dari melunyah sawah.

“Pak Wadiman, ayah istriku, belum mendapat kartu. Sedang pengambilan dana tinggal tiga hari lagi.”

“Ya, dia sudah bilang padaku. Aku sekarang mau ke pusat, nanti segera aku beritahu syarat-syaratnya. Yang pasti pengambilan dananya tak dapat diwakilkan.” Ia menggangguk dan aku mohon diri. Oh Munir, mengapa kau sengaja menghancurkanku?

“Bagaimana kau bisa. Dulu pemuda-pemuda tidak ada yang selemah pada masa kini. Apa kau tidak tahu setiap saat mereka bisa saja dicekat pelor?” lelaki tua itu, yang sudah sepuh, menghinaku dengan cerita-cerita perjuangannya yang mengagumkan. Ia menunjukan bekas peluru pada lengan kirinya dan ia masih mengantungi pin merah putihnya serta menyimpan baik-baik penghargaan veterannya dari Bapak Presiden. Mungkin kelak ia akan membawanya keliang kuburnya.

Kata-kata itu masih terngiang di telingaku. Baginya aku hanyalah pengangguran yang bagai benalu. Tentu ia tak mau anak perempuannya makan arang juga seperinya.

Aku menghela nafas. Udara menjadi hangat, perlahan dingin akan segera datang sebab malam sebentar lagi merayap. Aku lihat sebongkah musim mengambang. Mereka adalah orang-orang yang penuh derita, sama sepertiku, berbaring dalam altar nasib. Tapi luka lebih parah, sebab aku tak mampu berbuat apa-apa demi cinta. Demi Prita. Mengapa perempuan itu bisa bahagia dengan seorang laki-laki selain aku?

Aku susuri gili-gili pada tepi jalan. Mataku menatap pohon suren dari jauh sana. Pikiranku melalang buana ke tempat di mana orang-orang mencari keberuntungan dengan jalan melanggar hukum tapi bisa dianggap biasa atau memenuhi prosedur. Semuanya pasti akan beres dan tak kentara. Sebab aku adalah petugas jaga. Tak akan ada yang tahu aku berbuat sama seperti para calo kartu-kartu itu. Aku tersenyum dan meludahi jalan setapak itu.

***

Sungguh berkah musim dalam siruh-surihnya. Mata tua itu memandang keluar jendela. Melihat ranting-ranting patah dan bulan pucat kehabisan darah. Ia raba lengan kirinya. Ia ingat selongsong peluru panas pernah menembus lengannya. Betapa indahnya medan yang penuh darah itu. Ia dan teman-temannya berteriak seperti kini para mahasiswa yang berdemonstrasi. Dulu adalah zaman-zaman cinta yang manis. Di mana manusia menaburkan lidah-lidah belasungkawa dan doa-doa berletusan ke angkasa setiap hari.

Hari ini ia kehilangan uang yang tak pernah ia miliki. Anak perempuannya yang membayarkan kartu kompensasi itu untuknya sebesar lima puluh ribu rupiah. Petugas baru membelikannya kartu bila ia telah membayar. Itulah yang dikatakan Munir, menantunya.

“Pak, sekarang di kota, kencing saja harus bayar.”

“Ya, Tuhan! Jadi mendapatkan dana juga harus bayar? Kemarin kan kau dengar sendiri kata Pak RT?”

“Ya, memang begitulah yang sudah tertata.”

“Ah keterlaluan betul mereka! Setengah mampus dulu aku membela-bela negara ini, masa untuk seorang veteran saja mereka tak mau menanggung sisa hidupku.”

“Sabar, Pak! Yang pentingkan Bapak tak perlu lagi membayar. Setiap tiga bulan mendapat dana.” Munir menatap arang di atas meja. Tentu ia tak menginginkan ada arang lagi di atas meja makan mertuanya.

“Aku ini sudah bau tanah. Sebenarnya tak butuh pula uang, arang saja sudah cukup. Rencananya, aku ingin tabung uang itu untuk membeli sepetak tanah kuburku.” Munir diam. Ia memaklumi tingkah Bapak istrinya. Banyak orang tua yang seperti itu bila mereka telah benar-benar tua.

Ia pergi setelah menyerahkan kartu itu. Ada perasaan sungkan entah mungkin karena tidak enak ketika lelaki tua itu menerima kartu itu.

Satu hal yang tidak bisa ia lenyapkan dari pikirannya adalah ia mungkin saja menyusahkan anak perempuannya.

Ia berjalan menghampiri jendela dan menekuri dirinya di sana. Besok ia harus mengantri untuk uang tanah kuburnya.

***

Waktu menetes tapi mataku berjalan di tengah-tengah. Sosok perempuanku menunggu, wajahnya tampak diremas-remas oleh perasaan cemas. Ia diam saja di sudut itu, sesekali ia melongok melihat sudah sampai mana Bapaknya mengantri.

Maafkan aku, Prita. Aku tak tahu bagaimana seharusnya orang tuamu yang tinggal satu itu harus membayar harga diriku sebagai laki-laki pemujamu.

Antrian itu mulai berdesak-desakan. Beberapa orang ibu-ibu tiba-tiba datang dengan penuh emosi dan mengeluh padaku sambil marah-marah. Mereka mengeluhkan karena mereka tak mendapatkan kartu padahal mereka terdaftar sebagai orang miskin. Mereka juga mengeluhkan kalau orang-orang yang mendapatkan kartu adalah orang-orang yang mapan yang hanya mengambil dana itu untuk sekadar membeli pulsa telepon selularnya.

Antrian semakin tidak beres, sebab baik yang sudah memiliki kartu atau belum bercampur menjadi satu. Panas yang membakar mulai hadir di kepala para penyandang dana. Mereka yang tidak memiliki kartu marah-marah di loket terlalu lama sedangkan antrian terlalu panjang.

“Hoi, Bu jangan lama-lama di situ! Kita di sini juga ngantri.”

“Pak, bagaimana ini? Penghasilan saya kan tidak sampai seratus ribu per bulan. Masa Bapak tidak percaya?”

“Ya, kartu bisa menyusul yang penting kan namanya sudah terdaftar di kantor RT.”

“Wah maaf, Bu. Tidak bisa seperti itu, semua sudah ada peraturannya.”

“Gimana sih pemerintah ngurus rakyatnya?”

“Jangan gitu, pemerintah juga kasihan. Rakyatnya kan banyak, Bu.”

“Yang sabar, Bu.”

“Situ enak ngomong, sini kelaparan.” Tiba-tiba semuanya menjadi kacau. Para petugas akhirnya turun tangan dan aku lengah memantaumu.

Orang-orang itu berteriak huru hara, menjadi berang. Mereka semua kesetanan terpanggang emosi. Aku tak mengerti apa yang terjadi. Mereka saling dorong dan begitu kasar. Orang-orang yang aku kenal jinak-jinak itu menjadi liar tak terkontrol. Riuhnya mereka, teriakan mereka, membuat hatiku bergetar. Inikah kemarahan orang-orang miskin?

“Tolong bawa Bapakku! Tolong bawa Bapakku!” aku mendengar suara Prita, perempuanku. Waktu berjalan terlalu cepat dan aku tak sempat mencerna. Dana itu lumer ke tangan-tangan yang mungkin bukan haknya dan aku hanya bisa melihat wajahmu merah dan dilumuri air mata.

Ia tidak menyahut. Sebutir peluru menyambutnya lagi. Kali ini tidak di lengan kirinya. Tidak pula di lengan kanan. Tidak di mana-mana. Tapi di jiwanya.

Lelaki tua itu menjadi ringan dan kembali muda. Ia bangkit dari pembaringannya, mengantongi peluru dan menyandang senjatanya di bahu. Tak lupa ia bersiul tentang lagu-lagu kemerdekaan. Ia menapaki pagi itu dengan ditemani mimpi sebab apalagi yang membuat manusia terjaga selain mimpi?

Lelaki itu ingin pergi dari dunia tuanya dan kembali ke masa lalu. Di mana perjuangan bukanlah menjadi sesuatu yang sulit seperti masa kini. Perjuangan baginya adalah dendang yang menyenangkan. Sungguh tuanya adalah penjajahan atas kerjakerasnya di masa muda.

Lelaki itu tak ingin lagi menengok ke belakang meski anak perempuannya memanggilnya. Sudah saatnya zaman berganti dan ia harus undur diri dan digantikan generasi baru. Tapi ia takut menengok ke belakang, macam itukah orang-orang yang akan melanjutkan perjuangannya?

Anak perempuannya sudah besar dan ia tak memerlukan dirinya lagi. Anak perempuannya telah mendapatkan suami yang benar dan ia bisa pergi dengan tenang.

Lelaki itu lelah. Ia tak tahu bagaimana akan dikubur sebab ia belum mendapatkan sepeser pun. Tapi ia tahu, bumi akan menerima dengan senang hati dan menanam jasanya seperti ia menimbun pin merah putihnya di dalam kantong baju seragamnya.

***

Padang-padang tengadah. Kabut malam belum luruh tapi air matamu telah jatuh. Kau yang diiringi orang-orang itu kini menjadi yatim piatu. Di dada lelakimu kau bersandar dan tersedu. Ada laki-laki hebat pemakan arang yang telah wafat untuk uang kuburnya. Aku merasa naas. Ada penyesalan dan rasa bersarah di dadaku seperti tertembus peluru-peluru itu.

Air mataku luruh. Aku memang tidak suka pada Bapaknya tapi tak ingin membunuhnya. Ada banyak kejahatan yang orang-orang sepertiku perbuat dan mereka tak pernah merasa berdosa bahkan mengulanginya berkali-kali. Tapi mereka tak pernah dilindungi cinta sehingga mereka tak tahu bagaimana rasanya menderita.

Para penduduk yang tidak puas itu masih melapor padaku. Aku sibuk mencatatai keluhan mereka yang isinya sama saja. Tidak mendapat kartu, harus membayar uang administrasi, orang-orang yang mendapat dana bukan orang-orang miskin yang memang harus mendapat subsidi. Duh, kaya betul pemerintah mau memberi dana untuk itu setiap tiga bulan. Aku jadi ingat bagaimana Nabi Sulaiman meminta pada Tuhan untuk memberi makan ikan di laut sehari saja.

Tapi aku tak bisa berpikir serius. Pikiranku selalu kembali padamu.

“Mas Khalis, Pak Wardiman meninggal.”

“Ya, aku sudah tahu. Ia meninggal karena sudah tua. Sudah waktunya.”

“Ia meninggal karena kehabisan nafas terjepit dan terdorong-dorong antrian.”

“Salah sendiri kenapa orang-orang tidak mau sabar.” Aku menyelesaikan catatanku. Semua orang sudah tahu, dulu aku sangat mencintai Prita.

“Lho, Mas Khalis kok ngomong seperti itu?” Anak muda itu menatapku dengan tatapan herannya, tapi aku tidak peduli. Dia juga sudah tahu masa lalu.

“Sudah. Kau mau lapor apa?”

“Sepertinya di desa Kuwu tempat tinggal Pak Wadiman, ada yang tidak beres. Mas harus tahu, pembayannya Pak RT juga dapat dana. Jangankan itu, bahkan Pak Haji saja dapat kartu, keluarga bermotor juga dapat kartu. Masa yang dapat kartu orang-orang semacam itu?” Aku mendengarkan cerita anak muda itu baik-baik.

“Aku juga merasa ada hal yang tidak beres.” Pemuda itu tersenyum. Ia senang mendegar jawabanku. Aku harus melaporkan berita ini ke pusat.

Orang-orang telah berkumpul di halaman rumah Pak RT malam ini. Hatiku rengsek usai pemakaman Pak Wadiman. Betapa bencinya aku dengan pejabat rukun tetangga itu. Kalau bukan karenanya tentu aku tak perlu memungut uang untuk sekadar mempermainkan laki-laki tua itu. Dan orang itu sudah seharusnya menguruskan kartu dana itu bagi penduduknya yang sudah terdaftar katagori miskin. Tentu mereka tak akan berebutan minta subsidi dan berdorong-dorongan hingga menghilangakan nyawa seorang veteran.

“Saya kan sudah bilang saudara-saudara, semua keluarga miskin pasti mendapat dana kompensasi tunai.” Kata Pak RT menenangkan kerumunan.

“Alah, persetan! Kami setuju kalau semuanya tidak kebagian dana daripada keluarga dekat petugas saja yang mendapat kartu dana itu.” Celetuk seorang warga.

“Kalian bicara apa? Jangan emosi begitu.” Pak RT membela diri. Aku pikir kerumunan itu sebentar lagi mulai bertindak anarkis.

“Saya tahu, yang menerima dana bahan bakar minyak itu keponakannya sendiri.” Ujarku memberanikan diri.

“Khalis? Kalian semua hendak mendemoku? Memang benar suami keponakan saya dapat dana tapi lantaran mereka memang layak dapat.”

“Sudah. Kalian bubar! Tidak tahukah kalian bahwa tadi sore seorang warga kita meninggal?” kata seorang hansip, tapi penduduk terus berteriak-teriak. Mereka tidak puas dengan jawaban itu.

“Pak RT macam apa yang kita punya ini. Kita hancurkan saja semua….” Seorang pemuda berteriak dari belakang. Tiba-tiba hatiku bergetar dengan dasyatnya. Bahkan aku melihat ibu-ibu mengacungkan golok ke angkasa. Masa beringas, lebih beringas dari antrian siang tadi. Aku tak sanggup membendung mereka. Mereka tumpah bagai air bah dan membanjiri rumah Pak RT.

Mereka berlarian, berhamburan, seperti anai-anai di musim panen. Mereka melempari batu, melempari caci, seperti melempari peluru-peluru. Begitu keras dan beringsatan.

“Tolong hentikan!”

“Kami marah. Di mana kalian taruh perut kami?”

“Kami ingin kartu-kartu itu tanpa perlu membayar atau ada potongan!”

“Hentikaaannn….”

Sisa malam menyusut menjadi batu. Batu-batu berhamburan memecahkan mimpi semalam. Pintu rumah itu telah koyak dan isinya berhamburan ke mana-mana. Kertas-kertas, surat-surat, semua terobrak-abrik. TV 24 inchi pun menjadi sasaran keberingasan warga. Yang lolos hanya beberapa kwintal beras raskin saja. Ia berhamburan di lantai marmernya.

Aku mengelus dada. Salahku?

Pagi ini, di rumah seorang petugas jaga malam tempat Pak RT melarikan diri, pejabat rukun tetangga itu menghabisi nyawanya sendiri dengan mereguk racun serangga. Istri dan anak-anaknya meraung-raung. Mereka bilang Pak RT semalaman stres berat dan merasa terteror.

Aku tak tahu pernyataan itu benar atau salah. Tapi kematian Pak RT tidak menyurutkan rasa kacauku dan rasa bersalahku padamu.

Prita, dengan tudung hijaumu kau berdiri kaku di atas gundukan tanah merah itu. Menebar doa, tangis, dan kata-kata. Suamimu mungkin menunggumu di pematang. Kini semua orang tak akan lagi mendengarkan cerita perjuangan dari bibir Bapakmu. Tidak pula mereka merasa iba lagi dengan arangnya di atas mejanya.

Aku menghampirimu. Melihat rantang yang kau bawa lalu melihat perutmu yang tengah hamil muda. Tentu rantang makanan itu untuk suamimu.

“Prita, bagaimana kabarmu? Aku turut berduka atas kematian Bapakmu.” Ia tidak menyahut. Air matanya mengalir saja.

“Kasihan Bapak.”

“Ya.”

“Kau sendiri saja?” dia tidak menyahut.

“Biar aku antar.” Tapi ia menggeleng, menyusut air matanya dan pergi begitu saja.

Kau yang hamil muda itu berjalan tanpa semangat. Tapi kainmu mengisut rerumputan dan membuat mereka segar. Sebenarnya ingin kuhancurkan benih dalam kandunganmu itu. Tapi aku tak bisa sebab ia tidur sepertiku dulu, meringkuk seperti trenggiling dibalut ari-ari dan ketuban. Sungguh air adalah kuasamu, Prita, perempuan-perempuan yang sempurna dengan air mata.

Perlahan kau terobos matahari, menyusuri setapak itu. Tak kau hiraukan peluru-peluru menembus jantung dan hatiku, meninggalkan luka dan bekas yang menganga. Bapakmu mungkin membawa bekas pelurunya sebagai kenangan, tapi aku mati begitu saja tanpa pujaan. Kau pun ingin segera raib dalam pandangan.

***

Kelapa Gading, 2006

Catatan:

Destar: Ikat kepala.

Pembarap: Kepala Desa atau Lurah.

Berkesap-kesip: Berkedip-kedip.

Melunyah: Menginjak-injak tanah supaya gembur dan lunak.

Gili-gili: Jalan kecil yang agak ditinggikan (tempat yang berpaya-paya).

Pohon Suren: Pohon yang kayunya dibuat papan.

Pembayan: Saudara ipar.

Cari Aku di Canti

Cerpen Wa Ode Wulan Ratna

Siti Rahma suka berlama-lama berdiri di tepi pantai itu. Ia menatap langit. Mungkin menatap langit yang cerah keabu-abuan, mungkin pula memandangi Gunung Krakatau yang tersaput kabut sambil menduga-duga kapan kiranya ia meletus lagi. Bila ia duduk di pasir putihnya yang lembut, ia akan menjulurkan kakinya yang mulus putih itu hingga mendapatkannya dipeluk riakan gelombang laut yang asin. Atau bila ia bosan berdiri dan duduk-duduk, ia pasti meninggalkan jejak-jejak telapak kakinya pada bibir cinta itu. Memungut koral di sepanjang pantai dan membiarkan dirinya raib tertimbun kabut senja dan kemudian lenyap dirimbunnya malam. Setelah itu, orang-orang akan bertanya-tanya; ke manakah ia pergi?

***

Siti Rahma hilang lagi.

Itulah berita yang kesekian kalinya kudengar dari orang tuanya. Dan aku pun tak tahu mengapa aku merasa benar-benar bertanggung jawab atas kehilangannya kali ini. Atau mungkin karena ia tidak membalas email dan SMS-ku? Mungkin ia memang sudah muak dengan teknologi dan membuang handphonenya jauh-jauh ke laut. SMS terakhirnya hanya berbunyi, “Aku di Canti.”

Aku duduk tenang di dalam nuwo penduduk tempat Siti Rahma menginap. Mataku tak lepas dari jendela memandangi gadis itu yang berdiri di tepi pantai Canti. Ia memperhatikan setiap golakan gelombang pada laut hijau bersih itu yang sewarna dengan syalnya. Ia pasti sedang mencari inspirasi tentang sesuatu yang dalam dan memikat. Rambutnya yang sebahu tipis itu kusut disisir angin pagi. Kabut dini hari masih mengambang mengibaskan sejuk. Aku tak pernah tahu apa yang ada dibenaknya. Ia seakan enggan untuk ditebak.

Aku ingat percakapan malam itu di balkon kamarnya saat di Jakarta, memandangi langit malam dengan sedikit bintang-bintangnya yang berkedip, “Betapa nikmatnya menjadi seorang engkau, sayang.” Aku hanya menatap tubuhnya yang langsing semampai itu dari belakang diterangi cahaya merkuri lampu jalan. Syal hijaunya mengibas-ibas terkena hembusan angin tropis yang berdebu yang membuatnya dan pantulan bayangnya bagai sosok Jonggrang yang anggun turun dari purnama.

“Ah, sudahlah, Pras. Tak perlu disesali. Aku sudah terlanjur jatuh cinta, “ ia menoleh padaku. Pada matanya yang perak itu, selain menyimpan 1,5 minus dibalik kacamatanya, aku tahu ia menyimpan bulir-bulir mutiara yang siap meluncur di sudut-sudutnya.

“Rahma, dunia ini milikmu,” kataku pada akhirnya. Bukan lelah aku memberinya semangat terhadap studinya seperti apa yang selalu ia lakukan untukku. Ia menatap amplop yang aku taruh di meja sebelum akhirnya ia menatap langkah kakiku yang membuatnya berdua bersama sepi.

Kini aku mendapatkannya di Canti. Aku tak tahu di mana pantai Canti sebab baru pertama kalinya aku keluar kota seorang diri menyeberangi selat ke tempat di mana aku tak tahu apa-apa. Tapi aku seperti mendapatkan kabut, sebab sepertinya ia tidak menginginkan kehadiranku dan tak ingin membagi keindahan pantai cantik ini padaku.

Sudah dua hari ini aku di Canti bersama patung rupawan yang belum juga mau berbicara banyak padaku. Entahlah, apa yang ia lakukan saja berhari-hari di sini. Kabur dari asrama kampus dan membawa seluruh peralatan lukisnya?

Aku seperti ubur-ubur yang terombang-ambing saja di kotanya ini. Dari Bakauheni aku dioper ke Kalianda lalu dioper lagi ke keberbagai tempat. Melewati dua tiyuh Maja dan Rajabasa. Bertanya kepada setiap supir angkutan dan kemudian sampailah aku ke Canti setelah melewati sebuah rute yang seperti meander. Aku berbelok-belok menelusuri panjang perjalanan untuk sampai pada sebuah perabuan di mana kini Siti Rahma bernafas. Namun sampai di sini ternyata aku seperti tak bernyawa di hadapannya.

Ya, sampailah aku di sini, sebuah pemukiman penduduk dengan nuwo-nuwonya yang tertata sedemikian rupa. Mungkin jika tiyuh ini adalah sebuah kota, maka ia lebih tepat disebut kota tua yang rupawan. Begitu kuno dalam perawatan waktu dan alami dalam goresan alam. Lalu bertanya aku pada seseorang tentang seorang gadis bernama Siti Rahma. Ia menunjukanku jalan menuju Siti Rahma bersandar dalam pelariannya. Sebuah pantai yang tenang dan sejuk.

Itulah kulihat pertama kali ia berdiri di situ seperti saat ini. Aku datang menghampirinya dan diam-diam saja bersebelahan dengannya. Ia sama sekali tidak terkejut atas kedatanganku. Memang SMS terakhirnya hanya menyatakan di mana ia berada sementara seisi rumahnya dirundung kebingungan atas berita hilangnya ia. Ia sama sekali tak menginginkan ada yang datang menjemputnya, sebab tak ada seorang pun di rumahnya, dan tak terkecuali aku, yang tahu di mana Canti.

Seorang ibu pemilik rumah tempatnya bernaung menaiki ijan sambil membawa segelas teh. Teh itu masih mengepul dan menawarkan aroma melati yang manis. Ia tersenyum padaku dan meletakan teh itu di meja. Kuhisap rokokku dalam-dalam sambil tak lepas memandangi gadis setengah matang itu mematung di bibir pantai.

“Dia memang suka seperti itu kalau datang kemari,” kata ibu itu. Ia mempersilahkan aku untuk mencicipi teh yang masih mengepul itu.

“Biasanya dia datang ke sini dua kali dalam seminggu. Hanya saja sudah empat hari ini dia tidak mau kembali.” Aku memalingkan wajahku pada ibu itu. Sang ibu tersenyum. Tampak wajah mudanya belum pudar meski tertutup kerut-kerut halus usia dan kelelahan.

“Kalau tidak melukis, ia pergi ke Goa Sawung. Ia suka menikmati pemandangan. Dia suka mengumpulkan kulit siput dan koral. Di kamarnya banyak sekali koleksinya itu.” Aku manggut-manggut, mematikan rokok dan mencoba mencicipi teh yang diseduhkannya untukku. Ternyata Siti Rahma sudah seperti anak sendiri bagi ibu itu atau tepatnya bagi tiyuh ini. Ibu itu kemudian memohon diri sebab ia harus ke pasar dan membeli bahan-bahan untuk makan siang nanti.

Beberapa teguk dari teh itu telah melunasi dahagaku, tapi aku tetap saja kacau. Rasa haus yang melanda perasaanku tak juga terpuaskan. Maka kuturuni ijan dan berjalan menuju gadis itu. Dari belakang kulihat syal hijaunya berkibar-kibar seperti rambutnya, ia juga kusut diremas angin pantai.

Nyo kabah?” tanyanya ketika aku telah berdiri cukup lama di sampingnya. Aku tersenyum dan menatap apa yang sedang ia tatap.

“Baik. Pagi yang selalu indah di sini, ya?” ia tidak menyahut dan terus memandangi bentangan alam yang dibuat Tuhan.

“Aku tak enak dengan orang tuaku. Memang sudah selayaknya Ayah marah padaku karena indeks prestasiku turun drastis. Mereka telah berkorban banyak untukku.” Akhirnya ia mulai berkata-kata setelah sekian hari aku hanya didiamkan saja. Mungkin ia telah usai marah padaku sebab berani-beraninya aku datang ke Canti dan memergokinya bersama lukisannya. Aku tak mau komentar apa-apa. Aku ke sini meski membawa pesan dari orang tuanya untuk mencarinya, tapi tujuanku sendiri adalah mengetahui kalau ia baik-baik saja.

“Ah Pras, seharusnya tak kuberi tahu kau kalau aku ada di Canti yang membuatmu datang.” Dari kata-katanya aku tahu ia tak suka ada orang yang mengganggu kesendiriannya.

“Tapi kau lari dari kenyataan, Rahma.”

“Lho, kau ini bagaimana? Katamu dunia ini milikku?” Aku tahu, setiap kata-kata baginya bernilai kesumat.

“Ya, tapi aku mengkhawatirkanmu.” Ia tersenyum, mengulum tawanya. Ia suka aku berbicara seperti itu. Tapi kemudian wajahnya kembali murung. Sesuatu yang merah dan mengemaskan menyembul di dua pipinya. Kami diam berlama-lama. Aku tak mau lagi ada kata-kataku yang meluncur begitu saja dan membuatnya hilang dari pandanganku saat ini juga.

“Ke mana handphonemu?”

“Aku jual. Aku ingin menginap di sini lebih lama dari yang mereka bayangkan.” Kami berdiaman lagi. Sama-sama menatap Gunung Krakatau yang berdiri anggun dan angkuh. Gunung itu nyaris hilang dari pandangan mata sebab kabut tebal dan awan melingkupinya.

“Gunung itu pernah meletus tanggal 27 Agustus di tahun 1887. Tanggal dan bulannya sama dengan hari kelahiranku,” ia tersenyum seakan mengingat bagaimana Siti Rahma kecil berlari-lari di tepi pantai Ancol dengan perasaan bahagia dan tanpa beban pikiran apapun.

“Pras, tahukah kau aku mengoyak sepi di tengah semangat yang kupancarkan padamu untuk hidup? Tak ada yang berbeda sebenarnya di antara kita selain rasa sepi.” Ia memandangku. Pipinya masih meranum seperti tomat muda. Matanya yang tak berkacamata itu membuat wajahnya menjadi sangat lembut dan serasi dengan alam pantai Canti yang senantiasa muda.

“Menurutmu, Agustus nanti ia akan meletus lagi?” ia menunjuk gunung itu, aku tersenyum padanya dan aku menggeleng kuat-kuat. Aku tak suka ada bencana alam gunung meletus. Ia tertawa. Tawa yang renyah seperti biasa kukenal ia. Tapi tawa yang ini seakan begitu janggal, sebab seperti ada suatu perasaan yang ia sembunyikan padaku.

“Mau ikut atau mau berenang? Aku mau ke Goa Sawung, mumpung lagi surut dan masih sepi.” Ia berjalan meninggalkanku tanpa menunggu jawabanku. Aku tersenyum menatap gadis itu yang sesekali berhenti dan membiarkan kakinya disapu air laut dan sesekali pula memunguti koral dan kulit siput yang dibimbing laut padanya.

“Siti Rahma, kau tak salah memilih tempat….” Teriakku, tapi ia tidak menoleh. Namun aku tahu pipi itu masih memerah entah karena apa dan aku pun tahu ia menyembunyikan sebuah senyuman untuk kubawa pulang besok sebab ia memang menghendaki kata-kataku yang demikian. Ia nampak begitu manja dan kanak-kanak tanpa kacamata minusnya, pikirku sebelum akhirnya aku mnyelami hijaunya laut Canti.

Aku menyusulnya ke Goa Sawung. Siti Rahma tampak bak ratu pantai yang tercenung di bibir goa yang ternganga. Ia melambai padaku dan mengharapkan kedatanganku. Sebuah lambaian yang memikat. Aku menghampirinya dan ia langsung menarikku untuk menikmati dinding-dinding goa alam itu. Tapi ia tak menjelaskan apa-apa di dalam goa itu. Aku tak pernah tahu apa yang dipikirkan gadis itu saat ia melihat-lihat stalagmit dan stalaktit yang bergelantungan di dinding bawah dan atas goa. Atau saat ia terpesona pada sinar matahari yang tipis menerobos celah-celah dinding goa.

Mungkin Siti Rahma enggan berbicara padaku. Kulihat ia meraba-raba gelap dan kabut seperti bayi yang meraba ujung dan pangkal kehidupan. Aroma dingin yang menyekap badan goa karena musim hujan membuatnya tampak begitu pucat dan bersinar seperti kunang-kunang. Ia seperti lentera yang membuatku dengan jelas melihat segala ornamen dinding-dinding bisu itu.

Diam-diam aku memperhatikan gadis itu. Aku tak pernah tahu apa yang ia pikirkan. Aku pun tak tahu sudah berapa lama ia bersahabat dengan sepi. Lama kelamaan aku berpikir, paras lembut dan melankolis itu memang lebih pantas menjadi seorang seniman ketimbang dokter. Tapi tiba-tiba aku terjebak. Ia memergokiku yang diam-diam memperhatikannya, “Kenapa?” tanyanya. Aku menggeleng dan tak kuat menahan senyum, dalam terang yang redup dan hangat itu dapat kursakan pipinya bertambah merah.

“Jadi kau menikah Desember nanti, Pras?” ia memalingkan wajahnya dari tatapanku.

“Ya. Terima kasih atas pinjaman uangnya semester lalu.” Kataku mencoba mengalihkan pembicaraan. Sebab menyinggung masalah itu rasanya menciptakan obrolan yang kaku sekali. Mungkin juga karena kini aku menebak kenapa pipinya tiba-tiba tambah memerah seperti apel. Mungkinkah ia cemburu. Siti Rahma adalah sahabatku sejak kecil. Banyak sudah kami saling berbagi kecuali yang satu ini.

“Kenapa? Aku bersedia menjadi seksi repot di hari pernikahanmu.” Aku tak dapat menggambarkan dengan jelas ekspresi wajahnya dan memang aku tak berani menduga dan membayangkannya.

“Rahma, kamu masih mau kan kembali ke Jakarta?”

“Tentu. Di sanakan rumahku, tapi aku mau lebih lama tinggal di Canti.”

“Kuliahmu?” ia mendengus membuang sisa uap lelah hatinya. Ia menarik tanganku dan mengajakku keluar perut goa. Ia menjelaskan tanpa menjawab pertanyaanku bahwa sebentar lagi akan banyak pengunjung yang datang untuk menikmati panorama dari goa sawung ini. Ia menjelaskan mengapa goa ini disebut sawung sebab bentuknya yang seperti lubang. Sawung artinya lubang. Ia terlambat menjelaskan itu semua padaku, seharusnya ia menjelaskannya di bagian terdepan waktu pertama kali aku masuk dari mulut goa.

Ia melepaskan gandengannya ketika keluar dari mulut goa dan aku mengikuti langkahnya dari belakang. Namun ia menungguku untuk dapat berjalan beriring. Aku menggandeng tangannya. Ia tampak sedikit berseri. Aku malah yang terkejut, tangannya sedingin es di kutub sana. Baru aku menyadari kalau seluruh bajunya basah seperti ia habis berenang.

“Pras, kapan kau pulang?” Ia menyenderkan kepalanya di bahuku.

“Besok.” Jawabku singkat.

“Nanti malam ada canggot bakha. Nakao bisa lihat banyak muli mekhanai di tiyuh Canti menyanyi-nyani. Nanti nakao lupa punya kekasih di Jakarta.” Ia tersenyum menatapku dan kembali menyandarkan kepalanya di bahuku. Bicaranya begitu cepat dan menggoda aku tak dapat menangkap dan mengerti maksud yang ia bicarakan. Ia benar-benar telah jatuh cinta pada Canti.

“Terima kasih sudah datang, Pras.” Katanya sebelum berpisah di nuwo sebab ia hendak menggambil paletnya di belakang nuwo penduduk yang lain. Begitulah Siti Rahma, aku tak pernah tahu apa yang ada dalam pikirannya. Apakah ia cemburu ataukah ia ragu. Mungkin ia tidak suka atau mungkin juga ia jatuh cinta. Ia juga tidak mau mebicarakan hal-hal yang tidak ia suka meski itu harus dibicarakan. Dan sampai saat ini aku hanya bisa menduga-duga, ia memang tak menghendaki aku datang ke Canti, sebuah pantai milik seseorang dengan bukit-bukit yang menawan dan laut yang menawarkan kepermaian, tapi ia juga tak menginginkan aku pergi darinya.

Malamnya aku terbangun karena resah tiba-tiba merajaiku. Aku keluar kamar dan mendengar suara sayup seorang gadis menangis di kamar sebelah. Hatiku miris. Tapi aku tak mau mengganggu sepinya malam yang pecah karena sedu seorang gadis yang menuangkan curahan hatinya pada alam yang kelam. Ya, ibu itu juga mengatakan kalau Siti Rahma juga suka keluar tengah malam mengamati pantai yang warnanya bersatu dengan langit dan hanya bisa dibatasi dengan tebaran bintang. Apakah tadi Siti Rahma keluar jalan-jalan di tepi pantai tanpa menikmati canggot bakha.

Aku diam terpaku. Duduk rapat di tepi jendela. Sebuah sketsa dan syal hijau tergeletak hampa di meja. Sketsa pantai Canti dengan Goa Sawungnya. Sungguh sketsa untitled yang indah.

“Pras apakah aku cantik?” katanya senja tadi sebelum kutinggalkan ia bersama pantai dan malam yang mulai merayap.

“Ada sesuatu yang cantik yang hilang di pantai ini kalau kau tidak ada.” Kataku sekenanya.

“Itu jawaban yang aku tunggu, Pras.” Ia memelukku tanpa peduli pada penduduk yang lewat. Lama ia tanamkan dirinya dalam pelukanku. Sebelum akhirnya ia mengngkat wajahnya dan kudapati pipinya memerah dan matanya penuh air mata.

“Aku mau buka sanggar lukis di sini. Belum ada kan?” aku mengangguk. Aku tak berani menanyakan perihal kuliahnya. Lalu aku meninggalkannya kembali bersama sepi.

Aku tak tahu ke mana ia sepanjang senja itu. Apakah ia baru pulang setelah menjelang dini hari ini?

Di kamar sana masih kudengar segukan seorang gadis yang mengadu pada sepi dengan bahasanya sendiri tentang segalanya yang telah ia pendam. Ia berdialog dengan malam layaknya dialog ombak kepada pantai.

***

Pagi ini aku tak menemukannya di kamarnya. Sang ibu bilang kalau ia menitipkan sketsa dan surat yang ditaruhnya di atas meja untuk kubawa pulang. Aku harus pagi berangkat ke Bakauheni agar tidak sampai terlalu sore di Jakarta. Maka tak ada waktu lagi untuk mencari Siti Rahma. Kutitip salamku untuk Siti Rahma pada sang ibu dan mengucapkan terima kasih atas segala pelayanannya. Aku pun kembali.

Saat menyeberangi Selat Sunda, kubuka surat Siti Rahma. Ah, benar hanya surat pemeberitahuan kalau ia baik-baik saja dan mohon agar tidak dikhawatirkan orang tuanya serta agar ia tidak memberitahukan di mana keberadaannya. Dan pada bagian terakhir ia hanya menulis untukku, “Pras, kalau aku hilang cari aku di Canti.”

Beberapa hari setelah perjalanan yang bisu itu aku mendengar berita di televisi, bunyinya kira-kira begini: Telah hilang, Siti Rahma (22), mahasiswa Kedokteran Malahayati Lampung asal Jakarta.

Tak ada yang tahu di mana ia berada. Orang tuanya sungguh sangat memprihatinkannya dan gelisah sampai memasang iklan segala. Ah, Siti Rahma sayang, apakah harus aku menjemputmu lagi di Canti? Dan membawamu kembali ke rumah agar semua orang tahu kalau kau baik-baik saja?

Aku tersenyum dan memmbayangkan Siti Rahma dengan rona merah di kedua pipinya sedang duduk-duduk di tepi pantai Canti.

***

Jakarta – Lampung
Untuk Rahma Wd.

Catatan:

Nuwo: rumah

Ijan: tangga rumah

Tiyuh: kampung

Canggot bakha: pesta adat muda-mudi Lampung

Muli mekhanai: gadis yang belum menikah

Goa Sawung: goa alam di barat palung Canti, masyarakat pasisir Lampung di Canti menyebutnya Goa Sawung karena bentuknya seperti lubang (Goa Sawung artinya kurang lebih lubang)

Nyo kabah: Apa kabar

Bulan Gendut di Tepi Gangsal

Cerpen Wa Ode Wulan Ratna

Saat itu hutan masih rindang, bau karet dan damar masih terasa dipenciuman seperti cat basah pada tembok-tembok bersemen di kota. Malam itu kutemukan kau sedang mencari bulan durjana yang nyaris penuh di tengah hutan. Matamu berkilau di malam lindap. Samar bulan yang kelabu menampakan dirinya dari balik pepohonan jelutung, pulai, kempas, rumbai, jernang atau berbagai jenis rotan. Malam pikuk menyiramimu, dara muda yang belia. Matamu sasar entah kemana, memuja kesuburan hutan dalam lindungan Tuhan.

“Serunting, jangan kau hendak kemana-mana kalau kau tak pulang bersamaku.”

“Tidak, aku menadahkan tangan, Rondang. Lihat hutan basah, hutan basah!” Dari jauh kuperhatikan gelagatmu sementara tanganku masih menyadap beberapa tubuh pohon karet untuk kutampung getahnya. “Hati-hati, aku tak mau kau dijerat ular atau dicekat kuau.” Kau tiada menyahut, tapi kulihat kau masih tercenung menatapi bulan sembab yang pucat itu. Dengan begitu kau masih dalam pengawasan mataku meski aku tak perlu setiap detik menemukan bayangmu. Bulan bisa saja dicolong kelam dan para tauke mengepul kayu-kayu hutan diam-diam. Tapi kau harus tetap berada di situ.

Aku pun mengalihkan pandanganku dan terus membeset batang-batang karet dengan belati, menampung getahnya dengan sayak yang kuikat kuat-kuat dengan tali. Kuhapus beberapa butir peluh di keningku. Deru angin lembubu membuatku ingat pada kata-kata Tumenggung Tarib, seorang pemimpin dari kelompok suku Orang Rimba dari Sungai Pakuaji di Desa Pematang Kabau pada kami orang-orang Talang Mamak, “Sudah saatnya kita bekerjasama melindungi hutan ulayat kita dari perbuatan orang-orang tercela itu.”

“Bagaimana caranya?”

“Kita mulai dengan pemetaan.” Berkatnya kami belajar menanam pohon-pohon karet ini yang dijadikan pembatas hutan ulayat kami sekaligus mempertahankan nilai-nilai kearifan adat Orang Rimba.

Namun tiba-tiba aku tersadar oleh denting sepi. Segala ciak miak alam pikiran dan alam hutan menjadi begitu sepi dan kelam. Entahlah, orang-orang Talang Mamak memang tak pernah membutuhkan waktu untuk hidup mereka sehingga aku tak tahu sudah berapa lama aku lena dalam pekerjaanku dan melupakanmu.

Aku limbung, keringatku kembali bercucur dengan deras. Aku langkahi segala rumput-rumput dan akar-akar pohon yang basah karena embun. Aku menguak hutan yang rimbun itu mencarimu. Menguak hutan seperti mimpiku menguak hutanmu yang basah ranum sebelum akhirnya sampai aku menemukan sarangmu yang hangat lagi lembab.

“Serunting!” aku memanggilmu sekali. Tak kudengar sahutan. Rongga-rongga mulai bersahutan di tubuhku, membiarkan udara keluar masuk tak terkontrol. Aku pun terus berlari ke segala arah dan penjuru memanggil namamu. Tapi hutan seakan mentah-mentah menelan suaraku.

Aku berlari menerobos hutan, mencoba berpikiran positif kalau kau telah kembali ke rumah. Tapi perasaan cemas terus saja meraja, hingga meskipun aku berhenti berlari langkahku tetap saja tergesa-gesa. Rasanya tak mungkin perempuan sepertimu berani melewati hutan seorang diri meskipun kau juga seorang Talang Mamak sejati. Aku kenal betul siapa kau. Aku tercungap-cungap.

Langkahku mendekati bunyi percik-percik air sungai Gangsal. Aku tak tahu, apakah sungai itu penuh sebab bulan nyaris purnama. Ketakutanku timbul lagi, tentu pikiran kalutku yang mengatakan kalau kau mungkin saja dibawa arus banjir bandang sungai itu. Namun tidak jauh dari tepi sungai yang memantulkan temaram bulan tempat aku terpaku, kudengar desah dan lenguh perempuan yang membuat bulu kudukku merinding. Pelan-pelan kulangkahkan kakiku pada sebuah bongkah batu kali.

“Serunting?” yang menyahut hanya desahan halus yang mengeram, mengejan. Begitu menyakitkan dan tertahan. “Serunting? Jawablah? Kaukah itu?” serta merta kulihat sosok bayang kelam keluar dari bebatuan dengan terburu-buru. Mengambil pakaian yang tersampir di batu dan hilang dengan lesat sambil terseok-seok karena tak terbiasa.

Malaikat bersijingkat. Malam itu aku menganga. Kemana perginya bayangmu, Serunting? Putri Talang Mamak yang tiada beremak? Kudapati bajumu berceceran di mana-mana dan kelaminmu kemana-mana. Di sana ada air mata dan darah. Kenapa aku bisa tahu kau menangis dan mengeluarkan darah? Sebab kau tak mengeluarkan kata-kata selain segukmu dan kau tak bisa berjalan sebab selangkanganmu luka.

Aku lupa, Serunting. Aku lupa! Belatiku tertinggal di belantara. Kalau kumau bisa kukejar laki-laki jahanam itu, kutikam ia dengan belatiku dan kubiarkan belati itu tercacak diperutnya. Biar ia mati meninggalkan karat. Tapi tak bisa kutinggal kau di balik batu itu meraba-raba malam mencari penutup tubuh yang tiada kentara lewat temaram bulan. Ah, sialan betul laki-laki itu! Berani-beraninya ia menanamkan berahi di pucuk ranummu.

Maka aku menuntunmu yang tiba-tiba menjadi patung. Aku tak mau mendengarkan apa-apa dan memang aku tak sudi sebab mataku luka karena air mata dan hatiku mengeluarkan darah.

***

“Sudah seharian ini Serunting telanjang.” Kata Suhemi, ia menyuguhkan aku minuman pada cawanku. Aku menggaruk kepalaku dan melihat ke arah Batin Gigih, Bapaknya. Laki-laki paruh baya itu asyik dengan tembakaunya. “Kau apakan dia semalam, Ndang?” Tanya Mak Cuan, istrinya. Aku menatap mata Suhemi yang tampak cemas. Perempuan itu sebaya dengan Serunting. Dan Serunting sudah seperti saudaranya sendiri. Mereka semua adalah keluarga yang mengurus Serunting sejak masih bayi. Aku pun menggeleng kuat-kuat. “Tidak aku apa-apakan, Mak. Mungkin dia terkejut lihat Kuau, ada burung seperti itu.” kataku, sebab Serunting memang belum pernah meliahat Kuau. “Ah, macam saja!” Peremuan tua itu menggeleng-geleng dan tersenyum padaku sebelum akhirnya ia masuk dapur bersama Suhemi.

“Apa hutan kita dalam keadaan genting, Rondang?” Tanya Batin Gigih memulai upacara sarapan pagi. Laki-laki itu masih mengantuk ia tersadai di balai yang beralaskan anyaman tikar dari daun nipah. Matanya yang nanar menatap langit-langit bubungan atap dari rumbai kering yang disanggah kayu-kayu kuat.

“Hutan leluhur baik-baik saja kurasa. Semalam pun sekalian kuperiksa.”

“Tetap saja kita mesti waspada. Sudah sering terjadi penebangan liar di Taman Bukit Tigapulu ini. Mereka bisa saja merambah ke hutan ulayat kita meski telah kita pagari dengan karet.”

“Ya. Nanti aku akan beri tahu penduduk Talang Mamak yang lain agar senantiasa terus berjaga-jaga.” Batin Gigih mengangguk-angguk. Lama kami berdiaman dan pikiranku kembali melalang buana menyusuri malam di tepian sungai Gangsal. Di sana kulihat bulan bercermin pada airnya yang mulai mengeruh. Memberi petanda pada sesuatu yang rawan dan belum dijamah siapapun. Pada sesuatu milik perempuan bernama Serunting. Aku tiba-tiba mendengar dadaku bergemuruh dengan sendirinya sehingga aku menyembuyikan wajahku karena malu suara itu akan didengar Batin Gigih. “Kenapa? Apa yang kau pikirkan, nak?” aku terpergoki.

“E…, anu….”

“Rondang, Rondang!!! Pak Batin Gigih, Makkk….!!” Serta merta aku dan Batin Gigih loncat dari kediaman kami saat mendenggar suara Sanggo di luar.

Ada apa?” Mak Cuan juga keluar dengan tergesa dari dapur disusul dengan Suhemi. Sanggo langsung nyelonong masuk begitu saja. Ia langsung mereguk air dari cawanku. “Anu, itu… itu….” katanya terbata-bata. Ia mengusap air yang belepotan di sekitar mulutnya. “Ya, coba bawa bertenang dulu.” Kata Mak Cuan menenangkan. Sanggo duduk di tempatku duduk. Aku berdiri di antara Batin Gigih dan Mak Cuan. Suhemi bersembunyi di punggung emaknya seperti anak kecil. Ia membenamkan wajahnya di pundak orang tua itu dengan hanya menyisakan sepasang matanya yang memancarkan kegelisahan. “Ada buldoser, Mak. Lima. Lima.” Sanggo mengacungkan kelima jari tangan kirinya.

“Di mana?” kataku dengan nada tinggi. Sanggo menunjuk ke arah hutan karet.

“Kurang ajar mereka. Kapan datangnya?” aku bertatapan dengan Batin Gigih.

“Tidak tahu.” Sanggo menggeleng kuat-kuat. “Orang-orang sudah ramai di sana.

” Katanya lagi. “Patih Laman juga ada?” Tanya Batin Gigih.

“Tidak tahu.” Sanggo menggeleng lagi. Dan tanpa banyak omong lagi aku dan Batin Gigih langsung keluar rumah begitu saja. Sanggo pun menyusul juga. Dari luar masih sempat kudengar raungan Serunting yang menyakitkan ulu atiku di dalam sana.

“Alamak, cepat pakai bajumu, Ting. Apa kau tidak malu itu kau punya anu kemana-mana?”

***

Laki-laki itu masih muda. Kulitnya matang dan ia gagah. Kemejanya yang berwarna abu-abu polos rapi tersetrika telah layu dibubuhi keringat. Ia bertolak pinggang. Satu tangannya merongoh saku celananya.

“Ini sesuai prosedur dari pemerintah. Pohon-pohon yang kami tebang, jelas!” katanya tegas. Penduduk Talang Mamak yang berkumpul kembali gaduh. “Tidak bisa begitu, Pak.” Patih Laman menengahi.

”Lho kenapa? Sudah ada perundang-undangannya toh?”

“Ya memang. Tapi pohon yang ditebang berdiameter di bawah enampuluh senti. Padahal ketentuannya harus di atas itu.” Yang lain bersorak mendengar penjelasan Patih Laman. Patih Laman sudah seperti sepuh atau puak bagi penduduk Talang Mamak Sungai Gangsal. Ia sangat disengani dan dihormati karena kebijakannya dan kesantunannya.

“Dan lagi penebangan ini sudah kelewatan karena merambah kemana-mana sampai ke tanah ulayat kami.” Batin Gigih tiba-tiba angkat bicara. Penduduk mulai kisruh lagi membenarkan.

“Sabar!” ujar Bapak muda itu. “Kami mohon maaf kalau ada pohon-pohon muda yang tak sengaja tertebang. Masalahnya, pohon itu memang menghalangi jalan untuk buka lahan.” Katanya lagi.

“Dulu ada seratus pohon sialang kami yang ditebangi. Tapi tiada ganti rugi. Sekarang kami tak lagi mau kehilangan pohong sialang yang tinggal sedikit.” Celetuk Sanggo. Aku masih diam saja melihat laki-laki bergaya formal itu. Tubuhku menahan keringat dingin yang hendak mengucur. Sanggo menyenggol lenganku memberi isyarat agar aku tidak bengong saja dan agar aku melakukan sesuatu.

“Begini, Pak. Perambah hutan pada umumnya adalah perusahaan yang mengantongi surat izin menebang kayu.” Kataku pelan-pelan menahan emosi yang tidak jelas rimbanya, sebab laki-laki itu….

“Ya, kami punya surat-surat itu kalau mau lihat.”

“Bukan begitu masalahnya, Pak. Ini tanah ulayat kami.”

“Wah, kami tidak tahu, ya. Sebab kalau tanah ini milik tuan-tuan semua harap bisa tunjukan sertifikat tanahnya.” Tiba-tiba saja telingaku menjadi panas. Kalau tidak Patih Laman yang menahanku tentu sudah kuseruduk orang muda itu. “Pak, hutan ulayat ini kami miliki turun temurun. Memang tanpa sertifikat, tetapi jelas batas-batas hak kepemilikannya. Diakui kepala adat sampai tingkat kecamatan.” Teriakku. Penduduk mulai ikut berteriak-teriak lagi. Patih Laman dan Batin Gigih sibuk memberi isyarat tenang.

“Begini saja, Pak. Bila Bapak tidak bisa memperlihatkan surat izin penebangan terhadap tanah kami, maka silahkan bawa pulang buldoser-buldoser ini.” Ujar Patih Laman masih dengan santun. “Dan ingat, kami ingin buldoser-buldoser ini pergi sebelum senja. Sebab bila tidak, Bapak akan berurusan dengan pemerintah daerah dan pusat.” Ancamku menutup kerumunan pagi itu.

***

Aku menatap Serunting yang terduduk di balai hanya diselimuti selembar kain. Ia seperti sakit karena menggigil. Matanya yang polos itu menatapku juga. Kemana arahku bergerak, bola mata itu turut bergerak.

“Kenapa, Ting?” ia tidak menyahut. Kulihat bibirnya kering dan terkelupas.

“Matamu indah, Ting. Seperti bulan gendut yang dulu pernah kau ceritakan di tepi sungai Gangsal.” Aku tersenyum. Tapi bibir pucat dan pecah itu tak juga menyunggingkan senyum balasan seperti yang sudah-sudah bila aku sedang memujinya. Aku memperhatikan dalam-dalam wajah Serunting. Wajahnya yang tirus tidak seperti wajah Suhemi yang bersih meski kutahu kulit perempuan Talang Mamak tidak seputih kulit orang-orang kota. Diamnya seperti batu. Polos dan membeku, hingga meskipun ia tak bergeser, orang-orang yang melihatnya akan merasa iba.

“Jangan sedih. Nanti kalau kudapat orangnya akan kubunuh dia.”

“Rondang, masih panaskah kepalamu? Siapa yang mau kau bunuh?” Suhemi keluar dari bilik dapur. “Bukan siapa-siapa. Itu, orang yang punya buldoser.” Sekilas masih kutatap Serunting yang masih tak bergeming sebelum akhirnya aku melangkah menuju gentong air. Aku menciduk airnya dengan sayak dan mereguk tuah cinta dari tempurung kelapa itu.

“Sepertinya Serunting ada yang mengogam.” Kata Suhemi sambil memandangi Serunting dengan saksama. “Apa?” aku pura-pura terkejut.

“Ada yang mengogam, Ndang. Aku takut ia jadi gila karena kena guna-guna. Ia tak mau pakai baju dan tak mau mengeluarkan kata-kata.” Aku diam saja.

“Kepalaku rasanya mau meledak. Aku mau ke tempat Pak Tatung dulu.” Aku pergi begitu saja meninggalkan Suhemi dengan sepasang matanya yang selalu kumengerti kalau ia mengharapkanku untuk dapat meluangkan waktu mengobrol dengannya.

Pak Tatung sebenarnya bukan orang Talang Mamak. Ia berasal dari Dusun Tuo Datai di desa Rantau Langsat. Namanya sebenarnya adalah Ongko Tarif. Tapi orang-orang akrab memanggilnya Pak Tatung. Ia mendirikan sanggar belajar Datai di Talang Mamak untuk mengajarkan orang-orang Talang Mamak bahasa orang bule. Sanggar itu mendapat sarana dan dukungan dari pemerintah program konservasi harimau Sumatera. Ia sudah kuanggap seperti bapakku sendiri. Ia tambun dengan barut muka jenaka dan rambutnya sudah dihiasi bulu masu yang lumayan banyak mengingat usianya yang mulai senja. Istri Pak Tatung sudah lama meninggal, dan ia tak punya anak selain aku yang dianggapnya anak sejak empat tahun lalu.

Waktu istirahat mengajar. Aku mengetuk pintu dan ia yang membukakannya sendiri. Ia punya tabiat yang aku suka, menyapa anaknya sendiri dengan tabik orang asing, “Good afternoon, son.”

“Yes.” Jawabku. Ia selalu tersenyum dengan jawabanku.

“Wajahmu murung, nak. Aku sudah dengar cerita tentang buldoser itu dari Sanggo.” Katanya. Sanggo adalah teman dekatku sekaligus penyebar berita terbaik. Sebenarnya ia orang Talang Mamak Tiga Balai bukan dari sungai Gangsal. Tapi itulah teman, ia lebih suka tak pernah jauh dariku sebab kami senasib, sebatang kara.

“Ya, tadi penduduk juga sudah rapat di rumah Patih Laman. Orang-orang buldoser itu mau buka lahan untuk kebun kelapa sawit.”

“Lalu?”

“Tentu kami tidak setuju. Itu kan tanah ulayat kami. Rencananya Patih Laman besok mau lapor ke pemerintah daerah. Kalau perlu juga pemerintah pusat. Kami mau minta dukungan dan perlindungan.” Kataku mulai berapi-api lagi. Pak Tatung tertawa.

“Tenang Rondang…, kau ini kenapa? Seperti orang cemburu saja.” Ia memperhatikanku. Aku membuang muka agar ia tak tahu wajah burukku.

“Pasti ada seusatu yang lain selain masalah itu.” Aku diam. Aku diam seperti Serunting yang menjadi batu.

“Pak, aku tahu orangnya. Aku tahu itu pasti orangnya. Hanya saja aku tidak tahu harus berbuat apa.” Aku mulai membiarkan wajahku terlihat gelisah seperti sebagaimana seharusnya. “Orang siapa?” Pak Tatung tampak bingung. Senyumnya lesut dan dahinya berkerut. Aku dapat melihat urat-urat wajahnya menegang.

“Orang yang memperkosa Serunting, Pak!”

“Apa? Serunting diperkosa?”

***

“Patut kita tiru orang Talang Mamak dari Desa Durian cacar.” Sanggo bercerita. “Satu pohon duren saja ditebang, ada sanksi adatnya. Jika tidak bisa diselesaikan dalam satu kelompok, maka akan diselesaikan penghulu lainnya sebagai masalah besar bersama. Ck!” Sanggo terus saja berbicara ini itu, padahal setengah mati aku ingin melupakan bayangan malam jahanam yang telah lalu. “Heh, Rondang? Kenapa mukamu? Tenang sajalah, sebentar lagi orang-orang buldoser itu pergi. Kita mandi saja dulu di sungai Gangsal. Sekalian mengintip gadis-gadis perawan.” Ia tersenyum dan terkekeh-kekeh. Sanggo selalu percaya diri tertawa dan tersenyum lebar menunjukan giginya yang kuning dan tidak rata. Memamerkan dua gigi depannya yang rumpang. Aku meliriknya, tapi aku tak bisa marah padanya. Pikiranku terbelah dua dan bercecer kemana-mana, sedang perasaanku berantakan berkecai-kecai.

“Mari mandi!” ajaknya ketika kami mulai sampai di tepian sungai Gangsal.

“Tidak bisa.”

“Ya sudah, tidak usah mengintip.” Rayunya. Aku meliriknya dengan tatapan badik. “Ah, kau tidak percaya padaku rupanya. Biarpun aku suka mengintip, tapi aku masih bujang bedengkang.”

“Bukan begitu, tak ada yang mengawasi orang-orang itu pergi.” Kataku lalu meninggalkannya bergegas kembali ke hutan.

***

Senja kasip. Ia berjalan tergesa, terseok-seok karena tak terbiasa. Buldoser-buldoser itu pergi melewati jalan besar. Alat berat itu menyisakan suara deru yang membisingkan telinga. Dan laki-laki itu sekejap menatapku membuat bayangannya berkelebat sambil membuang putung rokok dan pergi dengan tatapan badik yang tidak mengenakan. Matanya meninggalkan luka di hatiku.

Aku memperhatikan tanah tak bertumbuhan di tempatku duduk untuk mengamati kepergian mereka. Ada busut, longok tanah sarang anai-anai dan semut. Apakah di sana juga bersembunyi lipan yang berkelamayar dengan air liurnya yang penuh cahaya? Aku tak bisa mafhum pada zaman yang lintang pukang ini, sebab hutan yang hanya bisa diam tak dikasihi menanam ranjau dan dendam hingga ke akarnya. Betapa payah hayat orang-orang Talang Mamak, hutan mereka, Hutan Puako, bisa tak ada lagi karena dijadikan lahan kelapa sawit. O… Emak! Alangkah, hutanmu kini diingkari undang-undang!

Laki-laki itu, tak hanya cukup dihujat dengan sumpah seranah. Aku berdiri, melangkahkan kaki dan pergi. Mereka hilang dan aku ingin raib. Tapi laki-laki itu, dengan pakaian kotanya yang rapi, ingin kujagal kepalanya karena telah melumerkan rahimmu, Serunting. Ini bukan hanya kemarahan suku Talang Mamak, tapi juga ini menyangkut dendam cinta yang mulai membengkak. Aku mencium maung dari wajah laki-laki itu. Ah, ia bangkai sebelum mati karena prilakunya yang amoral.

Aku menelusuri hutan. Deretan pohon karet rapi merekah. Batang, ranting, dan daunnya meninggalkan sosok bayangan yang bergoyang-goyang ditimpa sinar senja yang mulai tipis. Aku meniti jalan menuju sungai Gangsal dan melupakan kalau aku pernah meninggalkan belatiku di antara pepohonan karet saat bulan sedikit lagi sempurna.

Malam menaiki puncaknya. Kutemukan bulan penuh sudah. Sungai Gangsal meliuk seperti seekor ular yang berjalan di atas bebatuan, terjungkal-jungkal ia dengan suara alirannya yang rinai. Sungai yang bearkhir di Desa Sancalang ini adalah riwayat hidup kami. Ia menyimpan kebutuhan yang tak terperi. Usai hutan, di sini ada ikan dan udang. Ada minum, mandi, dan mencuci. Ada hawa dan ada nyawa, tempat memupuk kesuburan tanah. Aku memeluk tubuhku, berjongkok menatap bebatuan yang bisu. Setiap bayangan yang dilewatkan desau angin selalu membuatku dihantui perasaan cemas.

Dengan malam ini, maka sudah dua hari Serunting telanjang. Sanggo bilang ia mulai gila, hanya meraung bila disentuh kulitnya. Suhemi bilang ada yang mengogamnya. Mak Cuan bilang ia kemasukan setan. Tak ada yang tahu mengapa Serunting demikian kecuali malam dan penjaga-penjaga malam.

Waktu berkelebat. Seonggok tubuh menginjak rerumputan dan semak, bersembunyi dibalik pepohonan.

“Serunting!” aku nyaris berteriak. Terpana melihat perempuan kusut masai itu di sana. “Dengan siapa ke sini?” ia tidak menyahut. Dan memang tak ada lentera yang ia bawa sehingga sosoknya yang licin itu hanya terbias sinar purnama. “Mengapa kau ke sini sendirian?” tanyaku haru. Aku copoti bajuku agar ia pakai, tapi ia membuangnya jauh-jauh entah kemana. Aku merasa bersalah atas kejadian lalu. Kulihat ia menadahkan tangan dan mengingatkanku pada saat ia menegadahkan tangan di hutan kemarin. Apakah ia ingin mengatakan hutan basah?

“Mari pulang, Ting. Tak baik kau makan angin malam-malam.” Aku menarik lengannya. Tanganku bergetar, tapi ia tiada mau melangkah. Malah mengeluarkan suara rintih yang memilukan hati. “Ndang, itu Emak, itu Emak!” Ia menunjuk bayangan bulan yang hancur tak lagi rupawan yang terbias di sungai Gangsal.

“Kau bicara?”

“Lihat, itu emak! Aku dapat emak. Emak ketemu, emak ketemu, Ndang!” Ia mulai bersorak. “Bukan Ting, kau tak punya Emak. Emakmu Mak Cuan.”

“Itu emak.” Ia ngotot.

“Bukan, itu bulan.”

“Bulan? Bulan gendut?” aku mengangguk. Tiba-tiba wajahnya memelas menjadi begitu pedih. “Oh bulan gendut, kenapa kau telanjang. Apa kau tidak malu anumu kemana-mana?” ujarnya meniru suara Mak Cuan padanya. Aku iba menariknya pulang. Tak kuat aku menahan nanah di mata yang mulai lumer.

Dulu sering kami mengobrol di tepian sungai ini ketika purnama sedang naik daun. Ia bilang Mak Cuan pernah cerita padanya kalau Emak kandungnya menjelma bulan di tepi Gangsal. Sebab dulu sebelum ia lahir, Emaknya sering ke Gangsal saat purnama. Berlindung dibalik semak-semak dan batu-batu, berpukas sambil menggesek-gesekan pukasnya seperti anjing.

***

Patih Laman sudah berangkat ke kota bersama beberapa laki-laki penduduk Talang Mamak Sungai Gangsal termasuk Batin Gigih. Aku melihat Mak Cuan sedang meramu obat-obatan dari akar dan daun-daun. Mungkin kondisi Serunting tambah memprihatinkan. Tiba-tiba kembali kudengar teriakan Sanggo memanggil-manggil namaku dari luar. Aku, Mak Cuan, dan Suhemi cepat-cepat keluar. Di bagian selatan hutan kulihat asap hitam mengepul dan penduduk mulai panik.

“Sanggo, ada apa?” teriakku menghantam gemuruh suara-suara yang lari kocar-kacir. “Ada kebakaran hutan, Ndang.” Katanya tercungap-cungap. “Di mana?” aku juga mulai panik. “Di Hutan Puako, Ndang. Apinya besar. Besar sekali. Sulit dipadamkan.” Katanya lagi terbatuk-batuk, sebab asap tebal mulai meyebar dan memerihkan mata.

“Sialan betul itu orang! Tidak tahu diri! Cepat Bantu aku. Panggil juga orang-orang yang lain. Mak, orang-orang perempuan dan anak-anak tolong diungsikan dulu ke desa sebelah.” Aku lari tunggang langgang, meneriaki bantuan menghampiri sungai Gangsal. Di sanalah letaknya hidup terakhir. Kami menimba-nimba airnya seperti bayi yang memerasi susu emaknya. Waktu berlalu, tapi api tak kunjung padam. Matahari sengit menyayat-nyayat kulit membuat luka semakin menganga dan tak mau kering. Nantinya ada sesuatu yang bopeng di tanah kami.

***

Mungkin kini damar akan sulit dicari. Dan pohon-pohon karet tak lagi meninggalkan getahnya untuk diramu menjadi ban dan semacamnya, sebab baunya saja sudah tak terasa. Semuanya ranap. Gosong. Tanah itu menjadi hitam dan di atasnya mengeluarkan asap seperti miasa pada tanah berawa. Aku memaki. Orang-orang buldoser itu menganggap cuai apa yang kami miliki dan kami jaga. Tak tahulah Serunting, bagaimana rasanya dicambuk. Apakah seperti hatiku kini? Melihat hutan yang tiada lagi bernyawa seperti melihatmu yang menjadi batu di tepi Gangsal.

Tahukah kau Serunting? Tak ada senja sore ini. Senja habis dilumat musim. Sampai mana habis letak kata cabaran untuk dirasa? Tahukah kau Serunting? Dari ujung atap rumbia atau nipah mereka membangun perabung di rumah-rumah mereka agar senantiasa terlindung dari tetesan hujan. Kini Serunting, hujan menjelma cinta. Dan malam ini tiada akan kau temukan bulan gendut di tepi Gangsal saujana matamu memandang.

Serunting, dulu aku mencintai matahari, tapi kini aku berharap hujan setiap hari turun tanpa henti. Biarkanlah mata-mata mereka lengah dan beristirahat barang sejenak, menikmati lena derai-derai air yang turun dari langit. Sesaat mereka pun bisa mengintip dari ceruk melihat batu kali atau kau yang tengah berdiri melakoni benda mati.

Serunting, kau pun bisa telanjang di tengah hutan. Telentang sambil menengadahkan kedua tanganmu seperti waktu itu. Kau berdecap-decap, mendesahkan doa paling kasmaran mengharapkan kerendahatian Tuhan menurunkan hujan. Dan aku bisa lengah memantaumu sebab Ia akan menjagakanmu untukku saat aku menyayat batang-batang karet. Kini hutan telah basah, Serunting!

Kuperhatikan kau. Tubuhmu yang basah hujan dan masih berdiri di tepi Gangsal yang kian menderas itu di mataku bagai berlumur anggur. Aku sebenarnya ingin menanam benih di pangkal pahamu untuk kelak kau sebar di lahan-lahan gosong itu. Itulah lahan tersubur yang akan kugarap sebelum tidur, yang tidak dilalui undang-undang legal meski mungkin kau mandul. Sebab kau pun tahu, hutan yang tandas itu butuh benih yang akan membuatnya rimbun kembali.

Kulihat kau. Kau masih terpaku di situ. Sudah tiga hari kau telanjang.

“Serunting, cepat pulang! Astaga, apa kau tak malu pukasmu kemana-mana, hah?” kataku mulai gusar diambang kesedihanku.

“Dasar Pukimak!”

***

Jakarta, 6 September 2005
Kado untuk Marhalim

Catatan:

Kuau: sejenis burung yang dilindungi (hidup di Malaysia, Sumatera, dan Kalimantan), burung kuang, berkaki panjang dan kuat, mengais dan membalik-balikan tanah mencari makanan yang berupa biji-bijian, keong, cacing, serangga, dsb, berbulu indah, bersarang di atas tanah dengan dua atau tiga butir telurnya. Tidur pada cabang-cabang pohon yang tidak terlalu tinggi.

Sayak: separuh tempurung, tempat air minum terbuat dari tempurung kelapa.

Ulayat: Tanah warisan leluhur turun temurun.

Tercungap-cungap: mengap-mengap.

Tercacak: terpancang tegak.

Tersadai: terbaring dengan kaki terlunjur.

Puak: semacam tetua atau sepuh

Mengogam: menggunakan ilmu sihir untuk membuat orang gila.

Tabik: salam

Rumpang: ompong.

Kasip: telambat atau lewat waktu.

Badik: pisau belati (tajam)

Maung : bau busuk, rasa atau bau yang memualkan.

Berpukas: telanjang.

Pukas: kemaluan perempuan, celah pada permukaan luar kemaluan perempuan.

Ranap: rata dengan tanah.

Miasa: racun yang keluar dari tanah rawa.

Cuai: remeh, tidak penting, tidak berharga.

Cabaran: sabar, kesabaran.

Perabung: atap berlapis dua yang menutup bubungan (puncak) rumah agar tidak kemasukan air hujan.

Pukimak: pukas emak, sindiran tidak senonoh.

Tauke: pencuri/penebang kayu hutan diam-diam pada malam hari.

Mengepul: mengumpulkan.

Kering

Cerpen Wa Ode Wulan Ratna

Aku dapat merasakan geliat kambium dari pohon-pohon cinta itu melumer, menawarkan bau birahi untuk dicium kehidupan dan diendus perempuan-perempuan malam. Tiba-tiba lengkap sudah pikiranku pada perempuan masai itu. Ia bergelinjangan dengan mesranya di atas ranjang malam. Mematut sepi menghujat bayangan. Katanya masih seputar hutan, aku dilarang memperkosa belantara itu. Tapi aku bilang aku suaminya dan nasi tidak turun langsung dari langit. Lalu aku pergi berbulan-bulan hingga malam ini aku masih di sini. Tidak kembali pada dadanya, tidak kembali pada permohonannya.

Wak Atan berteriak, tapi aku tak dapat menangkap dengan jelas apa yang ia katakan. Pohon tumbang satu-satu, tapi suaranya tidak lebih keras dari deru mesin-mesin penebang. Hingga setiap suara yang keluar dari mulut laki-laki itu hanya tertangkap daun-daun jatuh.

***

Lelaki itu tidak mengerti cinta, tapi ia lihat hujan tipis turun warna-warni mempermainkan pelangi. Cakrawala terbuka, entah itu pagi atau petang ia tak tahu. Tapi ia merangkum hijau dedaunan dan cokelat tanah. Ia memetiki embun-embun segar dari rerumput liar untuk kemudian di masukan ke dalam kantung-kantung jas hujannya. Kemudian ia melihat belantara tertimpa cahaya seterang wahyu, pohon tumbuh satu-satu, makin lama makin besar. Begitu cepat pohon-pohon itu tumbuh dan rindang. Ia subur dalam pupukan doa dan harapan dan ia menjulang ke langit, seperti pohon kacang dalam dongeng menuju negeri di awan.

Lelaki itu terbatuk ketika asap tembakau menghangatkan rongga dadanya. Ia mengucak mata dan menemukan Zulfan tersenyum padanya sambil menghirup aroma kopinya.

“Matamu merah, tak tidur kau semalam, hah? Masih sangat siang sekarang untuk bermimpi lagi.” Katanya. Lelaki itu merenggangkan badan dan melihat ke arah jam dinding yang menunjukan pukul satu lewat duapuluh menit.

“Fras Tandipau, sahabatku, coba lihat ini!” Zulfan memanggilnya. Seperti biasa ia giat mengikuti langkah kerja.

“Kenapa? Apakah titik apinya bertambah lagi?” Fras memperhatikan rekaman satelit National Ocean and Atmospheire Administration 12 yang dipantau Badan Meteorologi dan Geofisika tempatnya bekerja.

“Berdasarkan rekaman satelit ini, ada delapan puluh titik api yang tersebar di Sumatera. Apakah kau tidak lihat di tempat ini, lihat… lihat… ad….” Fras mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya yang basah keringat, pikirannya melanglang buana pada Nara.

“Kenapa Fras? Kau ingat adikmu yang tidak pulang itu? Bah, paling dia sudah sukses menjadi tauke. Sudah sampai di bukit Samyong sudut Batam.”

“Aku sudah bilang itu bukan urusanmu, Zulfan. Kabut asap ini sama sekali tidak hubungannya dengan dia.” Zulfan mengasap lagi dengan rokoknya.

“Kau membelanya, Fras.”

“Aku cuma bilang itu bukan urusanmu. Itu…, dia akan diurus oleh orang-orang berwajib yang mengurus masalah itu.” Fras kembali melihat data komputer itu.

“Aku memikirkan istri adikku. Kau lihat Zulfan? Indikator kesulitan pengendalian kebakaran berada pada level sedang hingga tinggi di kabupaten Rokan Hulu, Pekanbaru, Siak, Kampar… dan sebaran titik api terbesar ada di Rokan Hulu.” Zulfan menggeleng-gelengkan kepalanya tapi Fras tahu laki-laki itu tidak mendengarkan kata-katanya.

“Hujan lokal tidak merata, sangat sporadik, dan….”

“Masih saja kau mau mencuri hati perempuan itu. Kau membela adikmu tapi kau juga mengkhianatinya diam-diam.” Fras diam, ia menoleh pada Zulfan.

“Kalau kau tiada mengerti cinta, kau tak perlu bicara apa-apa.” Zulfan tertawa.

“Alamak!!! Sahabatku si pecinta alam ini ternyata sudah lantung! Kapan kau balikkan uangku? Adikmu sepertinya tak akan kembali.” Katanya setelah tawanya pecah berkecai-kecai.

“Nanti, tunggu aku dapat gaji. Aku tahu, Zebe tak akan datang lagi setelah tiga bulan lalu. Aku bertanggung jawab terhadap apa-apa saja yang ia tinggalkan dan sisakan untukku.”

“Sungguh kau orang penuh kesabaran bahkan perempuan yang disisakan adikmu itu kau nafkahi juga.” Fras menghapus peluh di keningnya. Membicarakan semua ini pada Zulfan seperti sia-sia belaka. Temannya itu selalu merasa kasihan sekaligus tidak suka dengan nasib yang menimpanya.

“Berdasarkan garis angin, titik api bertiup ke arah Dumai karena angin berhembus dari Barat Daya. Kalau diprediksikan titik api bisa terus meningkat karena frekuensi hari hujan kurang dari sepuluh hari. Seminggu saja tidak turun hujan, angka indeks bisa meningkat.” Fras bersandar pada kursinya dan menatap langit-langit. Ia dapat merasakan Zulfan menghirup aroma tembakaunya dalam-dalam dan melepaskan asap yang beberapa detik lalu memenuhi paru-parunya itu ke udara.

“Apa maksudmu?” Zulfan melihat layar setelah mematikan api dari putung rokoknya.

“Aku harus membawa Nara dekat denganku.”

“Apa?”

“Aku tadi bermimpi hujan turun warna-warni.”

***

Aku melihat ada bayangan pohonan tumbuh di wajahmu, Nara. Ia berkelebatan. Bukankah kita sama-sama mencintai segala yang hijau itu? Dan dari semak yang diapit dua pahamu yang lencir, aku dapat mencium bau itu begitu menyengat. Seperti pupuk kandang yang masih hangat, aku ingin ada benih tumbuh subur di dalamnya. Bukankah tiga belas purnama telah kau lalui dengan kesepian yang sempurna? Kau melolong bersama malam, bersama pohon-pohon yang merenggang nyawa. Tapi kau sangsai. Sampai kapan kau menunggu pemerkosa hutan itu kembali merapatkan tubuhnya padamu? Nara, jangan tunggu sampai rahimmu kering dan gersang bahkan sampai tak dapat melahirkan kata-kata.

Nara melenguh, ia mengusap air matanya yang berwarna-warni seperti hujan dalam mimpiku tempo hari.

“Kakak macam apa kau, Fras?”

“Adik macam apa Zebe itu?” Nara sesegukkan lagi.

“Nara, aku tak marah ia langkahi aku. Tapi jika itu membuatmu sengsara begini aku tak sudi.” Perempuan itu menarik selimut hingga menutupi dagunya.

“Bisakah kau lukiskan kembali langit yang lengkap dengan rembulan dan tubuh perawan?” ia menatap ke luar jendela. Bulan tenggelam dalam kabut asap. Aku tak menyahut.

“Fras, tidakkah kau sadar aku sudah seperti lahan gambut di musim kemarau yang panjang ini. Begitu gerah, begitu kering dan mudah menyala. Pemantikmulah yang kurelakan membakar tubuhku, tapi seharusnya kau hamili saja batu-batu.”

“Apa maksudmu?”

“Aku hamil.”

“Apa?”

“Aku hamil!”

“Alhamdulillah.”

“Apa?” suara Nara mulai menyala-nyala. “Mengapa kau malah bersyukur aku hamil?”

“Sebenarnya aku tak mau kau hamil dengan seorang pembalak liar.”

“Kau tega, Fras. Biar bagaimana pun suamiku adalah adikmu.”

“Jangan sampai kau makan uang haram.”

“Perbuatan ini, jauh lebih haram.”

“Aku akan menikahimu.”

“Aku tak mau.”

“Nara, kau sudah bercerai dengannya. Waktu telah mengantarkanmu pada sebuah jawaban bahwa ia tak akan kembali.”

“Aku mencintainya, Fras. Kau tak mengerti.” Katanya lirih menutup wajahnya dengan tangan. Ia tersedu di bahuku. Seandainya perempuan ini tahu, bukan seperti kebakaran di hutan-hutan itu, bila api ini tak kunjung padam di hatiku. Bara ini akan terus mengepul, membiarkan asap itu memerihkan mata, mengaburkan pandangan hingga tak seorang pun yang tahu aku telah memeram cemburu hingga membiru. Zebe, kau titipkan perempuan ini baik-baik padaku. Seandainya kau yang tak berkabar tahu, aku menjaganya lebih baik dari yang kau duga.

***

Dulu sekali pada bulan September lelaki itu ingat betul, rasi bintang perawan tengah lingkupi bumi, wadahi kepala mereka. Malam-malam membawa pelita teding mereka berlarian dengan girang memerawani hutan. Zebe, adiknya bersembunyi pada kerindangan pohon kempas dan menjadi bayangan dedaunan.

“Cepat pulang, hari sudah malam!” Teriak emak, suaranya jauh entah di mana. Lelaki itu menangkap bayangan adiknya.

“Ze, cepat pulang!!!” ia berteriak di balik pohon kempas. Zebe terkejut, tapi ia berlari sambil tertawa. Zebe, terantuk akar pohon dan jatuh menabrak pelita yang dibawa lelaki itu. Tumpah ruah api itu menyala, ah… masihkah kemarau sejahanam dulu?

Dari balik jendela rumah, mereka melihat asap menebal hingga fajar.

“Apakah Abang sudah benar-benar matikan api itu?” Tanya Zebe dengan mata merah karena takut dan merasa bersalah.

“Sudah kuinjak tanpa bekas.”

“Sungguhkah tak ada hujan, tak ada embun yang buat api itu berhenti menyala?” Zebe menangis. Tangan lelaki itu gemetar mengelus kepala adiknya.

“Jangan khawatir Ze, hutan memang penuh rahasia. Pagi-pagi nanti orang-orang sekampung pasti akan memadamkan api itu.”

“Abang jangan marah pada Zebe. Itu tidak sengaja, kecelakaan.”

“Iya, Abang hanya tidak suka ada kebakaran hutan.” Kata lelaki itu lirih.

“Zebe tidak suka hutan, pohon itu buat Zebe terluka.” Katanya sesegukan.

***

Wak Atan terus berteriak hingga fajar menjelang. Aku tak menangkap jelas lengkingannya. Pohon-pohon telah tumbang, pohon-pohon yang dulu melukaiku dan membuatku terpuruk pada deraan orang-orang masa lalu yang sanggup membuatku bergetar dan bersembunyi di bawah kolong tempat tidur emak.

“Hentikan suara mesin, hentikan!” kali ini suara lelaki tua itu terdengar begitu jelas. Aku menghapus peluh dan terduduk melesapi angin dingin dini hari.

“Bagus, sebentar lagi kita hanyutkan pohon-pohon ini ke sungai. Kalian akan mendapatkan bonus besar.” Katanya. Aku tersenyum, orang tua itu tak akan bisa melihat jelas sunggingan di bibirku. Betapa rindunya aku pada perempuan itu, telah lewat satu tahun aku meninggalkannya tanpa kabar. Memang salahku, tapi aku tak mau ia tahu kalau aku masuk daftar orang-orang yang dicari karena proyek besar ini. Aku hanya menyuruh kakakku untuk mengantarkan kabar kalau aku baik-baik saja dan kalau ia harus sabar menunggu. Nara perempuan setia, aku tahu itu.

Sampai subuh menjelang kami duduk melingkar, Wak Atan ceramah tentang pohon-pohon, tentang uang, tentang kehidupan orang-orang malam yang mengais rezeki dari mimpi-mimpi. Hingga tiba bulan menjilati sisa mimpi dari ujung-ujung jemarinya, Wak Atan pun membagikan amplop-amplop yang sarat dengan uang.

Ah, aku pulang besok, Nara. Aku pulang! Uang setebal ini, apakah sebanyak daun-daun yang gugur itu? Aku bisa membeli rumah, baju-baju bagus, perhiasan untukmu, membuka usaha, segala sesuatu untuk membayar kealpaanku padamu selama setahun ini.

Namun ternyata, dalam menyambut fajar aku harus berlari menjauhi hutan. Sebab ada banyak preman lapangan dari balik pohon-pohon yang masih bersisa sejak semalaman mengintai perbuatan kami.

“Bedebah!” Wak Atan memaki. Ia berlari meninggalkan kami semua begitu saja, meninggalkan pohon-pohon tumbang tak terurus. Aku memaki, seharusnya tak kusisakan sebatang pohon pun malam tadi agar tak ada tempat para manusia peringkus pengepul kayu itu untuk bersembunyi.

Aku meludah. Inilah lelaki yang teringkus terang dalam kegelapannya. Aku berlari melewati samun yang mengering sebab musim tak memberkahinya dengan embun. Betapa indahnya musim-musim yang dahaga ini, Nara. Biar hutan tahu bagaimana rasanya terluka seperti aku dulu dihujat massa atas perbuatanku yang tidak disengaja.

Para pembalak yang lain berlarian entah ke mana. Tunggang langgang tapi tiada bersuara. Hanya rumput-rumput yang terinjak dan beringsut tersaput kaki-kaki lajang. Tak akan ada yang memikirkan nasib satu per satu dari kami. Seperti aku, mereka berlari sebab telah mengantungi rezeki. Siapa yang peduli? Ini pernah terjadi beberapa kali, hingga bukan hal baru lagi.

Tapi sesuatu yang mengendus halus membuat punggungku hangat dan mati rasa. Aku merasa, alam tiba-tiba menjadi mesra sebab di sana aku dapat menghirup asap-asap tropis yang hangat lagi lembab, seperti asap-asap tembakau yang memenuhi rongga dada. Begitu menenangkan dan mencandukan.

“Berhenti!” siapa gerangan yang memekik? Ah, bukan Wak Atan. Aku tak perlu mendengarnya. Aku harus berlari untuk bertemu Nara, maka aku susuri asap pada hutan-hutan berdebu ini. Cakrawala membuka celahnya, tapi pandanganku memudar. Sesuatu yang hangat kembali menyengat bahuku, rasanya seperti kesemutan yang mendalam. Aku terengah, tapi tak menengok ke belakang sebab samar-samar kudengar ricikan air sungai. Sungai berarus yang mengantarkanku dan pohon-pohon itu berlabuh.

Aku meloncat pada sebatang pohon kapul. Aku tak tahu, eratkah genggamanku pada batang itu? Sebab terakhir yang kurasakan punggungku terbakar, uangku bercecer, berenang, menggenangi air sungai yang warnanya luntur oleh darah.

***

Sepi melimbur malam. Perempuan itu kembali mencatat malam-malam kemarau. Menyanyi dendang-dendang rindu di tengah kegerahan. Telah sebulan ia pergi meninggalkan Rokan Hulu dan menetap di Pekanbaru bersama lelaki itu dan pada malam ini ia memutuskan membakar penantiannya dalam hutan-hutan yang dihajar kemarau.

Fras menghampirinya yang tengah berdiri menghadap jendela. Ia meraba perut perempuan itu.

“Apa yang kau pikirkan, Nara?”

“Bisakah kau lukiskan kembali langit yang lengkap dengan rembulan dan tubuh perawan?” lelaki itu terjongkok, bersimpuh memeluk pinggang perempuan itu dan melumerkan air matanya pada perut yang kian membuntat itu. Ia tak akan mengatakan sesuatu apapun tentang adiknya.

“Asap telah mengaburkan jarak pandangku dengannya, Fras. Kau benar ia tak akan kembali.” Ia mengusap rambut lelaki yang menangis dalam pelukannya.

“Bisakah kau buat rembulan indah kembali tanpa selimut kabut asap yang memerihkan itu?” Fras mengangkat wajahnya. Nara tersenyum dan menghapus air mata kekasihnya.

“Untuk sementara, kita hanya memerlukan masker, Nara.” Gumamnya.

“Seperti hujan dalam mimpiku semalam, air matamu berwarna-warni, Fras.”

***

Gading gerah, 20 September 2006

Catatan:

Tauke: Pencuri/ penebang kayu hutan diam-diam pada malam hari

Lantung: Amat busuk

Sangsai: Sengsara, menderita

Pelita teding: Lampu yang terbuat dari kaleng bekas bersumbu kain. Di atasnya ada tameng yang dipasang hanya sebelah untuk melindungi dari hembusan angin.

Samun: Semak belukar

Kapul: Terapung kuat

Google Docs & Spreadsheets -- Web word processing and spreadsheets. Edit this page (if you have permission) | Report spam